Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 68

Memuat...

Mereka berdua bersulang dengan wajah ber-ri, dan sesaat kemudian mereka mulai bercakap-cakap lagi.

"Oh ya!" Lu Thay Kam teringat sesuatu.

"Kini istriku sedang merantau.

Aku menghadiahkan pedang pusaka Han Kong Kiam kepadanya.

Harap Sin Kun perintahkan kepada para anggota, agar jangan mengganggu gadis yang memiliki pedang tersebut." "Baik." Seng Hwee Sin Kun mengangguk.

"Tapi bagaimana bentuk Pedang Pusaka itu?" "Pedang pusaka itu dapat memancarkan cahaya yang mengandung hawa dingin.

Lu Thay Kam memberitahukan.

"Itulah pedang pusaka Han Kong Kiam" "Nama putri Lu Kong Kong?" "Kuberitahukan kepada Sin Kun, tapi harus dirahasiakan!" pesan Lu Thay Kam dan memberitahukan.

"Namanya Lu Hui San!" "Aku pasti merahasiakan identitasnya, ujar Seng Hwee Sin Kun berjanji.

"Pokoknya para anggotaku tidak akan mengganggu putri Lu Kong Kong itu." "Terimakasih!" ucap Lu Thay Kam.

"Oh ya, Sin Kun membutuhkan berapa banyak uang emas?" Seng Hwee Sin Kun memberitahukan berapa jumlahnya.

"Cukupkah?" tanya Lu Thay Kam sambil tertawa "Cukup." "Kalau kurang, kapan pun Sin Kun bok minta kepadaku," ujar Lu Thay Kam.

"Terimakasih, Lu Kong Kong!" ucap Seng Hwee Sin Kun dengan gembira.

"Oh ya, kapan uang itu akan dikirimkan ke markasku?" "Beberapa hari ini." Lu Thay Kam memberitahukan.

"Aku akan mengutus Gak Cong Heng dan beberapa orang untuk mengantar uang tersebut ke markas Sin Kun!" "Terimakasih!" ucap Seng Hwee Sin Kun dengan wajah berseri.

"Setelah menerima uang itu aku pasti memerintahkan para anggotaku pergi menyerang Tiong Ngie Pay." "Bagus, bagus!

Pokoknya Tiong Ngie Pay harus dibasmi," ujar Lu Thay Kam sambil tertawa "Setelah Tiong Ngie Pay dibasmi, Seng Hwe Kauw pun harus membantuku membasmi para pemberontak." "Itu urusan kecil," sahut Seng Hwee Sin kun sambil tertawa.

"Baiklah, aku mau mohon pamit!

"Selamat jalan!" ucap Lu Thay Kam "Sampai jumpa Lu Kong Kong!" ucap Seri Hwee Sin Kun, yang lalu meninggalkan markj Hiat Ih Hwe sambil tertawa gembira.

Sementara itu, Toan Beng Kiat dan lainnya terus melakukan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang.

Dalam perjalanan, mereka terus bercakap-cakap, terutama Lie Ai Ling.

Dia tak henti-hentinya membicarakan ini dan itu, ada saja yang dibicarakannya.

"Ai Ling!" Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa mulutmu tidak bisa diam sih?" "Memangnya aku tidak boleh bicara?" sahut Ai Ling sambil tersenyum.

"Aku suka bicara, jadi mulutku tidak bisa diam." "Kalau engkau terus begitu, mana ada pemuda yang akan jatuh hati kepadamu?" ujar Siang Koan Goat Nio.

"Hi hi hi!" Lie Ai Ling tertawa.

"Kalau tidak jada pemuda jatuh hati kepadaku yah sudahlah!

Aku sama sekali tidak kalut, sebaliknya engkau sudah rindu pada Kakak Bun Yang, bukan?" "Engkau mulai menggoda ya?" Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening dan wajahnya agak kemerah-merahan.

"Jadi..." sela Kam Hay Thian mendadak.

"Goat Nio menyukai Bun Yang" Kapan mereka bertemu?" "Mereka berdua belum pernah bertemu," sahut Lie Ai Ling., "Namun aku yakin Goat Nio pasti menyukai Kakak Bun Yang." "Bagaimana mungkin?" Kam Hay Thian menggelenggelengkan kepala.

"Sebab mereka berdua belum pernah bertemu, kalau pun bertemu belum tentu...

" "Maksudmu Goat Nio belum tentu akan menyukai Kakak Bun Yang?" tanya Lie Ai Ling.

"Ya." Kam Hay Thian mengangguk.

"Lho?" Lie Ai Ling menatapnya terbelalak "Kok engkau...." "Dia telah jatuh hati kepada Goat Nio, maka tidak menghendaki Goat Nio menyukai Bun Yang" sela Lu Hui San mendadak.

