Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 138

Memuat...

"Permintaan apakah itu, Nona? Apakah yang dapat saya lakukan untuk Paduka?"

"Engkau tentu telah tahu bahwa Kerajaan Mancu berhasil menguasai semua daratan di selatan. Akan tetapi, masih ada daerah di barat yang belum mau tunduk, yaitu daerah Se-cuan yang dikuasai oleh Bu Sam Kwi. Kedudukan musuh ini amat kuat dan hal ini terutama sekali ditimbulkan oleh bantuan orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi. Kami mengalami kemacetan dan kesulitan untuk menaklukkan daerah itu, yang merupakan daerah terakhir. Kalau Se-cuan sudah takluk, berarti seluruh daratan Tiongkok berada di kekuasaan Kerajaan Ceng kita...."

"Bukan kerajaan kita, Nona. Ingat, saya adalah seorang bangsa Han...."

Nirahai mengerutkan keningnya.

"Hemmm...., apakah engkau anti Mancu dan pro kepada Bu Sam Kwi?"

Kakek itu menarik napas panjang dan menggeleng kepala.

"Saya tidak mengenal Bu Sam Kwi, dan saya tidak peduli akan urusan negara, saya hanya bertugas menjaga kuburan suci ini. Dahulu, mendiang pendekar sakti Suling Emas menghilangan semua bentuk permusuhan antar suku bangsa, bahkan Kerajaan Khitan berdarah Han pula. Akan tetapi sekarang.... ah, saya tidak tahu tentang urusan kerajaan. Teruskan, apakah yang Paduka kehendaki?"

"Kami ingin menaklukkan Se-cuan tanpa menimbulkan banyak korban di pihak orang-orang gagah di dunia kang-ouw. Kaisar kami membutuhkan tenaga orang-orang pandai itu, maka kami ingin menaklukkan mereka tanpa membunuh, bahkan kalau bisa hendak menarik mereka untuk bekerja sama demi negara dan bangsa seluruhnya. Karena itu, kedatanganku ke sini untuk minta pinjam senjata pusaka dari mendiang Suling Emas. Dengan suling sakti milik Suling Emas, kiranya aku akan dapat mempengaruhi para orang gagah itu untuk menakluk dengan damai. Berikanlah suling emas itu padaku, Kakek Gu, untuk kupinjam beberapa lamanya. Kalau sudah selesai tugasku dengan hasil baik, aku bersumpah untuk mengembalikannya kepadamu."

"Tidak mungkin."

Kakek itu berseru.

"Pusaka-pusaka itu adalah benda keramat, yang tidak boleh dibawa pergi oleh siapapun juga dari sini. Nona sudah menyaksikan sendiri terpaksa saya membunuh Sepasang Anjing Hitam tadi yang hendak merampas pusaka. Dan entah sudah berapa banyak orang-orang yang tewas di tangan saya karena menghendaki pusaka-pusaka itu. Harap Nona membuang jauh keinginan itu dan meninggalkan tempat ini dengan selamat."

"Kakek yang keras kepala, Apakah kau ingin aku menggunakan kekerasan? Engkau tahu sendiri betapa lihainya Pat-mo Kiam-hoatku yang tidak akan dapat kaulawan."

Nirahai sudah menggerakkan payungnya.

"Srettt."

Payung yang tadi dipanggulnya itu kini telah menodong dari depan dadanya ke arah kakek itu.

"Wuuuttttt.... singgggg."

Kipas dan suling emas sudah tercabut keluar oleh kakek itu sambil berkata.

"Nona, memang Pat-mo Kiam-hoat amat hebat. Di dunia ini terdapat dua ilmu mukjizat yang dimiliki mendiang pendekar sakti Suling Emas, yaitu Lo-hai San-hoat (Ilmu Silat Kipas Pengacau Lautan) dan Pat-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa). Pat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis) dahulu diciptakan untuk mengatasi Pat-sian Kiam-hoat, akan tetapi betapapun juga, ilmu yang bersih tak mungkin dapat dikalahkan ilmu yang sesat. Dewa yang suci takkan dapat dikalahkan Iblis yang jahat. Saya tidak akan dapat menyerahkan suling ini selama nyawaku masih berada di tubuh ini."

