Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 114

Memuat...

"Hemmm, masih hendak menyangkal? Engkau mengangkat dirimu sendiri menjadi kauw-cu, engkau bahkan mendirikan Thian-te-pang dan mengangkat seorang wanita menjadi pang- cu, bukankah itu mengkhianati pendiri Thian-te-kauw?"

Lui Seng Cu menjadi semakin ketakutan. "Harap Suhu ampunkan teecu, karena teecu tidak tahu ke mana harus mencari Suhu, maka teecu bertindak sendiri tanpa sepengetahuan Suhu. Teecu tidak bermaksud hendak mengkhianati ”'

"Aku bukan Suhumu!" kata suara iti dan tiba-tiba dari belakang patung nampak bayangan orang berkelebat dan tahu. tahu di atas meja sembahyang telah berdiri seorang pemuda tampan! Terkejut dan marahlah Lui Seng Cu yang merasa dipermainkan, apalagi melihat pemuda itu berani berdiri di atas meja yang dikeramatkan!

"Siapa engkau?" bentaknya marah.

Hong San tersenyum mengejek. Dia tadi menggunakan peledak mendatangkan asap tebal untuk mencari kesempatan menyelinap tanpa diketahui orang dan bersembunyi di balik patung. Kini dia berdiri tegak dan memandang kepada Lui Seng Cu, matanya mencorong tajam dan terdengar suaranya lantang, terdengar oleh semua anggauta dan tamu yang hadir di tempat itu.

"Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu dan seluruh penganut Thian-te-kauw, dengarlah baik-baik. Pendiri Thian-te-kauw, yaitu yang mulia Cui-beng Sai-kong Can Siok telah meninggalkan dunia ini dan telah bersatu dengan junjungan kita Thian-te Kwi-ong! Dan sebagai pengganti atau penerusnya, ada seorang puteranya, yaitu aku sendiri. Namaku Can Hong San dan mendiang ayah Can Siok telah mewariskan kepemimpinan Thian-te-kauw kepadaku. Akulah yang berhak memimpin Thian-te-kauw dan menunjuk para pimpinan yang membantuku. Li, Seng Cu telah bertindak lancang tanpa perkenanku yang melanjutkan kepemimpinan Ayahku!"

ooOOoo

Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu pernah mendengar dari Cui- beng Sai-kong bahwa gurunya itu memang mempunya seorang putera, akan tetapi dia tidak pernah bertemu dengan putera suhunya itu. Suhunya berasal dari tempat yang amat jauh, yaitu di Pegunungan Himalaya dan ketika dia bertemu dengannya orang sakti itu sedang dalam perantauan. Dia tidak pernah mendapat kesempatan berkunjung ke tempat asal gurunya itu. Kini, mendengar bahwa pemuda tampan itu mengaku putera Cui-ben Sai-kong, apalagi katanya berhak untuk meneruskan kepimpinan Cui-beng Sai kong yang dikatakan telah bersatu dengan Thian-te Kwi-ong atau telah meninggal dunia, tentu saja dia tidak mau menerima semudah itu. Apalagi dia telah dipermainkan dan direndahkan di depan semua anggauta dan para tamu, oleh seorang pemuda asing!

Pemuda ini berani memaki dia sebagai seorang pengkhianat. Padahal, dialah kauw-cu dari Thian-te-kauw, orang nomor satu dari perkumpulan agama itu. Kalau yang muncul ini gurunya, Cui-beng Sai-kong, tentu dia mau tunduk karena gurunya itu selain sakti, juga terbukti bahwa gurunya dapat mengubah dirinya menjadi dewa atau raja iblis presis seperti patung itu. Maka, marahlah hatinya dan matanya terbelalak memandang kepada pemuda yang berdiri secara kurang ajar di atas meja sembahyang itu.

"Orang muda sombong dan lancang!" bentaknya dengan suara mengguntur, "tidak kusangkal bahwa pendiri Thian-te- kauw adalah Suhuku Cui-beng Sai-kong, akan tetapi beliau yang memberi tugas kepadaku untuk menyebar-luaskan dan mengembangkan Thian-te-kauw. Karena beliau tidak ada, hanya akulah yang berhak menjadi kauw-cu! Engkau ini orang muda sombong berani mengaku sebagai putera Suhu! Sungguh kurang ajar!" Dia lalu memberi aba-aba kepada para murid utama, "Kepung dan tangkap jahanam yang telah menghina agama kita ini!"

Dua puluh lebih murid tingkat atas perkumpulan itu sudah maju dan bergerak mengepung. Akan tetapi dengan gerakan yang indah dan cepat seperti burung terbang saja, tubuh Hong San sudah melayang turun dari atas meja sembahyang dan berdiri di tengah ruangan, menghadapi tuan rumah dan para tamu agung yang duduk di atas panggung kehormatan.