"Oh?" Mulut Lie Ai Ling ternganga lebati "Betulkah begitu?" "Memang begitu." Lu Hui San manggut-manggut.

"Kalau tidak...." "Hui San!" Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Jangan omong yang bukan- bukan, sebab akan merusak persahabatan kita semua!" "Goat Nio!" Lu Hui San tersenyum.

"Aku omong sesungguhnya." "Hui San, sudahlah!" Toan Beng Kiat mende katinya.

"Kita semua adalah teman baik yang harus bersatu, jadi____" "Aku tahu." Lu Hui San manggut-manggul "Baiklah.

Mulai sekarang aku tidak akan banyak bicara." "Aku yang akan banyak bicara." sela Lie Ai Ling sambil tersenyum.

"Kalau tidak, semuanya pasti membisu.

Itu jadi tidak enak dan tiada Kesemarakan.

Ya, kan?" "Engkau memang banyak mulut." Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala dan menghela nafas.

"Anak gadis, sebaiknya jangan banyak mulut." "Hi hi hi!" Lie Ai Ling tertawa geli.

"Mulutku cuma satu, kok engkau bilang mulutku banyak sih?" "Engkau____" Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Sssst!" Lu Hui San memberi isyarat.

"Kalian dengar, ada suara pertempuran di depan." Toan Beng Kiat, Kam Hay Thian, Lie Ai Ling, Siang Koan Goat Nio dan Lam Kiong Soat Lan mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Betul," ujar Kam Hay Thian.

"Ada suara pertarungan di depan.

Mari kita ke sana!" Mereka berenam langsung melesat ke tempat itu.

Tampak belasan orang berpakaian merah mengeroyok gadis berusia dua puluhan.

"Eeeeh?" Lie Ai Ling terbelalak menyaksikannya.

"Gadis itu menggunakan Hong Hoang Kiam hoat (Ilmu Pedang Burung Phoenix), tapi belum begitu mahir.

Siapa yang mengajarnya ilmu pedang itu ?" "Heran?" gumam Siang Koan Goat Nio.

"Dia pun menggunakan Kiu Kiong San Tian Pou untuk berkelit.

Kok dia mengerti kedua ilmu itu?" "Sungguh mengherankan!" sahut Lie Ai Ling.

"Kenapa kalian berdua?" tanya Toan Beng Kiat.

"Gadis itu menggunakan Ilmu pedang Hong Hoang Kiam Hoat," jawab Lie Ai Ling.

"Bahkan juga berkelit dengan ilmu Kiu Kiong San Tian Pou.

Mungkinkah dia ada hubungan dengan ayah* ku?" "Kenapa engkau berkata begitu?" tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Sebab ayahku juga mahir ilmu pedang itu," sahut Lie Ai Ling.

"Ayahmu juga mahir Kiu Kiong San Tian Pou?" tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Setahuku tidak." Lie Ai Ling menggelengkan kepala.

"Paman Cie Hiong memang mengajarku dan Goat Nio ilmu langkah kilat itu, namun gadis itu____" "Kita bantu gadis itu, kemudian kita tanya Bukankah kita akan tahu" Jadi tidak perlu menerka membuang-buang waktu," sela Kam Hay Thian yang sudah timbul nafsu membunuhnya.

"Baik." Toan Beng Kiat mengangguk.

"Mari kita bantu gadis itu!" Mereka berenam langsung melesat ke sana, dan tentunya sangat mengejutkan orang-orang berpakaian merah itu.

"Kami adalah anggota Hiat Ih Hwe!

Siam kalian?" bentak kepala para anggota Hiat Ih Hwe itu.

"Hmm!" dengus Kam Hay Thian.

"Aku adalah Chu Ok Hiap, jadi aku akan membasmi kalian semua hari ini!" "Apa"!" Para anggota Hiat Ih Hwe mundur beberapa langkah.

"Pendekar Pembasmi Penjahat?" "Betul!" Kam Hay Thian menghunus pedangnya.

"Serang dia!" seru pemimpin para anggota Hiat Ih Hwe, yang kemudian ikut menyerang Kam Hay Thian.

Ketika Kam Hay Thian diserang, Toan Beng Kiat dan lainnya langsung turun tangan membantunya.

Terjadilah pertarungan yang tak seimbang, sebab Kam Hay Thian dan lainnya berkepandaian tinggi, sebaliknya kepandaian para anggota Hiat Ih Hwe tidak begitu tinggi.

Oleh karena itu, belasan jurus kemudian para anggota Hiat Ih Hwe sudah terkapar berlumuran darah.

Tampak beberapa anggota Hiat Ih Hwe masih merintih-rintih, ternyata mereka hanya terluka.

