Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 153

Memuat...

Akan tetapi setelah menikah, gurunya seringkali duduk melamun. Dia melihat gurunya seolah-olah seekor burung yang tadinya melayang-layang dengan bebasnya di udara, kini terkurung di dalam sangkar. Biarpun sangkar itu terbuat daripada emas, diukir indah dan di dalam sangkar selalu tersedia makanan dan minuman, namun burung itu tetap saja seringkali mengeluh duka karena kehilangan kebebasan! Namun, dia tidak dapat berbuat apa pun. Bagi Yo Han, kehidupan di Ngo-heng Bu-koan cukup menyenangkan. Banyak kawan yang baik, dan dia pun tekun berlatih silat di bawah pimpinan langsung dari Sin Hong. Tentu saja Sin Hong membedakan latihan pada muridnya dengan latihan yang diberikannya kepada para murid Ngo-heng Bu-koan sebagai usahanya membantu kemajuan perguruan silat mertuanya.

Dan waktu pun meluncur terus, melewati segala suka duka yang menjadi permainan pikiran dan batin manusia. Hong Li membaca surat itu dan tak dapat ditahannya lagi air matanya yang jatuh berderai. Ayah dan ibunya, Kao Cin Liong dan Suma Hui, duduk di depannya dan suami isteri itu saling pandang, lalu menatap wajah puteri mereka dengan hati terharu. Mereka berdua sudah lama membujuk Hong Li agar suka menjatuhkan pilihannya. Sudah terlalu banyak pemuda yang datang meminangnya, akan tetapi gadis itu selalu menolak. Suami isteri itu, biarpun puteri mereka tidak mengaku terus terang, dapat mengerti bahwa Hong Li mencinta Sin Hong dan selalu menanti datangnya pemuda yang masih terhitung susioknya itu. Karena cintanya itulah maka Hong Li masih belum mau menerima pinangan sekian banyaknya pemuda pilihan.

Dan pada pagi ini, suami isteri itu menerima sepucuk surat dari Tan Sin Hong, mengabarkan bahwa pemuda itu telah menikah dengan puteri ketua Ngo-heng Bu-koan di kota Lu-jiang. Setelah membaca surat ini, mereka bersepakat untuk membiarkan puteri mereka membacanya. Dan pada siang hari itu, di depan ayah bundanya, Hong Li membaca surat Sin Hong. Sin Hong telah menikah dengan wanita lain! Begitu membaca surat itu, dunia rasanya gelap bagi Hong Li dan tanpa dapat ditahannya lagi, air matanya jatuh berderai di atas kedua pipinya setelah ia membaca surat itu. Surat itu terlepas dari tangannya dan ia menubruk ibunya sambil menangis! Suma Hui merangkul puterinya, juga berlinang air mata. Ia merasa kasihan sekali kepada puterinya dan tanpa sepatah pun kata, kedua orang wanita ini saling berangkulan dan sang ibu tahu benar apa yang dirasakan oleh batin puterinya.

"Sudahlah, anakku. Tenangkan hatimu, tabahkan hatimu. Ada tiga hal dalam hidup ini yang tidak dikuasai manusia, melainkan diatur oleh Thian sendiri, yaitu kelahiran, pernikahan dan kematian. Kalau dua orang sudah berjodoh, dihalangi bagaimanapun juga akhirnya akan bertemu dan menjadi jodoh, sebaliknya kalau memang tidak berjodoh, diusahakan bagaimanapun, akan gagal."

"Akan tetapi.... Ibu...., dia.... kenapa dia menikah begitu saja.... kenapa tidak memberitahu lebih dulu kepadaku.... padahal.... dia tahu.... bahwa aku.... aku mengharapkan dia"

"Sudahlah Hong Li, seorang gagah tidak membiarkan perasaannya hanyut dalam sesal, kecewa dan duka."

Kata Kao Cin Liong dengan sikap tenang.

"Agaknya Sin Hong sute merasa bahwa tidak mungkin dia berjodoh dengan murid keponakannya sendiri, maka dia menikah dengan gadis lain. Segala sesuatu sudah terjadi dan tidak perlu disesalkan lagi. Sekarang, kuharap engkau berani menghadapi kenyataan dan pilihlah seorang di antara para peminang yang masih menanti keputusan kita."

