Hong San menanti sampai pedang itu menyambar dekat, baru dia menekuk kedua lututnya sehingga tubuhnya merendah dan pedang itu menyambar lewat di atas kepalanya. Dan sambil mengelak itu, dia masih terus meniup suling, nya, melanjutkan nyanyian lagu rakyat itu. Siangkoan Tek menghujankan serangan bertubi-tubi, menusuk membacok membabat dari segala jurusan, susul me nyusul, namun semua itu dapat dielakkan oleh Hong San tanpa banyak kesulitan dan dia masih terus melanjutkan permainan sulingnya. Baru setelah lagu itu selesai dimainkan dengan sulingnya, dii menggerakkan sulingnya untuk menangkis pedang dari samping, lalu membalas dengan totokakan- totokan ke arah jalan darah. Serangannya cepat dan tidak terduga sehingga dalam beberapa gebrakan saja, Siangkoan Tek mulai terdesak! "Tranggggg .... cringgggg !" Bunga api berpijar-pijar
ketika pedang berkali-kali hertemu dengan suling dan akibatnya, tubuh Siangkoan Tek terhuyung dan pedangnya hampir terlepas dari tangani Baru dia terkejut bukan main. Juga semua orang yang hadir di situ terkejut, Singkoan Bok bukan hanya terkejut, melainkan juga amat khawatir karena dia dapat menduga bahwa pemuda yang menggunakan suling sebagai senjata itu benar-benar lihai bukan main dan puteranya itu terancam bahaya. Oleh karena itu, tanpa malu- malu lagi, dia pun meloncat dari tempat duduknya. Pada saat itu suling di tangan Hong San mengirim totokan ke arah pundak Siangkoan Tek dan hampir mengenai sasaran.
"Tranggggg !!" Suling itu tertahan oleh sebatang
pedang yang digerakkan di tangan Siangkoan Bok. Melihat munculnya seorang kakek bertubuh pendek tegap dengan muka hitam, Hong San meloncat ke belakang.
"Maaf, apakah Paman juga seorang tokoh Thian-te-pang?" tanyanya.
"Henimm, aku hanya seorang tamu, ergkau sudah mengenal namaku tadi. Aku Majikan Pulau Hiu."
"Ah, kiranya orang tua gagah pemilik Pulau Hiu!" kata Hong San dan dia memandang heran. Kakek ini memiliki wajah begini buruk, akan tetapi puteranya demikian tampannya.
"Ayah, kita hajar saja manusia sombong ini, untuk apa bicara lebih banya teriak Siangkoan Tek yang berbesar hati lagi melihat majunya ayahnya.
"Aku sudah banyak mendengar tentang majikan Pulau Hiu, dan kalau aku memimpin Thian-te-kauw, tentu aku ingin menarik Paman sebagai seorang sahabat kata pula Hong San. "Sombong! Siapa percaya bahwa engkau pemimpin Thian- te-kauw? Lihat pedangku!" Siangkoan Tek yang sudah marah sekali karena merasa penasaran dan malu bahwa dia sama sekali tidak mampu mengalahkan lawannya, kini menyerang, diikuti ayahnya yang juga sudah menggerakkan pedangnya.
"Hemmm, kalian ini Ayah dan ana agaknya harus mengenal dulu siapa aku sebetulnya!" kata Hong San sambil memutar sulingnya menyambut serangan dua orang lawannya itu. Biarpun dikeroyok dua, Hong San masih saja mengenakan caping merahnya yang lebar, dan kini sulingnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang mengeluarkan suara melengking-lengking seolah-olah suling itu yang ditiupnya. Dan ayah bersama puteranya dari Pulau Hiu itu segera terdesak dan dua sinar pedang mereka terimpit oleh sinar suling yang menjadi semakin kuat.
Sejak tadi Ouw Kok Sian menonton dengan hati panas. Muridnya, Ji Ban To tadi terlempar ke bawah panggung. Biarpun tidak menderita luka parah, namun peristiwa itu tentu saja merupakan suatu tamparan yang memalukan bagi dia sebagai gurunya. Melihat betapa Siangkoan Bok sudah maju menghadapi pemuda pengacau itu, dia merasa tidak enak kalau harus berdiam diri. Pertama, dia harus memperlihatkan setia kawan dan membantu Thian-te-pang, dan ke dua, dia harus membalaskan penghinaan atas diri muridnya tadi. Sekali meloncat, Ouw Kok Sian sudah terjun ke medan perkelahian sambil menggerakkan sepasang goloknya. Dia seorang yang mengandalkan keahlian bersilat sepasang golok.
Hong San cepat menangkis ketika ada sinar golok menyambar. Terdengar suara nyaring dan nampak bunga api berpijar dan Ouw Kok Sian terkejut sekali karena tangkisan suling itu hampir saja membuat golok kanannya terlepas dari tangannya. "Heiii, tahan dulu! Siapakah Paman yang ikut menentangku? Apakah seorang tokoh Thian-te-pang?" tanya Hong San.
