Suara ini jelas sekali, akan tetapi terdengar dengan bunyi gaung aneh, sehingga dia tidak mengenal apakah itu suara gurunya atau bukan dan datangnya dari arah dalam kuil!
"Suhuuuuu....! Suhu, di mana engkau?"
Yo Han masuk ke dalam kuil itu sampai ke ruangan dalam.
"Di ruangan belakang, Yo Han. Masuklah terus ke belakang, ada ruangan yang lantainya terbuka. Hati-hati, jangan sampai terjatuh ke bawah. Aku terjebak di bawah sini!"Yo Han merasa girang bukan main menemukan gurunya.
Cepat dia maju dan ketika tiba di ruangan yang dimaksudkan, dia melihat betapa lantai ruangan ini memang terbuka ke bawah. Dia mendekat sampai di tepi lubang dan melongok ke dalam. Akan tetapi, karena ruangan itu terang dengan cahaya matahari sedangkan lubang itu sempit dan dalam, yang nampak hanyalah kegelapan menghitam saja. Akan tetapi Sin Hong dapat melihat kepala muridnya dan hatinya girang bukan main. Girang dan juga kagum. Bagaimana anak itu bisa menemukannya? Dia sejak tadi sudah mencari-cari jalan keluar, akan tetapi agaknya tidak ada jalan keluar dari tempat itu kecuali kalau ada yang datang menolongnya! Dan kuil tua itu tentu jarang didatangi orang, dalam sebuah hutan sunyi lagi. Diam-diam dia bergidik. Haruskah dia mati di tempat itu? Dan, sebelum mati, dia akan tersiksa oleh bau mayat membusuk!
"Suhu, apakah Suhu berada di bawah sana?"
Yo Han berteriak, berusaha menggunakan penglihatannya menembus kegelapan di bawah.
"Yo Han, dengar baik-baik. Aku terjeblos di sini dan tidak akan dapat naik tanpa bantuanmu. Kau pergilah cari tali yang panjangnya paling sedikit lima belas tombak. Kumpulkan akar-akar gantung dan sambung-sambung sampai panjang, lalu turunkan ke sini. Cepat?"
"Baik, Suhu. Teecu pergi mencari!"
Kata Yo Han dan anak yang cerdik ini tidak mau banyak cakap lagi, lalu keluar dari ruangan itu dan sebelum mencari keluar kuil untuk mengumpulkan akar gantung, dia lebih dulu mencari-cari di dalam kuil dan di belakang. Usahanya berhasil. Dia menemukan tali yang panjangnya ada lima tombak. Karena permintaan suhunya harus yang panjangnya paling sedikit lima belas tombak, Yo Han lalu keluar dan mulai mengumpulkan akar gantung dari pohon-pohon besar. Untunglah bahwa selama menjadi murid Sin Hong, biarpun dia belum dilatih ilmu silat, namun jasmaninya telah digembleng sehingga dia memiliki tubuh yang kuat, tenaga besar dan juga tahan uji sehingga biarpun pekerjaan ini amat berat bagi seorang anak kecil seperti dia, namun akhirnya setelah matahari naik tinggi, berhasillah Yo Han menyambung-nyambung akar gantung yang kuat sampai sepanjang lima belas tombak lebih. Sementara itu, dapat dibayangkan betapa tegang rasa hati Sin Hong. Setelah melihat munculnya Yo Han yang akan menolongnya, hati tegang bukan main, jauh lebih tegang dan bahkan mulai khawatir kalau-kalau muridnya itu gagal menolongnya. Akan tetapi dia percaya kepada Yo Han. Anak itu cerdik sekali, dan andaikata dia sendiri tidak mampu menolong, tentu Yo Han akan memperoleh akal untuk minta bantuan orang-orang dusun. Kepercayaan ini menenteramkan hatinya. Dia sudah merasa tidak enak sekali harus duduk bersila di atas tubuh mayat itu. Setelah ada cahaya terang remang-remang memasuki lubang, dia mendapat kenyataan bahwa lubang yang di bagian dasarnya sempit ini memang tidak ada tempat baginya untuk berdiri atau duduk!