Kam Hay Thian mendekati mereka lalu mendadak menggerakkan pedangnya.

Tak lama orang-orang yang terluka itu pun tewas dengan dada berlubang.

Kam Hay Thian betul-betul tidak memberi ampun kepada mereka, sehingga membuat Toan Beng Kiat menggeleng-gelengkan kepala.

Jilid 6 hal.26-27 ga ada .........kan kepala.

"Lagi pula dia tidak begitu lama berada di rumahku.

Setelah mengajarku ilmu-ilmu itu, dia berpamit." "Aaah____" Lie Ai Ling menghela nafas panjang.

"Sayang sekali!

Kenapa begitu Sulit bertemu dia?" "Kakak Giok Lan!" Siang Koan Goat Nio memandangnya.

"Apa rencanamu sekarang?" "Aku tidak mempunyai rencana apa-apa." Air mata Tan Giok Lan mulai meleleh.

"Aku pun tidak tahu mau ke mana." "Aku mempunyai usul," ujar Toan Beng Kiai sambil tersenyum.

"Bagaimana kalau kita ajak nona ini ke markas Tiong Ngie Pay?" "Usul yang jitu," sahut Lie Ai Ling sambil tertawa gembira.

"Memang lebih baik Kakak Giok Lan bergabung dengan Bibi Suan Hiang.

Dia pasti aman di markas itu." "Betul." Siang Koan Goat Nio manggut-manggut, kemudian memperkenalkan mereka.

Tan Giok Lan segera memberi hormat, dan mengucapkan terimakasih dengan air mata berderai-derai.

"Nah!" ujar Lie Ai Ling.

"Kita jangan membuang-buang waktu lagi, mari kita berangkat ke markas Tiong Ngie Pay!" -ooo0dw0ooo- Dua hari kemudian, mereka bertujuh sudah sampai di markas Tiong Ngie Pay.

Kedatangan rreka tentunya sangat menggembirakan Yo Suan liang, Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang lim.

Beberapa anggota Tiong Ngie Pay segera menyuguhkan arak wangi.

Yo Suan Hiang mengajak mereka bersulang, sehingga suasana pun menjadi semarak.

"Aku tidak menyangka sama sekali, kalian akan ke mari," ujar Yo Suan Hiang sambil memandang Lie Ai Ling, Siang Koan Goat Nio dan Tan Giok Lan.

"Mari kuperkenalkan!" Lie Ai Ling tertawa.

Aku adalah?" "Engkau...

engkau____" Mendadak Yo Suan Hiang terbelalak.

"Engkau Ai Ling?" "Bibi Suan Hiang masih mengenaliku, padahal aku tadi aku diam saja." Lie Ai Ling tertawa geli.

"Ai Ling...." Yo Suan Hiang memandangnya dengan mata basah.

"Aku tak menyangka engkau sudah besar dan cantik.

Oh ya, bagaimana ayah-mu?" "Ayahku sudah kembali ke Pulau Hong Hoang to," sahut Lie Ai Ling, lalu memperkenalkan Siang Koan Goat Nio.

"Bibi Suan Hiang, dia Goat Nio.

putri kesayangan Kim Siauw Suseng dan Kou Jun Bijin." "Oh?" Yo Suan Hiang menatapnya dengan penuh perhatian.

"Bukan main!" "Apanya yang bukan main?" tanya Lie Ai Ling sambil tertawa kecil.

"Sungguh cantik dan lemah lembut," sahut Yo Suan Hiang kagum.

"Betul-betul cantik sekali!" "Bibi Suan Hiang," ujar Lie Ai Ling mendadak.

"Dia sangat serasi dengan Kakak Bun Yang, bukan?" "Benar." Yo Suan Hiang manggut-manggut dan menambahkan, "Tapi tergantung jodoh mereka juga.

Oh ya, kalian sudah bertemu Bun Yang?" "Belum." Lie Ai Ling menggelengkan kepala, kemudian memperkenalkan Tan Giok Lan, yang duduk diam itu.

"Bibi Suan Hiang, dia Tan Giok Lan.

Kedua orang tuanya dibunuh oleh para anggota Hiat Ih Hwe.

Dia pernah bertemu Kakak Bun Yang.

Untung Kakak Bun Yang pernah mengajarnya ilmu silat, maka dia dapat melolos kan diri." "Oh?" Yo Suan Hiang menatapnya serayu bertanya, "Siapa ayahmu?" "Ayahku bernama Tan Thiam Song, mantan pembesar di kota Keng Ciu," jawab gadis itu dan mulai terisak-isak.

"Ooh!" Yo Suan Hiang manggut-manggul.

"Tan Tayjin sangat jujur, adil dan bijaksana!

Post a Comment