Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 55

Memuat...

Namun ucapan itu ditahannya.

Dan wajahnya tampak memerah.

"Terimakasih atas pujianmu," ucap Lu Hui San.

"Beng Kiat!" Lam Kiong Soat Lan tertawa kecil.

"Selain indah namanya, orangnya pun cantik sekali," ujarnya bernada menyindir.

"Soat Lan..." Wajah Toan Beng Kiat bertambah merah.

Sementara Lu Hui San tersenyum-senyum lalu bertanya.

"Kalian berdua k?kak beradik?" "Boleh dikatakan begitu," sahut Lam Kiong Soat Lan menjelaskan.

"Kar?na kami adalah famili dekat." "Oooh!" Lu Hui San manggut-manggut.

"Oh ya, siapa sebenarnya orang-orang berpakaian merah itu?" "Mereka para anggota Hiat Ih Hwe," jawab Toan Beng Kiat.

"Kenapa kalian bertarung dengan mereka?" tanya Lui Hui San lagi.

"Mereka ingin membunuh kami, maka kami terpaksa melawan," jawab Lam Kiong Soat Lan.

"Kalian punya dendam dengan mereka?" "Sesungguhnya tidak." "Kalau begitu, kenapa mereka ingin membunuh kalian?" "Entahlah!" Toan Beng Kiat menggeleng kepala.

"Ketika kami sampai di sini, mendadak mereka muncul dan langsung menyerang kami." "Kalau begitu, mungkin ada salah paham?" tukas Lu Hui San.

"Kami sama sekali tidak mengerti," Lam Kiong Soat Lan menggeleng~gelengkan kepala.

"Oh ya!

Kenapa mereka begitu takut melihat pedangmu?" "Aku sendiri justru tidak habis berpikir," ujar Lu Hui San.

"Memang membingungkan." "Siapa yang menghadiahkan pedang itu padamu?" tanya Toan Beng Kiat mendadak sambil memandangnya.

Ia sangat terkesan baik terhadap gadis itu.

"Ayahku!" Lu Hui San memberitahUkan.

"Kalau begitu...." Toan Beng Kiat tersenyum.

"Ayahmu pasti sangat terkenal sekali.

Orang-orang tadi m?ngenali pedang milik ayahmu." Lu Hui San hanya tersenyum.

"Siapa ayahmu?" tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Ayahku bernama Lu Kam Thay," jawab Lu Hui San, sengaja membalikkan kata "Thay Kam" jadi "Kam Thay".

"Lu Kam Thay..?" gumam Lam Kiong Soat Lan.

"Maaf bolehkah kami mengetahui julukan ayahmu?" "Ayahku tidak punya julukan," sahut Lu Hui San sambil tersenyum.

"Oooh!" Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut.

Tiba-tiba muncul beberapa orang yang segera memberi hormat pada Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soan Lan, dan Lu Hui San.

"Maaf, kami mengganggu kalian!" ucap salah seorang itu dan memberitahukan.

"Kami adalah anggota Tiong Ngie Pay...." "Tiong Ngie Pay?" tanya Toan Beng Kiat dengan wajah berseri, karena pernah mendengar perkumpulan tersebut dari kakeknya.

"Ya!" Orang itu mengangguk dan memberi hormat lagi.

"Ketua kami mengunda?g kalian kemarkas!" Toan Beng Kiat melirik Lam Kiong Soat Lan.

Terdengar suara menggumam dan mulutnya, Seperti ragu untuk mengucapkan kata-kata.

Namun Lam Kiong Soat Lan mendahuluinya.

"Baik!" Gadis itu mengangguk.

"Terimakasih!" ucap anggota Tiong Ngie Pay itu sambil tertawa gembira "Mari ikut kami?" Sementara Toan Beng Kiat memandang Lu Hui San, kemudian berkata dengan penuh harap.

"Nona Hui San, mari ikut kami ke markas Tiong Ngie Pay!" "Baik!" Lu Hui San mengangguk "Terimakasih!" ucap Toan Beng Kiat tanpa sadar.

"Eh?" Lu Hui San tersenyum "Kenapa engkau mengucapkan tenmakasih padaku" Itu tidak perlu!" "Aku . . . ." Toan Beng Kiat tergagap dengan wajah kemerahmerahan "Karena girang, maka mengucapkan terimakasih padamu!" sindir Lam Kiong Soat Lan sambil tertawa "Jadi, dia mengucapkan terimakasih atas kesediaanmu ikut ke markas Tiong Ngie Pay!" "Oooh!" Lu Hui San tersenyum lagi.

