Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 79

Memuat...

"Hmmm...!" "Membicarakan sesuatu." sahut Tio Bun Yang dengan serius dan menambahkan, "Sebab menyangkut rahasia seseorang, maka aku harus menemui Hui San secara diamdiam.

Karena itu, malah menimbulkan kecurigaanmu." "Oh?" Lie Ai Ling mengerutkan kening.

"Agar aku mempercayaimu, ceritakanlah tentang itu!" "Tapi...." Tio Bun Yang melirik Lu Hui San.

"Kini sudah bukan rahasia lagi, lebih baik terbuka saja," ujar Lu Hui San sambil menghela nafas panjang.

"Ai Ling, Goat Nio, sebelumnya aku mohon maaf kepada kalian, karena aku merahasiakan sesuatu terhadap kalian." "Menutup apa?" tanya Lie Ai Ling heran.

"Identitas diriku," sahut Lu Hui San dan melanjutkan, "Sebetulnya ayahku bukan Lu Kam Thay, melainkan Lu Thay Kam." "Apa?" seru Lie Ai Ling tak tertahan.

"Lu Thay Kam adalah ayahmu?" "Ya." Lu Hui San mengangguk.

"Tapi dia bukan ayah kandungku, melainkan ayah angkat." "Jadi____" Lie Ai Ling terbelalak.

"Kakak Bun Yang tahu tentang itu?" "Ya.

Dia memang tahu.

Namun karena masih ragu maka dia bertanya kepadaku," sahut Lu Hui San.

"Bahkan dia juga tahu asal-usulku.

Maka untuk memastikan itu, dia menemuiku di sini." "Oh?" Lie Ai Ling menarik nafas lega, kemudian menegur Tio Bun Yang.

"Kenapa Kakak Bun Yang tidak mau memberitahukan kepadaku dan Goat Nio?" "Sebab aku harus merahasiakannya, berhubung Lu Thay Kam adalah ketua Hiat Ih Hwe," sahut Tio Bun Yang.

"Jadi aku harus merahasiakannya, agar tidak menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan." "Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Sekali lagi aku mohon maaf," ucap Lu Hui San, lalu menghela nafas panjang seraya berkata, "Karena Bu Yang telah bertemu pamanku, maka aku pun harus memberitahukan kepada kalian mengenai identitasku." "Apa?" Lie Ai Ling terbelalak.

"Kakak Bun Yang bertemu pamanmu" Itu?" "Benar." Tio Bun Yang mengangguk.

"Aku memang telah bertemu pamannya, yang bernama Sie Kuang Han?" Tio Bun Yang menutur tentang itu, Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio mendengar dengan penuh perhatian.

"Kakak Bun Yang," ujar Lie Ai Ling seusai Tio Bun Yang menutur.

"Aku dan Goat Nio telah salah paham terhadapmu, maaf ya!" "Tidak apa-apa." Tio Bun Yang tersenyum.

"Tapi lain kali engkau tidak boleh langsung menuduh sebelum tahu jelas suatu masalah." "Ya." Lie Ai Ling mengangguk.

"Ohya, Kakak Bun Yang, bolehkah engkau menuturkan semua pengalamanmu itu?" "Tentu boleh." Tio Bun Yang manggut-manggut kemudian menuturkan semua pengalamannya.

"Kakak Bun Yang, aku tak menyangka engkau mengunjungi daerah Miauw," ujar Lie Ai Ling.

"Bagaimana keadaan daerah itu?" "Aman dan tenang," sahut Tio Bun Yang memberitahukan.

"Pemandangan di sana pun sangat indah menakjubkan." "Kakak Bun Yang...." Lie Ai Ling tersenyum.

"Kalau sempat, bagaimana kalau kelak kita pergi ke sana?" "Baik." Tio Bun Yang mengangguk.

"Ohya!

Besok kita semua akan berangkat ke tempat tinggal Paman Sie, maka lebih baik kita beristirahat sekarang." "Oh?" Lie Ai Ling memandang Lu Hui San.

"Kita tidak jadi pergi ke Gunung Hek Ciok San?" "Setelah menemui pamanku, barulah kita berangkat ke sana." Lu Hui San memberitahukan.

"Sebab aku harus tahu bagaimana kematian kedua orang tuaku." "Ngmmm!" Lie Ai Ling manggut-manggut, kemudian menarik Lu Hui San seraya berkata, "Mari kita ke tempat lain untuk beristirahat, jangan mengganggu Kakak Bun Yang dan Goat Nio!

