"Tapi.... tapi.... maafkan, Paman. Hal ini.... harus kupikirkan dulu karena menyangkut kehidupanku di masa depan. Aku.... minta waktu untuk memikirkannya...."
Katanya agak gagap. Bhe Kauwsu tersenyum.
"Tentu saja, Taihiap. Karena seperti Taihiap pernah bicarakan dengan kami bahwa Taihiap adalah seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara, maka segala keputusan harus dipikirkan dulu. Biarlah kami menanti sampai besok agar Taihiap mempunyai waktu sehari semalam untuk memikirkannya."
Bhe Kauwsu lalu, mengundurkan diri, meninggalkan Sin Hong yang masih bengong dan bingung. Menjadi suami Siang Cun? Pertanyaan ini berdengung terus di dalam kepalanya. Tanpa disengaja, dia pun mengenang gadis itu. Seorang gadis yang cantik manis, juga gagah perkasa dan terbayanglah tubuh gadis itu yang pernah dilihatnya dalam keadaan bugil dan polos! Tubuh yang mulus, wajah yang cantik, watak yang gagah dan kedudukan terhormat. Cukup baik, bahkan terlalu baik untuknya. Dan juga amat baik bagi Yo Han. Muridnya itu masih muda sekali, membutuhkan lingkungan dan pergaulan yang baik. Dan Ngo-heng Bu-koan merupakan tempat yang amat baik bagi seorang anak, dapat bergaul dengan murid-murid Ngo-heng Bu-koan yang gagah dan berjiwa pendekar.
Tiba-tiba terbayang wajah Kao Hong Li! Hatinya berdebar penuh keharuan. Dia mencinta Hong Li! Sejak pertemuan pertama, dia sudah tertarik dan jatuh cinta kepada puteri suhengnya itu. Akan tetapi, bagaimana mungkin dia dapat menjadi suami Kao Hong Li? Hong Li adalah puteri Kao Cin Liong, seorang pendekar besar bekas panglima kerajaan, putera tunggal Naga Sakti Gurun Pasir! Kedudukan keluarga itu terhormat, baik di dalam dunia kang-ouw, dunia persilatan, di masyarakat, bahkan di antara para pembesar di kerajaan. Sebaliknya dia? Yatim piatu, sebatang kara, miskin dan tidak memiliki apa-apa! Dibandingkan dengan Hong Li, dia seperti seekor burung gagak di samping seekor burung Hong! Belum lagi diingat bahwa dia adalah susiok (paman guru) Hong Li, walaupun usia mereka sebaya. Tidak, tidak mungkin dia dapat menjadi suami Hong Li, betapapun dia mencintanya,
Bahkan andaikata Hong Li juga mencintanya, perjodohan antara mereka adalah tidak mungkin. Kembali dia membayangkan Siang Cun. Seorang gadis yang amat baik, dinilai dari keadaan wajah, bentuk tubuh, atau pun wataknya. Dan dia akan hidup tenang, dapat membantu ayah mertuanya untuk memajukan Ngo-heng Bu-koan, memimpin murid-murid Bu-koan (Perguruan Silat) dengan ilmu silat. Hanya itulah satu-satunya keahliannya. Ilmu silat! Dan dia dapat mempergunakannya di sini. Pekerjaan lain apakah yang dapat dia lakukan kecuali mengajarkan ilmu silat? Dan Siang Cun seorang calon isteri yang manis dan molek. Dan Yo Han, muridnya yang dia sayang, akan memperoleh tempat yang baik puladi Ngo-heng Bu-koan. Dan ayah mertuanya seorang tua yang gagah dan bijaksana. Mau apa lagi?
"Suhu, kenapa Suhu melamun setelah Bhe Kauwsu pergi?"
Tiba-tiba Yo Han memasuki kamar. Anak ini baru berani memasuki kamar setelah melihat Bhe Kauwsu tidak lagi berada di kamar gurunya. Sin Hong keluar dari dunia lamunan, menoleh kepada muridnya dan melihat wajah muridnya membayangkan kekhawatiran, dia lalu merangkul pundak Yo Han. Muridnya ini selalu memperhatikan dirinya. Seorang murid yang bukan hanya berbakti, akan tetapi juga mencintanya seperti seorang adik kepada kakaknya.
"Yo Han, aku sedang bingung. Bhe Kauwsu mengusulkan perjodohan antara aku dan puterinya."