Mereka bertiga mengikuti para anggota Tiong Ngie Pay menuju markas mereka.

Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di markas tersebut Yo Suan Hiang, Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him menyambut kedatangan mereka dengan penuh kegembiraan dan kehangatan.

"Terimakasih atas kedatangan kalian!" ucap Yo Suan Hiang "Silakan duduk!" Mereka bertiga duduk, Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan terus memandang Yo Suan Hiang "Ka1au tidak salah, engkau pasti Bibi Suan Hiang, kan?" "Betul" Yo Suan Hiang mengangguk.

"Siapa yang memberitahukan pada kalian?" "Kakekku," jawab Toan Beng Kiat.

Yo Suan Hiang manggut-manggut sambil tersenyum.

"Kakekmu pasti Gouw Han Tiong, dan ayahmu tentunya Toan Wie Kie, sedangkan ibumu bernama Gouw Sian Eng!

Ya, kan?" "Bagaimana Bibi bisa tahu?" tanya Toan Beng Kiat, merasa heran.

"Tentu tahu, sebab aku kenal kakek dan kedua orang tuamu," ujar Yo Suan Hiang sambil memandang Lam Kiong Soat Lan.

"Engkau pasti putri kesayangan Lam Kiong Bie Liong dan Toan Pit Lian.

Begitu, bukan?" Lam Kiong Soat Lan tercengang mendengar ucapan wanita itu.

"Karena aku kenal kedua orang tuamu, bahkan juga kenal Lam Kiong hujin yang telah tiada itu!" Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut.

"Gadis ini..." Yo Suan Hiang menatap Lu Hui San, karena tidak mengenalnya.

"Siapa gadis ini?" "Namanya Lu Hui San," jawab Toan Beng Kiat memperkenalkan.

"Kami baru berkenalan, dia membantu kami mengusir para anggota Hiat Ih Hwe." Yo Suan Hiang manggut-manggut sambil tersenyum.

"Terima kasih atas kedatanganmu, Nona!" Lu Hui San juga tersenyum.

"Bibi, panggil namaku saja!" pintanya merendah.

"Baik." Yo Suan Hiang mengangguk.

"Oh ya, Tio Bun Yang telah ke mari, tapi sudah pergi." "Sayang sekali!" Toan Beng Kiat menggeleng-gelengkan kepala.

"Padahal kami ingin sekali bertemu dia!" "Oh ya!" Yo Suan Hiang memberitahukan.

"Kam Hay Thian juga sudah kemari" "Kam Hay Thian" Siapa dia?" tanya Toan Beng Kiat.

"Dia putra Kam Pek Kian dan Lie Siu Sien.

Ayahnya sudah meninggal" Yo Suan Hiang memberitahukan.

"Ayah Tio Bun Yang kenal mereka.

Beberapa hari yang lalu, dia meninggalkan markas ini!" Sementara beberapa anggota sibuk menyuguhkan minuman.

Tak lama kemudian mereka bersulang bersama sambil tertawa riang gembira.

"Oh ya," ujar Yo Suan Hiang.

"Bagaimana jika kalian tinggal di sini beberapa hari?" "Maaf, Bibi!" jawab Toan Beng Kiat.

"Kami masih ada urusan lain, jadi tidak bisa tinggal disini!" "Kalau begitu..." Yo Suan Hiang tersenyum.

"Malam ini kalian menginap di sini saja, besok baru pergi" Toan Beng Kiat mengangguk.

"Baiklah, Bibi." Mereka menginap semalam di markas Tiong Ngie Pay.

Keesokan harinya barulah mereka meninggalkan markas itu.

-oo0dw0oo- Sementara itu, para anggota Hiat Ih Hwe telah sampai di markas.

Mereka langsung melapor pada Gak Cong Heng yang baru diangkat menjadi wakil ketua, menggantikan Lie Man Chiu yang sekian lama tak kembali ke markas.

"Wakil Ketua, ketika kami bertarung dengan seorang pemuda dan seorang gadis, mendadak muncul gadis lain yang menggunakan pedang Han Kong Kiam..." "Apa"!" Bukan main terkejutnya Gak Cong Heng mendengar laporan itu.

"Kalian bertarung dengan gadis itu?" "Tidak, Wakil Ketua.

Kami langsung kabur!" "Bagus!" Gak Cong Heng menghela nafas lega.

