"Cukuplah!"
Laki-laki setengah tua itu mengerahkan tenaganya dan.... kedua tangan Kian Bu seperti ditolakkan oleh tenaga mujijat dan terlepas dari lengan orang itu yang segera bangkit berdiri, berpaling kepada Panglima Thio Luk Cong sambil berkata,
"Ciangkun, mari kita kembali ke kamar bersama kedua orang muda ini. Saya ingin bicara dengan mereka."
Thio Luk Cong sendiri adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi, namun dia tidak tahu jelas apa yang telah terjadi, hanya menduga-duganya saja bahwa tamunya itu tentu telah menguji kepandaian pemuda itu dan mendapatkan sesuatu yang amat penting. Maka dia mengangguk dan berkata kepada Kian Lee dan Kian Bu,
"Orang-orang muda, silakan ikut bersama kami."
Kian Lee dan Kian Bu mengangguk dan kini Kian Bu yang merasa girang sekali, sungguhpun dia juga ikut merasa kecewa demi kakaknya yang melihat bahwa dara itu bukanlah gadis yang dicari-carinya. Mereka berlima, Panglima Thio, laki-laki setengah tua, dara cantik jelita itu, Kian Lee dan Kian Bu, semua memasuki ruangan, diikuti pandang mata para perwira yang terheran-heran melihat sikap panglima komandan mereka. Setelah mereka memasuki ruangan dan pintunya ditutup, laki-laki setengah tua itu langsung menghadapi Kian Lee dan Kian Bu sambil bertanya, suaranya sungguh-sungguh dan pandang matanya tajam penuh selidik,
"Nah, orang-orang muda yang baik, sekarang katakan saja terus terang, siapakah kalian sesungguhnya?"
Kian Lee sudah dibisiki oleh adiknya ketika mereka berjalan masuk tadi betapa orang setengah tua itu mampu menghadapi Hwi-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang, maka dia menjura sambil berkata penuh hormat,
"Kami kakak beradik adalah utusan-utusan dari Jenderal Kao dan Puteri Milana."
"Aihhh....!"
Laki-laki itu dan juga Panglima Thio berseru kaget.
"Ah, mengapa Ji-wi tidak berterus terang saja sehingga kami dapat menyambutnya dengan baik? Silakan duduk.... dan mari kita bercakap-cakap dengan baik."
Panglima itu cepat berkata. Mereka lalu duduk mengelilingi meja, dan betapa girangnya hati Kian Bu ketika melihat bahwa duduknya tepat berhadapan dengan dara itu sehingga kini dia dapat melihat dengan jelas betapa cantik jelitanya dara itu. Bukan main! Dia sampai menelan ludahnya sendiri dan sukarlah baginya untuk memindahkan pandang matanya dari mata itu, hidung dan bibir itu. Demikian luar biasa kecantikan gadis ini! Kian Bu lalu bangkit berdiri dan menjura kepada orang laki-laki setengah tua tadi sambil berkata,
"Harap Locianpwe maafkan saya yang lancang."
Orang itu tersenyum dan tampaklah ketampanan wajahnya yang tersembunyi di balik kesederhanaan dan awan kedukaan yang menyelimuti wajahnya.
"Tidak perlu bersikap sungkan, kalau tidak mengadu ilmu tidak saling mengenal kata orang. Dan sekali mengadu ilmu, agaknya aku dapat menduga siapa sebenarnya kalian. Kalau ada orang-orang muda yang memiliki sin-kang seperti apa yang saya rasakan tadi, di dunia ini tentu hanya dimiliki oleh orang-orang muda yang mempunyai nama keturunan (she) Suma. Benarkah dugaanku ini?"
Suma Kian Bu memandang dengan mata terbelalak heran, akan tetapi Kian Lee segera bangkit dan menjura kepada laki-laki itu.
"Dan kami berdua telah bersikap kurang hormat kepada Gak-suheng!"
Laki-laki itu bukan lain adalah Gak Bun Beng. Mendengar ini, dia tertawa, bangkit berdiri dan merangkul dua orang muda itu.
"Kau anak nakal, siapa namamu, Sute?"
Tanyanya sambil memeluk pundak Kian Bu.
"Aih, kiranya Gak-suheng!"
Kian Bu juga berseru girang bukan main. Tentu saja sudah lama dia mendengar nama ini disebut-sebut ayah bunda mereka, dan biarpun orang ini bukan langsung murid ayah mereka, namun karena pernah menerima ilmu dari ayah mereka, mereka menyebutnya suheng.
"Namaku adalah Suma Kian Bu, Puteri Milana adalah kakak kandungku, dan ini adalah kakak Suma Kian Lee, putera dari ibu Lulu."
"Ahh....!"
