Berselang sesaat ia sudah kembali dengan membawa tiga buah cangkir dan sebuah kendi berisi arak wangi.
Gadis itu menaruh cangkircangkir ke hadapan mereka, lalu menuang arak wangi.
"Ha ha!" Orang tua itu tertawa.
"Mari kita bersulang!" Mereka bertiga bersulang bersama.
Bukan main monyet bulu putih itu, hanya sekali teguk keringlah cangkirnya, lalu disodorkan ke hadapan Cing Cing.
Gadis itu segera menuang arak wangi ke dalam cangkir yang di tangan monyet bulu putih, yang kemudian bercuit seakan mengucapkan terimakasih.
Setelah itu, monyet bulu putih mengangkat cangkirnya, seperti mengajak orang tua itu bersulang.
"Luar biasa!" Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Arakku masih ada setengah cangkir, tapi monyet bulu putih sudah tambah, sungguh luar biasa!
Tidak akan mabuk tuh?" "Jangan khawatir, Paman!" ujar Tio Bun Yang.
"Kauw heng tidak akan mabuk, percayalah!" "Oooh!" Orang tua itu tertawa.
"Anak muda, monyet bulu putih itu begitu kecil, kenapa kau panggil kauw heng?" "Kecil badannya, namun usianya____" "Berapa usianya?" "Tiga ratus tahun lebih sedikit." "Apa"!" Orang tua itu terbelalak.
"Anak muda, tidak baik membohongi orang tua lho!" "Paman, aku tidak pernah bohong," sahut Tio Bun Yang.
"Kauw heng memang sudah berusia tiga ratus tahun lebih, dia berasal dari Gunung Thian San." "Oh?" Mulut orang tua itu ternganga lebar.
"Luar biasa, sungguh luar biasa sekali!
Kalau begitu, aku pun harus memanggilnya kauw heng.
"Ha ha!
Kauw heng, mari kita bersulang!" Orang tua itu meneguk arak wanginya perlahan-lahan, tapi sebaliknya monyet bulu putih itu malah menghabiskan araknya dengan sekali teguk.
"Haah...?" Orang tua itu melotot.
"Celaka!
Kalau arak wangi ini habis, aku tidak mampu beli lagi." "Jangan khawatir, Paman," ujar Tio Bun Yang sambil mengeluarkan setael uang emas dan diberikannya kepada orang tua itu seraya berkata.
"Ini untuk Paman membeli arak wangi." "Apa" Untuk membeli arak wangi?" Oranj tua itu terbelalak.
"Setael uang emas ini bisa untuk membeli sawah, aku tidak berani menerimanya.' "Terimalah!" desak Tio Bun Yang.
"Kalau tidak, kami akan merasa tidak enak." "Tapi?" Orang tua itu tampak ragu menerimanya.
Monyet bulu putih bercuit-cuit kelihatannya tidak senang.
"Eh" Kenapa kauw heng?" Orang tua itu heran.
"Kalau Paman menolak, kauw heng pasti marah," ujar Tio Bun Yang memberitahukan.
"Kauw heng..." Mendadak monyet bulu putih melempar cangkir yang dipegangnya ke dinding, membuat orang tua itu dan putrinya tercengang.
Ceeeep!
Cangkir itu menancap di dinding.
"Haaah...?" Orang tua itu dan putrinya terkejut bukan main, mereka berdua saling memandang.
"Paman, kauw heng mulai marah lho!" ujai Tio Bun Yang sambil tersenyum.
"Maka Paman harus menerima uang emas ini." "Ba...
baik." Orang tua itu segera mengambil uang emas tersebut.
"Tuan!" Cing Cing menatapnya.
"Kauw heng kelihatan berkepandaian tinggi.
Aku yakin Tuan.
pasti berkepandaian tinggi pula." "Kira-kira begitulah." Tio Bun Yang manggut-manggut.
"Oh ya, jangan memanggilku Tuan, panggil saja namaku!" "Mungkin usiaku lebih besar, bagaimana kalau aku memanggilmu Adik Bun Yang?" "Baik." Tio Bun Yang mengangguk.
"Jadi aku harus memanggilmu Kakak Cing Cing." "Terimakasih!" ucap Cing Cing sambil tersenyum manis.
"Sama-sama." Tio Bun Yang juga tersenyum.
"Terimakasih, anak muda!" ucap orang tua itu dan menambahkan.
