Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 63

Memuat...

"Adik, bolehkah aku tahu namamu?" "Namaku Hui Khim, nama Kakak?" "Namaku Tio Bun Yang." "Kakak Bun Yang bisa menyemb?hkan ayah, apakah juga akan bisa menyembuhkan penyakitku?" tanya gadis berusia lima belasan itU.

"Mudah-mudahan!" sahut Tio Bun Yang dengan tersenyum lembut.

Kemudian ia menjulurkan tangannya untuk memeriksa gadis itu, namun mendadak ditarik kembali sambil memandang hartawan Kwee dan Nyonya Kwee.

"Tidak apa-apa," sahut mereka berdua Serentak dan manggut-manggut.

"Silakan periksa Hui Khim!" "Kakak Bun Yang," Kwee Hui Khim heran.

"Kenapa tidak berani memeriksa penyakitku" Takut menular ya?" "Bukan." Tio Bun Yang tersenyum.

"Hanya karena aku harus menyentuhmu, maka aku merasa tidak enak." "Sebetulnya tidak apa-apa," Kwee Hui Khim tersenyum.

"Kakak Bun Yang menyentuhku karena ingin memeriksa penyakitku, bukan berbuat yang tidak-tidak.

Jadi jangan mempermasalahkan itu." Tio Bun Yang manggut-manggut, lalu mulai memeriksa nadi gadis itu.

Keningnya tampak berkerut-kerut, setelah itu ia manggut-manggut seakan telah mengetahui sumber penyakit itu.

"Bagaimana" Apakah putriku bisa disembuhkan?" tanya hartawan Kwee seusai Tio Bun Yang memeriksa putrinya.

"Maaf!" ucap Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Bukan aku omong besar, kecuali aku, memang tabib yang mana pun tidak akan mampu mengobatinya." "Oh?" Wajah hartawan Kwee dan isterinya berseri.

"Kenapa putri kami bisa terserang penyakit lumpuh?" "Sebetulnya merupakan penyakit bawaan lahir.

Setelah ia berusia sekitar sepuluh tahun, peredaran darahnya mulai tidak lancar, lagi pula...." Tio Bun Yang menjelaskan mengenai penyakit tersebut.

"Kalau begitu...." Hartawan Kwee mengerutkan kening.

"Jangan cemas, paman!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku sanggup menyembuhkannya.

Tapi...." "Kenapa?" "Telapak tanganku harus menyentuh punggungnya." "Lakukan saja!" Hartawan Kwee tersenyum.

Ia tidak menyangka Tio Bun Yang begitu menjaga tata kesopanan.

Tio Bun Yang mengangguk, lalu memandang Kwee Hui Khim seraya berkata, "Adik, engkau harus duduk." "Ya." Kwee Hui Khim berusaha bangun lalu duduk.

"Tolong menghadap ke dalam!" ujar Tio Bun Yang.

Kwee Hui Khim mengangguk, lalu memutarkan badannya menghadap ke dalam.

Sedangkan Tio Bun Yang tetap berdiri.

Ia menumpukkan telapak tangannya di punggung gadis itu, kemudian mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang kedalam tubuh gadis tersebut.

Berselang sesaat tampak uap putih mengepul diubun-ubun gadis itu.

Terbelalaklah hartawan Kwee dan isterinya menyaksikan itu.

Mereka berdua saling memandang dengan wajah berseri.

Beberapa saat setelah itu, Tio Bun Yang menarik kembali lweekangnya.

"Adik," ujarnya dengan tersenyum sambil menggandeng tangan Kwee Hui Khim.

"Mari turun!" "Turun?" gadis itu tertegun.

"Aku tidak kuat berdiri.

Bagaimana mungkin turun?" "Percayalah!" Tio Bun Yang tersenyum lagi.

"Engkau pasti kuat berdiri." "Oh?" Kwee Hui Khim kurang percaya.

Namun ia menurut dan turun.

Justru mengherankan, gadis itu kuat berdiri.

"Aku sudah kuat berdiri!

Aku sudah kuat berdiri!" "Sekarang cobalah engkau melangkah!" ujar Tio Bun Yang sambil memandangnya.

"Jangan ragu, cobalah melangkah!" Kali ini Kwee Hui Khim sudah percaya, maka ia melangkah dan berhasil.

