Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 137

Memuat...

"Bukan.... bukan itu.... akan tetapi, ahh, maafkan aku karena engkau begitu tergesa hendak pergi, terpaksa aku terus terang saja. Nona Lu Ceng, aku.... begitu bertemu denganmu.... aku.... aku cinta padamu, Nona!"

Ceng Ceng benar-benar terkejut bukan main, matanya terbelalak memandang dengan mulutnya agak terbuka karena dia sama sekali tidak pernah menyangka akan mendengar ucapan seperti itu dari mulut pangeran yang amat tampan itu!

"Maaf, Nona. Aku bersungguh-sungguh dalam hal ini. Aku bahkan telah membicarakan dengan ibu, dan beliau sudah setuju. Nona Lu, aku cinta padamu dan kalau Nona setuju, aku ingin meminangmu sebagai isteriku...."

"Ahhh....!"

Ceng Ceng menundukkan mukanya yang tiba-tiba menjadi merah sekali. Selama hidupnya, baru satu kali ini ada pria mengaku cinta secara demikian terang-terangan, bahkan sekaligus melamarnya sebagai isterinya.

"Maafkan, Nona Lu Ceng. Memang ini tidak semestinya, memang sepatutnya aku mengajukan pelamaran kepada orang tuamu, akan tetapi karena aku tidak tahu di mana kau tinggal, siapa orang tuamu, dan karena kau begitu tergesa-gesa hendak pergi, aku takut kalau-kalau kita tidak akan saling bertemu kembali, maka aku memberanikan diri...."

Tiba-tiba Lu Ceng menangis terisak-isak menutupi mukanya dan dia menjatuhkan diri duduk di atas bangku. Disebutnya orang tuanya oleh pangeran itu membuat hatinya seperti ditusuk, mengingatkan dia akan semua nasibnya dan betapa tidak ada orang tua maupun kakeknya yang dapat dia sandari, yang dapat menghiburnya.

"Ahh, ampunkan aku, Nona Lu. Agaknya aku telah melukai hatimu.... akan tetapi percayalah, aku tidak bermaksud menghinamu.... semua pernyataanku keluar dari hatiku yang murni...."

Ceng Ceng mengusap air matanya, lalu memandang. Dilihatnya pangeran itu telah menjatuhkan diri berlutut di depannya! Seorang pangeran putera kaisar, telah berlutut di depannya! Berlutut kepadanya! Dara ini terlalu muda untuk mengerti bahwa cinta asmara memang dapat membuat seorang pria melakukan apa saja sehingga kalau seorang pangeran sampai berlutut di depan dara yang di-cintanya, hal itu sama sekali tidaklah aneh! Maka dia segera meloncat berdiri dan membalikkan tubuhnya.

"Pangeran, harap jangan berlutut!"

Pangeran Yung Hwa bangkit berdiri dan wajahnya berseri.

"Engkau tidak marah kepadaku?"

Ceng Ceng kembali menghadapi pangeran itu, kini memandang dengan sinar mata penuh selidik karena masih sukar baginya untuk dapat percaya bahwa pangeran yang amat tampan ini, putera kaisar, benar-benar jatuh cinta padanya dan meminangnya untuk menjadi isterinya!

"Tidak, aku tidak marah, hanya aku merasa heran sekali, Pangeran."

"Heran? Ha-ha-ha, Nona Lu! Seorang dara seperti engkau ini, biar dewa sekalipun pantas untuk jatuh cinta, apalagi hanya seorang pangeran puteri selir macam aku!"

Ucapan ini benar-benar mengelus rasa hati Ceng Ceng, mengangkat harga dirinya setinggi langit.

"Pangeran Yung Hwa, apakah engkau sudah lupa lagi kepada Puteri Syanti Dewi yang kau katakan sendiri telah membuat engkau tergila-gila tadi?"

"Ah, dia? Aku telah insyaf setelah aku melarikan diri keluar dari istana, Nona. Aku hanya tergila-gila kepada bayangan, kepada gambaran belaka. Selamanya aku belum pernah bertemu dengan Syanti Dewi, hanya tergila-gila mendengar berita orang tentang kecantikannya, tentang kebaikannya. Akan tetapi engkau.... engkau adalah seorang dara dari darah daging, yang hidup, bukan bayangan mati. Dan setelah aku berjumpa denganmu, tidak ada lagi bayangan Syanti Dewi di dalam hatiku, yang ada hanya engkau, Nona."

Makin nyaman rasa hati Ceng Ceng mendengarkan semua kata-kata itu. Dia seperti merasa dalam mimpi yang amat indah dan dia memejamkan matanya karena hampir tidak percaya bahwa ini mimpi. Pangeran yang tampan dan halus itu, yang di balik kehalusan dan kelemahannya memiliki keberanian dan kegagahan luar biasa pula ketika menghadapi bahaya, telah jatuh cinta padanya, meminangnya sebagai isteri! Tubuhnya gemetar semua ketika tahu-tahu dia merasa ada dua lengan yang memeluknya. Dari balik bulu matanya, dia melihat bahwa Pangeran Yung Hwa telah merangkulnya dengan mesra, betapa dekat muka yang halus tampan itu, yang kini menjadi kemerahan dan mata yang indah itu memandang kepadanya penuh cinta kasih mesra, membuat Ceng Ceng hampir pingsan! Ketika merasa betapa napas yang panas dari hidung pangeran itu meniup pipinya, dia mengelak sedikit dan berbisik,

"Akan tetapi, Pangeran.... aku.... aku hanya seorang gadis perantau...."

