Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 74

Memuat...

"Hmm!" dengus Kou Hun Bijin.

"Kalau Bun Yang berani berbuat begitu, akan kutampar mukanya sampai rusak!" "Eeeh?" Sam Gan Sin Kay tertawa lagi.

"Dia putra Cie Hiong dan Ceng Im, bukan putramu lho!" "Aku tidak perduli!" sahut Kou Hun Bijin melotot.

"Pokoknya aku harus hajar dia!" "Lho" Isteriku!" Kim Siauw Suseng tersenyum.

"Pembicaraanmu kok menyimpang sampai begitu jauh?" "Pengemis bau yang memulai." "Dia sudah sinting, kenapa engkau ikut sinting pula?" "Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Isterimu memang sudah gila, Bun Yang belum jadi mantunya, tapi dia sudah begitu galak.

Bagaimana kelak kalau sudah jadi mantunya" Itu betul-betul gawat." Sementara Tio Tay Seng, Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im cuma menggeleng-gelengkan kepala.

Di saat itulah muncul Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa.

Wajah mereka berseri-seri, namun kemudian terperangah, karena melihat Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.

Tio Cie Hiong segera memperkenalkan.

Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan langsung memberi hormat.

"Ooooh!" Lie Man Chiu manggut-manggut sambil tersenyum.

"Ternyata mereka putra Toan Wie Kie dan putri Lam Kiong Bie Liong!" "Kalian berdua bertemu Ai Ling, putriku?" tanya Tio Hong Hoa.

"Kami sudah bertemu Ai Ling dan Goat Nio," jawab Lam Kiong Soat Lan.

"Mereka berada di markas pusat Kay Pang." "Kalian sudah bertemu Bun Yang belum?" tanya Lie Man Chiu.

"Belum," Toan Beng Kiat menggelengkan kepala.

"Heran!" gumam Tio Hong Hoa.

"Anak itu pergi ke mana?" "Dia____" Sam Gan Sin Kay baru mau mengatakan sesuatu, tapi Kou Hun Bijin telah melototinya.

"Awas!" ancamnya.

"Kalau berani mencetus kan yang bukan-bukan, pipimu pasti bengkak!" "Ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak "Sastrawan sialan, isterimu kok begitu galak!

Kalau aku adalah engkau, dia sudah ku____" "Apa?" tanya Kou Hun Bijin, yang kelihatan nya sudah siap menampar Sam Gan Sin Kay yang bermulut usil itu.

"Ti...

tidak!" Sam Gan Sin Kay meleletkan lidahnya.

"Sudahlah, jangan terus bergurau!" tandas Tio Tay Seng serius.

"Kini rimba persilatan mulai kacau, kita harus bagaimana?" "Paman," sahut Tio Cie Hiong.

"Aku dan Adik Ceng Im sudah tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan." "Sama," sela Sam Gan Sin Kay.

"Begini saja," ujar Kim Siauw Suseng.

"Kita lihat dulu bagaimana perkembangan selanjutnya.

Apabil terjadi sesuatu di sana, Lim Peng Hang pasti akan mengutus orang ke mari memberitahukan.

Seandai nya begitu, barulah kita berunding bersama." "Setuju!" Sam Gan Sin Kay manggut-manggut Tio Tay Seng juga mengangguk, lalu memandang Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan seraya berkata, "Kalian berdua tinggal di sini dulu, tidak usah buru-buru ke Tionggoan." "Ya." Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan mengangguk.

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa.

"Tio Tocu, sudah waktunya kita main catur." "Baik." Tio Tay Seng juga tertawa.

Mereka berdua lalu pergi main catur.

Sedangkan yang lain masih bercakap-cakap dengan Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.

-ooo0dw0ooo- Di markas Hiat Ih Hwe, tampak Lu Thay Kam duduk dengan wajah tak sedap dipandang.

Gak Gong Heng duduk di sebelahnya sambil mengerutkan kening, kemudian menundukkan kepala.

"Jadi Seng Hwee Kauw tidak berhasil membasmi Tiong Ngie Pay?" tanya Lu Thay Kam bernada gusar.

"Ya." Gak Cong Heng mengangguk.

"Dua kali Seng Hwee Kauw menyerang Tiong Ngie Pay, tapi gagal." "Apa?" Lu Thay Kam tertegun.

"Dua kali menyerang tapi gagal" Kenapa begitu" Apakah Seng Hwee Kauw cuma mainmain?" "Seng Hwee Kauw tidak main-main, Lu Kong Kong." Gak Cong Heng memberitahukan.