Biarpun Yo Han baru berusia kurang lebih delapan tahun, namun dia tidak menganggap muridnya itu anak kecil. Sikap dan jalan pikiran Yo Han seperti seorang dewasa saja. Oleh karena itu, tanpa ragu lagi dia menceritakan persoalan yang dihadapinya. Yo Han mengerutkan alisnya,
"Enci Siang Cun seorang wanita yang gagah perkasa dan cantik, dan Ngo-heng Bu-koan tempat orang-orang gagah, Suhu. Akan tetapi apakah Suhu mencintanya?"
Mendengar kata cinta keluar dari mulut anak itu, mau tidak mau Sin Hong tersenyum geli.
"Aih Yo Han, tahu apa engkau tentang cinta? Dan kenapa kau bertanya demikian?"
"Suhu,menjadi suami isteri berarti hidup berdampingan selama hidup! Kalau Suhu dan enci Siang Cun saling mencinta, tidak ada masalah apa pun untuk berjodoh dengannya."
Sin Hong menggeleng kepalanya.
"Aku kagum dan suka kepadanya, akan tetapi tentang cinta.... aku masih belum tahu, Yo Han. Akan tetapi, kalau aku menolak, berarti ia akan mati membunuh diri dan aku akan merasa berdosa, seolah-olah aku yang membunuhnya."
Sin Hong lalu menceritakan tentang Siang Cun seperti yang didengarnya dari Bhe Kauwsu tadi. Yo Han membelalakkan matanya.
"Wah, sungguh aneh-aneh pikiran seorang dewasa! Kelihatan telanjang bulat saja sudah mau bunuh diri kalau tidak dikawin! Jadi kalau Suhu mengawininya, berarti Suhu menyelamatkan nyawanya?"
"Begitulah!"
"Tapi.... tapi, Suhu. Bagaimana, dengan enci Hong Li?"
Terkejut rasa hati Sin Hong mendengar ini. Jantungnya berdebar.
"Apa maksudmu? Ada apa dengan Hong Li?"
"Suhu cinta padanya, dan enci Hong Li mencinta Suhu. Kalau Suhu menikah dengan gadis lain...."
"Ah, Yo Han, jangan sebut-sebut lagi namanya. Engkau tidak tahu bahwa tidak mungkin bagiku untuk bersanding dengan Hong Li. Pertama, ia adalah murid keponakanku sendiri, dan ke dua, kedudukan kami sungguh berbeda seperti bumi dengan langit. Agaknya.... agaknya, tidak ada lain jalan bagiku kecuali menerima uluran tangan Bhe Kauwsu...."
"Wah, kionghi (selamat), Suhu!"
Yu Han lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada dan memberi selamat kepada gurunya. Dengan muka berubah agak kemerahan Sin Hong merangkul muridnya sambil tertawa. Setelah berpikir semalam suntuk, akhirnya Sin Hong mengambil keputusan untuk menerima uluran tangan Bhe Kauwsu. Ada beberapa hal yang mendorongnya menerima uluran tangan itu.
Terutama sekali untuk mencegah Siang Cun membunuh diri mencuci perasaan terhina dan malu. Dan masih banyak segi yang ada kebaikannya. Dia dapat menyumbangkan kepandaiannya untuk memajukan Ngo-heng Bu-koan dan dapat hidup berkeluarga yang layak. Selain itu, juga dia dapat menempatkan Yo Han dalam lingkungan yang baik. Sebaliknya, kalau dia menolak, besar sekali kemungkinan Siang Cun akan membunuh diri, dan dia bersama Yo Han akan hidup berkeliaran tanpa tempat tinggal yang tetap dan terutama sekali dia akan selalu merasa berdosa. Dia tidak dapat terlalu menyalahkan sikap Siang Lun yang berkeras hendak membunuh diri kalau tidak menjadi isterinya karena bagi seorang gadis yang keras hati dan menjaga benar nama dan kehormatannya, maka peristiwa yang dialaminya itu, ketika ia dalam keadaan telanjang bulat dilihat oleh Sin Hong,
Bahkan diobati pemuda itu dengan cara yang melanggar batas kesusilaan, sungguh merupakan suatu hal yang mendatangkan aib dan malu yang akan ditanggung selama hidupnya. Kalau Sin Hong menjadi suaminya, maka peristiwa itu dengan sendirinya tidak akan meninggalkan rasa malu, bahkan mungkin akan menjadi kenangan indah dan mesra bagi keduanya. Dan biarpun Sin Hong belum dapat memastikan apakan ada perasaan cinta dalam hatinya terhadap Siang Cun, namun dia harus mengakui bahwa dia kagum dan suka kepada gadis itu, dan harus diakuinya pula secara jujur bahwa dia tertarik melihat kecantikan wajah dan keindahan tubuh gadis itu! Pernikahan segera dilangsungkan dengan meriah. Pihak Kim-liong-pang yang kini menjadi sahabat baik lagi dari Ngo-heng Bu-koan, juga datang, bahkan atas usul Ciok Kam Hong atau Ciok Pangcu,