Hong Li bangkit semangatnya mendengar ucapan ayahnya. Ia menghapus sisa air matanya dengan ujung baju ibunya, lalu mundur memisahkan diri dari ibunya, duduk di atas kursi memandang kepada ayah bundanya, lalu berkata dengan suara yang tenang.

"Ayah dan Ibu ingin sekali agar aku menikah?"

Suami isteri itu saling pandang dan Suma Hui tersenyum.

"Anakku, pertanyaanmu sungguh lucu. Engkau adalah anak kami satu-satunya. Engkau adalah seorang anak perempuan dan sekarang engkau telah lebih dari dewasa. Usiamu sudah dua puluh dua tahun. Ayah dan ibu mana yang tidak ingin melihat anak perempuannya menikah?" "Bagaimana dengan Ayah?"

Tanya Hong Li sambil memandang ayahnya. Kao Cin Liong batuk-batuk beberapa kali sebelum menjawab.

"Aku setuju dengan pendapat ibumu. Aku sudah ingin menjadi seorang kakek, menimang cucuku, Hong Li."

Mendengar ucapan ayahnya ini, Hong Li merasa terharu sekali dan ia merasa betapa ia seorang anak yang tidak berbakti, tidak dapat menyenangkan hati orang tuanya.

"Baiklah, Ayah dan Ibu. Sekarang aku akan menurut, akan tetapi aku tidak dapat memilih Ayah, maka harap Ayah dan Ibu yang memilihkan untukku. Aku tidak akan menolak lagi...."

Setelah berkata demikian, Hong Li bangkit, meninggalkan mereka dan memasuki kamarnya lalu melempar tubuhnya di atas pembaringan, menyembunyikan mukanya di balik bantal. Biarpun hati mereka diliputi keharuan dan iba terhadap puteri mereka, namun ada perasaan gembira bahwa kini Hong Li tidak menolak. Mereka berdua lalu melakukan pemilihan dan akhirnya memilih seorang pemuda bernama Thio Hui Kong, seorang putera jaksa yang tampan dan juga memiliki ilmu silat yang cukup kuat di samping ilmu sastra yang cukup baik.

Thio Hui Kong adalah putera tunggal dari Jaksa Thio dan pembesar ini terkenal sebagai seorang jaksa yang adil dan jujur. Pemuda itu pun terkenal pula sebagai seorang pemuda yang alim, dan tekun belajar. Kao Cin Liong dan isterinya merasa yakin bahwa mereka tidak salah pilih. Sudah lama Jaksa Thio meminang dan selalu mereka minta waktu dan kini dengan gembira mereka menerima pinangan itu. Ketika diberitahu oleh ayah ibunya bahwa telah ditemukan seorang calon suami untuknya, Hong Li hanya mengangguk dan tersenyum malu-malu, akan tetapi di dalam hatinya, ia merasa berduka sekali. Akan tetapi, ia menahan perasaannya karena ia harus berbakti kepada orang tuanya. Kalau menurut kehendak hatinya, rasanya ia tidak ingin menikah setelah harapannya terhadap Sin Hong gagal. Akan tetapi, ia adalah anak tunggal dan kalau ia tidak dapat menyenangkan hati orang tuanya,

Berarti ia seorang anak yang tidak berbakti dan hal itu sungguh tidak diinginkannya. Biarlah ia menerima pilihan orang tuanya dan menyerahkan diri kepada nasib. Pernikahan antara Hong Li dan Thio Hui Kong dirayakan secara meriah oleh keluarga Kao. Maklum, Hong Li merupakan anak tunggal dan keadan orang tuanya memungkinkan untuk merayakan pernikahan itu secara besar-besaran. Selain itu, juga Thio Hui Kong adalah putera dan anak tunggal Jaksa Thio yang terkenal. Tidaklah mengherankan kalau pesta pernikahan itu dirayakan secara besar-besaran dan banyak tamu diundang untuk menghadiri perayaan itu. Di antara para tamu, datang pula Tan Sin Hong bersama isterinya. Yo Han tidak diajak walaupun di dalam hatinya, Yo Han ingin sekali menghadiri pesta pernikahan Hong Li yang sudah dikenalnya dengan baik itu.

