"Subo.... tolonglah teecu.... teecu bimbang.... teecu bingung. Munculnya Han Han bagaikan sambaran petir mengenai kepala teecu, gelap semua.... tolonglah subo memberi jalan, memberi petunjuk kepada teecu."
"Baikiah, tenangkan dan sabarlah hatimu. Mari kita bersamadhi sebentar.... pinni akan membantumu memperoleh ketenangan dan kesabaran. Karena hanya hati yang tenang penuh kesabaran sajalah yang akan mampu menggunakan pikiran dan pertimbangan yang tepat."
Kim Sim Nikouw melepaskan pelukannya lalu duduk bersila di atas tanah. Sebagai seorang ahli silat tinggi, bekas murid orang-orang sakti seperti Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Cui-sian-li, tentu saja samadhi merupakan hal yang sudah biasa ia lakukan. Akan tetapi dalam keadaan batin tertekan seperti itu, kalau tidak dibantu Thian Sim Nikouw, tak mungkin dia dapat mengheningkan ciptanya. Tak lama kemudian terasalah olehnya getaran yang halus memasuki dirinya dan ia tahu bahwa gurunya yang biarpun tidak pandai ilmu silat akan tetapi dalam soal kebatinan jauh lebih tinggi tingkatnya daripada Toat-beng Ciu-sian-li, telah membantunya. Sebentar saja Kim Sim Nikouw dapat mengheningkan cipta dan setelah mereka menghentikan samadhi, Kim Sim Nikouw sudah dapat tenang, sungguhpun pikirannya masih tertekan dan bayangan Han Han masih belum mau lenyap dari depan matanya.
"Muridku, pinni akan berusaha membantumu memberi petunjuk. Akan tetapi, pinni tidak sekali-kali hendak mempengaruhimu, karena hal ini menyangkut jalan hidupmu sendiri. Kalau pinni memaksanya, yaitu memaksakan kehendak hati pinni, hal itu berarti pinni menyalahi hukum yang sudah ditentukan dalam hidup manusia. Nah, pinni mulai dengan pertanyaan yang hendaknya kau jawab sejujur-jujurnya."
"Baiklah, subo."
"Apakah engkau mencinta Han Han?"
"Teecu mencintanya, subo. Dahulu, Han Han adalah satu-satunya orang yang teecu cinta. Dan sekarang pun, hati teecu masih rindu kepadanya, rindu akan cintanya, sungguhpun perasaan itu hanya merupakan lamunan belaka karena sesungguhnya, setelah mempelajari dan melatih pelajaran dari subo untuk mengubah cinta kasih perorangan menjadi cinta kasih alam semesta, mencinta setiap manusia, bahkan setiap mahluk, dunia dan isinya, teecu menjadi ragu-ragu apakah cinta kasih teecu masih sekuat dulu terhadap Han Han."
Nikouw tua itu mengangguk-angguk, kelihatannya lega mendengar ini. Akan tetapi ia masih belum yakin benar, maka tanyanya kembali,
"Apakah engkau masih mempunyai keinginan untuk menyerahkan tubuhmu kepadanya, ingin melakukan hubungan badani dengan dia? Apakah engkau masih ingin untuk menjadi isterinya dan kemudian melahirkan anak-anak keturunannya?"
Kim Sim Nikouw menundukkan mukanya yang menjadi merah, berpikir sampai lama menjenguk hati dan pikiran sendiri agar dapat memberi jawaban sejujurnya karena dia maklum bahwa gurunya berusaha keras untuk menolongnya dan hanya gurunya inilah yang akan dapat menunjukkan jalan yang tepat baginya. Kemudian ia mengangkat muka, memandang gurunya dengan sinar mata tulus dan berkata.
"Subo tentu maksudkan apakah teecu masih mengandung nafsu terhadap dia? Kalau benar demikian pertanyaan subo, maka jawaban teecu adalah tidak. Berkat bimbingan subo, teecu telah dapat menguasai dan mengendalikan nafsu. Tidak, subo, cinta teecu terhadap Han Han bukanlah cinta agar menjadi isterinya dan agar teecu menjadi ibu anak-anaknya."
"Omitohud.... syukurlah, engkau telah dapat membebaskan diri dari ikatan yang amat kuat. Dan kalau begitu, maka sebaiknya, bagimu sendiri dan bagi dia pula, engkau harus memutuskan hubunganmu dengan dia. Akan tetapi, harus engkau sendiri yang mengatakan kepadanya, karena kalau demikian barulah dia akan yakin, dan hal ini pun merupakan ujian terakhir bagimu. Yang kau nyatakan tadi hanyalah ucapan yang dapat dipengaruhi oleh pertimbangan, akan tetapi kalau engkau berhadapan sendiri dengan dia dan perasaanmu pun menguasaimu, nah, dalam keadaan seperti itulah maka pernyataanmu akan merupakan keputusan."
