Semua pengeroyok terkejut melihat munculnya seorang laki-laki berusia enam puluh empat tahun yang tinggi besar dan gagah perkasa. Mereka merasa penasaran sekali karena mereka sudah hampir berhasil merobohkan wanita itu, akan tetapi kini muncul seorang kakek yang menggagalkan usaha mereka! Dua orang lihai yang agaknya menjadi pemimpin rombongan itu, dengan marah lalu memberi aba-aba untuk mengeroyok Liu Bhok Ki!
Liu Bhok Ki melihat betapa gadis berbaju hijau itu terhuyung dan jatuh terduduk, lalu gadis itu memejamkan mata dan agaknya sedang menderita nyeri yang hebat. Dia pun cepat mendekati gadis itu, tanpa ragu lagi dia menotok punggungnya sehingga gadis itu roboh pingsan dan segera dipondongnya gadis itu. Pada saat itu, belasan orang itu sudah maju mengeroyoknya.
Liu Bhok Ki menggerakkan sabuk putihnya dan tubuhnya berloncatan bagaikan seekor rajawali sakti, menyambar- nyambar dan dalam waktu beberapa menit saja, hampir semua senjata di tangan para pengeroyok telah terampas dari tangan mereka. Ada yang terlibat sabuk dan ditarik lepas, ada yang terlepas karena pergelangan tangan pemegangnya tertotok ujung sabuk. Dan sabuk itu pun lalu lecut-lecut seperti cambuk dengan mengeluarkan suara ledakan-ledakan. Kocar- kacirlah para pengeroyok itu dan tak lama kemudian mereka semua melarikan diri sambil membawa teman-teman yang tadi terluka oleh gadis itu.
Liu Bhok Ki berdiri dengan memondong tubuh gadis yang pingsan itu, se¬jenak memandang kepada mereka yang melarikan diri. Pada saat itu baru dia rasa keadaan hatinya sudah mengalami perubahan yang luar biasa. Tanpa disengaja, tadi dalam perkelahian itu, dia sama sekali tidak mau melukai berat para pengeroyoknya, apalagi merobohkan dan membunuhnya! Padahal, dahulu kalau dia berhadapan dengan lawan, dia tidak mengenal ampun lagi! Lebih-lebih lagi kalau lawannya itu orang-orang jahat. Dan gerombolan yang mengeroyok seorang wanita seperti itu, mana bisa disebut orang-orang baik?
Liu Bhok Ki tidak menyesali perubahan pada dirinya, hanya merasa heran saja, kemudian dia membawa pergi gadis itu keluar dari dalam hutan, membawanya mendaki bukit dan setelah tiba puncak, di mana terdapat sebatang pohon yang lebat daunnya, dia berhenti merebahkan tubuh gadis itu ke atas tanah bertilamkan rumput tebal.
Dengan lembut dia menyadarkan gadis itu dari pingsannya. Gadis itu membuka matanya dan begitu melihat seorang laki- laki duduk di dekatnya, ia mengeluarkan seruan tertahan dan cepat meloncat bangun dengan sikap menyerang. Akan tetapi karena luka-lukanya, ia pun terpelanting dan tentu akan roboh terbanting kalau saja Liu Bhok Ki tidak menangkap lengannya.
"Nona, tenanglah. Aku bukan musuhmu. Mereka itu sudah melarikan diri." Gadis itu mengamati wajah Liu Bhok Ki dan teringatlah dia bahwa kakek itu yang tadi muncul menyelamatkan sambaran golok. Akan tetapi ia pun teringat bahwa setelah itu, kakek itu merontoknya sehingga ia roboh dan tidak ingat apa-apa lagi.
"Tapi tapi kenapa engkau menotokku dan membuat
aku pingsan?" tanyanya penuh keraguan dan dengan sikap masih siap untuk menyerang walaupun seluruh tubuhnya terasa nyeri, dan terutama sekali luka di paha kirinya mendatangkan rasa panas bukan main.
"Aku terpaksa, Nona. Kalau tidak kubikin pingsan, tentu engkau akan tetap mengamuk dan hal itu berbahaya sekali karena engkau sudah terluka parah. Tentu engkau tidak mau pula kupondong. Setelah membuat engkau pingsan dan memondongmu, aku berhasil memaksa mereka melarikan diri."
Sepasang mata yang tajam itu mengamati Liu Bhok Ki penuh perhatian, kemudian ketegangannya melunak dan ia pun terkulai dan jatuh terduduk, lalu terdengar suaranya lemah, "Harap Lo-cian-pwe sudi memaafkan aku. Karena tidak mengenal maka aku tadi mengira Lo-cian-pwe seorang di antara mereka dan aduhhh " la mengeluh dan
kedatangannya memijat-mijat paha kiri.
"Cukup, jangan banyak cakap dulu Nona. Engkau terluka parah dan agaknya yang paling parah adalah luka di pahamu. Biarkan aku memeriksanya. Aku mengerti sedikit ilmu pengobatan."
Agaknya gadis itu sudah percaya penuh kepada Liu Bhok Ki. Ia hanya mengangguk dan membiarkan kakek itu memeriksa luka di paha kirinya. Ketika melihat betapa celana di bagian paha dirobek dan penuh darah, Liu Bhok berkata, "Maaf, untuk dapat memeriksa dengan baik, celana ini terpaksa dirobek sedikit di bagian yang terluka. Engkau tidak keberatan, Nona?" Gadis itu menggeleng kepala. Dengan hati-hati Liu Bhok Ki merobek sedikit celana itu di bagian paha yang terluka sehingga luka itu pun nampak jelas. Liu Bhok Ki adalah seorang laki-laki jantan yang usianya sudah enam puluh tahun lebih. Walaupun sudah bertahun-tahun dia tidak pernah dekat dengan wanita, namun dia telah mampu menundukkan gejolak nafsunya sehingga melihat kulit paha yang putih mulus itu dia sama sekali tidak tergerak. Yang menjadi pusat perhatiannya hanyalah luka itu. Luka tusukan yang tidak berapa lebar, dan dalamnya juga tidak sampai mengenai tulang. Akan tetapi melihat keadaan luka yang membengkak dan kehitaman itu, dia mengerutkan alisnya.
"Nona, engkau terluka oleh senjata beracun!"
Gadis itu mengangguk. "Yang melukai aku di paha adalah sebatang pisau yang dipergunakan secara curang oleh seorang di antara kedua pemimpin gerombolan itu. Mungkin pisau itu yang beracun. Aughhh nyeri, panas rasanya
.............!" Gadis itu mengeluh.