Berdebar juga rasa jantung dalam dada Sin Hong ketika dia bersama isterinya memasuki ruangan pesta dengan para tamu lainnya, disambut oleh Kao Cin Liong dan isterinya yang duduk di panggung sebagai tuan rumah, tidak begitu jauh dengan tempat duduk sepasang mempelai yang berada di tengah panggung. Kao Cin Liong dan isterinya hanya dapat menyambut Sin Hong dan isterinya dengan singkat saja karena banyaknya tamu yang berbondong-bondong datang bersamaan waktunya dengan Sin Hong. Mereka dipersilakan untuk duduk di ruangan tamu yang sudah disediakan, di depan panggung di mana terdapat ratusan buah kursi. Lebih dari separuh ruangan itu telah penuh tamu. Akan tetapi, Sin Hong tidak langsung duduk di ruangan tamu, melainkan mengajak isterinya untuk menghampiri sepasang mempelai dan memberi selamat.

Dia tidak merasa kikuk karena bukankah dia masih termasuk keluarga, walaupun hanya sute dari tuan rumah? Dia sudah memberi penjelasan kepada isterinya siapa keluarga Kao dan tentu saja dia tidak pernah menyinggung soal hubungan batin antara dia dan mempelai wanita kepada isterinya. Dari jauh, Sin Hong melihat betapa Hong Li nampak cantik jelita dalam pakaian mempelai, namun wajah Hong Li kelihatan lesu dan tidak membayangkan kegembiraan. Di sampingnya duduk mempelai pria dan di dalam hatinya, Sin Hong bersyukur melihat betapa gagah dan tampannya mempelai pria itu. Syukurlah, Hong Li memperoleh seorang jodoh yang memang patas mendampinginya selama hidup, pikirnya sambil mengajak, isterinya melangkah maju perlahan-lahan menghampiri tempat duduk sepasang mempelai.

"Nona Kao Hong Li, kami mengucapkan selamat atas pernikahanmu, semoga kalian berdua mempelai hidup berbahagia."

Kata Sin Hong yang mengajak isterinya mengangkat tangan ke depan dada memberi hormat. Hong Li memandang dan mata mempelai wanita itu terbelalak ketika ia mengenal Sin Hong. Bedak tebal yang menutupi wajahnya menyembunyikan perubahan mukanya yang menjadi pucat sekali.

"Kau.... kau Susiok...."

Katanya berbisik.

"Dan ini isteri Susiok....?"

Sin Hong mengangguk dan tersenyum.

"Benar, ini adalah isteriku."

Hong Li menoleh kepada suaminya dan memperkenalkan.

"Ini Susiok Tan Sin Hong dan isterinya, dari kota Lu-jiang."

Tadinya Thio Hui Kong mengerutkan alisnya, akan tetapi ketika mendengar bahwa sepasang orang muda yang memberi selamat kepada isterinya adalah susiok (paman guru) isterinya, kerut di alisnya lenyap dan dia pun cepat membalas pemberian selamat itu sambil tersenyum, Sin Hong lalu menggandeng tangan isterinya, diajak meninggalkan sepasang mempelai untuk duduk di ruangan yang sudah disediakan untuk para tamu. Akan tetapi, baru beberapa langkah dia dan isterinya meninggalkan tempat itu, terdengar Hong Li mengeluh dan disusul suara ribut-ribut dari para wanita yang mengerumuni sepasang pengantin untuk melayani mereka itu.

Ternyata pengantin wanita telah roboh pingsan dalam kursinya! Tentu saja keadaan menjadi agak sibuk. Kao Cin Liong dan isterinya cepat menghampiri puteri mereka dan setelah memeriksanya, Kao Cin Liong berkata kepada para tamu yang mendekat bahwa puterinya terlalu lelah, kurang tidur dan perutnya kosong selama dua hari ini sehingga masuk angin! Pengantin wanita lalu dipondong masuk ke dalam oleh suaminya dan pesta dilanjutkan tanpa adanya sepasang mempelai. Keluarga tuan rumah tetap melayani tamu dan memang Kao Cin Liong dan isterinya tidak mengkhawatirkan keadaan puteri mereka walaupun mereka saling pandang dan maklum bahwa kehadiran Sin Hong itulah yang membuat puteri mereka mengalami guncangan batin dan menjadi pingsan!