Ketua Kim-liong-pang, dia dengan suka rela menjadi wali atas diri Sin Hong yang sudah yatim piatu dan tidak mempunyai wali itu. Ciok Pangcu merasa berterima kasih kepada pendekar muda ini karena dia telah berjasa memecahkan rahasia yang mengadu domba antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan. Biarpun Sin Hong tidak berani mengirim undangan kepada suhengnya, yaitu Kao Cin Liong, karena sesungguhnya dia tidak merasa mengadakan pesta dan bukan tuan rumah, namun dia mengirim surat kepada suhengnya, memberitahu bahwa dia telah melangsungkan pernikahan dengan puteri ketua Ngo-heng Bukoan di kota Lu-jiang. Setelah menikah, biarpun dia dan isterinya saling memperlihatkan sikap mesra dan mencinta, namun diam-diam Sin Hong sering kali melamun. Terasa benar olehnya betapa di dalam hubungan mereka sebagai suami isteri,
Terdapat suatu kehambaran atau kehampaan karena tiadanya pertalian batin atau cinta kasih di antara mereka sebelumnya. Mereka itu seolah-olah dua orang asing yang baru bertemu dan belum akrab. Hubungan antara mereka seperti dipaksakan, dan biarpun di luarnya nampak mesra, namun di dalam sudut batinnya, Sin Hong merasakan suatu kehambaran. Dan dia pun dapat menduga bahwa perasaan yang sama terdapat dalam batin isterinya! Memang harus diakuinya bahwa sikap Siang Cun baik sekali kepadanya dan nampak betapa wanita itu berusana keras untuk menjadi seorang isteri yang baik, mencinta, setia dan patuh. Namun tetap saja terasa olehnya bahwa hubungan antara mereka seperti dipaksakan, tidak wajar karena tidak adanya ikatan batin yang berupa cinta kasih. Segala macam hubungan antara manusia, baik itu hubungan suami isteri,
Antara sahabat, orang tua dan anak, dan sebagainya, pasti akan selalu mendatangkan konflik selama di dalamnya tidak ada dasar cinta kasih. Cinta kasih ini berarti tidak adanya pementingan diri sendiri. Selama ada pementingan diri sendiri, cinta kasih tidak akan hadir. Yang ada hanyalah cinta nafsu, dan cinta nafsu ini tidak akan bertahan lama karena selalu menimbulkan pertentangan antara dua kepentingan yang kadang-kadang saling berlawanan. Kepentingan si aku bertumbuk dengan kepentingan si kamu dan si dia. Cinta kasih meniadakan atau setidaknya mengaburkan dan menipiskan kepentingan si aku, dan kalau sudah begitu, maka apa pun yang kita lakukan dengan dasar cinta kasih, akan selelu benar dan mendatangkan kebahagiaan. Sin Hong mempertahankan keadaan ini dan menutupinya dengan kebijaksanaan, sehingga dia hidup dalam suasana yang palsu.
Pada lahirnya, dia dan isterinya hidup rukun, namun di dalam hati, keduanya merasakan sesuatu kekecewaan, kehilangan sesuatu yang sepatutnya ada dalam kehidupan suami isteri. Tak seorang pun di luar mereka berdua maklum akan hal ini, kecuali Yo Han! Anak ini pun tidak tahu dengan jelas, namun dia mengerti dan merasakan dengan jelas, namun dia mengerti dan merasakan betapa suhunya kini seringkali duduk melamun, seringkali duduk sambil memandang jauh, dengan pikiran melayang-layang dan diam-diam dia merasa kasihan kepada gurunya. Anak yang berperasaan halus dan berotak cerdas ini dapat menduga bahwa gurunya tidak berbahagia! Perubahan itu baginya nampak sekali. Ketika gurunya masih hidup menyendiri, hidup berdua dengan dia dan dalam keadaan serba kekurangan merantau dengan bebas, gurunya nampak gembira selalu.