"Maaf, subo. Betapa beratnya kalau harus teecu sendiri yang mengatakannya. Tadinya pun teecu sudah menganggap dia mati. Begitu dia muncul dengan tiba-tiba, melihat raut wajahnya yang penuh bayangan duka, melihat kakinya yang buntung.... ah, rela rasanya teecu mengorbankan apa pun juga demi untuk membahagiakan dia."
"Kemukakanlah kesemuanya ini kepadanya, muridku. Dan jika engkau berhadapan dengan dia, sebutlah nama Kwan Im Pouwsat di hatimu, mohon kekuatan. Pinni hanya dapat mengatakan bahwa kalau engkau berhasil memutuskan hubungan dengan dia, maka engkau akan dapat berbuat lebih banyak daripada kalau engkau melanjutkan ikatan itu. Engkau akan menderita karena setelah menjadi isterinya, engkau akan selalu teringat akan keadaanmu yang murni di sini, engkau akan disiksa oleh perasaan berdosa dan dengan demikian engkau akan menyeret pula dia ke dalam kesengsaraan. Pinni yakin akan hal ini karena engkau telah mencapai tingkat setinggi itu di mana kasih sayang alam semesta telah menyerap dan berakar di hati sanubarimu. Demikianlah, muridku. Kini beristirahatlah dan besok engkau boleh menjumpainya."
Setelah berkata demikian, nikouw tua itu meninggalkan Kim Sim Nikouw dan memasuki kamarnya sendiri.
Kim Sim Nikouw naik ke pembaringannya, berbaring dan berusaha untuk tidur. Akan tetapi ia gelisah, miring ke kanan, kembali ke kiri, terlentang, tertelungkup dan akhirnya ia bangun duduk bersila dan bersamadhi lagi"
Setelah bersamadhi, barulah ia dapat tenang dan dalam keadaan hening ini ia dapat menenteramkan hati dan pikirannya, lalu ia terus melatih diri mengumpulkan hawa murni di tubuhnya. Menjelang tengah malam, tiba-tiba dia terkejut. Ia mendengar suara kaki di genteng. Tentu Han Han, pikirnya dengan jantung berdebar. Biarlah ia bersamadhi terus, karena menghadapi Han Han, dalam keadaan seperti ini ia akan merasa lebih kuat batinnya. Ia harus memutuskan hubungan mereka, harus mematahkan ikatan di antara mereka. Ia harus menolaknya, betapapun hal ini menyakitkan.
Akan tetapi sampai lama, ia tidak mendengar gerakan lagi. Tiba-tiba ia mendengar suara rintihan perlahan di kamar seperti rintihan orang tercekik atau terbungkam mulutnya, kemudian diam. Hatinya menjadi curiga dan kembalilah wataknya sebagai Kim Cu murid In-kok-san. Sekali mencelat, tubuhnya sudah melayang keluar dari jendela dan menerobos memasuki jendela Pui Sim Nikouw, yaitu sucinya yang berusia tiga puluh tahun, yang cantik dan berkulit putih. Dan apa yang dilihatnya dalam kamar yang hanya diterangi sebatang lilin itu membuat ia hampir mengeluarkan makian saking marahnya. Ia melihat tubuh sucinya itu telanjang bulat, pakaian nikouw telah robek-robek semua di kanan kiri tubuhnya yang putih mulus. Sucinya dalam keadaan tertotok, air matanya bercucuran dan seorang laki-laki tinggi besar sambil menyeringai meraba-raba dada sucinya dan menciumi bibirnya.
"Manusia jahat."
Kim Sim Nikouw masih dapat menahan makian yang lebih kotor, dan ia meloncat ke dekat pembaringan. Laki-laki itu meloncat turun dan menyeringai lebar.
"Ha-ha-ha, engkaulah yang kucari sebetulnya. Engkau paling muda dan paling cantik. Dan engkau.... heh-heh, engkau masih perawan. Siang tadi kulihat engkau, akan tetapi aku salah masuk. Betapapun juga, dia ini boleh juga."
"Pergilah."
Kim Sim Nikouw mengayun kakinya dan tubuh laki-laki itu terlempar ke belakang menabrak dinding. Ia kaget sekali dan cepat merangkak bangun sambil menyambar golok yang tadi ia letakkan di atas meja.