Dasar itu penuh dengan tombak-tombak runcing yang ditanam dengan runcingnya menghadap ke atas! Maka boleh dikatakan bahwa Hoan Sai-kong telah menyelamatkannya! Kalau tidak ada mayat Hoan Sai-kong di atas tombak-tombak itu, entah bagaimana dia akan dapat terbebas dari maut di dasar lubang jebakan ini! Terkutuk Phoa Hok Ci yang kejam. Teringat akan orang itu tiba-tiba Sin Hong merasa khawatir sekali. Orang itu telah ketahuan rahasianya. Walaupun menyangka dia tentu telah tewas di dalam lubang jebakan, mungkin orang itu akan melaksanakan rencananya yang terakhir! Menghancurkan kedua perkumpulan dan merampas Bhe Siang Cun sebagai isterinya! Dan orang itu sudah berkeliaran selama semalam dan setengah hari ini!
"Suhuuuuu....!"
Panggilan itu membuat Sin Hong yang sedang melamun tersentak dan dia memandang ke atas. Nampak kepala muridnya di sana.
"Yo Han, apakan engkau sudah mendapatkan tali itu?"
"Sudah, Suhu, akan teecu turunkan perlahan-lahan!"
"Baik, muridku. Turunkanlah dan ikatkan ujung yang di atas dengan tiang yang kuat. Yo Han sudah mengikatkan ujung tali itu pada tiang yang kokoh dan kini dia menurunkan ujung yang lain perlahan-lahan ke bawah. Perkiraan Sin Hong memang tepat. Ujung tali itu menyentuhnya dan hanya kelebihan panjang satu meter saja! Sin Hong mencoba kekuatan tali itu dengan menarik-nariknya dari bawah. Tahulah dia bahwa tali itu memang kokoh kuat dan dia semakin kagum saja kepada Yo Han.
"Sudah habis, Suhu! Apakah ujungnya sampai di sana?"
"Sudah. Aku siap untuk memanjat naik, Yo Han!"
Sin kiong lalu memanjat tali itu dengan mudahnya dan akhirnya dia meloncat naik. Yo Han girang sekali dan memegang lengan suhunya, sebaliknya Sin Hong merangkulnya.
"Untung engkau datang, Yo Han. Sekarang mari, jangan membuang waktu di sini. Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Phoa Hok Ci yang jahat itu!"
Kata Sin Hong dan dia pun melongok ke dalam lubang sambil berkata,
"Locianpwe, terima kasih atas pertolongan jenazahmu, beristirahatlah dengan tenang!"
Sin Hong lalu memondong tubuh Yo Han, digendongnya anak itu dan dia pun menggunakan ilmunya berlari cepat meninggalkan kuil. Di sepanjang perjalanan, dengan singkat Sin Hong menceritakan apa yang telah terjadi sejak dia meninggalkan muridnya. Mendengar cerita suhunya, Yo Han terkejut.
"Wah, kiranya Phoa Hok Ci itu jahat sekali dan dialah orang ke tiga yang mengadu domba. Wah, kalau Suhu terlambat, mungkin terjadi malapetaka di kedua pihak."
"Karena itu, kita harus cepat berkunjung ke Ngo-heng Bu-koan di kota Lu-jiang!"
Yo Han tidak berkata-kata lagi. Dia memuji kelihaian dan kecerdikan suhunya.
Pantas tadi setelah keluar dari lubang jebakan itu, gurunya membawa tali yang sudah menyelamatkannya dan membuang tali itu di dalam jurang di tengah perjalanan. Hal itu memang perlu. Phoa Hok Ci tentu menyangka bahwa gurunya telah tewas di dalam lubang jebakan, maka tempat itu mungkin sekali akan menjadi tempat persembunyiannya kelak, dan kalau tali itu nampak di situ, tentu Phoa Hok Ci dapat mengetahui bahwa Sin Hong telah lolos. Apa yang dikhawatirkan Sin Hong dan Yo Han memang terjadi. Pagi hari tadi, murid-murid Kim-liong-pang menemukan mayat Ciok Lim, putera ketua mereka yang dadanya masih tertusuk golok yang gagangnya ada ukiran Ngo-heng Bu-koan, dan di sampingnya menggeletak mayat seorang murid Ngo-heng Bu-koan yang tewas dengan pedang milik Ciok Lim menembus dadanya!