Mereka berdua harus mencurahkan isi hati masingmasing." "Ai Ling____" Wajah Siang Koan Goat Nio terasa panas.

"Engkau?" "Hi hi hi!" Lie Ai Ling tertawa.

"Kami harus memberi kesempatan kepada kalian berdua untuk memadu cinta." "Ai Ling!" Siang Koan Goat Nio betul-betul salah tingkah dibuatnya.

"Engkau sungguh keterlaluan!" "Aku tidak keterlaluan, melainkan tahu diri," sahut Lie Ai Ling, lalu menarik Lu Hui San meninggalkan tempat itu.

"Dia masih bersifat kekanak-kanakan," ujar Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Namun berhati baik." "Juga sangat polos," sambung Siang Koan Goat Nio dan menambahkan.

"Aku suka sekali kepadanya." "Goat Nio____" Tio Bun Yang menatapnya dengan mata berbinar-binar.

"Tadi Ai Ling bilang engkau tertarik padaku, benarkah?" "Aku____" Siang Koan Goat Nio menundukkan kepalanya.

"Ya." "Goat Nio!" Mendadak Tio Bun Yang memegang tangan gadis itu.

"Aku pun tertarik padamu, bahkan boleh dikatakan telah...

telah jatuh hati padamu." "Oh?" Hati Siang Koan Goat Nio langsung berbunga-bunga.

"Engkau tidak bohong?" "Aku tidak pernah bohong, percayalah!" sahut Tio Bun Yang lembut dan bertanya, "Engkau juga jatuh hati padaku?" "Ng!" Siang Koan Goat Nio mengangguk perlahan.

"Kedua orang tuaku berharap____" "Kedua orang tuamu berharap apa?" "Berharap kita...

bisa bertemu secepatnya." "Kini kita sudah bertemu.

Kalau kedua orang tuamu tahu..." ujar Tio Bun Yang dengan tersenyum, "pasti girang sekali." "Ya." Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.

Tapi kedua orang tuaku tidak tahu bahwa kita v udah bertemu." "Itu tidak apa-apa." Tio Bun Yang tersenyum.

"vang penting kita sudah bertemu.

Ohya, betulkah Kam Hay Thian tertarik padamu?" "Betul." Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Tapi aku menolaknya secara terang-terangan, agar dia mundur." "Tapi____" Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Bukankah Lu Hui San jatuh hati padanya?" "Betul." Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.

"Bahkan Lam Kiong Soat Lan pun jatuh hati padanya." "Oh?" Tio Bun Yang tersentak.

"Kalau begitu...." "Yaaah!" Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang lagi.

"Aku justru khawatir, kelak akan terjadi sesuatu di antara mereka." "Bagaimana mungkin?" "Tentu saja mungkin.

Sebab cinta dapat membutakan orang, bahkan juga akan membuat keruh hati orang yang bersangkutan." "Kalau begitu..." ujar Tio Bun Yang setelah berpikir sejenak.

"Kita harus berusaha menjernihkan hati mereka, agar tidak terjadi sesuatu di kemudian hari." "Ng!" Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Ohya, setelah bertemu Paman Sie, kita harus segera berangkat ke Gunung Hek Ciok San.

Karena aku khawatir...." "Akan terjadi sesuatu atas diri Kam Hay Thian?" tanya Tio Bun Yang.

"Ya.

Sebab pemuda itu berhati keras." Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku khawatir dia akan celaka di tangan Seng Hwee Sin Kun." "Kalau begitu, besok pagi kita harus menggunakan ginkang menuju tempat tinggal Paman Sie.

Kita tidak boleh membuang waktu." "Benar." Siang Koang Goat Nio manggut-manggut.

"Kita tidak boleh membuang waktu.

Mari kita beristirahat sekarang!" "Baik." Tio Bun Yang mengangguk.

"Tapi alangkah baiknya kita bercakap-cakap sejenak dengan Ai Ling dan Hui San." "Ng!" Siang Koan Goat Nio menuju tempat kedua gadis itu, Tio Bun Yang mengikutinya dari belakang.

-ooo0dw0ooo- Jilid 7 "Eh?" Lie Ai Ling terheran heran ketika melihat mereka.

"Kok kalian ke maii sih" Sudah cukup kalian mencurahkan isi hati masing-masing?" "Ai Ling!" tegur Siang Koan Goal Nio.

"Jangan suka menggoda!

Ka!au kelak engkau bertemu pemuda idaman hatimu, aku pasti balas menggodamu." "Tidak apa-apa," sahut Lie Ai Ling sambil tertawa kecil.