"Bagus! Engkau memang keras kepala."

Nirahai berseru marah dan payungnya sudah menerjang hebat. Akan tetapi kini kakek itu mainkan Pat-sian Kiam-hoat dengan suling emasnya, dan kipasnya mainkan ilmu Silat Lo-hai San-hoat yang dahsyat. Angin keras bertiup dari kebutan kipas, menyambar-nyambar muka Nirahai dan setiap kali gadis ini terpaksa miringkan muka atau mengelak oleh sambaran kipas, sinar kuning emas dari suling sudah meluncur, mengarah bagian tubuh berbahaya, disusul dengan totokan-totokan gagang kipas.

"Aiiih....."

Nirahai menggunakan gin-kangnya, tubuhnya melesat ke atas dalam usahanya untuk menghindarkan diri.

Keringat dingin keluar dari jidatnya dan gadis ini harus mengakui bahwa kakek bongkok itu benar-benar lihai sekali. Ia bersilat dengan hati-hati, menggunakan payungnya sebagai senjata pedang yang menyerang, juga sebagai senjata perisai yang melindungi tubuh. Pertandingan berlangsung seru sekali. Kakek itu menang pengalaman dan juga menang ilmu silat, akan tetapi kalah lincah dan kalah dalam hal perkembangan, taktik dan kecerdikan. Pertandingan berlangsung seratus jurus lebih dan diam-diam Nirahai harus mengakui bahwa Ilmu Pedang Pat-mo Kiam-hoat memang kalah hebat oleh Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat. Kalau saja kakek itu menguasai ilmunya dengan sempurna, kiranya tadi-tadi ia sudah dirobohkan lawan.

"Ser-ser-serrr....."

Nirahai tiba-tiba menyambit dengan jarum-jarumnya. Karena jarak di antara mereka dekat, kakek itu terkejut, memutar kipas dan mengebut jarum-jarum runtuh ke tanah. Kesempatan ini dipergunakan oleh Nirahai untuk mengirim tusukan kilat dengan ujung payungnya. Kipas itu terbuka, menangkis dan tiba-tiba tertutup, kedua gagang kipas menjepit ujung pedang. Nirahai kaget sekali karena tiba-tiba payungnya tak dapat digerakkan dan tampak sinar kuning emas berkelebat depan matanya. Tahulah puteri ini bahwa nyawanya terancam suling yang ampuh itu.

"Plak-plak....."

Tubuh Nirahai dan tubuh kakek bongkok itu terlempar ke belakang oleh dorongan telapak tangan yang memiliki tenaga hebat tak tertahankan. Mereka cepat meloncat untuk mematahkan tenaga dorongan yang membuat mereka terhuyung dan memandang ke depan. Nirahai terbelalak heran melihat bahwa di situ telah berdiri seorang nenek yang masih memiliki wajah cantik sekali, pakaiannya pun indah dan bersih berdiri dengan sikap agung melebihi keagungan permaisuri kaisar sendiri.

"Ya Tuhan.... be.... benarkah Paduka ini....?"

Kakek bongkok bergoyang-goyang tubuhnya, matanya terbelalak, wajahnya pucat seolah-olah ia melihat setan di tengah hari.

"Gu Toan, apakah matamu telah menjadi lamur karena usia tua dan tidak mengenal aku?"

Wanita itu berkata, suaranya dingin melebihi salju.

"Benarkah.... benarkah Paduka ini.... Maya-siocia (Nona Maya)....?"

Nenek itu tersenyum, bukan dengan mulutnya melainkan dengan matanya. Mata yang amat indah dan sama sekali tidak membayangkan usia tua.

"Gu Toan, biar sudah menjadi kakek tua, engkau masih bodoh. Masa aku yang sudah jadi nenek-nenek kau sebut siocia? Sungguhpun aku selamanya tidak pernah menikah dan masih seorang Nona, akan tetapi Nona tua...."

Ucapan terakhir ini terdengar bernada duka sehingga Nirahai menjadi heran.

"Ahhh.... ampunkan hamba...."

Kakek itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu.

"Hamba kira.... hamba dengar bahwa Paduka...."

Ia tidak berani melanjutkan.

"Kau kira aku sudah mati?"