"Ehhh, kiranya engkau pandai silat? Bagus, engkau menyerah atau kupenggal lehermu, kubawa kepalamu yang gundul dan cantik itu untuk hiasan kamarku, ha-ha."Golok menyambar, akan tetapi sekali menggerakkan tangan, laki-laki itu berteriak dan goloknya terlepas, tangannya lumpuh karena pergelangan tangannya patah tercium jari tangan Kim Sim Nikouw yang amat kuat. Kim Sim Nikouw yang sudah marah sekali lalu menubruk maju, kedua tangannya dengan jari terbuka menghantam ke arah dada laki-laki itu. Pukulan ini sepenuhnya mengandung pukulan Toat-beng-ciang dan sudah dapat dipastikan bahwa laki-laki itu tentu mati. Untung sekali baginya, pada detik terakhir, melihat wajah laki-laki yang ketakinan itu, Kim Sim Nikouw teringat akan sifat welas asih, dan ia menaikkan sasarannya.
"Kekkk-krekkkkk."
Bukan dada laki-laki itu yang pecah, melainkan kedua tulang pundaknya yang hancur.
"Aduh tobaaat.... aduhhh.... aduhhh.... ampunkah saya, Siankouw....."
Laki-laki itu mengaduh-aduh sambil berkelojotan di atas lantai.
"Hemmm."
Kim Sim Nikouw mendengus, lalu cepat menubruk sucinya, membebaskan totokannya dan menyelimuti tubuhnya yang telanjang bulat. Nikouw itu menangis, akan tetapi dihibur oleh Kim Sim Nikouw,
"Syukur kepada Pouwsat bahwa kedatanganku belum terlambat, suci."
Nikouw itu memeluk Kim Sim Nikouw sambil menangis. Pintu kamar terbuka dan Thian Sim Nikouw masuk sambil memegang sebatang lilin, diikuti oleh para nikouw karena mendengar suara gaduh dalam kamar itu.
"Apakah yang terjadi di sini?"
"Subo, manusia sesat ini hendak melakukan perbuatan terkutuk,"
Kata Kim Sim Nikouw. Nikouw tua itu mengeriing ke arah Pui Sim Nikouw yang berkerudung selimut dan memandang laki-laki yang patah pergelangan lengan kanan dan remuk kedua tulang pundaknya itu.
"Hemmm, ambilkan tempat obat penyambung tulang,"
Perintahnya kepada seorang murid yang segera memenuhi perintah gurunya. Setelah keranjang obat itu datang, Thian Sim Nikouw lalu mengobati kedua pundak dan pergelangan tangan laki-laki itu yang terus merintih-rintih dan minta-minta ampun. Setelah selesai membalut, Thian Sim Nikouw lalu berkata.
"Kalau mau minta ampun, mintalah ampun kepada Thian dan jadikanlah pengalaman pahit ini sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit yang menyerang jiwamu. Nah, pergilah."
Laki-laki itu menjatuhkan diri berlutut di depan Thian Sim Nikouw, kemudian ia diperbolehkan keluar melalui pintu samping yang dibuka oleh seorang nikouw. Kemudian para nikouw itu kembali memasuki kamar masing-masing. Akan tetapi Kim Sim Nikouw tidak kembali ke kamarnya, melainkan memasuki ruangan liam-keng dan berlutut di depan sebuah arca Buddha yang besar. Ia bersila, bersamadhi dan mulutnya berkemak-kemik membaca liam-keng.
Hatinya gelisah sekali karena tadi ia dikuasai kemarahan, bukan karena melihat sucinya hendak diperkosa orang, melainkan karena tadinya ia mengira Han Han-lah yang akan berbuat jahat melakukan perkosaan. Ia merasa makin berdosa dan kasihan kepada Han Han, juga merasa betapa sebetulnya ia masih amat lemah. Dia tadi telah dibakar api cemburu, dan cemburu ini hanyalah menjadi bukti bahwa nafsu berahinya terhadap pemuda itu, yang bergulung menjadi satu dengan cintanya, sebenarnya masih belum lenyap sama sekali seperti yang ia katakan di depan gurunya. Ternyata Thian Sim Nikouw kembali betul. Dia harus menyatakan semua di depan Han Han dan ia bermohon kepada Buddha agar dia diberi kekuatan dan agar Han Han diberi penerangan suci sehingga pemuda itu akan memudahkan keputusan yang diambilnya ini.