Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 142

Memuat...

"Ha-ha-ha, sute. Pinto sudah memberi perkenan dan harap saja engkau sebagai murid Kun-lun-pai tidak mengecewakan menerima ilmu-ilmu keluarga Cu yang amat tinggi itu.!

Cu Han Bu dan Cu Seng Bu menjadi girang. Tak mereka sangka akan semudah itu mereka menerima murid-muurid yang begini lihai.

"Pouw Kui Lok sudah disetujui oleh Kun-lun-pai untuk menjadi pewaris ilmu-ilmu kami, akan tetapi bagaimana dengan engkau, Louw Tek Ciang? Kami mendengar bahwa engkau adalah murid pendekar Suma Kian Lee tokoh Pulau Es, apakah gurumu tidak akan marah dan berkeberatan kalau mendengar engkau belajar silat kepada kami?!

Hampir saja Tek Ciang tertawa. Gurunya akan berkeberatan? Gurunya sekarang telah menjadi musuh besarnya. Akan tetapi dengan cerdik dia memberi hormat dan berkata.

"Suhu telah memberi kebebasan kepada saya untuk memperluas pengetahuan dan mempelajari ilmu apa saja asal ilmu itu dipergunakan demi kebaikan, menentang kejahatan seperti layaknya seorang pendekar. Karena itulah maka saya berani menerima uluran tangan locianpwe.!

Tentu saja hati kedua orang tokoh Lembah Naga Siluman itu menjadi girang bukan main. Dua hari kemudian, Kui Lok dan Tek Ciang berangkat mengikuti dua orang kakek itu ke lembah di Pegunungan Himalaya itu, di mana mereka berdua digembleng secara telaten oleh Cu Han Bu dan Cu Seng Bu yang merasa girang dan beruntung sekali melihat betapa dua orang murid baru ini benar-benar tidak mengecewakan karena selain berbakat dan tekun, juga mereka adalah dua orang muda yang sudah memiliki ilmu silat tinggi, terutama sekali Tek Ciang!

Suma Kian Bu, seperti yang sudah kita kenal, adalah seorang pendekar sakti, putera Pendekar Super Sakti yang selain memiliki ilmu kepandaian tinggi dan pengalaman yang matang, juga telah memiliki batin yang kuat. Demikian pula isterinya yang bernama Teng Siang In bukanlah wanita sembarangan, melainkan seorang pendekar wanita yang amat lihai dan pandai pula ilmu sihir. Apalagi setelah kini mereka berusia kurang lebih setengah abad, kematangan lahir batin mereka sesungguhnya sudah sepatutnya mencapai tingkat yang tinggi.

Akan tetapi, biarpun mereka selalu dapat mengatasi segala macam masalah kehidupan yang timbul dalam rumah tangga mereka secara bijaksana, dengan kebesaran hati dan kematangan batin, mereka runtuh juga ketika mereka kehilangan putera tunggal mereka, yaitu Suma Ceng Liong! Mereka, sebagai suami isteri pendekar, sudah berusaha ke sana-sini mencari jejak putera mereka, namun selalu gagal dan akhirnya mereka seperti orang yang putus asa dan terendam dalam kesedihan dan kekecewaan.

Anak mereka hanya Ceng Liong satu-satunya dan kini anak itu lenyap tanpa meninggalkan jejak, kalau hidup tidak diketahui di mana adanya, kalau mati tidak diketahui bagaimana matinya dan di mana makamnya. Mereka menjadi sedih dan seolah-olah merasa jemu akan kehidupan, selama bertahun-tahuu mereka hanya bertapa di rumah mereka yang kini tidak terawat, yaitu di dusun Hong-cun di lembah Huang-ho.

Suma Kian Bu yang sudah berusia lima puluh satu tahun dan terkenal sebagai seorang pendekar sakti yang ditakuti kaum sesat dan disegani kaum pendekar, tetap saja kini membuktikan bahwa diapun hanya seorang manusia biasa yang lemah saja. Dia merasa kehilangan Ceng Liong dan menjadi berduka, hidup dalam penderitaan kesengsaraan batin yang membuat dia dan isterinya setiap hari lebih banyak bersamadhi daripada melakukan pekerjaan lain. Tubuhnya dan tubuh isterinya yang sudah berusia hampir lima puluh tahun itu masih nampak segar dan sehat berkat samadhi dan latihan-latihan silat, akan tetapi wajah kedua suami isteri ini nampak berkeriput dan nampak tua karena setiap saat dibakar penderitaan hati yang berduka dan kecewa.

Pagi itu amat cerah di sepanjang lembah Huang-ho. Matahari pagi bersinar terang, tanpa gangguan awan, dan dengan riangnya sinar matahari bermain-main mengejar pergi kabut pagi dari permukaan air sungai dan rumput. Dan secerah itu pula wajah seorang pemuda yang berjalan memasuki dusun Liong-cun. Seorang pemuda berusia lima belas tatun, bertubuh tinggi tegap, wajahnya agak lonjong dengan dagu meruncing dan lekuk dagu membayangkan kekuatan batin, mulutnya selalu tersenyum membayangkan kenakalan. Pemuda ini berjalan sambil memandang ke kanan kiri, mulutnya tersenyum dan matanya bersinar-sinar membuat wajah itu nampak cerah sekali.

