Bahkan sering menentang perintah Lu Thay Kam.
Maka tidak heran pihak Hiat Ih Hwe membunuhnya" Tiba-tiba Lu Hui San mengerutkan kening, Karena ayah angkatnya disinggung dalam ucapan Yo Suan Hiang.
"Bibi Suan Hiang!" tanyanya heran.
"Apakah Lu Thay Kam mempunyai hubungan dengan perkumpulan Hiat Ih Hwe?" "Lu Thay Kam adalah ketua Hiat Ih Hwe," sahut Yo Suan Hiang memberitahukan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Lu Thay Kam memang jahat sekali, sering membunuh jenderal dan menteri yang setia." Lu Hui San diam saja.
Lie Ai Ling memandang Yo Suan Hiang seraya berkata, "Bibi Suan Hiang, kami ke mari justru dikarenakan Kakak Giok Lan.
Kini dia sudah tidak mempunyai orang tua dan dikejar-kejar pihak Hiat lh Hwe.
Maka kami ajak dia ke mari untuk bergabung dengan Bibi." "Bagus!" Yo Suan Hiang tertawa gembira.
Tentunya kuterima dengan senang hati." "Terimakasih, Bibi!" ucap Tan Giok Lan.
"Giok Lan!" Yo Suan Hiang memandangnya "ambil tersenyum.
"Mulai sekarang engkau tinggallah di sini!" "Ya, Bibi." Tan Giok Lan mengangguk.
"Oh ya, engkau harus ingat," pesan Yo Suan Hiang.
"Jangan lupa melatih ilmu silatmu, itu sangat penting sekali!" "Aku mohon petunjuk Bibi!" ujar Tan Giok Lan.
"Itu sudah pasti." Yo Suan Hiang manggm manggut.
"Aku pasti memberi petunjuk padamu " "Terimakasih, Bibi!" ucap Tan Giok Lan tci haru.
"Nah!" Lie Ai Ling tersenyum.
"Urusan ini sudah beres, maka kami mau mohon pamit!" "Apa"!" Yo Suan Hiang terbeliak.
"Kalian sudah mau pergi" Kenapa begitu cepat?" "Kami masih harus melanjutkan perjalanan kami markas pusat Kay Pang." Lie Ai Ling memberitahukan.
"Tidak bisa!" Yo Suan Hiang menggelengkan kepala.
"Pokoknya kalian harus bermalam di sini.
dan besok baru berangkat." "Bibi Suan Hiang...." "Baiklah." sela Toan Beng Kiat.
"Kami akan bermalam di sini." "Eh?" Lie Ai Ling melototi Toan Beng Kiat "Kenapa harus bermalam di sini" Bukankah akan merepotkan Bibi Suan Hiang?" "Cuma satu malam," sahut Toan Beng Kiat sambil tersenyum.
"Lagi pula kita semua masih capek, apa salahnya kita bermalam di sini?" "Tapi akan merepotkan Bibi Suan Hiang." "Tidak, tidak merepotkan," ujar Yo Suan Hiang sambil tersenyum.
"Sebaliknya aku malah merasa gembira sekali." "Betul," sambung Tan Ju Liang dan Lim Cin An.
"Kami sungguh merasa gembira sekali." "Yang benar?" Tanya Lie Ai Ling sambil tersenyum.
"Tentu benar." Yo Suan Hiang tertawa kecil.
'Ingat!
Sudah berapa lama kita tidak bertemu" , Maka malam ini harus mengobrol sampai pagi." "Wuah!" Lie Ai Ling tertawa.
"Kalau begitu, harus begadang!
Terus terang, aku tidak bisa begadang." "Sekali-kali boleh, kan?" Yo Suan Hiang tertawa lagi.
"Tentu engkau tidak berkeberatan." "Baik." Lie Ai Ling mengangguk.
"Malam ini kita semua harus begadang." -ooo0dw0ooo- Bagian ke dua puluh delapan Tiong Ngie Pay diserang Malam harinya, suasana di markas Tiong Ngie Pay tampak semarak- Sebab Yo Suan Hiang mengibarkan pesta perjamuan, dan mereka bersantap sambil bersulang.
Akan tetapi, di saat mereka sedang bersulang, seorang anggota berlari masuk dan melapor.
"Celaka!
Seng Hwee Kauw menyerang!" "Apa?" Betapa terkejutnya Yo Suan Hiang "Seng Hwee Kauw menyerang ke mari?" "Ya." "Berapa jumlah mereka?" "Puluhan orang, dan ada dua orang tua yang berkepandaian tinggi sekali." "Siapa kedua orang tua itu?" "Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong." "Baik." Yo Suan Hiang manggut-manggut.
