Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 62

Memuat...

Beliau juga terkena penyakit aneh itu.

Tabib sakti tersebut bersedia mengobatinya, asal hartawan Kwee bersedia membayar seribu tael emas!

Sudah barang tentu hartawan Kwee berkeberatan, sehingga kini mulai sekarat." "Kenapa hartawan Kwee berkeberatan membayar seribu tael emas?" "Sebab para hartawan lain cuma membayar lima ratus tael emas, sedangkan dia diharuskan membayar seribu taei emas.

Itulah yang membuatnya berkeberatan.

Dia seorang hartawan yang sangat baik hati, selalu mendong orang namun malah tertimpa musibah." "Putri kesayangannya lumpuh, hingga kini masih belum sembuh.

Dia malah terkena penyakit aneh itu.

Kita pernah menerima budi kebaikannya, tapi justru tidak bisa berbuat apa-apa di saat dia menderita sakit." Tio Bun Yang yang mendengar itu menjadi tergerak hatinya, sebab ia pun mahir ilmu pengobatan.

Karena itu, ia mendekati mereka sambil memberi hormat dan berkata dengan sopan.

"Maaf, Paman-paman, aku mengganggu sebentar!" "Tidak apa-apa," sahut salah seorang sambil memandangnya dan terkesan baik.

"Silakan duduk, anak muda!" "Terimakasih, Paman!" Tio Bun Yang duduk.

"Anak muda, engkau membutuhkan bantuan kami?" tanya orang itu.

"Aku ingin bertanya, penyakit aneh apa yang diderita hartawan Kwee?" jawab Tio Bun Yang.

"Engkau bukan orang sini?" "Bukan.." "Aaaaah...!" Orang itu menghela nafas panjang.

"Bulan ini, mendadak para hartawan terserang penyakit aneh.

Mereka yang terkena penyakit itu, mulut mengeluarkan buih, wajah pucat dan kehijau-hijauan, sekujur badan menggigil kedinginan" Tio Bun Yang manggut-mangg?t.

"Lalu siapa yang mengobati para hartawan itu?" "Muncul seorang tabib sakti, dan hanya dia yang mampu mengobati mereka.

Namun pembayarannya mahal sekali..." Orang itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Lima ratus tael emas?" "Oh" Bagaimana keadaan hartawan Kwee sekarang?" tanya Tio Bun Yang.

"Sudah mulai sekarat.

Karena beliau berkeberatan membayar seribu tael emas." Orang itu menghela nafas panjang.

"Dia seorang hartawan yang baik hati?" "Betul.

Tapi malah tertimpa musibah." "Kalau begitu...." Tio Bun Yang bangkit berdiri.

"Tolong antar aku ke rumahnya!" "Anak muda..." Orang itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Mau apa engkau ke sana" Kalau engkau mau minta bantuan, kini bukan saatnya." "Paman!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku ingin mencoba mengobatinya?" "Anak muda, engkau...." Orang itu terbelalak, begitu pula yang lain.

Tio Bun Yang masih begitu muda, bagaimana mungkin mampu mengobati hartawan Kwee" Pikir mereka.

"Aku mahir ilmu pengobatan, maka apa salahnya kalian antar aku ke sana untuk mencoba mengobatinya" Lagipula hartawan Kwee sudah mulai sekarat.

Kalau terlambat, tentunya hartawan Kwee akan menemui ajalnya." Beberapa orang itu saling memandang, kemudian mengangguk.

"Baik, kami antar engkau ke sana!" "Terimakasih!" ucap Tio Bun Yang.

Mereka segera mengantar Tio Bun Yang kerumah hartawan Kwee.

Banyak orang mengikutinya dari belakang, karena mendengar bahwa Tio Bun Yang akan mencoba mengobati hartawan Kwee.

Berselang beberapa saat sampailah mereka dirumah hartawan Kwee.

Rumah itu cukup besar, indah, halamannya luas dan terdapat taman bunga yang indah.

Nyonya Kwee menyambut mereka dengan mata basah.

Mereka segera memberitahukan tentang maksud kedatangan mereka.

"Oh?" Nyonya Kwee langsung memandang Tio Bun Yang.

"Tabib muda, suami saya sudah Sekarat." "Bibi!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku bukan tabib, tapi mengerti ilmu pengobatan, maka ingin mencoba mengobati hartawan Kwee." "Mari ikut aku ke dalam!" ujar Nyonya Kwee.

