Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 146

Memuat...

"Dia.... dia menjadi pelayan istana...."

Tongkat itu ditarik kembali dan Han Han tertawa. Kembali Ma Su Nio bergidik. Pemuda itu tertawa terbahak seperti orang yang merasa lucu. Dan memang Han Han merasa amat geli hatinya. Tadi ia merasa yakin bahwa sebagai murid Gak Liat, tentu wanita ini tahu apa yang terjadi dengan Lulu. Keyakinannya terbukti dengan pengakuan wanita itu, akan tetapi mendengar betapa Lulu, adiknya itu, menjadi pelayan istana, ia dapat membayangkan betapa akan lucunya, betapa akan gegernya istana kalau mempunyai seorang pelayan seperti adiknya. Tentu kaisar sendiri akan menjadi pening kepalanya. Maka ia tertawa saking geli hatinya, kemudian membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ.

"Tangkap dia. Bunuh....."

Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio sudah mendapatkan kembali keberaniannya. Terdorong oleh rasa malu, penasaran dan marah ia lalu memerintahkan pasukan terdiri dari dua puluh empat orang itu, dibantu oleh empat orang brewok yang sudah bangun kembali, untuk mengejar dan menyerang Han Han. Akan tetapi, tiba-tiba Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio yang mengejar paling depan karena gerakannya jauh lebih cepat daripada para pembantunya terbelalak, mukanya pucat lalu seperti orang bingung memandang ke kanan kiri, mencari-cari. Dia tadi melihat tubuh pemuda buntung itu mencelat tinggi ke atas puncak pohon, lalu kelihatan bayangan putih itu mencelat-celat ke sana-sini dan lenyap.

"Ke mana dia, Sian-li? Di mana....?"

Empat orang brewok itu telah datang dan mencari-cari. Dengan hati sebal Ma Su Nio mengibaskan tangannya dan menghela napas.

"Sudahlah, mari kita kembali."

Pasukan Mancu saling berbisik dan mereka ini setibanya di markas lalu menceritakan pertemuan mereka dengan Pendekar Buntung Super Sakti. Makin terkenallah sebutan Pendekar Super Sakti yang juga disebut Pendekar Siluman karena mereka menganggap pemuda buntung itu seperti siluman. Sementara itu, Han Han yang sudah berhasil melarikan diri dari pasukan itu karena ia pun hanya menghendaki keterangan tentang Lulu, melanjutkan perjalanannya, seperti biasa, menyusuri Sungai Fen-ho menuju ke utara. Ketika ia tiba di luar kota Tai-goan, tiba-tiba ia mendengar suara orang.

"Taihiap, harap suka menunggu....."

Han Han mengerutkan alisnya dan menengok. Ketika melihat dua orang berlari-lari cepat, ia membalikkan tubuhnya karena ia mengenal dua orang gagah yang ia lihat di restoran tadi. Mereka itu agaknya berlari cepat dan napas mereka agak terengah-engah namun wajah mereka berseri gembira.

"Untung kami dapat menyusul taihiap...."

Kata yang tua dan mereka berdua serta-merta menjatuhkan diri berlutut di depan Han Han. Pemuda buntung ini mengerutkan alisnya makin dalam dan berkata, suaranya penuh wibawa.

"Tidak baik begini, harap ji-wi suka bangun."

Dua orang itu lalu bangkit berdiri dan memandang kepada Han Han penuh kekaguman dan penghormatan.

"Mohon maaf dari taihiap bahwa kami berdua mempunyai mata akan tetapi seperti buta saja tidak melihat Gunung Thai-san menjulang di depan mata. Semenjak taihiap keluar dari restoran, kami berdua melihat betapa anjing-anjing penjilat itu memberi tahu kepada pasukan musuh. Kami berusaha memberi tahu taihiap akan dihadang, akan tetapi.... ah, sungguh kami harus merasa malu. Bagaimana kami akan memperingatkan taihiap, kiranya mereka itu sekawanan tikus menghadapi kucing ketika bertemu taihiap. Hebat sekali...., Padahal iblis betina itu adalah Hiat-ciang Sian-li yang lihainya luar biasa....."

"Dalam segebrakan saja roboh....."

Yang muda berseru, memandang Han Han dengan kagum. Han Han mengerti dua orang ini tadi telah menyaksikan pertemuannya dengan pasukan Mancu, maka ia lalu berkata,

"Hendaknya ji-wi tidak melebih-lebihkan hal itu. Kini ji-wi mengejar saya ada keperluan apakah?"

"Taihiap, saya bernama Ciang Boan dan dia ini adalah So Pek Kun. Kami adalah dua orang utusan dari Bu-ongya untuk menyelidiki daerah ini. Melihat kesaktian taihiap, kami segera melakukan pengejaran. Kini kami mohon sudilah kiranya taihiap membantu perjuangan Bu-ongya melawan penjajah...."

"Hemmm, ji-wi Enghiong. Terima kasih atas kepercayaan ji-wi, akan tetapi sesungguhnya saya tidak mau terlibat dalam perang yang tiada habisnya itu. Saya mempunyai banyak sekali urusan pribadi yang harus saya selesaikan."

"Taihiap, urusan apakah yang taihiap hadapi? Kami mempunyai banyak sekali sahabat kaum pejuang di semua daerah, dan kalau kami dapat membantu...."

"Apakah ji-wi pernah mendengar akan seorang wanita bernama Lulu? Dia adalah Adikku dan saya ingin mencarinya. Dia dulu diculik oleh Ouwyang Seng dan kabarnya Adikku itu berada di istana...."

