Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 57

Memuat...

"Seng Hwee....

tidak salah lagi, Seng Hwee Sin Kun adalah penjahat yang membunuh ayahku, mungkin juga dialah pembunuh kakek tuaku" "Memang mungkin?" Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut "Penjahat itu juga pembunuh nenekku." "Oh" Bagaimana cara kematian mereka " tanya Kam Hay Thian.

"Mati hangus." Lam Kiong Soat Lan memberitahukan.

"Kalau begitu tidak salah lagi, pasti penjahat itu!" ujar Kam Hay Thian.

"Karena Seng Hwee Sin Kang mengandung semacam hawa api yang dapat menghanguskan apapun!" "Kita punya musuh yang sama!" ujar Lam Kiong Soat Lan.

"Bagaimana kalau kita menyerang ke markas mereka?" "Kita tidak tahu di mana markas mereka" Kam Hay Thian menggeleng-gelengkan kepala.

"Lain kali kalau kita bertemu anggota Seng Hwee Kauw lagi, kita harus bertanya di mana markas mereka itu." "Aku setuju," Kam Hay Thian manggut-manggut.

"Jangan berlaku ceroboh!" sela Toan Beng Kiat.

"Lebih baik memberitahukan dulu pada kakekku dan kakek Lim, bagaimana menurut pendapat mereka!" "Kalau begitu, lebih baik aku saja yang pergi menyerang markas Seng Hwee Kauw itu," tandas Kam Hay Thian.

"Jangan gegabah!" ujar Lu Hui San memperingatkan.

"Kepandaian Seng Hwee Sin Kun itu sangat tinggi, dia pasti telah berbasil mempelajari Seng Hwee Cin Keng itu.

Kalau tidak, bagaimana mungkin dia mendirikan Seng Hwee Kauw dan menyebut dirinya Seng Hwee Sin Kun!

Karena itu, sebelum bertindak, lebih baik kita pikirkan secara matang dulu!" "Betul!" sahut Toan Beng Kiat.

"Nona Hui San," ujar Kam Hay Thian dengan kening berkerut.

"Aku bukan sok jago, aku tak sabar ingin membalas dendam." "Aku mengerti itu." Lu Hui San manggut-manggut.

"Tapi, alangkah baiknya kita terima saran Beng Kiat." Kam Hay Thian berpikir lama sekali, sebelum akhirnya mengangguk.

"Baiklah, aku menuruti pendapat Saudara Toan!" "Setelah kita tahu di mana markas Seng Hwee Kauw, barulah kita pergi ke markas pusat Kay Pang," ujar Lam Kiong Soat Lan.

"Sekarang belum perlu.

Kemudian, kalau ada apaapa, lebih baik kita berunding dulu." "Betul!" Lu Hui San manggut-manggut.

"Kita semua sudah saling berteman, jadi di antara kita mesti ada saling pengertian.

Jauhkan sikap keras kepala kita!" "Nona Hui San!" Kam Hay Thian tersenyum.

"Sebetulnya aku tidak keras kepala, cuma...

ingin lekas-lekas membalas dendam saja!" "Nah!" Lu Hui San tertawa kecil.

"Engkau mengatakan begitu, itu berarti telah mengaku dirimu keras kepala.

"Eeeh?" Kam Hay Thian tertegun.

"Aku....?" "Maaf!" ucap Lu Hui San sambil tersenyum.

"Apabila ucapanku tadi menyinggung perasaanmu, aku mohon maaf." "Aku tidak tersinggung, sungguh!" Kam Hay Thian tersenyum.

"Oh ya, kalian mestinya bisa bersikap adil pula." "Memangnya kenapa?" tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Kalian tahu orang tuaku, tapi aku belum tahu siapa orang tua kalian, bukankah kurang adil?" "Oooh, itu!" Lam Kiong Soat Lan tertawa.

"Ayahku bernama Lam Kiong Bie Liong, ibuku bernama Toan Pit Lian!" "Ayahku bernama Toan Wie Kie, kakak kandungnya Toan Pit Lian!" Toan Beng Kiat menimpali.

"Ibuku bernama Gouw Sian Eng, kakekku adalah wakil ketua Kay Pang!" "Oooh!" Kam Hay Thian manggut-manggut, kemudian bertanya pada Lu Hui San yang diam itu.

"Siapa kedua orang tuamu" "Ayahku bernama Lu Kam Thay.

Ibuku...

sudah lama meninggal," ujar Lu Hui San.

"Nah!" ujar Toan Beng Kiat.

"Kini kita berempat adalah teman baik, maka kita harus bersatu melawan Seng Hwee Kauw." Kam Hay Thian manggut-manggut.