Kemudian berkata kepada Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him.
"Mari kita sambut mereka" "Hmm!" dengus Kam Hay Thian mendadak "Bagus, bagus!
Malam ini aku pasti tidak akan melepaskan mereka." "Maaf, Chu Ok Hiap!" ujar Yo Suan Hiang.
"Ini urusan Tiong Ngie Pay, maka...." "Aku pasti turut campur." sahut Kam Hay Thian.
"Sebab Seng Hwee Sin Kun pembunuh ayahku." Kam Hay Thian langsung melesat ke luar, dan yang lainnya pun mengikutinya.
Begitu sampai di luar markas, mereka melihat Pat Pie Lo Koay.
Tok Chiu Ong dan puluhan anggota Seng Hwee Kauw berdiri dengan tangan memegang senjata.
Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong tampak terkejut ketika melihat Kam Hay Thian dan lain nya berada di situ.
Mereka berdua saling memandang sekaligus memberi isyarat, kemudian meloncat ke belakang.
"Serang mereka!" Seketika para anggota Seng Hwee Kauw menyerang pihak Tiong Ngie Pay.
Kam Hay Thian bersiul panjang sambil menggerakkan pedangnya, menggunakan Pak Kek Kiam Hoat menangkis dan alas menyerang.
Dalam beberapa jurus, lima anggota Seng Hwee Kauw sudah roboh berlumuran darah.
Sementara Toan Beng Kiat dan lainnya juga mulai balas menyerang, kemudian terjadilah pertarungan yang amat seru dan sengit.
Akan tetapi, bagaimana mungkin para anggota Seng Hwee Kauw itu dapat melawan, sebab kepandaian mereka masih rendah.
"Tok Chiu Ong," bisik Pat Pie Lo Koay.
"Bagaimana baiknya?" "Kita berdua tidak mampu melawan Chu Ok Hiap dan teman-temannya," sahut Tok Chiu Ong.
Lebih baik kita suruh para anak buah kita mundur, dan kita pun harus kabur." "Benar." Pat Pie Lo Koay mengangguk.
Mereka berdua lalu melesat pergi sambil berseru sekeras-kerasnya.
"Kalian semua cepat mundur!" Para anggota Seng Hwee Kauw langsung melarikan diri.
Kam Hay Thian terus mengejar dan membantai mereka.
Namun ketika ia hendak mengejar Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong, Toan Beng Kiat cepatcepat mencegahnya.
"Hay Thian!
Mereka sudah pergi jauh, percuma kau mengejar mereka!" "Malam ini mereka berdua masih dapat meloloskan diri, aku sungguh penasaran sekali!" sahut Kam Hay Thian dingin.
"Mereka berdua sungguh licik, hanya menyuruh para anak buahnya maju, tapi mereka berdua berada di belakang!" "Sudahlah!
Mari kita kembali ke markas!" ajak Toan Beng Kiat.
Mereka berdua lalu melesat ke markas.
Lie Ai Ling dan lainnya sudah berada di situ.
Mereka semua lalu masuk ke markas.
"Sungguh tak disangka..." ujar Yo Suan Hiang setelah duduk.
"Pihak Seng Hwee Kauw menyerang ke mari, seharusnya pihak Hiat Ih Hwe!" "Memang mengherankan," Tan Ju Liang menggelenggelengkan kepala.
"Selama ini kita tidak bermusuhan dengan pihak Seng Hwee Kauw kenapa mendadak Seng Hwee Kauw menyerang kemari?" "Mungkinkah..." ujar Lim Cin An setelah ber pikir sejenak.
"Seng Hwee Kauw dan Hiat Ih Hwi sudah bekerja sama?" "Itu memang mungkin," sahut Cu Tiang Him "Kalau tidak, tentunya mereka tidak akan melakukan penyerangan mendadak." "Mungkinkah dikarenakan kehadiran kami di sini?" ujar Toan Beng Kiat.
"Sebab pihak Seng Hwee Kauw memang ingin membunuh kami." "Tidak masuk akal," Tan Ju Liang menggelengkan kepala.
"Karena tadi Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong malah meloncat ke belakang ketika melihat kalian berada di situ.
Jadi sasaran mereka kemari bukan kalian, melainkan kami." "Benar," Yo Suan Hiang manggut-manggut.
"Lagi pula sebelum bertarung, mereka berdua sudah kabur." "Kami pernah bertarung dengan mereka." Kam Hay Thiari memberitahukan.