Ia lalu berjalan ke dalam, dan Tio Bun Yang mengikutinya.

Sedangkan yang lain duduk di ruang depan dan menunggu di situ, karena ingin tahu bagaimana hasilnya.

Tio Bun Yang telah memasuki kamar hartawan Kwee.

Nyonya Kwee mendekati suaminya yang berbaring di tempat tidur.

Wajah hartawan Kwee pucat pias agak kehijau-hijauan, nafasnya lemah dan sekujur badannya menggigil kedinginan.

"Suamiku...." Nyonya Kwee memandangnya dengan air mata bercucuran.

"Is...

isteriku...." Hartawan Kwee menatap isterinya dengan mata redup, kemudian memandang Tio Bun Yang.

"Kalau pemuda itu membutuhkan...

sesuatu, bantu...

bantulah dia!" katanya l?mah.

Ucapan itu membuat Tio Bun Yang terharu.

Dalam keadaan sakit, hartawan Kwee masih memikirkan kepentingan orang lain.

Betapa bajik, luhur dan mulianya hati hartawan itu.

"Suamiku, pemuda itu bermaksud mencoba mengobatimu." Nyonya Kwee memberitahukan.

"Oooh?" Hartawan Kwee menghela nafas panjang.

"Aaaah!

Bagaimana mungkin dia bisa mengobatiku?" "Paman!" Tio Bun Yang segera mendekatinya, sekaligus memeriksanya dengan intensif, lalu manggut-manggut.

"Bagaimana?" tanya Nyonya Kwee cepat.

"Apakah suamiku bisa ditolong?" "Harap Bibi tenang!" sahut Tio Bun Yang, kemudian memasukkan sebutir pil pemunah racun ke dalam mulut hartawan Kwee.

Setelah itu, ia berkata kepada Nyonya Kwee.

"Bibi, tolong ambilkan sebuah baskom!" Nyonya Kwee segera mengambil sebuah baskom, Tio Bun Yang menerima lalu ditaruhnya dilantai.

Ia membangunkan hartawan Kwee untuk duduk di pinggir tempat tidur.

Sesudah itu ia menempelkan telapak tangannya di punggung hartawan Kwee lalu mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang.

Tak seberapa lama kemudian, hartawan Kwee mulai memuntahkan cairan kehijau-hijauan.

Berselang sesaat, hartawan Kwee berhenti muntah, dan seketika wajahnya tampak agak segar.

"Paman sudah sembuh sekarang," ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Apa"!" hartawan Kwee tertegun.

Kini suaranya tidak begitu lemah lagi.

"Aku...

aku sudah sembuh?" "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Suamiku...." Nyonya Kwee langsung memeluknya sambil menangis girang.

"Suamiku...." "Oooh, isteriku!" Hartawan Kwee tersenyum.

"Aku...

aku tidak jadi mati...." "Anak muda...." Nyonya Kwee segera memberi hormat.

"Terimakasih atas pertolonganmu!" "Anak muda...." Hartawan Kwee bangkit berdiri sekaligus memberi hormat.

"Terimakasih...." "Paman, dan Bibi tidak usah mengucapkan tenimakasih," ujar Tio Bun Yang.

"Berterimakasihlah kepada Thian (Tuhan)!" "Isteriku, siapa pemuda ini" tanya hartawan Kwee.

"Dia...." Nyonya Kwee menggelengkan kepala.

"Aku belum bertanya namanya." "Namaku Tio Bun Yang, Bibi." "Ha ha!" Hartawan Kwee tertawa gelak dan tampak sudah sembuh.

"Engkau rnasih muda, namun sudah mahir ilmu pengobatan.

Sungguh luar biasa dan mengagumkan.

Ha ha ha...!" "Bun Yang, siapa yang mengajarmu ilmu pengobatan?" tanya Nyonya Kwee sambil memandangnya.

"Ayahku." "Kalau begitu, ayahmu pasti seorang tabib terkenal," ujar hartawan Kwee, yang semakin kagum.

"Paman!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Ayahku memang mahir ilmu pengobatan, namun bukan tabib." "Oh?" hartawan Kwee tercengang.

"Itu...." "Ayahku sering menolong orang-orang yang menderita sakit, tapi tidak pernah mau menerima pembayaran." Tio Bun Yang memberitahukan.

"Kini ayahku tinggal mengasingkan diri di sebuah pulau." "Kalau begitu...." Hartawan Kwee manggut-manggut mengerti.