"Tapi...." Mendadak Toan Beng Kiat memandang Lu Hui San.

"Hui San tidak punya dendam apa-apa dengan Seng Hwee Sin Kun." "Aku ingin membantu," potong Lu Hui San.

"Boleh, kan?" "Tentu bo!eh, namun akan membahayakan dirimu!

Aku pikir....," Toan Beng Kiat menatapnya.

"Tidak perlu dipikir lagi, sebab aku sudah mengambil keputusan untuk membantu kalian!" "Terima kasih!" ucap Toan Beng Kiat, Kam Hay Thian, Lam Kiong Soat Lan serentak sambil tersenyum.

"Ayo!" ajak Lu Hui San sambil bangkit berdiri.

"Sudah lama kita duduk di sini, kita lanjutkan perjalanan!" "Menuju ke mana?" tanya Kam Hay Thian.

"Kemana pun boleh," sahut Lu Hui San.

"Ya, kan?" "Betul!" Toan Beng Kiat manggut-manggut.

Mereka berempat meneruskan perjalanan.

"Mudah-mudahan pihak Seng Hwee Kauw akan muncul, jadi kita bisa bertanya pada mereka berada di mana markas itu," ujar Kam Hay Thian.

"Tapi ingat!" pesan Lam Kiong Soat Lan.

"Jangan langsung membunuh mereka, agar kita bisa bertanya pada mereka!" "Cukup sisakan satu saja," sahut Kam Hay Thian.

"Aku adalah Chu Ok Hiap, tidak bisa mengampuni mereka!" Lam Kiong Soat Lan menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalian harus tahu," ujar Kam Hay Thian sungguh-sungguh.

"Betapa jahat?ya para anggota Seng Hwee Kauw, mereka pasti sering memperkosa dan membunuh.

Buktinya mereka juga ingin membunuh kalian, maka apa salahnya aku membasmi mereka?" "Tapi...." Lu Hui San menghela nafas.

"...terlampau sadis!" "Mereka memperkosa dan membunuh, apakah itu tidak sadis?" sahut Kam Hay Thian sambil menatapnya.

"Kalau hanya dilukai dengan senjata mereka akan kembali berlaku jahat apabila sudah sembuh.

Dan kejahatan mereka akan semakin merajatela.

Aku tak inginkan semua itu.

Coba kau pikir kalau tidak dibasmi habis para penjahat itu, entah berapa banyak orang yang akan mati ditangan mereka!" "Sudahlah!" sela Toan Beng Kiat sambil tertawa.

"Kita tidak perlu memperdebatkan itu, sebab pikiran orang berbeda.

Yang penting, kita jangan melakukan kejahatan." "Aaah...." Lu Hui San menghela nafas panjang.

"Kini aku baru tahu, dalam rimba persilatan memang penuh kejahatan.

Pantas ayahku berpesan padaku harus berhati-hati hidup di rimba persilatan.

"Ayahmu benar, maka engkau harus berhati-hati," ujar Toan Beng Kiat lembut sambil memandangnya.

"Aku pun akan melindungimu." "Terimakasih," ucap Lu Hui San dengan wajah agak kemerah-merahan.

"Jadi engkau cuma melindunginya, lalu bagaimana aku?" tanya Lam Kiong Soat Lan sambil tersenyum.

"Ingat, aku adikmu!" "Jangan cemas!" sahut Toan Beng Kiat sambil tertawa.

"Saudara Kam melindungimu!" "Eh" Aku..." sahut Kam Hay Thian menggeragap "Aku pun harus melindungi diriku sendiri." "Dasar bodoh engkau!" Toan Beng Kiat melototinya "Tidak mengerti sama sekali" "Lho" Kenapa?" tanya Kam Hay Thian bingung.

"Aku berbicara sesungguhnya." Toan Beng Kiat menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau betul-betul bodoh!" "Aku...

aku mungkin memang bodoh." Hay Thian menundukkan kepala, membuat Lam Kiong Soat Lan tertawa geli.

"Engkau tidak bodoh.

Kau terlalu jujur dan polos, sobat.

Tapi itu sifat yang baik," ujar Lam Kiong Soat Lan.

"Aku suka denganmu!" "Nah!" Toan Beng Kiat tertawa.

"Engkau suka apa?" "Suka sifatnya itu," sahut Lam Kiong Soat Lan dengan wajah kemerah-merahan, "Memangnya kenapa?" "Aku kira . . . ." Toan Beng Kiat tersenyum-senyum.

"Kau kira apa, heh?" tanya Lam Kiong Soat Lan dengan mata melotot.

"Aku kira itu . . . .