"Dengan adanya uang emas ini maka aku bisa membeli sawah." "Paman ingin membeli sawah?" "Ya." "Kalau begitu..." Tio Bun Yang mengeluarkan setael uang emas lagi, lalu diberikan kepada orang tua itu seraya berkata.
"Penambahan untuk Paman membeli sawah." "Eh" Anak muda...." Orang tua itu terbeliak.
"Aku...." "Kalau Paman tidak menerima, kauw heng pasti marah," ujar Tio Bun Yang.
Monyet bulu putih langsung menyeringai.
"Ba...
baik.
Terimakasih..." ucap orang tua itu sambil menerima uang emas tersebut "Sekarang sudah malam, lebih baik Paman dan Kakak Cing Cing pergi tidur saja." "Adik Bun Yang, aku ingin melihatmu menangkap penjahat itu," sahut Cing Cing yang tidak mau beranjak dari tempat duduknya.
"Ha ha!" Orang tua itu tertawa.
"Putriku begitu, aku pun sama." "Eeeh?" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.
Namun mendadak dia mengerutkan kening, dan monyet bulu putih bercuit-cuit.
"Ada apa?" tanya orang tua itu heran.
"Penjahat itu sudah datang," sahut Tio Bun Yang dengan suara rendah.
"Haaah...?" Wajah orang tua itu dan putrinya langsung berubah pucat.
"Bagaimana baiknya?" "Tenanglah, Paman!" ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum.
Tak berapa lama kemudian terdengarlah seruan di luar.
"Cing Cing yang cantik manis, aku datang menjemputmu untuk pergi bersenang-senang!" "Dia...
penjahat itu." Suara orang tua tersebut bergemetar.
"Penjahat itu mau menculik Cing Cing." "Tenang!" Tio Bun Yang beranjak ke pintu, sedangkan monyet bulu putih tetap duduk di bahunya.
Tio Bun Yang membuka pintu, dilihatnya seorang pemuda berwajah cukup tampan berdiri di luar.
"Kawan!
Siapa engkau" Kenapa engkau begitu tak bermoral?" tanya Tio Bun Yang sambil menatapnya tajam.
"Padahal engkau cukup tampan, tentunya tidak sulit memperisteri gadis cantik." "Diam!" bentak pemuda itu.
"Siapa engkau" Kenapa engkau mencampuri urusanku?" "Namaku Tio Bun Yang," jawabnya memberitahukan.
"Kebetulan aku menginap di sini, maka aku harus melindungi Cing Cing.
Kawan, beritahukanlah namamu!" "Dengar baik-baik!
Namaku Kwee Teng An.
Aku mau bersenang-senang dengan gadis yang mana pun, engkau tidak berhak turut campur!" "Saudara Kwee!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang.
"Engkau baru berusia dua puluhan dan cukup tampan, tapi kenapa justru mengambil jalan sesat?" "Eh" Kenapa engkau mencampuri urusanku?" bentak Kwee Teng An.
"Engkau ingin cari mati ya?" "Terus terang, aku masih merasa kasihan dan simpati kepadamu!" "Ha ha ha!" Kwee Teng An tertawa.
"Engkau tidak perlu berbaik hati kepadaku, cepatlah engkau enyah!
Kalau tidak, engkau pasti mati di ujung pedangku!" Kwee Teng An menghunus pedangnya, lalu menatap Tio Bun Yang dengan dingin dan bengis.
Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala, kemudian mengeluarkan suling pualamnya.
"Saudara Kwee, sebetulnya aku merasa tidak tega memusnahkan kepandaianmu!
Tapi...
engkau sama sekali tidak mau bertobat, maka aku terpaksa harus bertindak agar engkau tidak bisa melakukan kejahatan lagi!" "Hmm!" dengus Kwee Teng An.
"Engkau memang ingin cari mampus!
Lihat seranganku!" Kwee Teng An langsung menyerangnya dengan sengit.
Tio Bun Yang berkelit dan balas menyerang.
Sementara orang tua dan putrinya yang ketakutan itu, memberanikan diri mengintip ke luar.
Kebetulan Tio Bun Yang mulai bertarung dengan penjahat itu, maka wajah mereka bertambah pucat.
Para penduduk desa juga mulai berhambur ke luar.
Mereka menyaksikan pertarungan itu dengan hati berdebar-debar tegang.
Semuanya berharap Tio Bun Yang dapat mengalahkan penjahat itu.