Panglima Thio berseru kaget sekali mendengar Suma Kian Bu memperkenalkan diri sebagai adik kandung Puteri Milana.
"Gak-taihiap.... apakah benar bahwa kedua orang muda ini adalah.... adalah.... dari Pulau Es....?"
Gak Bun Beng mengangguk.
"Maaf.... maaf.... betapa bahagia hatiku, dalam beberapa hari dikunjungi oleh orang-orang seperti Gak-taihiap dan Ji-wi Siauw-taihiap dari Pulau Es! Aih, kalau Pulau Es ikut turun tangan, aku yakin dalam waktu singkat saja semua pemberontak dapat dibasmi habis!"
Semua orang tersenyum mendengar ini, kecuali dara cantik jelita itu.
"Ji-wi Sute, tugas apakah yang kalian laksanakan sekarang ini sehingga kalian tiba di sini?"
"Kami ditugaskan untuk pergi ke kota benteng Khi-ciang, selain untuk melihat keadaan karena kabarnya kota itu dirampas oleh pemberontak, juga untuk melindungi dan menyelamatkan seorang puteri yang bernama Syanti Dewi dan berada di benteng itu. Akan tetapi setelah kami tiba di sana, Sang Puteri lenyap tanpa ada yang tahu ke mana. Maka kami mencari-cari sampai ke sini, dengan maksud untuk mengunjungi Teng-bun mencari puteri itu...."
Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar. Tanpa diperintah lagi, kedua orang kakak beradik itu melesat dengan cepat bersama Gak Bun Beng. Ternyata tukang pijit buta dan pelayan rumah penginapan tadi, di waktu keadaan ribut-ribut ketika kedua orang kakak beradik itu hendak dikeroyok, telah menyelinap dan memasuki kamar kerja panglima!
Ketika ketahuan, mereka mengamuk, membunuh empat orang perwira dan berhasil kabur sambil membawa catatan-catatan tentang keadaan di perkemahan itu, kekuatan pasukan dan rencana penjagaan! Gak Bun Beng dan dua orang sutenya cepat melakukan pengejaran, namun dua orang mata-mata pemberontak itu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Panglima Thio cepat memerintahkan anak buahnya untuk menggeledah rumah penginapan, akan tetapi pemilik rumah penginapan itu hanya menyatakan bahwa pelayan itu baru bekerja di situ selama satu bulan, dan pemijit buta itu pun baru beberapa hari berada di dusun itu sehingga tidak ada yang mengenalnya betul. Jelas bahwa kedua orang itu adalah mata-mata pemberontak! Ketika memeriksa kamar kerjanya dan mendapatkan bahwa yang dicuri adalah catatan rahasia tentang kekuatan pasukan dan rencana penjagaan, Panglima Thio menjadi pucat wajahnya.
"Jelas, ini tentu perbuatan mata-mata pemberontak yang berilmu tinggi. Keadaan kami di sini merupakan benteng pertama, kalau mereka tahu akan keadaan kami tentu mereka dapat mengetahui kelemahan-kelemahan kami dan akan menghancurkan kami dengan mudah."
"Mereka berdua tentu lari ke Teng-bun yang menjadi pusat pemberontak. Jangan khawatir, Ciangkun, biarlah kami pergi menyelundup ke Teng-bun. Kami akan menyelidiki apa yang akan terjadi setelah mereka mencuri barang-barang rahasia itu."
Wajah panglima itu berseri.
"Kalau Sam-wi Taihiap sudi membantu, kami atas nama seluruh pasukan dan pemerintah menghaturkan terima kasih."
"Ji-wi Sute, sekarang juga kita menyusul mereka, pergi menyelundup ke Teng-bun,"
Kata Gak Bun Beng kepada dua orang kakak beradik itu.
"Akan tetapi, Suheng. Kami harus mencari Puteri Syanti Dewi...."
Kian Lee membantah.
"Tak perlu dicari lagi. Inilah dia!"
Dua orang kakak beradik itu terkejut bukan main. Dara cantik jelita itu, yang bukan lain adalah Puteri Syanti Dewi, menjura sambil berkata manis.
"Terima kasih atas bantuan kalian."
Kian Bu termenung dan menatap wajah itu dengan bengong. Setelah kakaknya menyentuh lengan-nya, barulah dia sadar, menarik napas panjang meniru perbuatan kakaknya menjura dengan hormat kepada puteri itu, lalu berkata,
"Tak kusangka... kiranya.... kiranya.... Sang Puteri.... ah, sukurlah bahwa Anda selamat!"
Syanti Dewi membalas pandang mata pemuda yang dianggapnya nakal dan lucu itu sambil tersenyum dan berkata singkat dengan sikap manis,
"Terima kasih."