"Setan Bongkok keparat! Kalau begitu terpaksa kami menggunakan kekerasan."
Bentak orang Mongol bertahi lalat di hidung. Bersama adiknya, dia lalu siap untuk menyerang. Tubuh yang bongkok itu makin bongkok, mukanya tunduk, matanya terbuka dan melirik ke atas sehingga dipandang dari depan, sikap kakek itu seperti seekor lembu marah memasang tanduk siap menghadapi lawan yang bagaimanapun juga.
"Kalian yang akan mati. Sekali ini aku tidak akan membiarkan kalian hidup."
Jawab kakek itu.
"Setan Bongkok, sambutlah."
Tiba-tiba orang Mongol yang bertahi lalat di hidungnya berseru, tubuhnya merendah sampai hampir berjongkok, dan kedua lengannya didorongkan ke depan ke arah kakek bongkok. Terdengar bunyi tulang berkerotokan dan angin yang kuat menyambar ke arah kakek bongkok. Nirahai terkejut sekali. Ia dapat menduga bahwa pukulan atau dorongan kedua lengan orang Mongol itu amat lihai, merupakan pukulan tenaga sin-kang yang kuat sekali. Belum pernah ia melihat atau mendengar pukulan jarak jauh dengan tenaga sakti sampai mengeluarkan bunyi berkerotokan seperti itu. Kakek bongkok kelihatan tercengang juga, akan tetapi dengan tenang sekali tubuhnya sudah bergerak ke kiri, tahu-tahu tubuhnya sudah miring mengelak dan lengannya bergerak menangkis, yaitu dengan sambaran angin pukulan menangkis serangan lawan.
"Hemmm.... bukankah ini Thai-lek-kang....?"
Terdengar kakek bongkok berseru heran.
"Setan Bongkok mampuslah."
Bentak lawan ke dua yang bertubuh tinggi. Tubuh orang Mongol ke dua ini sudah bergerak ke depan dengan cepat sekali dan tahu-tahu tubuh itu berpusing makin lama makin cepat, sambil berpusingan cepat sekali tubuh itu menerjang ke arah kakek bongkok. Tubuh orang Mongol itu lenyap, yang tampak hanya bayangan berpusing dan kadang-kadang tampak kaki tangannya bergerak keluar dari bayangan yang berputar cepat seperti kitiran angin itu.
"Ayaaaaa, bukankah ini pun ilmu dari Thai-lek Kauw-ong yang disebut Soan-hong-sin-ciang (Tangan Sakti Angin Badai)?"
Kakek bongkok itu berseru kaget dan kembali tubuhnya bergerak dan kini Nirahai merasa kagum karena kakek bongkok itu ternyata dapat bergerak amat lincahnya.
"Ha-ha-ha, Setan Bongkok. Apa kau kira kami selama sepuluh tahun ini tinggal diam saja? Ha-ha-ha."
Orang Mongol bertahi lalat di hidung menerjang lagi dengan pukulan sakti Thai-lek-kang sambil berjongkok, sedangkan adiknya tetap menyerang dengan ilmu silat yang aneh itu, yaitu sambil memutar-mutar tubuh amat cepatnya. Sejenak kakek bongkok itu terdesak dan menghindar ke sana ke mari sambil mengomel,
"Hemmm, Thai-lek Kauw-ong sudah lama mampus, kini ilmu-ilmunya yang jahat muncul lagi. Kim-siauw Locianpwe (Orang Sakti Suling Emas), maaf, terpaksa boanpwe (aku yang rendah) mengotorkan pusaka locianpwe."
Dua orang Mongol itu sudah merasa girang karena serangan-serangan mereka yang benar-benar amat luar biasa dan dahsyat itu berhasil mendesak kakek bongkok. Mereka ingin membunuh penjaga kuburan ini agar mereka dapat menggeledah dan mencari pusaka-pusaka peninggalan keluarga Suling Emas di tempat itu.
Dengan penuh kepercayaan akan kelihaian ilmu-ilmu mereka yang baru, yaitu ilmu pukulan Thai-lek-kang (Tenaga Sakti Halilintar) dan ilmu Silat Soan-hong-sin-ciang, mereka mendesak lebih keras lagi. Kedua macam ilmu ini sebetulnya memang sudah lama lenyap dari dunia persilatan. Dahulu ilmu-ilmu ini dimiliki oleh Thai-lek Kauw-ong yang pernah bertanding melawan Suling Emas dan dikalahkan (baca cerita Mutiara Hitam), dan semenjak Thai-lek Kauw-ong lenyap dari dunia persilatan, ilmu-ilmunya pun turut lenyap. Akan tetapi ternyata kini ilmu-ilmu yang lihai itu telah terjatuh ke tangan Sepasang Anjing Hitam gurun pasir Go-bi dan begitu melihat ilmu-ilmu ini terus mengenalnya membuktikan pengetahuan yang luas kakek bongkok itu yang lihai.