Kedua orang itu agaknya berkelahi dan mati bersama! Melihat puteranya tewas, tentu saja Kim-liong-Pangcu Ciok Kam Heng menjadi marah sekali. Kalau permusuhan antara murid-muridnya dengan para murid Ngo-heng Bu-koan masih ditahannya dengan sabar mengingat bahwa sebetulnya antara dia pribadi dan Bhe Gun Ek terdapat tali persahabatan yang baik, kini dia tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Putera kandungnya, putera tunggal, tewas dan tak mungkin dia tinggal diam saja. Ditulisnya selembar surat tantangan kepada Bhe Gun Ek untuk membereskan semua perhitungan dengan mengadu nyawa di Bukit Bambu! Ketika Sin Hong yang menggendong Yo Han tiba di luar kota Lu-jiang, seorang murid Ngo-heng Bu-koan yang baru keluar dari pintu gerbang kota mengenalnya dan berseru,
"Tan-taihiap!"
Sin Hong berhenti dan murid itu dengan sikap gugup berkata,
"Suhu sedang menuju ke Bukit Bambu di sana untuk memenuhi tantangan Kim-liong Pangcu."
Sin Hong terkejut.
"Di mana?"
"Di bukit itu di puncaknya terdapat hutan bambu."
Mendengar ini, tanpa membuang waktu lagi, Sin Hong membalikkan tubuhnya dan berlari cepat sekali menuju ke bukit itu. Mudah-mudahan belum terlambat, pikirnya dengan hati tegang. Akan tetapi, ketika dia tiba di puncak bukit itu, di atas padang rumput di tengah hutan bambu, dia melihat perkelahian sudah dimulai antara Bhe Gun Ek dan seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun yang bertubuh sedang dan bermata sipit.
Dia dapat menduga bahwa orang ini tentulah Ciok Kam Heng, ketua Kim-liong-pang yang bersenjatakan sebatang pedang, sedang mati-matian saling serang dengan Bhe Gun Ek yang bersenjata sebatang sabuk rantai baja. Ada belasan orang murid dari kedua pihak berdiri tegak saling berhadapan, akan tetapi agaknya guru masing-masing pihak melarang mereka mencampuri perkelahian mati-matian adu nyawa untuk mempertahankan kebenaran dan kehormatan masing-masing itu! Akan tetapi Sin Hong maklum bahwa kalau satu di antara dua orang itu roboh, tentu akan terjadi pertempuran mati-matian antara kedua pihak. Permainan sabuk rantai baja di tangan Bhe Gun Ek yang beberapa tahun lebih muda dari lawannya itu memang hebat.
Sabuk rantai diputar sedemikian rupa sehingga nampak gulungan sinar putih yang mengeluarkan suara berdesing, namun agaknya dia menemui tanding yang setingkat. Pedang di tangan ketua Kim-liong-pang itu pun cepat dan kuat sekali sehingga berkali-kali terdengar suara berdenting disusul berpijarnya bunga api kalau kedua senjata itu bertemu. Keduanya saling serang dan keadaan mereka masih seimbang. Namun Sin Hong maklum bahwa justeru karena mereka seimbang, maka akhirnya tentu akan ada seorang di antara mereka yang roboh tewas. Tanpa mengeluarkan serangan-serangan maut, tidak mungkin di antara mereka ada yang akan keluar sebagai pemenang. Sin Hong menyuruh Yo Han meloncat turun dan dia pun cepat meloncat ke depan, langsung memasuki medan perkelahian antara dua orang pimpinan perkumpulan itu sambil berseru,
"Kedua Loenghiong harap berhenti dulu!"
Ciok Kam Heng, pangcu dari Kim-liong-pang tidak mengenal Sin Hong, maka dia menganggap bahwa pemuda ini tentu orang Ngo-heng Bu-koan yang hendak membantu Bhe Gun Ek, maka dia tidak peduli akan ucapan itu, bahkan pedangnya menyambar ke arah dada Sin Hong! Melihat ini, Bhe Kauwsu juga menggerakkan rantai bajanya menyerang lawannya! Sin Hong miringkan tubuhnya dan dengan tangan kanan dia menangkap pedang yang menusuk tubuhnya itu dari samping, sedangkan tangan kirinya menangkap pula rantai baja yang menyambar ke arah tubuh ketua Kim-liong-pang! Ciok Kam Heng terkejut, dan berusaha menarik pedangnya yang dicengkeram Sin Hong namun tidak berhasil. Pedang itu seperti dicengkeram penjepit baja yang amat kuat!