"Sebab banyak anggota Seng Hwee Kauw yang menjadi korban di markas Tiong Ngie Pay." "Kalau begitu____" Lu Thay Kam mengerutkan kening.

"...

mungkinkah ketua Tiong Ngie Pai berkepandaian tinggi sekali!" "Ada beberapa orang membantu Tiong Ngie Pay, maka penyerangan pertama kali itu gagal." "Siapa yang membantu Tiong Ngie Pay?" "Chu Ok Hiap, Toan Beng Kiat, Lam Kiong, Soat Lan, Lie Ai Ling, Siang Koan Goat Nio dan____" Gak Cong Heng tidak berani melanjutkan.

"Dan siapa?" tanya Lu Thay Kam.

"Lu Hui San," sahut Gak Cong Heng sambil menundukkan kepala.

"Apa"!" Lu Thay Kam tersentak.

"Putriku...." "Nona Hui San telah bergabung dengan mereka, jadi____" "Aaaah...!" Lu Thay Kam menghela nafas panjang.

"Kenapa San San bertemu mereka?" "Kini Nona Hui San berada di markas pusat Kay Pang.

Perlukah aku menyuruh beberapa orang ke markas pusat Kay Pang?" "Tidak usah," Lu Thay Kam menggelengkan kepala.

"Biarkan saja." "Tapi...." "Itu tidak jadi masalah.

Kalau dia sudah bosan merantau, tentu akan pulang." "Oh ya!" Gak Cong Heng memberitahukan.

"Semalam ada utusan Seng Hwee Kauw ke mari." "Utusan itu menyampaikan apa?" "Minta maaf atas kegagalan itu, kini para anggota Seng Hwee Kauw sedang dilatih dan diajarkan ilmu silat.

Mungkin tidak lama lagi, mereka akan menyerang Tiong Ngie Pay." "Bagus, bagus!" Lu Thay Kam tertawa terbahak-bahak.

"Tiong Ngie Pay memang harus dibasmi.

Kalau tidak, perkumpulan itu merupakan kalangan bagi kita." "Benar, Lu Kong Kong," sahut Gak Cong Heng dan ikut tertawa.

"Kita harus terus memperalat Seng Hwee Kauw." "Tidak salah.

Ha ha ha...!" Lu Thay Kam tertawa terbahakbahak lagi, lalu melesat pergi.

-ooo0dw0ooo- Bagian ke tiga puluh Cai Hoat Cat (Penjahat Pemetik Bunga) Tio Bun Yang terus melanjutkan perjalanan bersama monyet bulu putih, yang duduk di bahunya.

Ketika hari mulai gelap, Tio Bun Yang memasuki sebuah desa yang cukup besar.

Akan tetapi, sungguh mengherankan!

Padahal hari baru mulai gelap, namun rumah-rumah penduduk desa itu telah tertutup rapat.

"Heran?" gumam Tio Bun Yang.

"Kenap?

semua rumah telah ditutup" Apakah telah terjadi sesuatu di desa ini?" Monyet bulu putih bercuit sambil manggut manggut seakan mengatakan 'Ya'.

Tio Bun Yang menengok ke sana ke mari kemudian mendekati salah sebuah rumah dan mengetuk perlahan.

Lama sekali barulah pintu rumah itu terbuka sedikit dan seorang tua melongok ke luar.

Ketika melihat Tio Bun Yang, orang tua itu tampak menarik nafas lega.

"Siapa engkau, anak muda?" tanya orang tua itu.

"Aku pengembara, Paman," jawab Tio Bun Yang dengan ramah.

"Hari baru mulai malam, tapi kenapa para penduduk desa ini sudah menutup pintu?" "Anak muda____" Orang tua itu menghela nafas panjang.

"Telah terjadi sesuatu di desa ini." "Paman, apa yang telah terjadi?" "Anak muda, masuklah, aku akan mencerita kannya!" Orang tua itu membuka pintu, kemudian Tio Bun Yang melangkah ke dalam.

"Paman, ceritakanlah apa yang telah terjadi!" "Duduklah dulu, anak muda!" ucap orang tua itu, kemudian berseru.

"Cing Cing!

Cepat suguhkan teh untuk tamu kita!" "Tidak usah repot-repot, Paman!" ujar Tio Bun Yang.

"Tidak apa-apa." Orang tua itu tertawa.

