Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 82

Memuat...

Lu Thay Kam menatapnya tajam, kemudian mendadak bersiul panjang sambil menyerang dengan jurus le Hoa Ciap Bok (Memindahkan Bunga Menyambung Pohon), jurus tersebut amat lihay dan hebat, bahkan disertai pula dengan Iweekang sepenuhnya.

Menyaksikan serangan itu, wajah Lu Hui San langsung memucat.

Gadis itu tidak menyangka kalau ayah angkatnya akan mengeluarkan jurus tersebut untuk menyerang Tio Bun Yang.

"Ayah...." Lu Hui San memejamkan matanya karena merasa tidak tega menyaksikan tubuh Tio Bun Yang akan hancur berkeping-keping.

Kenapa Lu Thay Kam mengeluarkan jurus tersebut" Ternyata Lu Thay Kam tahu Tio Bun Yang berkepandaian sangat tinggi.

Kalau ia tidak menyerangnya dengan sungguhsungguh, tentunya pemuda itu tidak akan mengeluarkan jurus andalannya pula.

Oleh karena itu, Lu Thay Kam terpaksa harus mengeluarkan jurus andalannya.

Ketika menyaksikan serangan itu, Tio Bun Yang tahu Lu Thay Kam tidak main-main, maka iapun menggunakan Kan Kun Taylo Ciang Hoat, mengeluarkan jurus Kan Kun Taylo Hap It (Segala-galanya Menyatu Di Alam Semesta) untuk menangkis.

Blaaaml Terdengar suara benturan dahsyat.

Tio Bun Yang terhuyung-huyung ke belakang tiga langkah.

Lu Thay Kam begitu juga, bahkan wajahnya tampak pucat pias.

Sedangkan wajah Tio Bun Yang tetap tampak seperti biasa.

"Bun Yang..." keluh Lu Hui San tidak berani membuka matanya.

Gadis itu yakin tubuh Tio Bun Yang telah hancur berkeping-keping.

"Anak muda!" ujar Lu Thay Kam sambil menatapnya terbelalak.

"Engkau memang luar biasa sekali!

Aku sungguh kagum kepadamu!" "Tenmakasih atas kemurahan hati Lu Kong Kong!" sahut Tio Bun Yang dan sekaligus memberi hormat.

Mendengar suara itu, barulah Lu Hui San membuka matanya.

Begitu melihat Tio Bun Yang tidak kurang sualu apa pun, berserilah wajahnya.

"Bun Yang!" serunya girang.

"Engkau tidak apa-apa?" "Aku tidak apa-apa," sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Terimakasih atas perhatianmu!" "Sungguh keterlaluan!" ujar Lu Thay Kam dengan tertawa.

"San San, engkau sama sekali tidak menaruh perhatian pada ayahmu, malah menaruh perhatian pada Bun Yang." "Ayah...." Wajah Lu Hui San memerah.

"Ayah tidak apaapa?" "Kalau ayah tak memiliki leekang le Hoa Ciap Bok, ayah pasti sudah terkapar tak bernyawa di sini," sahut Lu Thay Kam sungguh-sungguh.

"Oh?" Lu Hui San tampak kurang percaya.

"Ayah jangan bergurau!" "Ayah tidak bergurau, sesungguhnya memang begitu" ujar Lu Thay Kam sambil menatap Tio Bun Yang.

"Anak muda, tadi engkau menggunakan ilmu apa untuk menangkis seranganku?" "Aku menggunakan Kan Kun Taylo Ciang Hoat." Tio Bun Yang memberitahukan.

"Kalau aku tidak menggunakan ilmu tersebut, aku pasti sudah menjadi mayat." "Sungguh bebat ilmu itul" ujar Lu Thay Kam sambil menghela nafas.

"Dapat balik menyerang dengan Iweekang Si Penyerang pula.

Apabila Iweekang le Hoa Ciap Bok tak memiliki keistimewaan, nyawaku pasti sudah melayang." "Lu Kong Kong!

Sungguh luar biasa ilmu le Hoa Ciap Bok itu, sebab Kan Kun Taylo Sin Kangku tidak mampu membalikkan seluruh Iweekang le Hoa Ciap Bok tersebut, bahkan masih menerobos menyerangku." "Itulah keistimewaan Iweekang tersebut, tapi tetap tidak mampu melukaimu." "Karena aku masih memiliki Pan Yok Hian Thian Sin Kang yang melindungi diriku." "Ooohi" Lu Thay Kam manggut-manggut.

"Pantas engkau tidak terluka sama sekalil Ternyata engkau masih memiliki Iweekang pelindung tubuh, sungguh bukan main!" "Tapi kalau Lu Kong Kong tidak mengurangi Iweekang di saat menyerang, mungkin aku sudah terluka," Tio Bun Yang memberitahukan.

