"Memang demikianlah, So-hiantit. Akan tetapi bicara kepada orang yang berotak angin, apa artinya? Sama dengan berteriak di padang pasir, sayang ucapan baik-baik dihamburkan saja. Gentong kosong berbunyi nyaring akan tetapi tidak ada isinya. Huhhh."
Kata yang tua.
"Mulut bau busuk! Asal terbuka saja mengeluarkan bau busuk. Eh, Sam-wi Suheng, akan percumalah kita dikenal sebagai Kang-thouw Su-liong (Empat Naga Berkepala Besi) kalau tidak membersihkan dusun ini yang agaknya terdapat banyak lalat hijau dari Se-cuan. Yang jelas di sini bau dua ekor lalat hijau yang agaknya baru keluar dari kakus. Baunya bukan main."
Kata seorang di antara empat laki-laki brewok yang hidungnya besar. Si Codet dan dua orang temannya tertawa bergelak sambil menuding-nuding ke arah dua orang itu. Keadaan makin tegang dan banyak tamu tergesa-gesa membayar makanan yang belum habis, bahkan yang baru masuk sudah keluar lagi tidak jadi memesan makanan. Majikan restoran berjalan ke sana ke mari membawa swipoanya, wajahnya pucat. Koki gemuk berdiri di dekat tumpukan bakpauw dengan kaki menggigil. Melihat ini, Han Han segera menghampiri meja empat orang brewok itu dan menjura sambil berkata,
"Apakah Su-wi Taihiap hendak memesan makanan tambahan?"
Si Codet menoleh dan menepuk-nepuk pundak Han Han sambil tertawa.
"Inilah dia seorang patriot sejati, ha-ha-ha."
Tiga orang kawannya juga terbahak. Orang ke Tiga yang ada tahi lalatnya di ujung hidung berkata mengejek,
"Eh, pelayan patriot, apakah engkau kehilangan kakimu di medan juang? Ha-ha-ha, agaknya engkau dahulu pelayan di Se-cuan dan karena kekurangan makan lalu lari ke sini."
Orang ke empat yang matanya sipit sekali menekan perutnya saking menahan ketawa lalu berkata,
"Eh, pelayan patriot. Coba katakan, kami adalah Kang-thouw Su-liong, dan kami membenci para pemberontak di Se-cuan. Pemerintah baru amat bijaksana, dapat menggunakan orang pandai untuk membikin makmur hidup rakyat. Akan tetapi para pemberontak di Se-cuan memancing-mancing perang, mengadakan kekacauan dan membikin sengsara rakyat yang sudah terlalu banyak menderita akibat perang. Katakan, kalau kami memihak kerajaan baru yang bagaikan sinar matahari sehabis hujan memberi harapan baru, tidakkah pendapat kami benar?"
"Kalau berani menyalahkan, kupatahkan lagi kakimu yang tinggal sebelah."
Kata Si Hidung Besar. Han Han berkata dengan suara tenang,
"Menurut pendapat saya yang bodoh, manusia di dunia berhak memiliki pendapat masing-masing, asal ada dasar kebenarannya. Kalau Cu-wi yang gagah perkasa membela pemerintah baru mengingat kepentingan rakyat, maka pendapat itu adalah benar sekali. Pendapat seseorang dapat dinilai dari dasarnya, atau pamrihnya. Kalau dasar dan pamrihnya baik, maka pendapat itu adalah baik."
"Ha-ha-ha-ha, Bagus, bagus! Engkau pincang, akan tetapi pendirianmu jejek, untuk pendirian yang bagus itu engkau harus kami hadiahi secawan arak."
Si Codet mengambil secawan arak, diberikan kepada Han Han. Terpaksa, untuk tidak menimbulkan keributan, Han Han minum arak itu.
"Terima kasih, taihiap."
Ia lalu terpincang-pincang meninggalkan meja dan ketika lewat dekat meja dua orang gagah itu ia berhenti dan bertanya,
"Apakah ji-wi membutuhkan sesuatu?"
Dua orang itu bertukar pandang, dan yang tua menyentuh lengan Han Han sambil berkata,
"Orang muda, biarpun kakimu buntung, agaknya engkau bukanlah seorang yang bodoh dan suka bicara sembarangan. Juga sikapmu bukan seperti penjilat yang hanya bicara untuk menyenangkan orang karena takut."
Ia berhenti sebentar, keadaan sunyi sekali. Empat orang di meja sebelah sama sekali tidak mengeluarkan suara, agaknya mendengarkan penuh perhatian dan siap untuk meledak marah kalau ada omongan yang terang-terangan mengenai mereka. Para tamu lain yang masih berada di situ sudah pindah meja, para koki dan pelayan bersembunyi di sudut terjauh.
"Agaknya engkau memiliki pandangan luas dan tidak berat sebelah. Katakanlah, orang muda. Seseorang yang rela berkorban jiwa demi rakyat dan negara, yang mempertaruhkan setiap jengkal tanah airnya dari kuku penjajahan, tanpa pamrih untuk keuntungan diri sendiri dan semata-mata berjuang karena merasa bahwa hal itu merupakan panggilan tanah air, merupakan tugas kewajiban seorang gagah, bagaimana pendapatmu akan pendirian orang ini? Salahkah dia? Atau gagah perkasa?"