Nenek itu melanjutkan dan melihat kakek bongkok yang berlutut itu mengangguk, ia menghela napas panjang.

"Memang sudah mati...., apakah bedanya dengan mati kalau batin ini sudah kosong dan semangat ini sudah padam? Hanya tubuh yang tak tahu diri, yang masih belum juga mau mati...."

Ucapan ini terdengar perlahan kemudian tiba-tiba ia sadar dan melanjutkan dengan suara halus namun amat dingin dan penuh wibawa,

"Eh, Gu Toan, aku melihat engkau sampai menggunakan sepasang pusaka keramat dan mainkan ilmu simpanan melawan gadis ini. Siapakah dia?"

Ia bertanya kepada Gu Toan akan tetapi menoleh kepada Nirahai dan sejenak ia terpesona melihat wajah Nirahai, karena ia seakan-akan melihat bayangannya sendiri dalam air yang jernih.

"Kau.... kau seorang gadis Khitan....?"

Nirahai yang sejak tadi masih memandang dengan hati tegang dan heran, menggangguk tanpa mengalihkan pandang matanya. Ia dapat mengenal orang sakti, yang sekali bergerak dapat membuat dia dan kakek bongkok terpental ke belakang.

"Saya seorang dara Mancu yang berdarah Khitan pula."

"Dia adalah puteri Kaisar Kang Hsi dari Kerajaan Mancu,"

Kakek bongkok itu menerangkan.

"akan tetapi berdarah Khitan dan telah mewarisi Pat-mo Kiam-hoat, Sin-coa-kun-hoat dan Siang-tok-ciam. Datang ke sini untuk meminjam suling emas guna menaklukkan tokoh-tokoh kang-ouw yang membantu Bu Sam Kwi yang belum mau takluk kepada Kerajaan Ceng. Terpaksa hamba menolak dan kami bertempur...."

Nenek itu masih memandang Nirahai penuh selidik. Tiba-tiba tangan kanannya bergerak ke depan. Nirahai tidak tahu bagaimana caranya, akan tetapi ia terkejut sekali karena tahu-tahu tangan itu telah meraih ke arah payung yang dipegangnya. Tentu saja ia cepat menggerakkan payungnya untuk mengelak, akan tetapi payungnya itu tiba-tiba saja terlepas dari tangannya, seolah-olah payungnya berubah menjadi seekor burung yang amat kuat dan yang terbang melepaskan diri dari tangannya. Ketika ia memandang, ternyata nenek itu telah memegang payungnya dan memeriksanya, membuka menutup dan mencobanya dengan beberapa gerakan menusuk. Nenek itu mengangguk-angguk dan berkata.

"Lumayan juga senjata ini. Sudah memiliki senjata seperti ini, sudah memiliki ilmu-ilmu ampuh peninggalan Keluarga Suling Emas, mengapa masih ingin meminjam suling emas?"

Pertanyaan ini bagaikan ujung pedang ditodongkan di depan dada Nirahai yang masih belum kehilangan kaget dan herannya menyaksikan betapa dengan mudahnya nehek itu merampas senjatanya. Karena maklum bahwa nenek ini amat sakti, dan tahu pula bahwa kalau ia salah jawab dan nenek itu menghendaki, sekali pukul saja ia akan tewas dan ia tidak akan dapat melindungi dirinya dari tangan nenek yang luar biasa ini. Maka Nirahai yang cerdik dan juga yang merasa amat kagum segera menjatuhkan diri beriutut di depan nenek itu, seperti kakek bongkok, dan berkata.

"Mohon maaf sebanyaknya kepada locianpwe kalau teecu bersalah dalam halini. Sesungguhnya teecu secara terpaksa sekali mohon pinjam suling emas itu, karena tugas teecu sebagai pimpinan pasukan pengawal yang bertugas menandingi tokoh-tokoh kang-ouw yang menentang pemerintah Kerajaan Ceng dan membantu pemberontak Bu Sam Kwi. Kerajaan Ceng menghendaki agar orang-orang gagah itu ditaklukkan dengan jalan damai, karena untuk membangun negara yang banyak menderita karena perang, pemerintah membutuhkan bantuan orang-orang gagah itu."

Post a Comment