"Ohya, besok pagi kita akan berangkat ke tempat tinggal Paman Ste?" "Ya," sahut Tio Bun Yang.

"Kita harus menggunakan ginkang agar cepat sampai di tempat itu." "Lho?" Lie Ai Ling tercengang.

"Memangnya kenapa?" "Sebab kita masih harus berangkat ke Gunung Hek Ciok San," ujar Siang Koan Goat Nio memberitahukan.

"Engkau sudah lupa ya?" "Bagaimana mungkin aku lupa" Kalau begitu, kita harus beristirahat sekarang," sahut Lie Ai Ling dan menambahkan sambil tertawa.

Tapi kalau kalian berdua masih ingin mengobrol, terserah kalian berdua lho!" "Adik Ai Ling!" legui Tio Bun Yang lembut.

"Tidak baik terus-menerus menggoda Goat Nio." "Wuah, sudah mulai membela dia!" sahut Lie ai ling sambil tertawa.

"Baru bertemu lhol Hi hi hi...!" -ooo0dw0ooo- Bagian ke tiga puluh dua Budi dan Dendam Dua hari kemudian, Tio Bun Yang, Siang Koan Goal Nio, Lie Ai Ling dan Lu Hui San sudah tiba di tempat tinggal Sie Kuang Han Kemunculan Tio Bun Yang bersama ketiga gadis itu sangat mengherankan Sie Kuang Han.

"Bun Yang____" Sie Kuang Han terbelalak.

"Paman!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Lihatlah siapa gadis ini?" tanyanya sambil menunjuk Lu Hui San.

Sie Kuang Han segera memperhatikan gadis tersebut.

"Engkau____" Sepasang mata Sie Kuang Han bertambah terbelalak ketika metibat sebuah tanda di leher gadis itu.

"Engkau adalah____" "Aku Lu Hui San." Gadis itu memberitahukan.

"Paman adalah?" "Hui San..." gumam Sie Kuang Han.

"Tidak salah.

Engkau memang Sie Hui San.

Nak, akhirnya kita bertemu " Sie Kuang Han memandangnya dengan air mata bercucuran.

Lu Hui San langsung mendekapnya dan menangis terisak-isak.

"Paman!

Paman____" "Nak____" Sie Kuang Han membelainya.

"Paman tak menyangka sama sekali, ternyata engkau masih hidup." "Paman, ceritakanlah tentang kematian kedua orang tuaku, aku ingin mengetahuinya!" "Duduklah!" ujar Si Kuang Han.

Setelah Lu Hui San, Tio Bun Yang, Siang Koan Goal Nio dan Lie Ai Ling duduk, barulah Sie Kuang Han menceritakan tentang kematian kedua orang tua Lu Hui San.

"Jadi..." ujar Lu Hui San dengan mata berapi-api.

"Lu Thay Kam yang membunuh kedua orang tuaku?" "Ya." Sie Kuang Han mengangguk.

"Tapi paman berhasil meloloskan diri dengan membawa Keng Hauw.

Justru paman tak menduga kalau engkau masih hidup dan dibesarkan oleh Lu Thay Kam yang sangat jahat itu." "Dia...

dia..." gumam Lu Hui San dengan suara bergemetar.

"Dia yang membunuh kedua orang tuaku, maka aku harus balas membunuhnya!" "Betul." Sie Kuang Han manggut-uianggut.

"Engkau harus balas dendam, lagi pula engkau bisa mendekati Lu Thay Kain." "Paman, aku pasti balas dendam!" ujar Lu Hui San berjanji.

"Aku pasti membunuh Lu Thay Kam!" "Sayang sekali!" Sie Kuang Han menggeleng-gelengkan kepala.

"Keng Hauw belum pulang." "Paman, kira-kira kapan Kakak Keng Hauw pulang?" "Entahlah.

Mungkin dalam tahun ini dia akan pulang," sahut Sie Kuang Han dan melanjutkan, "Ohya, kalian bermalam di sini saja!" "Ya." Lu Hui San mengangguk.

Namun diam-diam gadis itu telah mengambil suatu keputusan.

Ternyata di tengah malam ia meninggalkan tempat itu tanpa memberitahu Sie Kuang Han maupun lainnya.

Dapat dibayangkan, betapa terkejutnya Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling ketika bangun, karena tidak melihat Lu Hui San.

"Lho" Ke mana Hui San?" tanya Lie Ai Ling sambil berlari ke luar.

Tio Bun Yang dan Sie Kuang Han yang sedang duduk di ruang depan tampak tersentak ketika melihat mereka berlari ke luar.

Post a Comment