Bayangkan, betapa gembiranya gadis itu.

"Aku sudah bisa jalan!

Aku sudah bisa jalan!" "Nak!" Nyonya Kwee langsung memeluknya dengan mata bersimbah air saking girangnya.

"Anakku, engkau sudah sembuh." Sementara hartawan Kwee terus memandang Tio Bun Yang dengan mata terbelalak, kelihatannya ia masih tidak percaya akan apa yang dilibatnya Sebab dalam waktu begitu singkat, Tio Bun Yang mampu menyembuhkan penyakit.

"Bun Yang, sebetulnya engkau manusia atau . . . ." "Paman!" Tio Bun Yang tersenyum "Aku manusia biasa, jangan menganggapku dewa, lho!" "Bukan main!

Sungguh luar biasa!

Aku tak habis pikir" gumam hartawan Kwee, kemudian tertawa gembira, "Ha ha ha . . . !" "Ayah!" Kwee Hui Khim juga tertawa dengan air mata bercucuran saking gembiranya "Aku sudah sembuh" "Adik!" Tio Bun Yang memandangnya dan ikut tertawa "Cobalah engkau berjalan ke ruang depan"' "Kakak Bun Yang?" gadis itta tertegun "Apakah aku sekarang mampu berjalan ke ruang depan?" "Cobalah!" sahut Tio Bun Yang sambil tersenyUm "Baik" Kwee Hui Khim mengangguk, lalu berjalan perlahanlahan, dan akhirnya sampai juga ke ruang depan lalu duduk, hanya nafasnya tampak agak memburu "Aku betul-betul sudah sembuh Kakak Bun Yang, aku berhutang budi kepadamu "Adik, engkau jangan berkata begitu!" ujar Tio Bun Yang "Aku mengerti ilmu pengobatan, maka aku harus menolong orang-orang yang sakit.

Karena itu, engkau sama sekali tidak berhutang budi kepadaku." "Kakak Bun Yang . . . ." Kwee Hui Khim menatapnya kagum "Engkau sungguh baik, aku beruntung sekali bisa bertemu engkau" "Bun Yang...." Mendadak hartawan Kwee memegang bahunya, "Entah harus bagaimana aku harus berterima kasih kepadamu" "Itu tidak perlu, yang penting Hui Khim sudah sembuh," sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Bun Yang..." Betapa terharunya hartawan Kwee.

Tio Bun Yang tersenyum lagi, kemudian membuka resep untuk Kwee Hui Khim.

Diserahkannya resep itu kepada hartawan Kwee seraya bertanya.

"Kondisi badan Hui Khim masih lemah, maka harus makan obat.

Beli tiga bungkus obat berdasarkan resep obat ini di toko obat.

Percayalah, beberapa hari kemudian Hui Khim pasti pulih!" "Terima kasih!" Hartawan Kwee menerima resep itu, lalu cepat-cepat menyuruh salah seorang pembantu untuk pergi membeli obat itu.

"Paman, Bibi, aku mohon pamit!" Tio Bun Yang memberitahukan.

"Apa?" hartawan Kwee dan isterinya terbelalak.

"Kok begitu cepat?" "Maaf!" ucap Tio Bun Yang "Aku masih harus meneruskan perjalanan, jadi tidak bisa lama-lama disini" "Bun Yang..." Hartawan Kwee menghela napas, kemudian memberi isyarat pada isterinya, yang kemudian berjalan ke dalam.

"Kakak Bun Yang!" Kwee Hui Khim memandangnya dengan mata basah.

"Kenapa engkau begitu cepat mau pergi" "Adik!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku masih harus meneruskan perjalanan, tidak bisa lama-lama di sini.

Harap Adik maklum...." "Kakak Bun Yang?" Kwee Hui Khim terisak-isak "Kapan Kakak Bun Yang akan ke mari lagi?" Tio Bun Yang tersenyum sambil membelainya, setelah itu barulah menjawab.

"Apabila ada k?sempatan, aku pasti ke mari menengokmu." "Jangan bohong, Kakak Bun Yang!" "Aku tidak pernah membohongimU, namun kalau aku sempat lho!" "Kakak Bun Yang " Mendadak Kwee Hui Khim mendekap di dadanya "Biar bagaimana pun, Kak?k Bun Yang harus ke mari kelak." "Ya." Tio Bun Yang membelainya lagi.

