Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 109

Memuat...

Setelah menceritakan semua yang mereka ketahui tentang gerombolan pemberontak, Han Beng dan Giok Cu pergi meninggalkan rumah obat itu dengan diam-diam. Mereka menyelinap ke dalam kegelapan malam dan malam itu juga mereka keluar kota.

"Menurut keterangan guruku, Kui-bwe-houw Gan Lok yang kini mengubah julukan menjadi Kim-bwe-eng itu memang seorang tokoh kang-ouw yang tidak segan melakukan apa saja demi memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri. Akan tetapi yang mengherankan adalah Kim-kauw-pang Pouw In Tiong. Menurut Suhu, dia seorang jagoan dari Lu-liang-san, seorang yang biarpun wataknya sombong namun suka berlagak sebagai pendekar yang menentang kejahatan. Heran bagaimana dia pun terlibat ke dalam gerakan pemberontakan itu," kata Han Beng ketika mereka sudah meninggalkan kota Siong-an.

"Hemmm, apa anehnya? Harta dan kedudukan dapat membuat orang lupa diri? Menurut wejangan guruku, yaitu Hek-bin Hwesio, pikiran yang bergelimang nafsu amatlah cerdiknya, bagaikan bisikan iblis yang amat licin penuh muslihat sehingga segala perbuatan yang dilakukan, selalu nampak benar dan baik saja, walaupun pada dasarnya mengandung pamrih untuk kesenangan pribadi,” kata Giok Cu.

Diam-diam Han Beng merasa girang dan kagum. Biarpun pernah menjadi murid seorang wanita iblis seperti Ban-tok Mo- li yang tersohor kejam sekali, ternyata Giok Cu beruntung mendapat gemblengan lahir batin dari seorang sakti dan bijaksana seperti Hek-bin Hwesio.

"Memang benar sekail wejangan Suhumu itu, Giok Cu. Kurasa Kim-kauw-pang Pouw In Tiong juga ditipu oleh pikirannya sendiri. Tentu dia menganggap bahwa dengan menjadi wakil ketua Pouw-beng-pang, dia telah melakukan tugas sebagai seorang pendekar, yaitu membela rakyat yang tertindas. Nama perkumpulannya saja Pouw-beng-pang (Perkumpulan Pembela Rakyat). Tentu saja di lubuk hatinya, dia tahu bahwa yang terutama mendorongnya adalah pemberontakan yang didasari keinginan untuk memperoleh kedudukan tinggi. Namun, nafsu telah menghapus kesadaran itu, dan dia melihat bahwa semua yang dilakukan itu benar dan baik. Oleh karena itulah, guruku Pek I Tojin selalu mengatakan bahwa kita harus berhati-hati terhadap musuh tak nampak yang berada di dalam diri kita sendiri, yaitu nafsu yang menguasai hati dan pikiran."

Giok Cu mengangguk-angguk, kemudian ia berhenti melangkah. Han Beng juga berhenti. Dia melihat betapa gadis itu melihat ke atas dan dia pun menengadah. Betapa indahnya malam itu. Tiada awan secuwil pun, langit bersih, agak kehitaman dan ditaburi laksaan bintang yang berkilauan dengan indahnya, ada yang bersinar terang, ada yang berkedip-kedip, laksaan jutaan, tak terhitung banyaknya! Sejenak menyelinap kesadarannya betapa ajaibnya semua itu, betapa agungnya, betapa indah dan betapa besarnya alam, dan betapa maha kuasa Sang Pencipta! Kedua orang muda itu bagaikan terpesona dan akhirnya Giok Cu menarik napas panjang. "Ada apakah, Giok Cu?" tanya Han Beng ketika mendengar helaan napas itu.

Giok Cu menundukkan muka dan mereka saling pandang. "Tidak apa-apa, aku hanya mengagumi keindahan alam."

"Memang indah," kata Han Beng.

"Hidup tidaklah seindah ini " kembali gadis itu

menarik napas panjang, teringat akan semua pengalaman hidupnya semenjak ditinggal mati ayah dan ibunya.

"Memang tidak seindah ini," kata pula Han Beng.

"Masih jauhkah tempat tinggal Sin-tiauw Liu Bhok Ki dari sini, Han Beng."

Sejenak Han Beng tidak menjawab, seperti terkejut diingatkan akan urusan gadis itu dengan gurunya. Kalau tadi, alam nampak indah dan hidup terasa demikian bahagia, kini dia seperti ditarik lari ke dalam kehidupan yang penuh persoalan, penuh pertentangan! Dia menarik napas panjang, teringat betapa masih banyak hal yang harus dia hadapi, hal- hal yang tidak mengenakkan hati.

"Tidak begitu jauh. Kita menuju ke Sungai Huang-ho, lalu mencari perahu dan melanjutkan perjalanan dengan perahu. Lebih cepat dan tidak melelahkan. Setelah tiba di kaki Bukit Kim-hong-san di lembah sungai, kita mendarat dan mendaki bukit. Dalam waktu paling lama lima hari kita akan tiba di tempat pertapaan Suhu Liu Bhok Ki."

Karena kota Siong-an letaknya di dekat sungai itu, maka menjelang tengah malam mereka sudah tiba di tepi sungai. Mereka berhasil menyewa sebuah perahu kecil dan tukang perahu, seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan, suka mengantar mereka sampai ke kaki Bukit Kim-hong-san dengan bayaran yang pantas.

Perahu kecil saja, biliknya di tengah-tengah yang terlindung atap sederhana itu hanya dapat memuat seorang saja.

Han Beng mempersilakan Giok Cu mengaso dalam bilik sempit itu, sedangkan dia sendiri duduk di kepala perahu bersama tukang perahu, bahkan membantunya mendayung perahu yang mengikuti aliran air yang tidak begitu deras. Giok Cu tidak rikuh lagi, lalu mengaso dan merebahkan diri telentang di dalam bilik perahu. Tak lama kemudian ia pun sudah tidur nyenyak karena memang tubuhnya terasa lelah sekali.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Giok Cu sudah terbangun dari tidurnya dan ia pun keluar dari dalam bilik itu. Melihat Han Beng masih duduk di kepala perahu bersama tukang perahu, ia lalu menghampiri.

Post a Comment