"Untung kalian tidak bertarung dengan gadis itu!" "Wakil Ketua, bolehkah kami bertanya...." "Aku tahu, kalian mau bertanya apa.

Kenapa tidak boleh mengganggu gadis pemilik pedang Han Kong Kiam, kan?" "Betul." "Aku akan memberitahukan pada kalian.

Tapi kalian tidak boleh membocorkan rahasia ini!

Siapa yang berani membocorkan, akan dihukum mati!" Para anggota menganggukkan kepala.

"Kalian harus tahu, gadis itu adalah...

putri kesayangan Lu Kong Kong!" "Haaah?" Wajah para anggota itu langsung berubah pucat.

"Untung kami tidak bertarung dengan gadis itu." "Ingat, apabila kalian bertemu gadis itu, harus segera melarikan diri.

Pokoknya tidak boleh mengganggunya!" Malam harinya, ketika Lu Thay Kam datang ke markas Hiat Ih Hwe, segeralah Gak Cong Heng melapor tentang itu.

"Ngmmm!" Lu Thay Kam manggut-manggut dan menegaskan.

"Pokoknya para anggota tidak boleh mengganggu putriku jika bertemu dia harus segera kabur!" Gak Cong Heng mengangguk.

"Aku dengar, belum lama ini telah muncul Seng Hwee Kauw dalam rimba persilatan Kalian, harus selidiki siapa ketua Seng Hwee Kauw itu?" "Baik, Lu Kong Kong." Gak Cong Heng mengangguk lagi.

"Alangkah baiknya kita bisa bekerjasama dengan Seng Hwee Kauw.

Jadi, perkumpulan kita pasti jadi kuat sekali." "Aku akan coba melaksanakan itu," ujar Gak Cong Heng berjanji.

"Apabila Hiat Ih Hwe bisa bekerjasama dengan Seng Hwee Kauw,kita pun boleh memanfaatkan mereka untuk membunuh para menteri dan jenderal yang setia." "Betul!

Ha-ha-ha...!" Lu Thay Kam tertawa gelak.

"Ha-haha...!" -oo0dw0ooTiraikasih Bagian 22 Membunuh para Anggota Seng Hwee Kauw Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, dan Lu Hui San melanjutkan perjalanan sambil tertawa riang gembira.

Hubungan mereka semakin akrab, bahkan Toan Beng Kiat kelihatan telah jatuh hati padanya.

Akan tetapi, sikap Lu Hui San biasa-biasa saja.

Itu membuat Toan Beng Kiat agak kecewa tapi tetap penuh harapan.

Semua itu tidak terlepas dari mata Lam Kiong Soat Lan.

Tampaknya ia berniat membantu Toan Beng Kiat secara diam-diam.

Hari ini mereka bertiga sampai di sebuah rimba.

Ketiganya beristirahat di bawah sebuah pohon.

"Sungguh indah rimba ini!" ujar Toan Beng Kiat sambil menoleh ke arah Lu Hui San yang duduk di sisi Lam Kiong Soat Lan.

"Sebetulnya rimba ini tidak indah," sahut Lam Kiong Soat Lan sambil tersenyum.

"Hanya karena keberadaan Hui San di sini, membuat rimba ini berubah indah." "Soat Lan!" Wajah Toan Beng Kiat agak kemerah-merahan "AkU bicara sesungguhnya." "Aku pun bicara sesungguhnya," sahut Lam Kiong Soat Lan sambil melirik Lu Hui San "Ya, kan" "Bagaimana mungkin diriku bisa menambah keindahan rimba ini" tukas Lu Hui San menyelak pembicaraan itu.

Mulutnya tertawa geli.

"Itu menurut pandangan Beng Kiat" Lam Kiong Soat Lan tertawa dan menambahkan "Hui San, Beng Kiat kelihatan sangat tertarik padamu," bisiknya kepada Hui San.

"Oh?" Lu Hui San tersenyum.

"Sesungguhnya kita semua adalah teman...." "Jadi engkau tidak tertarik pada Beng Kiat?" tanya Lam Kiong Soat Lan mendadak sambil menatapnya.

"Itu akan mengecewakan Beng Kiat, lho!" "Kita baru berkenalan, belum waktunya untuk membicarakan tentang itu." sahut Lu Hui San, tersenyum.

"Kalau begitu..." Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut.

"Masih perlu waktu." "Soat Lan!" tegur Toan Beng Kiat.

"Jangan membicarakan ini, sebab Hui San akan tersinggung." "Aku tidak akan tersinggung, kita sama-sama teman.

Post a Comment