Nyonya Kwee telah kembali ke ruang depan dengan membawa sebuah bungkusan dari kain.

Setelah putrinya melepaskan dekapan di dada Tio Bun Yang, Nyonya Kwee memberikan bungkusan itu kepada Tio Bun Yang.

"Bibi..." Tio Bun Yang tahu bahwa bungkusan itu berisi uang perak atau uang emas.

"Aku tidak akan menerima pemberian ini." "Bun Yang," desak hartawan Kwee.

"Engkau harus menerimanya!" "Paman!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Mengobati Paman dan Hui Khim bukan demi suatu imbalan, aku cuma menolong." "Kalau begitu..." Hartawan Kwee tersenyum pula.

"Terimalah ini, wakili aku menolong fakir miskin!" "ini...." Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Bun Yang," ujar hartawan Kwee sungguh-sungguh.

"Engkau masih harus meneruskan perjalanan, tentunya engkau akan bertemu dengan orang susah.

Bantulah mereka dengan uang yang kuberikan ini!" "Kalau begitu...

baiklah." Tio Bun Yang menerimanya, lalu berpamit.

Hartawan Kwee dan isterinya dan Kwee Hui Khim mengantarkannya sampai di depan rumah.

Setelah Tio Bun Yang tidak kelihatan, barulah mereka masuk ke dalam dan Kwee Hui Khim pun menangis terisak-isak.

-oo0dw0oo- Tio Bun Yang telah meninggalkan rumah hartawan Kwee,namun mendadak muncul dua orang yang berpakaian warna-warni mendekatinya.

Kedua orang itu memberi hormat seraya berkata.

"Maaf.

Kami diutus ke mari untuk menjemput Anda!" "Oh?" Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku mau dijemput ke mana?" "Menemui Kauwcu kami." "Aku tidak kenal Kauwcu kalian, maka aku tidak perlu menemuinya." "Maaf!

Kalau kami tidak berhasil mengundang Anda ke sana, kami pasti dihukum.

Kami harap Anda maklum dan menaruh kasihan pada kami." Tio Bun Yang berpikir, sejenak kemudian mengangguk.

"Baiklah.

Antarlah aku pergi menemui Kauwcu kalian!" "Terimakasih, terimakasih !" Kedua orang itu menarik nafas lega.

"Silakan ikut kami!" Tio Bun Yang mengikuti kedua orang itu.

Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai ditempat yang sepi, di mana tampak sebuah bangunan besar.

Kedua orang tersebut terus berjalan menuju Bangunan itu.

Mendadak muncul beberapa orang berpakaian warna warni lainnya.

Ketika mereka melihat kedua orang itu kembali bersama Tio Bun Yang, berserilah wajah mereka.

"Untung kalian berdua berhasil mengundang siauwhiap ini ke mari.

Kalau tidak, kalian berdua pasti dihukum." Kedua orang itu menarik nafas lega, kemudian yang satu bertanya.

"Dimana Kauwcu?" "Di ruang tengah, sedang menunggu kalian.

Cepatlah kalian masuk!" "Terimakasih!" ucap kedua orang itu, lalu mengajak Tio Bun Yang masuk.

Begitu memasuki bangunan itu, kening Tio Bun Yang langsung berkerut.

Apalagi ketika memasuki sebuah lorong yang agak gelap.

Ternyata ?a mencium bau racun.

Berselang beberapa saat, sampailah ?a di ruang tengah.

Belasan orang berpakaian warna warni berbaris di sisi kiri kanan.

Tampak seorang wanita duduk di situ, dan di sisi kiri kanannya berdiri dua orang tua berpakaian hitam dan putih.

Kedua orang tua itu adalah Hek Pek Siang Sat (Sepasang Algojo Hitam Putih).

Tio Bun Yang tidak dapat menaksir berapa usia wanita itu.

sebab wanita itu memakai cadar.

"Kauwcu, kami telah berhasil mengundang siauw hiap ini ke mari." ujar seorang yang mengundang Tio Bun Yang.

"Bagus!

Kalian telah melaksanakan tugas kalian dengan baik, maka kedudukan kalian akan dinaikkan." sahut Ngo Tok Kauwcu.

Post a Comment