"Lui Seng Cu, beginikah sikap se¬orang kauw-cu? Hanya garang kalau menyuruh anak buah mengeroyok? Aku bukan musuh Thian-te-pang, bahkan aku pemimpin besarnya, menggantikan kedudukan Ayahku, maka aku tidak melawan anak buah Thian-te-pang, kecuali kalau mereka itu memang patut dijatuhi hukuman. Biarlah para Saudara yang gagah dan hadir di sini menjadi saksi. Aku Can Hong San adalah putera pendiri Thian-te-kauw, maka tentu aku akan mampu mengalahkan engkau yang hanya dua tahun saja dilatih silat oleh mendiang Ayahku. Kalau aku kalah olehmu, engkau berhak menjadi pemimpin Thian-te-kauw dan aku akan mundur. Akan tetapi kalau engkau kalah olehku, itu membuktikan bahwa keteranganku tadi semua benar."

"Suhu, biar teecu (murid) yang menghajar bocah sombong ini!" terdengar teriakan dan dua orang pemuda berloncatan dari kursi mereka menghadapi Hong San. Mereka itu adalah dua orang murid utama Lui Seng Cu, yaitu Siok Boan yang berusia dua puluh delapan tahun, berperut gendut dan bertubuh gagah namun mukanya kekanak-kanakan, dan sutenya bernama Poa Kian So yang bertubuh pendek dan hidungnya pesek sekali. Mereka adalah dua orang murid andalan Lui Seng Cu. Melihat guru mereka yang kini berkedudukan tinggi sebagai kauw-cu itu dihina oleh seorang pemuda asing, mereka sudah marah sekali dan tanpa diperintah mereka maju mewakili guru mereka untuk menghajar pemuda sombong itu.

"Aku akan bantu kalian menghajar bocah kurang ajar itu!" terdengar bentakan lain dan seorang pemuda yang bertubuh kurus kering dan bermuka pucat meloncat maju pula. Pemuda kurus kering berusia dua puluh tujuh tahun ini adalah Ji Ban To, murid dari datuk sesat Ouw Kok Sian yang juga hadir ditempat itu bersama murid utamanya inii Sebetulnya antara Ouw Kok Sian dan Luj Seng Cu hanya ada hubungan kenalan yang saling menyegani saja dan tidak sepatutnya kalau Ji Ban To yang datang mengikuti gurunya sebagai tamu kini langsung turun tangan membantu tua rumah menghadapi seorang lawan. Kalau hal ini dilakukan oleh Ji Ban To adalah karena pemuda ini melihat betapa di situ hadir pula banyak murid wanita Thian te-ka w, dan hampir semua murid atas anggauta wanita ini masih muda dan cantik, juga rata-rata bersikap genit. Inilah yang mendorongnya untuk terjun ke dalam pertentangan itu, untuk menjual lagak dan memamerkan kepandaian di depan para anggauta Thian-te-kau terutama para anggauta wanitanya. Melihat muridnya maju tanpa perintahnya Ouw Kok Sian hanya mengerutkan alis akan tetapi tidak melarang karena dia pun ingin melihat muridnya berjasa. Dia melihat betapa Thian-te-kauw makin banyak pengikutnya dan Thian-te-pang menjadi perkumpulan yang kuat dan kaya raya, maka amat baik untuk mendekati perkumpulan ini.

Melihat majunya tiga orang pemuda ini, seorang pemuda lain yang juga duduk sebagai tamu terhormat di atas panggung, hanya tersenyum, senyum mengejek. Dia adalah seorang pemuda tinggi kurus yang berwajah tampan dan berpakaian mewah. Seorang pesolek yang berusia kurang lebih dua puluh tujuh tahun. Pemuda ini bernama Siangkoan Tek, yang datang bersama ayahnya pula, yaitu Siangkoan Bok, majikan Pulau Hiu yang terkenal sebagai datuk para bajak laut di sepanjang pantai Shantung. Siangkoan Tek seorang pemuda pesolek yang mata keranjang. Dia pun, seperti Ji Ban to ingin memamerkan kepandaian dan membuat jasa di Thian-te-pang untuk menarik perhatian para anggauta perempuan perkumpulan itu. Akan tetapi Siangkoan Tek memiliki watak yang angkuh. Dia merasa bahwa ilmunya jauh lebih tinggi daripada tiga orang pemuda itu yang sudah menjadi kenalannya sejak lama. Dia tidak mau merendahkan diri dengan melakukan pengeroyokan.

Sementara itu, melihat tiga orang pemuda itu menghadapinya dengan sikap menantang, Hong San tersenyum mengejek. Dia bertanya kepada dua orang pemuda yang maju lebih dulu.

"Apakah kalian berdua murid Lui Sei Cu dan kalian juga anggauta Thian-te kauw?"

"Benar sekali!" jawab Siok Boan tegas. "Karena itu, kami mewakili Su dan Thian-te-kauw untuk menghajarmu!"

Post a Comment