"Engkau tidak bertanya siapa pria muda yang menegurku tadi?"
Ia sengaja memancing pertengkaran. Akan tetapi Sin Hong merasa malu kalau harus bertengkar dengan isterinya di tempat pesta itu. Dia tersenyum dan menjawab halus,
"Tanpa bertanya pun aku sudah dapat menduga bahwa dia tentulah seorang suhengmu yang sudah lama tidak bertemu denganmu."
Mendengar suara suaminya yang lembut dan sikapnya yang tenang, agak berkurang kemarahan Siang Cun yang bangkit karena cemburu itu.
"Dia seorang suhengku yang terpandai dan sudah empat tahun atau lima tahun kami tidak saling berjumpa. Aku gembira sekali dapat bertemu dengan dia di sini! Ketika kita menikah, ayah tidak dapat mengirim undangan karena tidak tahu di mana dia tinggal."
Sin Hong tetap tersenyum dan mengangguk. Bagi dia, pertemuan itu sudah sewajarnya kalau mendatangkan kegembiraan. Dia masih merasa terharu dan tegang mengenang Hong Li yang roboh pingsan tadi. Pikirannya penuh dengan itu sehingga dia hampir tidak memperhatikan keadaan isterinya dan pertemuan antara isterinya dan suheng isterinya itu pun dilupakannya lagi. Melihat suaminya termenung, Siang Cun segera berkata,
"Sebaliknya, pertemuanmu dengan murid keponakanmu yang menjadi pengantin itu agaknya menimbulkan kenangan pahit sehingga ia sampai roboh pingsan. Sebenarnya, ada apakah antara kalian?"
"Tidak ada apa-apa."
Kata Sin Hong menggeleng kepalanya dengan wajah diliputi kedukaan.
"Tidak mungkin! Tentu ada hubungan yang istimewa, kalau tidak begitu, tak mungkin ia jatuh pingsan begitu bertemu dan bicara denganmu!"
Kata Siang Cun yang meninggikan suaranya sehingga beberapa buah kepala menoleh ke arah mereka. Sin Hong mengerutkan alisnya, berbisik,
"Tenanglah, di sini bukan tempat untuk ribut-ribut. Nanti saja kita bicara tentang itu dan aku akan menerangkan segalanya."
Siang Cun mengangguk, akan tetapi selanjutnya, ia bersungut-sungut. Meja itu dipenuhi para tamu yang berdatangan dan mereka pun mulai pesta makan minum hidangan yang disuguhkan. Setelah pesta berakhir, para tamu bubaran dan Sin Hong bersama isterinya juga berpamit dari tuan rumah. Ketika mereka berkesempatan untuk minta diri dari Kao Cin Liong dan Suma Hui, Sin Hong merasa sepatutnya kalau dia bertanya tentang keadaan Hong Li.
"Suheng, bagaimana dengan kesehatan puterimu? Kuharap ia sudah sehat kembali, Suheng."
Kao Cin Liong memandang kepada sutenya dengan alis berkerut. Dia tidak menyalahkan sutenya ini, akan tetapi hanya menyesali pertemuan antara puterinya itu dengan Sin Hong yang mengakibatkan puterinya mengalami guncangan batin.
"Ia sudah sehat kembali, terima kasih, Sute."
Dalam perjalanan pulang ke Lu-jiang, barulah Siang Cun mendapat kesempatan untuk menuntut agar suaminya suka bicara terus terang mengenai hubungannya dengan Kao Hong Li. Sin Hong menarik napas panjang. Sebetulnya, urusannya dengan Hong Li adalah urusan yang hanya dia ketahui sendiri saja, mengenai perasaan batin antara mereka dan tidak akan diceritakan kepada siapapun juga. Akan tetapi, tak disangkanya bahwa kehadirannya dalam pesta pernikahan Hong Li itu membuat Hong Li menderita dan isterinya menjadi curiga dan cemburu. Kalau dia tidak bicara terus terang, tentu hubungannya dengan isterinya akan menjadi semakin buruk.
"Sesungguhnya, tidak ada apa-apa di antara kami yang perlu dicurigai,"
Katanya, mencoba untuk membantah.
"Tidak perlu berbohong. Aku adalah seorang wanita dan aku tahu apa yang telah terjadi. Begitu bertemu denganmu, ia menderita guncangan hebat. Biarpun mukanya tertutup bedak tebal sehingga tidak nampak, aku tahu bahwa ia menjadi terkejut, pucat dan matanya membayangkan kedukaan yang mendalam, suaranya juga menjadi lain, menggetar penuh keharuan. Tidak perlu membohongi aku lagi, ada hubungan. istimewa apakah antara kalian?"
"Baiklah, Siang Cun, kalau memang engkau ingin sekali mengetahui, aku pun akan berterus terang saja. Memang tidak dapat kusangkal bahwa dahulu ada pertalian batin antara kami. Kami saling mencinta walaupun kami tidak pernah menyatakan hal itu dengan kata-kata. Ketahuilah bahwa Hong Li adalah putera suhengku, oleh karena itu kami mengetahui bahwa tidak mungkin menjadi suami isteri. Karena itu, maka aku lalu pergi meninggalkannya, merantau bersama muridku dan aku tiba di Lu-jiang, terlibat dalam urusan antara Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang. Sungguh mati, tidak ada hubungan yang buruk dan cemar di antara kami."
Siang Cun mendengarkan dengan muka berubah agak pucat.
"Jadi.... jadi itukah sebabnya?"
Katanya, seperti kepada diri sendiri.
"Apa maksudmu? Sebab apa?"
"Jadi selama ini, hatimu telah dimiliki orang lain, engkau selama ini tak pernah berhenti mencintanya? Ah, kalau saja aku tahu...."
Siang Cun mulai menangis.
"pantas kau.... kau yang menjadi suamiku tidak pernah mencintaku....!"
Sin Hong terkejut dan menyentuh lengan isterinya.
"Jangan bicara seperti itu, isteriku. Apakah selama menjadi suamimu aku pernah menyakiti hatimu? Bukankan aku selalu berusaha untuk menjadi seorang suami yang baik? Aku selalu setia, aku membantu pekerjaan ayahmu, aku tidak pernah bersikap kasar padamu, aku...."
"Aku tahu! Akan tetapi semua itu palsu, hanya pura-pura. Keramahan dan kemesraan yang dibuat-buat. Palsu! Engkau tidak pernah cinta padaku!"