"Diobati dengan racun! Ayah Ibuku telah diobati dengan racun oleh gurumu yang jahat itu, maka aku telah bersumpah bahwa aku akan membunuh Sin-tiauw Liu Bhok Ki!"
"Hemmm, hal itu tidak mungkin sama sekali, Giok Cu. Suhu Sin-tiauw Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, bagaimana mungkin dia membunuh orang dengan obat beracun? Pula, kalau memang dia hendak membunuh Ayah Ibumu, mengapa pula harus memakai racun? Tentu dia dapat melakukannya dengan mudah."
"Akan tetapi, Ayah Ibuku tewas karena racun setelah mereka diobati Sin-tiauw Liu Bhok Ki, maka tidak salah lagi. Dialah yang membunuh Ayah Ibuku, dan kini aku ingin membalaskan kematian mereka. Siapapun tidak boleh menghalangi, engkau pun tidak!"
"Nanti dulu, Giok Cu, aku tidak akan menghalangimu bahkan mungkin aku juga akan menuntut guruku kalau memang dia demikian jahatnya. Akan tetapi aku tidak melihat sebab mengapa guruku membunuh orang tuamu. Apakah engkau melihat sendiri ketika guruku memberi obat beracun kepada orang tuamu?"
"Aku melihat sendiri Ayah Ibuku mati karena keracunan!" "Dan engkau melihat guruku yang memberi racun kepada
mereka?"
"Tentu saja aku tidak melihat. Akan tetapi, Ayah dan Ibu sendiri yang mengatakan bahwa baru saja engkau dan Liu Bhok Ki datang dan gurumu itu telah mengobati mereka. Dan di depan mataku, tiba-tiba saja mereka berdua itu mati keracunan. Siapa lagi kalau bukan gurumu yang telah meracuninya?"
Han Beng mengerutkan alisnya. Sungguh mustahil gurunya meracuni ayah ibu Giok Cu.
"Giok Cu, siapakah yang mengatakan kepadamu bahwa guruku yang memberi obat beracun? Ketika engkau berada- bersama orang tuamu, siapa yang berada di situ?" "Aku mengajak Subo untuk lebih dulu mencari orang tuaku sebelum ia membawaku pergi. Subo berada di sana menjadi saksi dan Subo yang mengatakan bahwa orang tuaku tewas karena obat beracun yang diberikan oleh Sin-tiauw Liu Bhok Ki."
"Ah, aku mengerti sekarang! Giok Cu, bukan guruku Liu Bhok Ki yang meracuni Ayah Ibumu, melainkan Ban-tok Mo-li sendiri!"
Giok Cu mengerutkan alisnya. "Hemm, tidak mungkin! Untuk apa ia meracuni dan membunuh orang tuaku kalau ia hendak mengambil aku sebagai muridnya?”
"Mari kita pikirkan baik-baik dan dengan hati dan kepala dingin, Giok Cu. Percayalah, aku masih sahabatmu yang dahulu. Kalau benar guruku Sin-tiauw Liu Bhok Ki membunuh Ayah Ibumu, aku sendiri yang akan menuntutnya dan meminta pertanggungan jawabnya. Akan tetapi, mari kita selidiki. Guruku itu seorang pendekar besar, dan dia sama sekali tidak mempunyai alasan mengapa harus meracuni orang tuamu. Kalau dia hendak membunuh orang, tentu dilakukannya dengan pukulan saktinya, bukan menggunakan racun! Dan sekarang kita selidiki keadaan Subomu, Ban-tok Mo-li itu. Ia seorang datuk sesat yang tidak segan melakukan kekejaman bagaimana pun juga. Dari julukannya saja diketahui bahwa ia seorang ahli racun dan engkau sendiri tentu tahu bahwa ia ahli pula. melakukan pukulan beracun seperti yang juga kau pelajari. Jadi, mudah sekali baginya untuk memberi pukulan beracun kepada Ayah Ibumu, dan engkau pada waktu itu tentu tidak akan mengetahuinya. Dan ia mempunyai niat untuk membawamu sebagai murid. Mungkin ia takut Ayah Ibumu akan melarangmu, maka ia membunuh mereka, dan sengaja ia melempar fitnah kepada guruku agar engkau tidak mendendam kepadanya melainkan kepada guruku."