"Ouwyang Seng putera Pangeran Ouwyang Cin Kok? Wah, ini hebat. Akan tetapi, sungguhpun kami tidak pernah mendengar tentang Adik taihiap, yang bergerak di daerah kota raja adalah sahabat-sahabat yang dipimpin oleh Lauw-pangcu. Kalau taihiap bertanya kepadanya tentu akan ada yang tahu. Taihiap, saat ini, seluruh orang gagah telah berkumpul di Se-cuan dan kami siap untuk sewaktu-waktu menghadapi penyerangan orang Mancu. Kami harap sudilah taihiap ikut mencurahkan tenaga taihiap yang amat lihai untuk membela nusa bangsa, dan kami percaya bahwa taihiap memiliki jiwa patriot."

Han Han tidak mau berbantah lebih banyak lagi tentang hal itu, maka ia menghela napas dan berkata,

"Saya tidak berani berjanji terlalu banyak, ji-wi Enghiong. Akan tetapi saya hendak mencari Adikku, kalau sudah bertemu barulah saya akan memikirkan tawaran ji-wi. Kalau memang kelak aku setuju, agaknya tidak akan sukar untuk pergi ke Se-cuan. Nah, selamat tinggal."

Han Han tidak menanti bantahan mereka. Tubuhnya mencelat ke belakang, kemudian dua orang gagah itu melihat bayangan putih berkali-kali mencelat makin jauh dan lenyap dari pandangan mata mereka. Kedua orang itu menjadi pucat wajahnya, saling pandang kemudian menarik napas panjang.

"Manusiakah dia?"

Yang muda mengguman.

"Entahlah, akan tetapi seorang buntung bisa bergerak seperti itu, sungguh sukar dipercaya."

Keduanya pergi dan makin banyaklah orang yang bercerita tentang kehebatan sepak terjang Pendekar Siluman"

Han Han tidak singgah di kota Tai-goan, melainkan terus keluar dari kota itu melalui pintu kota sebelah timur untuk melanjutkan perjalanannya ke kota raja melalui Pegunungan Tai-hang-san. Ketika beberapa hari kemudian ia tiba di lereng Pegunungan Tai-hang-san, ia merasa kagum akan keindahan pemandangan alam di pegunungan ini, akan penghidupan para petani pegunungan yang aman, damai dan tenteram. Melihat para petani yang biarpun pakaiannya sederhana, robek-robek dan kotor terkena lumpur, bekerja di sawah sambil menyanyi-nyanyi, wajah mereka berseri gembira, tubuh mereka sehat kuat, Han Han ikut menjadi gembira. Karena tertarik dan kagum, Han Han beristirahat di bawah pohon dekat sawah, melihat seorang petani tua yang sedang mencangkul sawahnya. Petani tua itu memandang ke arah Han Han, menggeleng-geleng kepala penuh kasihan melihat pemuda yang berkaki buntung itu, lalu melanjutkan pekerjaannya.

"Lopek, maaf kalau aku mengganggu pekerjaanmu. Penduduk di sini kelihatan sehat dan gembira sekali, alangkah jauh bedanya dengan penduduk kota Tai-goan yang saya lalui beberapa hari yang lalu."

Kakek itu menunda cangkulnya, menoleh dan tersenyum.

"Habis, kalau tidak gembira, apa yang disusahkan? Bekerja setiap hari mendatangkan kesehatan. Dan berkat kesucian para nikouw yang bersembahyang untuk kami di Kwan-im-bio di dusun kami, Kwan Im Pouwsat memberi berkah sehingga hasil sawah kami selalu baik. Memang benar, semenjak Thian Sim Nikouw dan para muridnya membangun kuil Kwan-im-bio di dusun kami, penghidupan kami lebih tenteram. Sawah ladang subur, kalau ada yang sakit para nikouw cepat turun tangan mengobati, dan petuah-petuah yang berharga dari para nikouw mengusir semua kemaksiatan di dusun-dusun."

Han Han tertarik dan makin kagum. Di mana ada penghidupan yang demikian tenang dan damai?

"Selain itu, juga tidak ada orang jahat berani mengganggu pedusunan di sekitar Tai-hang-san, berkat perlindungan para nikouw Kwan-im-bio yang sakti."

Han Han makin kagum. Dia menoleh ke arah sebuah dusun yang ditunjuk oleh kakek itu, dan karena hari sudah menjelang senja, ia mengambil keputusan untuk singgah dan melewatkan malam di dusun itu. Ia lalu berpamit dan melanjutkan perjalanannya menuju ke dusun yang berada di sebuah lereng di kaki Pegunungan Tai-hang-san. Ketika tiba di luar dusun, ia mendengar derap kaki kuda dan seekor kuda yang ditunggangi seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, dengan sebatang golok tergantung di punggung, melewatinya dan meninggalkan debu yang mengotori pakaian Han Han. Pemuda ini mengebut-ngebutkan pakaiannya dan mengerutkan alisnya. Jelas bahwa orang tadi yang kini bersama kudanya memasuki dusun di depan bukanlah petani dusun, dan melihat sinar kejam membayang di wajah itu, diam-diam Han Han merasa khawatir.

Akan tetapi dengan tenang ia melanjutkan perjalanannya, melangkah dengan satu kaki dengan ringan dan mudah, akan tetapi apabila bertemu orang ia lalu menggunakan tongkatnya membantu sehingga tidak menimbulkan curiga dan keheranan. Kalau ia menggunakan ilmunya, bergerak dengan langkah satu kaki seperti yang ia latih di bawah pimpinan gurunya, tentu ia akan mendatangkan keheranan kepada mereka yang melihatnya. Di pinggir dusun itu tampak sebuah bangunan tembok yang dari jauh pun dapat diduga tentu sebuah kuil. Temboknya setinggi dua meter dan tebal, dan di pintu depan tampak tulisan tangan di atas papan, tulisan yang bergaya indah: KWAN IM BIO.

Post a Comment