" gumam Toan Beng Kiat sambil tertawa "Ha-ha-ha . . . !" -oo0dw0oo- Bagian 23 Berangkat ke Tionggoan Beberapa hari ini, Lie Ai Ling selalu marah-marah tidak karuan Tentu saja ini sangat membingungkan kedua orang tuanya Bahkan Tio Tay Seng, kakeknya, juga tidak habis pikir, kenapa cucunya itu selalu marah-marah.

"Cie Hiong!" ujar Tio Tay Seng sambil menggelenggelengkan kepala.

"Kenapa beberapa hari ini Lie Ai Ling selalu marah-marah?" Tio Cie Hiong hanya tersenyum.

"Itu karena kedua orang tuanya belum memperbolehkannya ke Tionggoan," jawabnya kemudian.

"Oh, itu!" Tio Tay Seng manggut-manggut.

"Cie Hiong, bagaimana menurutmu?" "Maksud Paman?" "Bolehkah kita mengijinkan dia pergi ke Tionggoan?" "Kini dia sudah cukup dewasa, memang tidak baik juga terus mengekangnya.

Ada baiknya kita mengijinkannya ke Tionggoan.

Lagipula ayahnya telah menjanjikan itu.

Tidak baik membohongi anak!" "Kalau begitu, kita harus membicarakannya dengan kedua orang tuanya," ujar Tio Tay Seng sungguh-sungguh.

"Benar!" Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Kakak Hiong.." ujar Lim Ceng Im.

"Ada baiknya dia pergi ke Tionggoan bersama Goat Nio." "Tentu saja." Tio Cie Hiong manggut-manggut.

Kebetulan muncul Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa.

Tio Tay Seng segera mempersilakan mereka duduk.

"Ada apa, Ayah?" tanya Tio Hong Hoa.

"Tahukah kalian kenapa Ai Ling marah-marah?" Tio Tay Seng balik bertanya sambil memandang mereka.

Tio Hong Hoa mengangguk.

"ini karena kami belum mengijinkannya ke Tionggoan!" "Kenapa?" Tio Tay Seng mengerutkan kening.

"Dia masih kecil" "Kini dia sudah dewasa, lagi pula Man chiu pernah menjanjikannya.

Jadi tidak baik mengulur-ulur janji." "Ayah setuju dia ke Tionggoan?" tanya Tio Hong Hoa.

"Yaah." Tio Tay Seng menghela nafas panjang.

"Dia sudah cukup dewasa, ada baiknya juga dia menimba pengalaman di Tionggoan.

Lagipula dia akan berangkat bersama Goat Nio." "Kalau Ayah setuju, kami pun tidak berkeberatan," ujar Tio Hong Hoa.

"Kami akan memberitahukan padanya." Sementara itu muncul pula Sam Gan Sin Kay, Kim Siauw Suseng, dan Kou Hun Bijin.

"Hi-hi-hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.

"Ada apa nih" Kok berkumpul disini?" "Kami sedang membicarakan Ai Ling," sahut Tio Tay Seng.

"Kenapa dia?" tanya Kim Siauw Suseng heran.

"Beberapa hari ini, dia selalu marah-marah.

Apakah kalian tidak tahu itu?" Tio Tay Seng balik bertanya.

"Tentu tahu!" Kim Siauw Suseng tertawa.

"Dia marahmarah karena belum diijinkan ke Tionggoan!" "Kini kami sudah setuju, tapi harus berangkat bersama Goat Nio," ujar Tio Tay Seng.

"Tentu," sahut Kou Hun Bijin sambil tertawa nyaring.

"Goat Nio memang harus pergi ke Tionggoan mencari Bun Yang." "Kalau begitu, kita harus memberjtahukan padanya, agar hatinya merasa gembira," ujar Lim Ceng Im.

"Siapa yang terus cemberut?" Mendadak muncul Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio.

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Engkau yang cemberut!

Namun sebentar lagi wajahmu pasti berseri." "Hmm!" dengus Lie Ai Ling.

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa lagi.

"Ai Ling, tahukah engkau kami sudah setuju?" "Ah!

Bohong!" "Ai Ling!" Tio Hong Hoa tersenyum lembut.

"Kami tidak bohong, kami mengijinkan engkau ke Tionggoan lagi!" "Oh?" Wajah Lie Ai Ling langsung berseri.

"Ibu dan ayah sudah setuju?" "Kami semua sudah setuju," sahut Lie Man Chiu sambil tersenyum.

"Tapi harus berangkat bersama Goat Nio." "Itu sudah pasti," Lie Ai Ling tertawa.

"Sebab Goat Nio harus bertemu Kakak Bun Yang." "Mulai, ya!" Siang Koan Goat Nio menoleh dengan mata melotot, merasa digoda Ai Ling.

Post a Comment