"Aku Ouw Kok Sian dari Pegunungan Liong san, seorang tamu yang tidak saja melihat orang mengacau dalam pesta tuan rumah!" jawab Ouw Kok Sian sambil menyerang lagi. Siangkoan Bok Siangkoan Tek juga sudah menerjang maju dengan marahnya.
"Ha-ha-ha, sekarang mulai ramai-Hong San tertawa. "Akan tetapi, aku pingin menarik Raja Pegunungan Liong, san sebagai sahabat, bukan menjadi musuh. Baik, aku melayani kalian bertiga main-main sebentar!" Setelah berkata demikian, Hong San kembali bergerak cepat dan tubuhnya lenyap menjadi bayangan yang dibungkus gulungan sinar sulingnya. Tiga orang lawannya terkejut dan bingung, namun mereka menyerang membabi-buta ke arah bayangan itu. HongSan tidak mau main-main lagi. tiga orang pengeroyoknya ini sama sekali tidak boleh disamakan dengan tiga orang pemuda yang pertama kali mengeroyoknya. Apalagi sekarang mereka itu memegang senjata dan dia tidak ingin melukai mereka. Terpaksa dia harus mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk berkelebatan, menghindarkan diri dari Sambaran senjata mereka dan membalas dengan totokan-totokan yang dapat merobohkan akan tetapi tidak sampai mematikan atau melukai dengan parah.
Wajah Lui Seng Cu berubah agak pucat. Dia tahu bahwa tingkat kepandaian Siangkoan Bok atau Ouw Kok Sian tidak banyak selisihnya dengan tingkatnya sendiri. Pemuda pengacau itu ternyata tidak membual saja. Dia sungguh lihai bukan main. Jelaslah baginya bahwa kalau dia seorang diri saja menghadapi pemuda itu, dia tentu akan kalah! Juga Ban- tok Mo-li mengerutkan alisnya. Pemuda itu sungguh lihai sekali. Ia sendiri tentu akan kewalahan kalau menghadapi pengeroyokan tiga orang itu. Akan tetapi pemuda itu enak- enak saja, nampaknya bukan hanya dapat mendesak tiga orang pengeroyoknya, juga seperti mempermainkan mereka.
Lui Seng Cu memberi isyarat kepa Ban-tok Mo-li untuk maju mengeroyok lawan yang berbahaya itu. Ban-tok Mo-li mengerutkan alisnya. Bagi iblis betina ini sungguh memalukan kalau sebagai seorang pangcu ia harus mengeroyok seorang pemuda! Apalagi, nama Ban-tok Mo-li sudah terkenal di seluruh dunia kang-ouw. la pun percaya akan kepandaiannya sendiri yang masih lebih tinggi dibandingkan Lui Seng Cu. Akan tetap karena yang mengajaknya adalah rekannya, ia merasa tidak enak untuk menolak dan mereka berdua sudah bangkit berdiri lalu berloncatan ke tengah panggung.
Melihat betapa dua orang ketua itu sudah maju, diam-diam Hong San merasa ragu juga. Dia tidak takut kepada mereka, akan tetapi bagaimana kalau mereka nanti mengerahkan seluruh anak buah Thian-te-pang untuk mengeroyoknya? Kalau sudah demikian, dengan sendirinya dia dianggap sebagai musuh Thian-te-Pang dan hal ini sama sekali tidak dikehendakiriya. Dia ingin agar mereka menerimanya dengan baik, dan untuk itu dia harus dapat meyakinkan mereka.
"Hok-houw Toa-to dan Ban-tok Mo-li! Kalian berani menentangku? Lihat baik-baik, siapa aku ini!" tiba-tiba tubuh pemuda itu lenyap menjadi sesosok bayangan yang meloncat kebelakang meja sembahyang dan menghilang dibalik patung Thian-te Kwi-ong! Ketika lima orang pengeroyok itu hendak menjenguk ke balik meja, tiba-tiba terdengar ledakan dan nampak asap tebal menutupi patung dan meja sembahyang. Semua orang terkejut bukan main dan mereka terbelalak memandang ke arah asap tebal. Ketika perlahan-lahan asap itu membuyar, nampaklah betapa patung sebesar orang itu sudah berdiri di atas meja sembahyang! Atau lebih tepat, patung itu masih berada di tempatnya yang tadi akan tetapi ada kembarannya yang kini mendadak hidup dan berdiri di atas meja! Wajah Lui Seng Cu menjadi semakin pucat. Hanya gurunyalah yang mampu mengubah diri menjadi Thian-te Kwi- ong! Maka, tanpa ragu lagi dia lalu menjatuhkan diri berlutut di atas panggung menghadap ke arah "patung hidup" di atas meja sembahyang itu, sambil menangguk-anggukkan kepala ke atas lantai panggung. "Hamba Lui Seng Cu mengaku bersalah, mohon ampun !"