Tak lama tampak seorang gadis berusia dua puluhan menyuguhkan secangkir teh.

Cukup cantik gadis itu.

Justru gadis itu terbelalak ketika melihat Tio Bun Yang, wajahnya pun agak kemerah-merahan.

"Silakan minum, Tuan!" ucapnya malu-malu.

"Terimakasih, Kak!" Tio Bun Yang tersenyum.

Senyuman Tio Bun Yang membuat gadis tergebui terpukau, sehingga berdiri terpaku di tempat.

"Cing Cing!" Orang tua itu tertawa gelak.

"Kenapa engkau?" "Ayah...." Cing Cing menundukkan kepala.

"Kalau mau duduk, duduklah!" ujar orang tua itu.

"Jangan terus berdiri di situ, tidak baik lho!" "Ayah...." Cing-Cing duduk di sebelah orang tua itu dengan sikap malu-malu.

"Anak muda!" Orang tua itu menatap Tio Bun Vang dengan penuh perhatian.

"Siapa engkau?" "Namaku Tio Bun Yang.

Paman, ceritakanlah apa yang telah terjadi di desa ini?" "Belum lama ini, di desa ini muncul seorang Cai Hoa Cat (Penjahat Pemetik Bunga), sehingga para penduduk desa tercekam." "Penjahat itu memetik bunga apa?" Heran Tio I Bun Yang.

"Kenapa bisa membuat para penduduk desa ini tercekam?" "Anak muda..." orang tua itu terbelalak.

"Engkau tidak tahu istilah itu?" "Istilah apa?" "Cai Hoa Cat adalah penjahat pemerkosa wanita." Orang tua itu memberitahukan.

"Karena itu, sebelum hari gelap para penduduk desa sudah menutup pintu rumah.

Aku punya anak gadis, maka ketakutan sekali." "Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Malam ini penjahat itu akan muncul?" "Mungkin." Orang tua itu menghela nafas panjang.

"Penjahat itu menculik kaum gadis lalu diperkosa, dilepaskan keesokan harinya." "Kalau begitu..." ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Aku harap malam ini dia muncul di sini!" "Apa"!" Orang tua itu melotot.

"Kok engkau begitu jahat" Cing Cing adalah putriku satu-satunya, juga merupakan harapanku.

Engkau...." "Paman!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku harap penjahat itu muncul di sini, karena aku akan menangkapnya.

Jadi Paman jangan salah paham." "Eh" Anak muda!" Orang tua itu terbelalak.

"Engkau jangan bergurau, penjahat itu lihay sekali!

Puluhan pemuda di kampung ini mengeroyoknya, namun malah dirobohkannya dengan mudah sekali." "Oh?" Tio Bun Yang tersenyum lagi.

"Paman, sudah berapa banyak gadis yang diperkosa penjahat itu?" "Sudah belasan," sahut orang tua itu sambil menggelenggelengkan kepala.

"Padahal penjahat itu masih muda, bahkan cukup tampan.

Tapi dia justru melakukan perbuatan terkutuk itu." "Paman, kalau begitu____" Tio Bun Yang menatapnya.

"Bolehkah malam ini aku menginap di sini?" "Boleh," sahut Cing Cing cepat.

"Eh?" Orang tua itu tertegun.

"Ayah belum menjawab, kenapa engkau sudah menyahut tanpa persetujuan ayah" Bagaimana kalau dia juga penjahat?" "Ayah!" Cing Cing tersenyum.

"Kalau dia penjahat, mungkin masih banyak anak gadis yang bersamanya." "Cing Cing, engkau...." Orang tua itu menggelenggelengkan kepala, kemudian manggut-manggut.

"Benar juga ya!" "Paman!" Tio Bun Yang tertawa kecil, sedangkan monyet bulu putih bercuit-cuit sambil menyengir.

"Ei, monyet!" Orang tua itu melotot.

"Kenapa engkau menyengir" Mau minum arak ya?" Monyet bulu putih manggut-manggut.

Orang tua itu ternganga lebar mulutnya kemudian tertawa gelak.

"Anak muda, monyetmu mengerti bahasa manusia ya?" "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Ha ha ha!" Orang tua itu tertawa lagi.

"Cing Cing, ambilkan arak wangi yang ayah simpan tahunan itu!

Ayah ingin bersulang dengan monyet bulu putih ini!" "Ya, Ayah." Cing Cing berlari ke dalam.

Post a Comment