Apakah engkau tega membunuh orang yang tiilak melawan"' ujar Tio Bun Yang.
"Aku...
aku..-" Lu Hui San menundukkan kepala.
"Bun Yangl Kenapa engkau ke mari mencampuri urusan ini?" "Aku ke mari dengan maksud ingin menolongmu, tapi tidak tahunya____" Tio Bun Yang menghela nafas panjang, kemudian memandang Lu Thay Kam sambil memberi hormat.
"Maafkan aku.
Lu Kong Kong'" "Anak muda...." Lu Thay Kam terbelalak, lalu tertawa gelak.
"Engkau ke mari ingin menolong San San, tapi malah menyelamatkan nyawaku.
Anak muda, kenapa engkau menyelamatkan nyawaku?" "Karena Lu Kong Kong ayah angkat Hui San.
Lagi pula tadi Lu Kong Kong tidak melawan sama sekali," sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum.
"Itu membuktikan betapa sayangnya Lu Kong Kong kepada Hui San." "Ha ha ha!" Lu Thay Kam tertawa terbahak-bahak.
"Tidak salah, aku memang sayang sekali kepada San Sanl Oleh karena itu, aku bersedia mati di tangannya." "Aku tak menyangka sama sekali, Lu Kong Kong memiliki perasaan itu," ujar Tio Bun Yang sambil menghela nafas panjang.
"Padahal Lu Kong Kong sangat terkenal akan kekejamannya." "Anak muda!
Aku kejam karena politik dalam istana.
Kalau aku tidak kejam, mungkin aku sudah mati di tangan para menteri.
Tentunya engkau mengerti tentang itu." "Maaf!
Aku tidak mengerti dan tidak mau mengerti tentang itu sebab aku bukan pembesar." "Ha ha hal" Lu Thay Kam tertawa gelak.
"Kalau engkau ingin menjadi pembesar, aku bersedia mengangkatmu." "Terimakasih, Lu Kong Kong!" ucap Tio Bun Yang.
Tapi aku tidak berniat menjadi pembesar." "Oh ya!" Lu Thay Kam menatapnya tajam.
"Engkau memasuki istanaku ini, apakah engkau membunuh para pengawalku?" "Tidak," Tio Bun Yang menggelengkan kepala.
"Aku hanya menotok jalan darah mereka, agar mereka tidak bisa bergerak maupun berteriak." *Oooh!" Lu Thay Kam manggut-mangguL "Anak muda, engkau punya hubungan apa dengan San San?" tanyanya.
"Sebagai teman," sahut Tio Bun Yang memberitahukan.
"Masih ada dua temannya berada di rumah penginapan." "Goat Nio dan Ai Ling juga datang di ibu kota?" tanya Lu Hui San.
"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.
"Mereka ingin ikut, tapi kularang.
Mereka menunggu di rumah penginapan." "Aaah...!" Tiba-tiba Lu Hui San menghela nafas panjang.
"Karena engkau mencampuri urusan ini, sehingga aku tidak jadi membunuh penjahat ini!" "Hui San" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Lu Kong Kong bukan penjahat, dia adalah ayah angkatmu Ihol" "TapL..." "San San" ujar Lu Thay Kam sungguh-sungguh.
"Kalau engkau masih ingin membunuhku, aku tetap bersedia mati di tanganmu." 'Tidak mungkin!" Lu Hui San menggelengkan kepala.
"Bun Yang berada di sini" "Hui San," sahut Tio Bun Yang.
"Kalau engkau masih ingin membunuh Lu Kong Kong, aku tidak akan turut campur lagi." "Oh?" Lu Hui San mengerutkan kening.
"Kenapa?" "Sebab aku tahu engkau masih punya perasaan," jawab Tio Bun Yang.
"Dari kecil engkau hidup bersama Lu Kong Kong, bagaimana mungkin engkau tega membunuhnya?" "Aku...
aku____" Lu Hui San mulai terisak-isak.
"San San!" Lu Thay Kam mendekatinya, kemudian membelainya seraya berkata.
"Aku membunuh kedua orang tuamu karena ada surat perintah dari kaisar." "Kalau engkau tidak memfitnah ayahku, bagaimana mungkin keluargaku akan dihukum mati oleh kaisar?" ujar Lu Hui San dengan air mata berderai.
"San San!" Lu Thay Kam menghela nafas panjang.
"Sebetulnya bukan aku yang memfitnah ayahmu.