"Harap Ji-wi suka berhenti dulu, aku mau bicara penting sekali, mengenai permusuhan Ji-wi yang menjadi akibat adu domba dan fitnah!"
Mendengar ucapan ini, kedua orang itu terkejut dan ketika Sin Hong melepaskan senjata mereka, keduanya meloncat ke belakang dan memandang kepada Sin Hong dengan mata terbelalak penuh pertanyaan.
"Tan-taihiap, apa yang kau maksudkan?"
Bhe Gun Ek bertanya kaget dan heran. Sementara itu, Ciok Kam Heng memandang dengan alis berkerut melihat bahwa lawannya telah mengenal baik pemuda pakaian putih yang amat lihai itu.
"Orang muda, siapakah engkau dan mengapa engkau mencampuri urusan kami? Apa pula maksudmu dengan fitnah dan adu domba tadi?"
Tanyanya dengan suara keren. Sin Hong menghadapi ketua Kim-liong-pang dan sekelebatan saja dia dapat melihat bahwa orang ini memiliki sikap gagah dan juga matanya menyinarkan kejujuran.
"Maaf, Pangcu. Aku bernama Tan Sin Hong dan kebetulan saja aku berkenalan dengan pihak Ngo-heng Bu-koan dan mendengar akan permusuhan yang timbul di antara perkumpulan Ji-wi."
"Hemmm! Sudah lama terjadi permusunan dan aku masih menahan sabar. Akan tetapi semalam puteraku, anakku satu-satunya, tewas pula di tangan Ngo-heng Bu-koan. Bagaimana mungkin aku mendiamkan saja? Hari ini aku harus mengadu nyawa dengan Bhe Gun Ek, dia atau aku yang akan mati di sini demi mempertahankan kehormatan Kim-liong-pang dan membalas kematian anakku!"
"Aku mengerti, Ciok Pangcu. Aku mengerti akan semua hal itu, bahkan aku menjadi saksi utama dan pertama ketika puteramu dibunuh orang!"
"Apa? Tan-taihiap! Putera Ciok Pangcu mati dalam perkelahian melawan seorang muridku, dan mereka berdua itu berkelahi sampai keduanya tewas!"
Bhe Kauwsu membantah. Sin Hong tersenyum.
"Tidak, Bhe Kauwsu. Mereka tidak berkelahi sampai keduanya tewas, akan tetapi mereka berdua itu dibunuh orang secara keji dan orang itulah yang mengatur agar mereka kelihatan seperti berkelahi sampai keduanya mati bersama. Aku menyaksikannya dalam hutan itu! Dan bukan hanya itu, juga semua pembunuhan yang bukan merupakan perkelahian terbuka antara kedua pihak, dilakukan oleh orang yang sama! Sejak semula, orang itu yang telah mengatur agar terjadi pembunuhan-pembunuhan di kedua pihak dan membuat kedua pihak saling bermusuhan, tepat seperti yang diduga oleh muridku, Yo Han. Ada orang ketiga yang mengadu domba dan melempar fitnah."
"Ahhh....!"
Ciok Pangcu berseru.
"Apa.... apa maksudmu?"
Bhe Kauwsu juga berseru kaget.
"Dan peristiwa pertama kali itu, ketika seorang murid perempuan perguruan kami diperkosa dan dibunuh, ketika Bong Siok Cin mati dalam keadaan menyedihkan...."
"Itupun dilakukan oleh orang yang sama, Bhe Kauwsu! Ketika itu, mendiang Ciok Lim engkau jamu makan minum, bukan? Nah, dalam keadaan setengah mabuk ketika dia pulang, dia tidak tahu bahwa topinya dicuri orang. Pencuri topi itulah yang memperkosa dan membunuh muridmu itu, kemudian sengaja meninggalkan topi Ciok Lim untuk melempar fitnah."