Giok Cu adalah seorang gadis yang cerdik sekali. Mendengar semua ucapan Han Beng itu, hatinya tergerak. Ia cukup mengenal subonya, seorang wanita iblis yang amat kejam sehingga apa yang dikatakan Han Beng itu bukan suatu hal yang mustahil dilakukan subonya. Akan tetapi, ia tidak mempunyai bukti, maka ia mulai meragu.
ooOOoo
"Tapi ........ tapi Subo mengatakan bahwa Sin-tiauw
Liu Bhok Ki yang membunuh Ayah Ibuku, dan selama bertahun-tahun ini, di dalam hatiku sudah keambil keputusan bahwa suatu hari aku akan nenemui Liu Bhok Ki untuk membalas dendam atas kematian Ayah Ibuku!"
"Ingatlah, Giok Cu. Bagaimana kalau engkau yang terburu nafsu berhasil membunuh guruku Liu Bhok Ki dan kemudian mendapat kenyataan bahwa pembunuh orang tuamu bukan Sin-tiauw Liu Bhok Ki melainkan Ban-tok Mo-li sendiri?"
"Ahhhhh " Giok Cu menjadi semakin ragu, " tapi
........... tapi ..........., apa yang harus kulakukan. ?"
"Giok Cu, dengarlah baik-baik. Kita masih sahabat seperti dahulu, bukan? Dahulu, kita menghadapi ular itu bersama, kita bersama menggigitnya sampai dia mati. Kita bersama menghadapi ancaman maut di tangan orang-orang jahat. Nah, maukah engkau kuajak untuk bersama-sama pula menghadapi semua ini? Aku akan membantumu, Giok Cu. Demi langit dan bumi, aku tidak akan memihak Suhu kalau memang dia bersalah. Kita selesaikan dulu urusan di sini urusan yang penting sekali karena akan terjadi pemberontakan. Kita menghadap Liu Tai-jin, maksudku bukan menghadap beliau, melainkan menyampaikan semua hasil penyelidikan kita tentang Cang Ta-jin dan para pemberontak. Keteranganmu merupakan berita yang penting sekali. Sesudah itu, barulah kita berdua akan mengunjungi mereka."
"Mereka siapa maksudmu?" "Pertama, kita kunjungi guruku, Si tiauw Liu Bhok Ki dan aku yang akan terang-terangan bertanya apakah di telah membunuh orang tuamu dengan obat beracun!"
"Tentu dia menyangkal "
"Kalau memang dia melakukan perbuatan itu, aku tanggung dia tidak akan menyangkal, Giok Cu. Aku mengenal benar orang macam apa adanya guruku. Dia amat keras dan jujur, amat tinggi menghargai diri dan kehormatan sehingga menjadi angkuh. Kalau. dia melakukan sesuatu, pasti dia akan mengakuinya kepada siapapun juga. Dia paling membenci sikap pengecut."
"Lalu bagaimana setelah kita menemui gurumu dan dia menyangkal?"
"Setelah itu, kita pergi menemui gurumu, Ban-tok Mo-li." "Ia akan memusuhiku karena aku telah melarikan diri
darinya dan membuatnya marah." Giok Cu berhenti sebentar lalu melanjutkan. "Aku kini tidak takut kepadanya dan aku akan mampu menandinginya, akan tetapi bagaimana
kalau ia pun menyangkal bahwa ia telah membunuh Ayah Ibuku? Apakah aku hanya akan puas dengan keterangan dua orang itu dan tidak lagi membalaskan kematian orang tuaku?"
"Kita coba saja dulu, Giok Cu. perkembangannya bagaimana nanti kita lihat dan kita tentukan tindakan kita lebih lanjut. Maukah engkau bekerja sama dengan aku seperti dulu ketika kita menghadapi mereka yang hendak menawan kita di sungai itu?"
Giok Cu teringat akan masa dulu dan ia pun tersenyum, mengangguk. "Baiklah, Han Beng. Tapi, bagaimana dengan orang tuamu sendiri? Siapakah yang membunuh mereka?"
"Mereka terbunuh dalam keributan itu. Demikian banyaknya orang kang-ouw yang jahat dan pandai di sana sehingga sukar diselidiki siapa yang telah membunuh Ayah dan Ibu. Akan tetapi ketika tadi aku melihat engkau dikeroyok aku melihat dua orang yang kalau tidak salah dahulu ikut pula memperebutkan anak naga, kemudian memperebutkan diri kita di Sungai Huang-ho."
"Eh? Benarkah? Aku tidak mengenal mereka! Yang manakah?"
"Dahulu guruku Sin-tiauw Liu Bhok Ki pernah menceritakan siapa adanya mereka yang ikut memperebutkan diri kita seorang demi seorang, dan kalau tidak salah yang menggunakan golok rantai bertubuh tinggi kurus tadi, dan seorang lagi yang gendut pendek dan tongkatnya dilapisi warna emas."