Ketika aku baru mau memfitnah ayahmu, justru muncul seorang menteri memfitnah ayahmu.
Oleh karena itu, kaisar mengeluarkan surat perintah untuk menghukum mati seluruh keluargamu.
Aku yang melaksanakan tugas itu, namun____" "Kenapa?" "Aku tidak membunuhmu dan membiarkan Sie Kuang Han meloloskan diri dengan membawa putranya." Lu Thay Kam memberitahukan.
"Kalau aku memang berhati kejam, tentunya engkau, Sie Kuang Han dan putranya sudah mati." Lu Hui San tak menyahut.
Lu Thay Kam menghela nafas seraya melanjutkan.
"Karena aku tidak membunuhmu dan membiarkan Sie Kuang Han meloloskan diri dengan membawa putranya, maka menteri itu memfitnah diriku.
Tapi aku berhasil menuduh menteri itu dengan berbagai alasan, akhirnya menteri itu bersama keluarganya dihukum mati oleh kaisar." "Oh?" Lu Hui San terbelalak.
"Karena itu...." Lu Thay Kam menggeleng-gelengkan kepala.
"Sie Kuang Han tidak seharusnya menyuruhmu membalas dendam." "Pamanku tahu tentang itu?" tanya Lu Hui San.
"Dia tahu." Lu Thay Kam manggut-manggut dan menambahkan "Terus terang, aku dan ayahmu merupakan kawan baik, tapi kami berdua selalu berselisih paham, akhirnya menjadi musuh.
Aaah.
Itu telah berlalu, tidak perlu kuungkit lagi" "Kalau begitu, kenapa tadi Lu Kong Kong tidak mau menjelaskan?" tanya Tio Bun Yang.
"Apabila aku terlambat datang, bukankah Lu Kong Kong."." "Yaaahl" Lu Thay Kam menghela nafas panjang.
"Memang aku yang membunuh kedua orang tuanya, maka kalau dia ingin membunuhku, aku pun bersedia mati di tangannya." "Aaaakhl" keluh Lu Hui San.
"San San!" Lu Thay Kam menatapnya dalam-dalam seraya bertanya, "Engkau masih sudi mengaku aku sebagai ayah angkatmu?" "Aku____" Lu Hui San manggut-manggut.
"San San anakkul" Lu Thay Kam memeluknya erat-erat "Tidak sia-sia aku membesarkanmu, sebab engkau adalah gadis baik yang kenal akan budi kebaikan." "Ayah_" panggil Lu Hui San sambil terisak-isak.
"San Sanl" Lu Thay Kam membelainya.
"Jangan menangis, tidak baik menangis di hadapan pemuda tampani" "Ayah"." Wajah Lu Hui San agak memerah.
"Anak muda, aku belum tahu namamu," ujar Lu Thay Kam sambil tertawa gelak.
"Bentahukan lahl" "Namaku Tio Bun Yang." "Engkau masih muda, tapi memiliki Iweekang yang begitu tinggi.
Aku sungguh kagum kepadamu." "Ayah" Lu Hui San memberitahukan.
"Dia putra Tio Cie Hiong, yang sangat terkenal itu." .
"Oh!" Lu Thay Kam terbelalak.
"Pek Ih Sin Hiap adalah ayahmu?" "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.
"Kalau begitu...." Lu Thay Kam teringat sesuatu.
"...
engkau adalah Giok Siauw Sin Hiap?" "Ya." Tio Bun Yang mengangguk lagi.
"Tapi____" Lu Thay Kam mengerutkan kening.
"Setahuku, ada seekor monyet bulu putih menyertaimu.
Kenapa tidak tampak monyet bulu putih itu?" "Aku tidak ajak kauw heng ke mari," ujar Tio Bun Yang.
"Kauw heng berada di dalam kamar penginapan menemani Goat Nio dan Al Ling." "Kenapa tidak engkau ajak mereka ke mari?" tanya Lu Thay Kam mendadak.
"Aku khawatir akan terjadi sesuatu di sini, maka aku tidak mengajak mereka ke mari," sahut Tio Bun Yang dan menambahkan.
Tapi apabila aku tidak kembali pagi hari, mereka akan menyusul ke sini." "Kalau begitu, biar mereka menyusul ke sini sajal" ujar Lu Thay Kam sambil tertawa.
"Maaf.
Lu Kong Kongl" ucap Tio Bun Yang.