"Kalau aku tidak mengurangi Iweekangku itu, aku pun sudah terluka parah," sahut Lu Thay Kam sambil tertawa gelak.

"Ha ha ha!

Pertandingan tadi sungguh memuaskan!

Oh ya, apabila engkau bersedia menjadi pembesar, aku pasti mengangkatmu setinggi-tingginya." "Maaf, Lu Kong Kong, aku tidak berniat menjadi pembesar!

Kini sudah hampir pagi, aku harus segera kembali ke rumah penginapan." "Baiklah." Lu Thay Kam manggut-manggut, "Mudahmudahan kita akan berjumpa lagi kelak!" "Permisi!" ucap Tio Bun Yang.

Lu Thay Kam mangut-manggut lagi, kemudian memandang Lu Hui San seraya berpesan.

"San San, setelah urusanmu itu beres, engkau harus kembali ke sinil" "Ya, Ayah," Lu Hui San mengangguk.

"Sampai jumpa, Ayah!" "San San," tanya Lu Thay Kam mendadak.

"Engkau sudah punya kekasih belum?" "Ayah...." Wajah Lu Hui San langsung memerah.

"San San," ujar Lu Thay Kam sambil tertawa.

"Bun Yang adalah pemuda tampan dan baik, janganlah membiarkannya terbang ke dalam pelukan gadis lain!" "Ayah!" Lu Hui San tersenyum.

"Bun Yang sudah punya kekasih, maka Ayah jangan mengharapkan yang bukanbukan!" "Oh?" Lu Thay Kam menghela nafas panjang.

"Sungguh sayang sekalil" "Lu Kong Kong," ucap Tio Bun Yang.

"Sampai jumpa!" "Sampai jumpa, anak mudai" sahut Lu Kong Kong sambil tertawa.

"Ingat!

Pintu tempat tinggalku ini selalu terbuka untukmu!" "Terimakasih, Lu Kong Kongl" Tio Bun Yang melangkah pergi Lu Hui San segera mengikutinya, sedangkan Lu Thay Kam memandang punggung mereka sambil menghela nafas panjang.

Di dalam kamar penginapan, Lie Ai Ling berjalan mondarmandir dengan kening berkerut-kerut, sedangkan Siang Koan Goat Nio duduk tenang di kursi.

"Goat Niol" Mendadak Ue Ai Ling menunjuknya seraya berkata.

"Aku sangat cemas, sebaliknya engkau malah begitu tenang duduk di kursi.

Engkau tidak memikirkan Kakak Bun Yang dan Lu Hui San?" "Tentu memikirkan mereka " sahut Siang Koan Goat Nio, yang tetap tampak tenang.

"Namun aku yakin Bun Yang tidak akan terjadi sesuatu, maka aku bisa tenang dan berlega hati." "Sudah hampir pagi, bagaimana kalau kita menyusu!

ke istana?" usul Lie Ai Ling, yang kelihatan tidak sabaran.

"Kita tunggu lagi sebentar, jangan terburu-buru menyusul ke sana!" ujar Siang Koan Goat Nio.

"Jadi tidak akan selisih jalan." "Tapi___" Ketika Lie Ai Ling baru mau mengatakan sesuatu, tiba-tiba kamar itu terbuka, Tio Bun Yang dan Lu Hui San berjalan masuk.

"Ai Ling, Goat Nio!" panggil Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Kakak Bun Yang!" seru Lie Ai Ling girang.

"Syukurlah kalian tidak terjadi apa-apa!" "Al Ling!" Lu Hui San tersenyum.

"Terima kasih atas perhatianmu!" "Hi hi hil" Lie Ai Ling tertawa.

"Dari semalam kami tidak bisa tidur.

Aku terus berjalan mondar-mandir, sedangkan Goat Nio terus duduk mematung di kursi." "Oh7" Tio Bun Yang memandang Siang Koan Goat Nio.

"Goat Nio...." "Bun Yang..." sahut Siang Koan Goat Nio lembut.

"Aku...

aku sangat mencemaskan mu " "Goat Nio____" Tio Bun Yang tersenyum.

"Terimakasihl" "Eh" Goat Niol" Lie Ai Ling terbelalak.

"Tadi engkau kelihatan begitu tenang, kenapa sekarang bisa bilang mencemaskan Kakak Bun Yang?" "Aku mencemaskannya dalam bati, maka tetap kelihatan tenang," sahut Siang Koan Goat Nio memberitahukan.

"Oooohl" Lie Ai Ling manggut-manggut sambjl tertawa.

