Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 115

Memuat...

"Bagaimana dengan engkau? Apakai engkau juga anggauta Thian-te-kauw? Hong San bertanya kepada Ji Ban To.

Ji Ban To menggeleng kepala. "Aku adalah seorang tamu, murid dari Suh Ouw Kok Sian yang menjadi tamu kehormatan. Sebagai seorang tamu yang baik, aku tidak dapat tinggal diam saja melihat tuan rumah dihina orang, namaku Ji Ban To!" Ketika mengeluarkan kata-kata ini, pemuda kurus kering itu membusungkan dadanya yang kerempeng sambil mengerling ke arah tempat duduk para gadis anggauta Thian-te-kauw yang manis-manis itu.

Hong San tertawa mengejek. "Ha-ha-ha, kalian ini seperti cucu-cucu muridku yang hendak melawan kakek guru. Nah, majulah, hendak kulihat sampai di mana kemajuan kepandaian cucu-cucuku!"

Mendengar ucapan itu, tiga orang pemuda itu menjadi marah bukan main. Mereka dianggap cucu-cucu murid! Tidak ada penghinaan yang lebih hebat daripada itu, karena dipandang rendah sekali.

"Can Hong San manusia sombong, sambutlah serangan kami!" bentak Siok Boan yang mendahului sutenya, menyerang dengan dahsyat sekali, menghantamkan kepalan tangan kanan ke arah kepala Hong San. Sutenya, Poa Kian So, juga mengeluarkan bentakan dan menyerang pula dari samping kiri dengan ccngkeraman tangan kiri ke arah dada Hong San.

Menghadapi serangan dua orang ini Hong San mengelak dua kali dan pada saat itu, Ji Ban To memekik dan kaki kanannya menendang. Kaki itu kurus hanya tulang dibungkus kulit, akan tetapi karena terlatih dan tendangan itu memang dahsyat, maka tidak boleh dipandang ringan. Hong San juga mengelak dengan miringkan tubuhnya. Dia membiarkan tiga orang pengeroyoknya mengepung dan melancarkan serangan bertubi kepadanya. Semua serangan itu dengan mudah dapat dia gagalkan dengan elakan atau tangkisan. Dia belum mempergunakan kepandaiannya, belum mengerahkan tenaga sin-kangnya sehingga kelihatannya perkelahian itu berjalan seru, bahkan nampaknya Hong San di desak terus oleh tiga orang pengeroyoknya sehingga tidak sempat membalasnya. Akan tetapi sesungguhnya tidak demikian. Tiga orang itu memiliki tingkat kepandaian yang jauh dibawah tingkat kepandaian Hong San. Kalau tadi dia mengejek bahwa mereka itu seperti cucu-cucu muridnya, ejekan ini bukan hanya kosong belaka. Tingkat kepandaian Hong San memang sudah tinggi, sebanding dengan tingkat kepandaian mendiang Cui-beng Sai-kong, maka tingkat kepandaian tiga orang pemuda itu memang pantas menjadi cucu muridnya. Kalau Hong San tidak cepat merobohkan tiga orang lawannya, hal itu bukan karena dia beriktikad baik atau menaruh hati kasihan kepada mereka, sama sekali tidak. Hanya dia ingin mendatangkan kesan yang mendalam bahwa dia benar seorang pemimpin yang bukan saja mampu menundukkan anggautanya, juga mampu bersikap murah, seperti seorang guru besar terhadap muridnya.

Karena dia tidak menonjolkan diri, maka dalam penglihatan para murid Thian-te-kauw yang tingkat kepandaiannya belum begitu tinggi, nampaknya Hong San terdesak terus oleh tiga orang itu tanpa mampu membalas serangan sehingga mulailah para anggauta itu bersorak memberi semangat kepada dua orang kakak seperguruan mereka dan seorang tamu yang membela tuan rumah. Bahkan Siangkoan Tek, yang tingkat kepandaiannya sudah jauh melampaui tingkat dua orang murid Thian-te-kauw itu, tertipu pula. Dia menganggap bahwa kepandaian pemuda yang datang mengacau itu tidak berapa tinggi! Akan tetapi mereka yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya, seperti Ban-tok Mo-li, Lui Seng Cu, Siangkoan Bok, Ouw Kok Sian dan masih ada beberapa orang lagi di pihak tamu undangan, diam-diam terkejut. Mereka ini melihat betapa Hong San seolah-olah mempermainkan tiga orang pengeroyoknya, hanya mengelak atau menangkis dan sengaja tidak mau membalas! Dan yang membuat mereka terkejut adalah kecepatan gerakan pemuda itu. Beberapa serangan para pengeroyok itu nampaknya pasti akan mengenai tubuhnya akan tetapi pada detik terakhir, dia menggerakkan tubuhnya dan serangan itu luput!

Tiga orang pengeroyok itu pun terkejut dan merasa penasaran sekali. Sudah jelas bahwa orang yang mereka keroyok itu tidak mampu membalas, nampak repot sekali mengelak dan menangkis, akan tetapi anehnya, tidak sebuah pun pukulan yang mengenai sasaran, bahkan menyentuh pun tidak mampu! Mereka menjadi semakin penasaran dan menyerang semakin ganas dan cepat, seolah mereka bertiga itu berlumba untuk lebih dahulu merobohkan lawan yang mereka keroyok.