"Aku harus mohon diri sekarang, sebab urusan di sini sudah beres." "Ayah, aku juga mau mohon pamit," sambung Lu Hui San dan melanjutkan.
"Karena masih ada urusan lain yang harus kuselesaikan" "San San____" Lu Thay Kam menghela nafas panjang.
"Engkau baru pulang-..." "Ayah, kalau urusanku itu sudah beres, aku pasti kembali," ujar Lu Hui San sungguh-sungguh.
"Jadi Ayah jangan melarangku pergi sekarang, sebab aku harus menemui Goat Nio dan Ai Ling." "Baiklah," Lu Thay Kam manggut-manggut.
"Tapi..." "Ada apa, Ayah?" tanya Lu Hui San heran.
"Pemuda ini harus bertanding tiga jurus dengan ayah, barulah ayah memperbolehkan engkau pergi," sahut Lu Thay Kam sambil memandang Tio Bun Yang.
"Ayah____" Lu Hui San mengerutkan kening.
"Anak mudai" Lu Thay Kam tertawa.
"Bagaimana, engkau bersedia bertanding tiga jurus dengan aku?" "Lu Kong Kong..." Tio Bun Yang menggelengkan kepala.
"Kita tidak perlu bertanding.
Bagaimana kalau aku mengaku kalah saja?" "Mengaku kalah" Ha ha ha Tentunya aku tidak terimal Nah, alangkah baiknya kita bertanding tiga jurus sajal" desak Lu Thay Kam.
"Anak muda, jangan mengecewakan aku dan mempermalukan Pek lh Sin Hiap, ayahmu!" "Lu Kong Kong, aku ke mari bukan untuk bertanding" "Kalau engkau tidak bersedia bertanding de ngan aku, tentu aku akan melarang San San pergi," tegas Lu Thay Kam.
"Ayah?" Lu Hui San mengerutkan kening."Kenapa Ayah mendesaknya untuk bertanding"* "Ha ha ha!" Lu Thay Kam tertawa.
"San San,, engkau harus tahu, ayah mau bertanding dengan dia, itu berarti ayah menghargai dia." "Oh?" Lu Hui San memandang Tio Bun Yang.
"Kalau begitu?" Pemuda itu menghela nafas, "maafkan atas kelancanganku bertanding dengan Lu Kong Kong!" "Ha ha hal Anak muda!" Lu Thay Kam tertawa gelak.
"Engkau memang pemuda yang sopan, aku suka kepadamu.
Nah, bersiap-siaplah, aku akan menyerangmu dengan tangan kosong!" Tio Bun Yang mengangguk, sekaligus mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang, sedangkan Lu Thay Kam juga mengerahkan Iweekangnya.
"Anak muda, hati-hati!" seru Lu Thay Kam dan langsung menyerangnya dengan ilmu Ie Hoa Ciap Bok Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Memindahkan Bunga Menyambung Pohon), ia mengeluarkan jurus Hoa Kay Cang Cun (Bunga Mekar Sepanjang Musim Semi).
Sungguh hebat jurus tersebut, sebab sepasang tangan Lu Thay Kam berubah menjadi ratusan kuntum bunga mengarah kepada Tio Bun Yang.
Tio Bun Yang terperanjat menyaksikan jurus itu la ingin berkelit tapi sudah terlambat.
Maka, ia terpaksa menangkis dengan ilmu Jari Sakti Bit Ciat Sin Ci.
mengeluarkan jurus Cian Ci Soh Te (Ribuan Jari Menyapu Bumi).
Betapa terkejutnya Lu Thay Kam menyaksikan jurus tersebut.
Cepat-cepat ia menarik kembali serangannya, kemudian menyerang lagi dengan jurus Ki Yauw Yap Lok (Dahan Bergoyang Daun Rontok).
Daaar!
Terdengar suara benturan dahsyat.
Lu Thay Kam berdiri tak bergeming, sedangkan tubuh Tio Bun Yang tampak bergoyang-goyang.
"Ha ha ha!" Lu Thay Kam tertawa terbahak-bahak.
"Sungguh luar biasa!
Ternyata engkau memang berisi!
Kini hanya tinggal satu jurus, engkau harus berhati-hati!
Karena jurus ini akan kusertai dengan Iweekang sepenuhnya, maka eng kau jangan menganggapku main-main!" "Ya." Tio Bun Yang mengangguk, lalu menghimpun Kari Kun Taylo Sin Kang.