Dengan suara tetap tenang Han Han yang ingin meredakan api yang mulai membakar di antara dua meja itu, menjawab,
"Pendirian itu pun benar dan tepat sekali, Lo-enghiong. Seorang yang berani membela negara, asal dengan dasar sebagaimana yang Lo-enghiong sebutkan tadi, bukan dasar mencari jasa dan keuntungan, dialah seorang patriot sejati yang patut dijadikan tauladan selagi hidup dan patut dipuji sebagai pahlawanan setelah gugur."
"Bagus sekali. Tidak salah wawasanku bahwa engkau memang bukan pemuda sembarangan. Nah, minumlah arak bersama kami, orang muda."
Orang gagah itu lalu memberi arak secawan penuh kepada Han Han yang terpaksa menerimanya dan meminumnya.
"Ciang-lo-enghiong, marilah kita pergi dari sini. Tempat ini amat tidak menyenangkan, karena terlalu banyak penjilat-penjilat dan terlalu banyak anjing. Gonggong anjing biasa masih enak didengarkan, akan tetapi gonggong empat ekor anjing penjilat sungguh memuakkan. Yang ada di sini hanyalah sahabat buntung ini, yang ternyata berjiwa patriot dan gagah."
"Setan."
Si Laki-laki Brewok yang bermata sipit menampar meja di depannya sambil berdiri dan menunding ke arah pemuda gagah.
"Siapa yang kau maki anjing?"
Pemuda gagah itu pun bangkit berdiri, dadanya yang bidang dikembangkan dan ia pun menuding.
"Siapa yang kau maki setan?"
"Aku memaki kalian setan-setan pemberontak."
"Dan aku memaki kalian anjing-anjing penjilat."
"Keparat."
Empat orang laki-laki brewok itu menyambar sumpit mereka dan sekali menggerakkan tangan, delapan batang sumpit menyambar ke arah dua orang gagah itu yang juga sudah bangkit berdiri. Akan tetapi dengan lincah mereka itu dapat mengelak, bahkan masing-masing telah berhasil menyambar dua batang sumpit.
"Makanlah senjata kalian."
Teriak yang tua dan mereka berdua mengembalikan empat batang sumpit itu dengan sambitan kuat ke arah empat orang penyerang mereka. Akan tetapi empat orang yang berjuluk Empat Naga Berkepala Raja itu ternyata juga lihai karena dengan miringkan tubuh sedikit saja empat batang sumpit itu tidak mengenai tubuh mereka.
"Waduhhh.... aduhhh.... telingaku....."
Majikan restoran menjerit-jerit dan memegangi telinga kirinya yang ternyata kena diserempet sebatang sumpit hingga daun telinga itu robek dan berdarah. Han Han sudah melangkah maju dan berdiri di antara dua meja, di mana enam orang itu sudah saling serang. Bahkan, empat orang brewok sudah menghunus golok mereka, sedangkan dua orang gagah itu masih tenang-tenan saja, namun sudah siap berdiri menyambut serangan lawan.
"Cu-wi sekalian harap sabar. Ingat, bukankah cu-wi berenam ini tergolong orang-orang gagah? Adakah di antara cu-wi yang suka disebut orang jahat dan pengecut?"
"Heh? Si Buntung lancang. Siapa yang kau katakan penjahat dan pengecut?"
Bentak Si Mata Sipit sambil mengamangkan goloknya. Han Han menjura.
"Syukurlah kalau cu-wi taihiap tidak sudi disebut penjahat atau pengecut, dan memang saya pun yakin cu-wi adalah orang-orang gagah. Demikian pula dengan ji-wi Enghiong ini. Kalau cu-wi melanjutkan perkelahian di sini, amatlah disangsikan apakah hal itu merupakan perbuatan orang gagah, karena perkelahian itu akan merugikan banyak orang. Pertama, pemilik restoran rugi karena barang-barangnya rusak. Kedua, para tamu rugi karena tidak dapat makan. Ketiga banyak bahayanya akan jatuh korban di antara orang-orang lain seperti terbukti majikan saya daun telinganya robek. Nah, cu-wi sebagai orang-orang gagah tentu saja tidak suka main kasar dan merugikan orang lain, bukan? Kalau memang hendak berkelahi, sebagai orang-orang gagah dapat saja berunding nanti di luar dan menentukan tempat yang sunyi."
Dua orang itu sudah duduk kembali dan yang tua berkata, ke arah majikan restoran,
"Maafkan kami untuk luka itu, biarlah kami menanggung kerugian untuk biaya berobat."
Majikan itu dengan kaki gemetar memaksa diri tersenyum.
"Tidak usah.... tidak usah.... asal jangan berkelahi di sini.... saya sudah berterima kasih sekali kepada cu-wi.... eh, tambahkan arak wangi, gratis dariku untuk terima kasihku kepada enam orang tamu agung."