"Pada waktu itu mereka berdua berhasil kabur, malam ini pun berhasil kabur pula.
Itu sungguh membuat aku jadi penasaran sekali!" "Oh?" Yo Suan Hiang menatapnya seraya bertanya.
"Mereka berdua tak sanggup melawan kalian?" "Benar." Lie Ai Ling mengangguk.
"Bahkan kami berhasil melukai lengan Tok Chiu Ong." "Oooh!" Yo Suan Hiang manggut-manggut.
'Pantas mereka segera meloncat mundur begitu melihat kalian!" "Aku masih penasaran, kenapa Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong dapat kabur malam ini," ujar Kam Hay Thian.
"Walau begitu..." ujar Yo Suan Hiang memberitahukan.
"Hampir tiga puluh anggota Seng Hwee Kauw menjadi korban di sini, aku yakin itu merupakan pukulan berat bagi ketua mereka." "Hmm!" dengus Kam Hay Thian dingin.
"Pokoknya aku harus membunuh Seng Hwee Sin Kun!" "Hay Thian!" Toan Beng Kiat mengingatkan.
"Seng Hwee Sin Kun berkepandaian tinggi sekali, kita semua bukan lawannya." "Bukan lawannya juga aku harus melawan," sahut Kam Hay Thian dan menambahkan.
"Pokoknya dia harus mati di tanganku." Toan Beng Kiat menghela nafas panjang, sedangkan Yo Suan Hiang menggeleng-gelengkan kepala.
"Padahal malam ini kita akan mengobrol sampai pagi, tapi karena adanya kejadian itu, maka alangkah baiknya kita semua beristirahat saja," ujar Yo Suan Hiang sambil bangkit berdiri.
"Maaf, aku mau ke kamar!" Yo Suan Hiang berjalan masuk, sedangkan Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him masih duduk di situ.
"Maaf!" ucap Tan Ju Liang.
"Kalau kalian tidak mau tidur, boleh duduk-duduk di halaman.
Kami harus pergi mengontrol pos-pos penjagaan." "Tidak apa-apa," sahut Toan Beng Kiat sambil manggutmanggut.
Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him segera melangkah ke luar, sedangkan Toan Beng Kiat dan lainnya saling memandang.
Siang Koan Goat Nio melangkah ke halaman, dan tak lama Kam Hay Thian pun pergi menyusulnya.
Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San mengerutkan kening, itu membuat Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.
Toan Beng Kiat menghela nafas panjang, kemudian ia melangkah ke luar.
"Celaka!" gumam Lie Ai Ling sambil berjalan mondarmandir di ruang itu.
Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San memandangnya sejenak, setelah itu mereka berdua pun melangkah ke luar.
"Mudah-mudahan mereka mengerti tentang cinta, jadi tidak akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan," gumam Lie Ai Ling lagi, kemudian memandang Tan Giok Lan yang duduk termangu-mangu.
"Kakak Giok Lan, jangan melamun!
Lebih haik masuklah menemui Bibi Suan Hiang untuk mengobrol!" Tan Giok Lan mengangguk, lalu melangkah ke dalam.
Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala, kemudian barulah melangkah ke luar.
Dilihatnya Toan Beng Kiat berdiri seorang diri sambil memandang langit yang tak berbintang.
Sedangkan Lam Kiong Soat Lan dan Lu Hui San duduk melamun di dekat sebuah pohon.
Kemudian ia tercengang karena Siang Koan Goat Nio dan Kam Hay Thian tidak tampak di situ.
"Beng Kiat!" Lie Ai Ling mendekatinya.
"Bukan malam purnama, kenapa engkau terus-menerus memandang langit?" "Oh, Ai Ling!" Toan Beng Kiat tersenyum getir.
"Langit sedang merana karena tiada bulan." "Langit atau engkau yang sedang merana?" tanya Lie Ai Ling sambil tertawa.
"Engkau anak lelaki, jangan terlampau berperasaan terhadap urusan itu!" "Urusan apa?" tanya Toan Beng Kiat.
"Biasa," sahut Lie Ai Ling sambil tertawa lagi.
"Kita semua adalah teman baik.
Jangan dikarenakan urusan percintaan, kita jadi terpecah belah lho!" "Itu tidak akan terjadi," Toan Beng Kiat tersenyum.
"Sebab aku masih bisa mengendalikan perasaanku." "Bagus!
Tapi____" Lie Ai Ling mengerutkan kening.
"Kenapa?" Toan Beng Kiat memandangnya.