"Ayahmu pasti seorang pendekar yang berhati bajik." "Tapi sudah belasan tahun ayahku tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan lagi," ujar Tio Bun Yang.

"Hidup tenang, damai dan bahagia bersama ibuku di pulau itu." "Oooh!" Hartawan Kwee manggut-manggut.

"Oh ya, sebetulnya aku m?ngidap penyakit apa?" "Bukan penyakit, melainkan terkena racun." "Oh" Kalau begitu para hartawan lain juga terkena racun?" tanya hartawan Kwee terkejut.

"Ya," Tio Bun Yang mengangguk.

"Menurutku, ada orang tertentu yang menyebarkan racun itu." "Heran?" gumam hartawan Kwee.

"Siapa yang menyebarkan racun itu?" Sebetulnya Tio Bun Yang telah mencurigai tabib sakti yang menyembuhkan para hartawan lain, namun ia tidak mau memberitahukan karena tiada bukti.

"Oh ya!" Nyonya Kwee memberitahukan.

"Ada belasan orang menunggu di ruang depan, mari kita ke depan menemui mereka!" Hartawan Kwee dan Tio Bun Yang mengangguk, lalu segera berjalan ke ruang depan.

Terbelalaklah orang-orang itu ketika melihat hartawan Kwee sudah sembuh, kemudian mereka memandang Tio Bun Yang dengan mulut ternganga lebar.

"Terimakasih!" ucap hartawan Kwee.

"Kalian telah mengantar pemuda ini ke mari, kalau tidak, mungkin aku sudah mati." "Jadi...." tanya salah seorang yang bercakap-cakap dengan Tio Bun Yang di kedai teh.

"Anak muda ini menyembuhkan Tuan?" "Betul." Hartawan Kwee mengangguk sambil tersenyum.

"Itu...

sungguh diluar dugaan, tapi syukurlah Tuan telah sembuh!

Kami turut gembira." "Terima kasih!

Ha ha ha!" Hartawan Kwee tertawa.

"Berhubung kalian yang mengantar pemuda ini kemari mengobatiku, maka aku akan menghadiahkan kalian sepuluh tael perak setiap orang.

"Tidak usah, Tuan!" ujar mereka yang memang sering menerima bantuan hartawan Kwee.

"Kalian harus menerima kalau tidak...." Hartawan Kwee memandang mereka.

"Aku akan marah." "Kalau begitu, kami mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada Tuan," ucap mereka semua.

Sementara Nyonya Kwee telah masuk ke dalam, tak lama sudah kembali keruangan itu sekaligus membagi-bagikan uang perak kepada mereka.

Mereka mengucapkan terima kasih lagi, lalu mohon pamit.

Kini di ruang itu hanya tinggal hartawan Kwee bersama isterinya dan Tio Bun Yang.

Hartawan Kwee memandang Tio Bun Yang dan kemudian menghela nafas panjang.

"Kenapa Paman menghela nafas panjang?" tanya Tio Bun Yang dengan rasa heran.

"Kini aku telah sembuh, namun putriku...." Hartawan Kwee menggeleng-gelengkan kepala.

"Oh!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku telah mendengar tentang putri Paman, yang menderita penyakit lumpuh.

Sudah berapa lama putri Paman menderita penyakit itu?" "Sudah lima tahun." Hartawan Kwee memberitahukan dengan wajah muram.

"Tiada seorang tabib pun yang mampu menyembuhkannya." "Kalau begitu..." ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Aku akan mencoba mengobatinya." "Oh!" Wajah hartawan Kwee dan isterinya langsung berseri "Mari ikut kami ke kamar putri kami!" Tio Bun Yang mengangguk, lalu mengikuti mereka menuju kamar Kwee Hui Khim, putri hartawan Kwee.

Kamar tersebut sungguh indah sekali, begitu pula tempat tidurnya Sosok yang kurus berbaring di tempat tidur itu, yang ternyata putri hartawan Kwee.

"Ayah" Ibu "panggil Kwee Hui Khim.

"Nak!" Nyonya Kwee segera membelainya dengan penuh kasih sayang dan memberitahukan.

"Ayahmu s?dah sembuh, pemuda itu yang menyembuhkan ayahmu." "Oh" Kwee Hui Khim memandang Tio Bun Yang, "Terimakasih, Kak!" "Sama-sama," sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum dan mendekatinya.

Post a Comment