Akan tetapi, Hong San yang sudah merasa cukup menahan serangan mereka, tiba-tiba menggerakkan tubuhnya dengan cepat sekali. Dari kedua tangannya menyambar hawa pukulan yang amat kuat. Ketika dia mengembangkan kedua lengannya dengan gerakan mendorong sambil mengeluarkan seruan keras, tubuh tiga orang pengeroyok itu terlempar dan terus terpelanting sampai ke bawah panggung!

"Bocah sombong, terpaksa aku turun tangan menghajarmu!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan semua orang melihat bahwa Siangkoan Tek, seorang di antara tamu kehormatan, telah meloncat di depan Hong San deng pedang telanjang di tangannya. Ayahnya Siangkoan Bok terkejut melihat ini akan tetapi dia tidak sempat mencegahnya, dan karena puteranya sudah maju, tentu akan memalukan sekali dan menjatuhkan nama besarnya kalau dia menyuruh anaknya mundur kembali. Maka, dia pun hanya menonton dengan penuh perhatian siap setiap saat untuk melindungi puteranya.

Melihat seorang pemuda tinggi kurus dan tampan pesolek berdiri di depannya dengan pedang di tangan, Hong San bertanya, "Apakah engkau juga seorang cucu muridku?"

Siangkoan Tek memandang dengan mata melotot. "Aku Siangkoan Tek bukan anggauta atau murid Thian-te pang, akan tetapi sebagai seorang tamu yang dihormati, aku tidak bisa membiarkan saja engkau membikin kacau di sini. Kalau engkau memang sudah bosan hidup keluarkan senjatamu dan lawanlah pedangku!" Berkata demikian, Siangkoan Tek mengelebatkan pedangnya dan terdengar suara mendesing disertai kilatan sinar pedang. Pemuda ini tidak boleh disamakan dengan tiga orang pemuda yang baru saja kalah tadi. Dia sudah menguasai semua ilmu ayahnya dengan baik sehingga tingkat kepandaiannya hanya sedikit di bawah tingkat ayahnya. Ini pula yang membuat ayahnya membiarkan dia menghadapi pemuda yang dianggap pengacau itu, karena bagaimanapun juga, Siangkoan Bok percaya akan kemampuan puteranya.

Hong San teringat akan keterangan yang pernah dia dengar dari ayahnya. "Aku pernah mendengar nama besar Majikan Pulau Hiu yang bernama Siangkoan liok, tidak tahu apakah engkau ada hubungan dengan dia, Sobat?"

Siangkoan Tek membusungkan dadanya. "Beliau adalah Ayahku!"

"Aha! Pantas engkau begini gagah. Aku akan merasa senang sekali kalau kelak Thian-te-pang mendapat bantuan seorang muda seperti engkau!"

"Tidak perlu banyak cakap, keluarkan senjatamu dan lawanlah aku!" Siang-koan Tek kembali membentak. Kalau bukan di tempat ramai dan disaksikan banyak orang, tentu dia sudah menyerang lawan yang tidak bersenjata itu agar cepat dia dapat merobohkannya.

Hong San tidak gentar menghadapi pedang di tangan Siangkoan Tek, akan tetapi dia pun maklum bahwa perbuatannya yang nekat ini tentu akan mendapat tentangan dari semua orang, maka di harus memperlihatkan ilmu kepandaiannya untuk menundukkan mereka semua. Dengan sikap tenang dia pun mencabut sebatang suling dari ikat pinggangnya.

"Aku sudah siap berpi-bu (mengadu ilmu silat) dengan siapa saja yang tidak mau mengakui bahwa akulah yang paling berhak memimpin Thian-te-kauw sebagai penerus mendiang Ayahku, Cui-beng Sai-kong Can Siok! Dan untuk menghadapi senjatamu, aku cukup mempergunakan suling ini!" Setelah berkata demikian, Hong San menempelkan suling itu di bibirnya dan dia pun meniup dan memainkan sebuah lagu rakyat melalui suara sulingnya yang merdu.

Semua orang merasa heran dan juga terkejut. Benarkah pemuda itu demikian lihainya sehingga berani menghadapi Hnngkoan Tek yang lihai dengan pedangnya itu, hanya dengan sebatang suling? Apalagi, dia kini meniup sulingnya itu, seperti memandang rendah lawan dan mempermainkannya.

Siangkoan Tek adalah seorang yang sudah biasa bertindak sewenang-wenang dan curang. Dia sudah menantang, dan lawan sudah mengeluarkan suling yang diakuinya sebagai senjata, maka dia pun tidak membuang waktu lagi. Melihat lawan meniup suling dengan asyik dan seolah-olah tidak menghiraukan dirinya itu, dia merasa dipandang rendah, akan tetapi juga melihat kesempatan baik. Maka, dia segera menggerakkan pedangnya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang. Pedangnya mendatangkan sinar menyilaukan mata ketika menyambar dan membacok ke arah leher Hong San!

Post a Comment