Kedua orang Mongol yang merasa girang karena yakin akan menang itu tiba-tiba mengeluarkan suara kaget disusul jerit melengking yang keluar dari mulut mereka ketika berkelebat sinar kuning menyilaukan mata. Tubuh mereka roboh terpelanting dan ternyata kedua orang Mongol itu telah tewas. Nirahai terbelalak memandang, penuh kagum. Tangan kiri kakek bongkok itu memegang sebatang suling emas, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah kipas. Itulah sepasang senjata dari pendekar sakti Suling Emas seperti ia dengar dari dongeng-dongeng lama. Kakek bongkok sejenak berdiri bongkok memandang dua sosok mayat bekas lawannya, kemudian mencium kipas dan suling bergantian sambil berkata,
"Kim-siauw Locianpwe, sampai sekarang pun senjata-senjata pusaka locianpwe masih terlalu ampuh bagi orang-orang jahat."
Setelah berkata demikian kakek bongkok itu menggerakkan kedua tangan dan lenyaplah suling dan kipas itu di balik baju pelayannya.
Kemudian ia mengempit mayat dua orang Mongol itu, membawanya ke dekat perahu mereka tadi. Tali tambang perahu ia gunakan untuk mengikat dua sosok mayat bersama perahunya erat-erat, kemudian sekali angkat dan melontarkan, perahu dengan dua sosok mayat itu terlempar jauh ke tengah sungai dan perlahan-lahan perahu itu terbawa arus sungai yang lamban. Kakek bongkok memandang sejenak, kemudian ia kembali ke depan pondok tempat pertempuran tadi, menggunakan sepatunya menggosok-gosok sampai bersih tetesan darah yang mengotori tempat itu. Melihat kakek itu menggosok-gosok dan membersihkan tanah yang terkena darah dengan teliti dan hati-hati sekali. Nirahai memperhatikan dan menjenguk dari balik batu. Kakek itu berdiri membelakanginya, maka ia berani menjenguk keluar.
Ia tidak tahu betapa kakek bongkok itu sejak tadi sudah menduga akan kehadirannya dan betapa kakek itu kini sambil membelakanginya dan menghapus darah dengan sepatu, sebenarnya memperhatikan belakang penuh selidik. Tiba-tiba tubuh kakek bongkok yang membelakanginya itu bergerak melayang ke belakang seperti seekor burung garuda menyambar kelinci, kakinya menendang dan kedua tangannya mencengkeram. Akan tetapi ketika ia melihat bahwa yang mengintai itu seorang dara, ia berteriak kaget dan tubuhnya membalik cepat, membuat gerakan poksai beberapa kali dan meloncat turun ke atas tanah, memandang dengan mata terbelalak kepada Nirahai yang berdiri tenang sambil tersenyum. Mata kakek itu menjelajahi muka dan pakaian Nirahai, kemudian mengerling ke arah joli kosong yang indah akan tetapi tanpa pemanggul itu.
"Nona, mau apakah Nona datang ke tempat terlarang ini?"
Kakek itu marah sekali melihat ada orang berani mendatangi tempat yang baginya suci itu, akan tetapi karena pelanggarnya seorang dara muda, ia menjadi tidak enak untuk bersikap kasar. Hanya pandang matanya yang bengis. Nirahai tersenyum manis.
"Orang tua, bukankah engkau penjaga kuburan keluarga pendekar besar Suling Emas? Aku datang untuk berziarah, untuk bersembahyang di depan kuburan para pendekar."
"Hemmm, sudah bertahun-tahun tempat suci ini menjadi tempat terlarang, mana mungkin tempat suci ini dikotorkan sembarang orang yang hendak berziarah? Engkau ini gadis muda berani lancang mendatangi tempat terlarang di sini, siapa kau?"