"Mencemaskan Kakak Bun Yang dalam hati...." Siang Koan Goat Nio tersenyum dengan wajah agak kemerah-merahan, kemudian memandang Tio Bun Yang seraya bertanya, "Engkau bertemu Lu Thay Kam?" "Ng!" Tio Bun Yang mengangguk, lalu menutur dan menambahkan.

"Aku tak menyangka sama sekati kalau Lu Thay Kam begitu menyayangi dan mencintai Hui San." "Itu memang sungguh di luar dugaan." Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.

"Ternyata Lu Thay Kam masih punya rasa kasih sayang dan cinta terhadap Hui San." "Kalau begitu..." ujar Lie Ai Ling.

"Lu Thay Kam sesungguhnya tidak jahat, sebab dia masih mau membesarkan Hui San, bahkan juga membiarkan Sie Kuang Han meloloskan diri dengan membawa anaknya." "Yaaahl" Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Semua itu dikarenakan politik dalam istana, sehingga menimbulkan berbagai pergolakan." "Kakak Bun Yang," Lie Ai Ling menatapnya.

"Urusan di sini telah beres, kita akan langsung berangkat ke Gunung Hek Ciok San?" tanyanya.

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Sekarang sudah pagi, mari kita berangkat!" "Kita harus makan dulu, setelah itu barulah berangkat," sahut Lie Ai Ling dengan tersenyum.

"Jangan berangkat perut dalam keadaan kosong, bahkan kita pun harus beli sedikit makanan kering!" "Benar." Tio Bun Yang mengangguk.

"Mari kita pergi makan dulu lalu berangkat!

Kita tidak boleh membuang waktu lagi." -ooo0dw0ooo- Bagian ke tiga puluh tiga Pertarungan Dimulut Lembah Kabut Hitam Kam Hay Thian memang benar berangkat ke Lembah Kabut Hilam di Gunung Hek Ciok San.

Namun ia belum tiba di lembah itu karena mengambil jalan putar Hal itu dilakukannya agar Seng Hwee Sin Kun tidak mengetahui kedatangannya, tapi justru banyak menyila waktunya.

Ketika dia hampir mendekati Gunung Hek Ciok San, sekonyong-konyong melayang turun seorang gadis di hadapannya.

Betapa terkejutnya Kam Hay Thian, ia menatap gadis itu dengan Lajam dan siap bertarung.

"Selamat bertemu Saudara Kam!" ucap gadis itu sambil tersenyum dan sekaligus memberi hormat.

"Namaku Phang Ling Cu, ketua Ngo Tok Kauw." "Nona Phang.

kok kenal aku?" Kam Hay Thian mengerutkan kening.

"Padahal kita tidak pernah bertemu." "Aku bertemu Bibi Suan Hiang, ketua liong Ngie Pay, dia yang menceritakan kepadaku tentang dirimu," sahut gadis itu, yang ternyata Phang Ling Cu, ketua Ngo Tbk Kauw.

"Oooh!" Kam Hay Thian manggut-manggut.

"Bahkan____" Ngo Tok Kauwcu memberitahukan sambil tersenyum.

"Aku pun sudah bertemu Tio Bun Yang!" "Oh?" Kam Hay Thian menatapnya.

"Maaf!

Ada urusan apa Nona Pbang muncul di sini menemuiku?" "Saudara Kam!" Ngo Tok Kauwcu tersenyum lagi.

"Terus terang, kita punya musuh yang sama." "Siapa musuhmu?" "Seng Hwee Sin Kun." "Apa?" Kam Hay Thian tertegun.

"Dia musuhmu juga?" "Betul." Ngo Tok Kauwcu mengangguk.

"Dia pembunuh ayahku, maka aku harus membalaskan dendam." "Dia pembunuh ayahmu?" Kam Hay Thian terbelalak.

"Nona Phang, bolehkah engkau menutur mengenai kejadian itu?" "Tentu boleh." Ngo Tok Kauwcu mengangguk lalu menutur.

"Dia membunuh ayahku gara-gara sebuah kitab pusaka Seng Hwee Cin Keng." "Apa?" Kam Hay Thian mengerutkan kening.

"Dia membunuh ayahku juga dikarenakan kitab pusaka itu.

kalau begitu?" "Ayahmu bernama Kam Pek Kian, bukan?" "Betul.

Dari mana Nona Phang lahu?" "Ketika ayahku terluka parah oleh pukulan Seng Hwee Sin Kun, tiba-tiba muncul ayahmu berusaha menolong ayahku." Ngo Tok Kauwcu memberitahukan.

"Ayahku memberikan kitab pusaka itu kepada ayahmu, setelah itu ayahku menghembus nafas penghabisan.

Post a Comment