Ceng Ceng tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena kini pangeran itu telah mempererat dekapannya dan telah mencium pipinya dengan hidung sambil membisikkan kata-kata indah di dekat telinganya,

"Ceng-moi.... bagiku engkau adalah seorang bidadari.... engkau mulia seperti Kwan Im Pouwsat sendiri.... engkau gagah perkasa seperti pendekar wanita Hoan Lee Hwa (dalam cerita Sie Jin Kwi) dan aku.... aku cinta padamu dengan seluruh jiwa ragaku, Moi-moi...."

"Ahhh.... tapi.... tapi aku...."

Kembali Ceng Ceng tak mampu melanjutkan karena kini bibir pangeran itu telah menutup mulutnya dengan ciuman yang hangat dan mesra, yang dilakukan dengan penuh getaran batinnya. Sejenak Ceng Ceng terlena seperti pingsan dalam pelukan pangeran itu, menerima ciuman yang melupakan segala hal itu. Tiba-tiba terbayang wajah pemuda laknat dan teringatlah dia akan keadaan dirinya. Dia meronta dan pangeran itu berseru kaget, tentu saja pelukannya terlepas dan dia tidak mampu menahan gerakan Ceng Ceng yang meronta tadi. Wajah Ceng Ceng pucat sekali, matanya menjadi liar.

"Tidak....! Tidak....! Tidak....!"

Gadis itu setengah menjerit.

"Aih, Moi-moi.... kekasihku.... ada apakah....?"

Pangeran itu berseru kaget dan melangkah dekat, akan tetapi Ceng Ceng melangkah mundur menjauhi.

"Jangan sentuh aku! Jangan....!"

Jeritnya.

"Aduh, Ceng-moi, kenapakah? Apakah salahku? Aku cinta padamu...."

"Tidak boleh begitu!"

"Mengapa? Terasa olehku betapa engkau pun membalas cintaku, Ceng-moi. Kenapa tidak boleh?"

Sepasang mata itu kembali mencucurkan air mata karena dia teringat kembali akan keadaan dirinya yang telah ternoda, yang telah diperkosa oleh Si Pemuda Laknat. Akan tetapi betapa mungkin dia menceritakan hal itu kepada orang lain, apalagi kepada pangeran ini? Lebih baik mati!

"Pangeran, ketahuilah bahwa Enci Syanti Dewi adalah kakak angkatku. Karena itu, engkau tidak boleh cinta padaku. Nah, selamat tinggal!"

Dengan isak tertahan Ceng Ceng meloncat ke atas genteng dan melarikan diri.

"Ceng-moi....!"

Pangeran itu berseru memanggil, namun Ceng Ceng tidak mau menoleh lagi, bahkan mempercepat loncatannya sehingga sebentar saja dia sudah lenyap meninggalkan Pangeran Yung Hwa yang menjadi bengong dan pucat, sinar matanya layu kehilangan gairah hidup.

Air mata masih mengalir perlahan di kedua pipi Ceng Ceng ketika dara ini berjalan perlahan keluar dari pintu gerbang sebelah selatan kota raja. Hatinya diliputi bermacam perasaan. Terharu mengingat akan cinta kasih Pangeran Yung Hwa yang dia percaya sungguh-sungguh mencintanya, kecewa bahwa dia terpaksa tidak dapat menyambut cinta kasih pangeran itu, dan keadaan ini selain mendatangkan duka, juga menambah sakit hatinya terhadap Si Pemuda Laknat karena pemuda itulah yang menjadi biang keladi semua kedukaan dan kesengsaraan hatinya. Sungguhpun dia sendiri belum tahu apakah dia juga mencinta pangeran itu, namun kalau tidak terjadi malapetaka menimpa dirinya,

Agaknya tidak akan sukar bagi dara manapun juga untuk membalas cinta kasih seorang pria seperti Pangeran Yung Hwa itu. Hatinya menjadi panas dan murung mengingat pemuda tinggi besar, Si Laknat yang dicarinya itu. Ke mana dia harus mencari? Inilah yang membuat dia murung dan kesal karena dia tidak tahu di mana adanya musuh besar yang diburunya itu. Dengan langkah gontai tanpa tujuan tertentu dan pikiran melayang-layang, tanpa disadarinya lagi Ceng Ceng telah melakukan perjalanan sehari penuh tanpa berhenti. Hari telah menjelang malam, senja yang cepat gelap karena langit tertutup awan. Ceng Ceng tiba di luar dusun sebelah selatan kota raja di mana terdapat sebuah sungai, yaitu Sungai Yung-ting. Seperti orang kehilangan se-mangat, tubuhnya lemas karena sehari penuh tidak makan atau minum, Ceng Ceng naik ke atas jembatan yang menyeberang sungai itu.

Dalam cuaca yang remang-remang, dia melihat sebuah benda di pinggir jembatan itu, dan ketika dia mendekat, ternyata benda itu adalah sebuah pot bunga. Benda yang tidak semestinya berada di jembatan, dan hal ini menarik perhatiannya, membuat dia berhenti dan mengamati pot bunga itu dengan heran. Tidak ada seorang pun manusia di jembatan itu, hanya dia seorang diri. Terasa aneh sekali berada di jembatan besar itu seorang diri, seperti tergantung di angkasa, dan pot bunga itu menambah keanehan suasana yang dirasakannya. Pot bunga itu terbuat dari besi tebal, tentu berat sekali, apalagi ditambah beratnya tanah di dalamnya. Hal ini menandakan bahwa orang yang membawanya ke tempat ini tentu seorang yang memiliki tenaga besar. Akan tetapi tidak tampak seorang pun manusia di situ.

Post a Comment