Setelah bertarung belasan jurus, Tio Bun Yang merasa kagum kepada Kwee Teng An, karena kepandaian penjahat itu cukup tinggi.
Mendadak Kwee Teng An membentak keras, ternyata ia menyerang Tio Bun Yang dengan jurus simpanannya, yaitu jurus Lui Soh Ngo Gak (Halilintar Menyambar Lima Bukit).
Dahsyat, cepat dan lihay jurus itu.
Tampak pedang Kwee Teng An berkelebat-kelebat menyambar Tio Bun Yang.
Tio Bun Yang bersiul panjang.
Ia tidak berkelit, melainkan menangkis serangan Kwee Teng An dengan jurus Hai Lang Thau Thau (Ombak Laut Menderu-deru).
Trannng!
Terdengar suara benturan dua senjata.
Tio Bun Yang berdiri tegak di tempat, sedangkan Kwee Teng An terpental dua tiga depa ke belakang dengan wajah pucat pias.
"Maaf Saudara Kwee!" seru Tio Bun Yang.
"Aku terpaksa harus memusnahkan kepandaian-mu!" Tio Bun Yang melesat ke arah Kwee Teng An sekaligus menyerangnya dengan jurus Cian In Giok Siauw (Ribuan Bayangan Suling Pualam).
"Aaaaakh...!" jerit Kwee Teng An, yang jatuh terduduk.
Mulutnya mengeluarkan darah dan salah satu urat di tubuhnya telah putus sehingga kepandaiannya musnah seketika.
"Engkau...
engkau____" "Kini kepandaianmu telah musnah.
Aku harap selanjutnya jadilah engkau orang baik-baik!" "Tio Bun Yang!
Aku bersumpah akan menuntut balas dendam ini!" Kwee Teng An menatapnya dengan penuh dendam, kemudian berusaha bangkit untuk berdiri.
Para penduduk desa itu bersorak sorai penuh kegembiraan ketika melihat Tio Bun Yang berhasil merobohkan penjahat pemetik bunga.
Begitu pula orang tua dan putrinya yang di dalam rumah, mereka berdua segera berlari ke luar lalu menghampirinya.
"Anak muda, sungguh hebat engkau!" Orang tua itu mengacungkan jempolnya ke hadapan Tio Bun Yang.
"Adik Bun Yang," ujar Cing Cing dengan wajah berseri.
"Dugaanku tidak meleset, engkau berkepandaian tinggi." Tio Bun Yang hanya tersenyum.
Sedangkan monyet bulu putih yang duduk di bahunya juga bercuit-cuit.
"Terimakasih siauw hiap!" ucap seorang tua, yang ternyata seorang Kepala Desa.
"Engkau telah menyelamatkan desa kami." "Itu memang tugasku." Tio Bun Yang ter-l senyum.
"Kebetulan aku lewat di desa ini, kemudian menginap di rumah Cing Cing." "Oooh!" Kepala Desa itu manggut-manggut dan berkata.
"Karena engkau telah menyelamatkan desa kami, maka kami harus mengadakan pesta untuk menjamu siauw hiap." "Tidak usah, Paman!" Tio Bun Yang menggelengkan kepala.
"Aku masih harus melanjutkan perjalanan." "Belum pagi____" Kepala Desa itu tampak kecewa.
"Tidak apa-apa." Tio Bun Yang memandang orang tua itu dan Cing Cing.
"Paman, Kakak Cing Cing, sampai jumpa!" Tio Bun Yang melesat pergi.
Hal itu sungguh mengejutkan orang tua dan putrinya, yang tidak menyangka Tio Bun Yang akan begitu cepat pergi.
"Adik Bun Yang!
Adik Bun Yang!" seru Cing Cing.
Akan tetapi, Tio Bun Yang sudah tidak kelihatan.
Seketika Cing Cing menangis terisak-isak.
"Ayah...." Air mata Cing Cing berderai-derai.
"Kenapa adik Bun Yang begitu cepat pergi!" "Dia memang pemuda baik, ramah tamah dan tak mau disanjung," sahut orang tua itu.
"Maka dia segera pergi." "Adik Bun Yang____" Cing Cing terus terisak-isak.
"Cing Cing!" Orang tua itu tersenyum.
"Percayalah!
Kelak kalian akan bertemu lagi." "Tidak mungkin." Cing Cing menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara Kwee Teng An terus berusaha bangkit untuk berdiri, namun sama sekali tidak bertenaga.
Penduduk desa memandangnya dengan penuh kebencian.