Nirahai masih tersenyum, sikapnya sabar akan tetapi sebetulnya matanya ingin sekali dapat menembus baju kakek itu untuk melihat suling emas yang tadi ia lihat sekelebatan ketika kakek ini mempergunakannya untuk merobohkan dua orang Mongol. Suling itulah yang ingin ia dapatkan. Jauh-jauh ia datang dengan susah payah hanya untuk mendapatkan suling itu. Senjata pusaka dari pendekar sakti Suling Emas"
Dengan pusaka itu, agaknya akan mudah baginya menundukkan tokoh-tokoh kang-ouw yang masih belum mau tunduk, bahkan yang kini berpusat di barat, di Secuan, membantu Bu Sam Kwi"
"Kakek yang baik, aku adalah Puteri Nirahai."
"Puteri? Puteri Mancu? Masih ada hubungan apa dengan mendiang Pangeran Dorgan?"
Kakek ini bertanya, alisnya yang banyak putihnya itu berkerut, matanya memandang tajam.
"Mendiang Pangeran Dorgan adalah masih Kakekku, Paman Kakekku. Aku adalah puteri Kaisar yang sekarang."
Makin tidak enak hati kakek itu dan terpaksa ia lalu membungkuk dengan sikap normat.
"Ah, kiranya Paduka ini puteri Kaisar Kang Hsi? Maaf, saya tidak dapat menyambut Paduka sepantasnya karena tempat ini adalah kuburan, tempat suci. Akan tetapi, sungguh saya merasa heran, mengapa Paduka hendak berziarah di tanah kuburan ini? Yang terkubur di sini adalah keluarga Kerajaan Khitan, keluarga pendekar sakti Suling Emas...."
"Engkau benar, orang tua. Ayahku, Kaisar Kang Hsi dari Kerajaan Mancu, memang tidak mempunyai hubungan dengan tanah pekuburan ini. Akan tetapi ketahuilah, Ibuku adalah seorang puteri Khitan. Ibuku termasuk seorang di antara puteri-puteri Khitan yang dipersembahkan kepada Kaisar Mancu, sehingga biarpun aku puteri Kaisar Mancu, namun aku pun mempunyai darah keturunan Khitan. Karena itu, kurasa sudah sepatutnya kalau aku berziarah dan bersembahyang di depan kuburan suci ini, Kakek yang baik."
Kakek bongkok itu mengerutkan alisnya makin dalam dan ia menggeleng-geleng kepaia.
"Kalau Paduka benar puteri Kaisar Mancu, mengapa Paduka datang sendiri tanpa pengiring? Bagaimana saya dapat membuktikan bahwa Paduka ini puteri Kaisar Mancu dan keturunan keluarga Kerajaan Khitan?"
Nirahai tersenyum.
"Orang tua, andaikata engkau menjadi seorang keluarga raja, apakah engkau juga akan suka setiap keluar dari pintu dikawal banyak orang sehingga gerakanmu tidak bebas, selalu diawasi?"
Kakek bongkok itu memandang sejenak, tidak menjawab karena ia agaknya bingung dan tidak mengerti apa yang dimaksudkan gadis itu.
"Orang-orang seperti kita yang sudah biasa bergerak bebas lepas seperti burung di udara dan seperti ikan di samudera, mana bisa merasa senang kalau selalu dikawal orang? Itulah sebabnya aku tidak pernah membawa pengawal biarpun aku puteri kaisar. Memang aku tidak bisa membuktikan bahwa aku puteri kaisar, akan tetapi orang tua yang baik, aku sungguh seorang yang berdarah Khitan, dan lebih daripada itu, akulah yang mewarisi ilmu kepandaian pendekar wanita sakti Mutiara Hitam yang kuburannya berada di sini pula."
Kakek itu mengerutkan keningnya dan memandang tajam.
"Harap Paduka tidak main-main. Kalau yang datang ke sini adalah Sepasang Pedang Iblis, saya tentu tidak akan ragu-ragu menerima sepasang manusia sinting itu sebagai pewaris ilmu mendiang Mutiara Hitam. Sudahlah, Nona. Lebih baik lekas Nona panggil dua orang pemanggul joli Nona dan cepat pergi dari tempat ini. Tempat ini bukanlah tempat pesiar bagi seorang puteri seperti Nona. Kalau orang lain yang berani datang, tentu sudah saya bunuh."
"Hemmm, seperti yang kau lakukan kepada Sepasang Anjing Hitam dari Go-bi, dua orang Mongol tadi?"
Nirahai mengejek.
"Ahhh, Paduka melihatnya?"