Sementara itu, Sin Hong yang merasa berduka sekali melihat Hong Li roboh pingsan, hal yang menjadi pertanyaan besar di dalam hatinya, mengajak isterinya ke ruangan yang disediakan untuk para tamu. Diam-diam dia merasa khawatir sekali. Hong Li adalah seorang gadis yang keras hati dan tabah, juga gagah perkasa sehingga tidak mudah sakit, apalagi masuk angin! Tentu ada sesuatu yang menyebabkan gadis itu pingsan, dan dia merasa khawatir sekali karena gadis itu pingsan setelah bertemu dengan dia! Agaknya, Bhe Siang Cun juga menduga akan hal ini dan isteri itu cemberut, alisnya berkerut dan terasa betapa tangan dan lengannya kaku ketika digandengnya menuju ke ruangan tamu.

"Hemmm, kiranya ada apa-apa antara paman dan keponakan! Bagus, ya?"

Kata Siang Cun dengan suara berbisik, namun dalam suara itu terkandung penyesalan besar.

"Hushhh, jangan menyangka yang bukan-bukan!"

Balas Sin Hong, juga berbisik, akan tetapi dia merasa betapa jurang antara dia dan isterinya menjadi semakin lebar dan kini agaknya tidak ditutupi lagi dengan kepura-puraan yang manis dan mesra. Isterinya jelas memperlihatkan kekurangsenangan hatinya dengan muka merengut dan pandang mata marah, juga kini isterinya melepaskan tangannya yang digandeng!

"Cun Su-moi....!"

Tiba-tiba terdengar seruan seorang pria di antara para tamu. Siang Cun menoleh dan seketika wajah yang merengut tadi menjadi cerah, berseri dan senyumnya manis sekali ketika ia mengenal pria muda yang menegurnya itu. Pria itu adalah seorang di antara suhengnya, murid ayahnya yang sudah beberapa tahun meninggalkan perguruan. Suhengnya itu bernama Ciang Kun, dan ketika ia berusia lima belas tahun, antara ia dan suhengnya itu terjalin semacam cinta monyet atau cinta antara dua orang remaja. Cinta itu terputus ketika Ciang Kun meninggalkan perguruan dan orang tuanya pindah dari kota Lu-jiang ke kota raja. Tak disangkanya di tempat ini ia akan berjumpa dengan suhengnya yang pernah disayangnya dan pernah dirindukannya itu.

"Kun-suheng.... ! Kau di sini? Mana isterimu?"

Tanya Siang Cun sambil memandang dan kedua pipinya berubah kemerahan. Pemuda yang jangkung dan tampan itu tersenyum lalu menggeleng kepala dan menggoyang tangan kanan, tanda bahwa dia belum menikah. Karena banyak di antara para tamu memandang kepada mereka, tentu saja mereka tidak dapat leluasa bicara.

"Kun-suheng, datanglah ke Lu-jiang, kami semua sudah rindu padamu!"

Ciang Kun mengangguk.

"Baik, aku akan datang berkunjung."

Hanya sampai di situ saja percakapan itu. Terpaksa Siang Cun bersama suaminya mencari tempat kosong di ruangan yang disediakan untuk para tamu yang berpasangan, yaitu suami isteri yang datang berdua. Ada tiga ruangan untuk para tamu, yaitu bagian pria, bagian wanita, dan bagian para tamu yang datang bersama isteri atau suami mereka. Siang Cun memilih meja yang masih kosong. Meja itu dikelilingi delapan buah bangku dan belum ada seorang pun tamu duduk di situ. Kesempatan duduk berdua ini dipergunakan oleh Siang Cun untuk melampiaskan kedongkolan hatinya. Mereka saling berpandangan, duduk bersanding menghadapi meja bundar. Tidak seorang pun di antara mereka bicara, hanya pandang mata mereka seperti saling menjenguk isi hati mereka. Kemudian Siang Cun lebih dulu berkata,

Post a Comment