Pemuda itu adalah Suma Ceng Liong! Sudah lima tahun lebih dia meninggalkan dusun tempat tinggalnya ini. Sejak dia kecil berusia kurang dari sepuluh tahun. Kampung halaman atau tanah air di mana orang dilahirkan dan dibesarkan selalu mempunyai daya tarik mujijat yang dirasakan oleh orang itu sendiri. Demikian pula dengan Ceng Liong. Seluruh permukaan dusun ini amat dikenalnya, seperti seorang sahabat lama yang amat baik. Setiap batang pohon, padang rumput, batu besar dan gundukan tanah berbukit, dikenalnya dengan baik karena semua itu dahulu pernah menjadi tempat dia bermain. Baru sekarang setelah dia kembali dan melihat itu semua, terasa olehnya betapa dia amat mencinta tempat ini, jauh lebih besar daripada tempat-tempat lain walaupun tempat ini sederhana sekali dan tidak sangat menonjol.

Beberapa orang penghuni dusun yang bekerja di ladang hanya menoleh dan memandang kepada Ceng Liong dengan sinar mata penuh pertanyaan, akan tetapi dia tidak pernah ditegur orang. Agaknya semua orang sudah lupa kepadanya, karena ketika pergi dahulu dia masih seorang anak-anak dan kini telah menjadi seorang pemuda menjelang dewasa yang tingginya sudah melebihi orang-orang dewasa pada umumnya. Ceng Liong masih mengenal wajah-wajah itu, akan tetapi dia hanya menahan senyum dan sengaja berdiam diri karena dia telah memilih orang-orang pertama untuk ditegurnya, yaitu ayah bundanya sendiri. Setelah berjumpa mereka, barulah dia akan menjumpai semua penghuni dusun dan memperkenalkan diri.

Tentu mereka itu akan geger karena heran melihat dia sudah begini besar dan akan meledak tawa gembira di dusun itu. Dia amat dikenal sebelum pergi, bahkan seluruh penghuni dusun mengenalnya. Teringat akan ayah bundanya, Ceng Liong mempercepat langkahnya menuju ke rumah pondok yang dari jauh sudah amat dikenalnya dan mendatangkan debar pada jantungnya itu.

Dia merasa heran melihat betapa rumah keluarganya nampak sunyi dan agak kotor tak teratur, seperti rumah kosong atau terlantar saja. Daun-daun pohon memenuhi halaman depan dan meja kursi di serambi depan penuh debu, juga lantainya kotor tanda sudah lama tidak disentuh sapu. Dia merasa heran. Apakah orang tuanya tidak berada di rumah? Kalau mereka ada, tidak mungkin rumah sekotor ini. Apalagi ibunya adalah seorang wanita yang rapi dan rajin, tidak senang melihat tempat yang kotor. Ah, jangan-jangan kedua orang tuanya tidak berada di rumah. Atau jangan-jangan malah mereka sudah pindah dari rumah lama ini. Akan tetapi kalau pindah, kenapa meja kursi lama itu masih ada?

Dengan hati gelisah Ceng Liong mendorong daun pintu yang ternyata mudah dibuka. Tiba-tiba terdengar suara halus dari dalam, suara yang halus tapi tidak ramah.

"Siapa di luar?!

Suara ibunya! Tak mungkin dia salah dengar. Biarpun sudah bertahun-tahun tidak mendengar suara ibunya, akan tetapi selamanya dia tidak akan lupa kepada suara itu. Agaknya ibunya sedemikian lihainya sehingga ada sedikit suara saja di luar, sudah mendengar dan mengetahui adanya orang datang tanpa melihatnya. Jantungnya berdebar penuh haru dan gembira.

"Saya.... saya tamu....!! katanya dengan suara gemetar.

Hening agak lama, kemudian terdengar lagi suara ibunya.

"Tamu siapa? Ada urusan apa? Jangan ganggu kami....!!

Ceng Liong terkejut mendengar ini. Biarpun suara itu suara ibunya, halus merdu, akan tetapi nada suaranya tidak seperti nada suara ibunya. Ibunya biasanya bicara ramah kepada siapapun dan juga selalu memyambut tamu dengan ramah dan hormat, biar tamu orang desa sekalipun. Akan tetapi suara ibunya ini demikian ketus dan galak, seolah-olah ibunya merasa kesal dan merasa terganggu oleh datangnya seorang tamu walaupun belum diketahuinya siapa adanya tamu itu. Mengapa demikian? Benarkah wanita yang bicara dari dalam itu ibunya?

"Saya.... saya ingin bertemu dengan pendekar Suma Kian Bu dan pendekar wanita Teng Siang In!! jawabnya menahan getaran hati sehingga suaranya terdengar lantang. Hening lagi setelah ucapan Ceng Liong itu. Suasana sedemikian heningnya sehingga Ceng Liong dapat menangkap suara air terjun yang berada tak jauh di belakang rumah.

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dari dalam dan seorang wanita cantik yang bermuka kurus dan agak pucat telah berada di situ, sikapnya seperti orang marah.

"Hemm, siapa engkau berani lancang mengganggu ketenteraman.... eh, siapa engkau....?! Kini sepasang mata itu terbelalak menatap wajah Ceng Liong, bibir wanita itu gemetar dan bergerak-gerak akan tetapi tidak mengeluarkan suara, tubuhnya tidak bergerak, hanya sinar matanya saja yang menjelajahi seluruh tubuh Ceng Liong.

Wanita itu adalah Teng Sian In, isteri pendekar Suma Kian Bu, ibu kandung Ceng Liong. Ketika Ceng Liong pergi ke Pulau Es, dia baru berusia kurang dari sepuluh tahun, masih kanak-kanak. Semenjak itu, dia berpisah dari ibunya dan kini, biarpun usianya baru sekitar enam belas tahun, namun tubuhnya tinggi besar seperti orang yang sudah dewasa benar. Tentu saja nyonya itu tidak dapat mengenalnya lagi, walaupun ia merasa tidak asing dengan pemuda yang kini berdiri di depannya itu.

Di lain pihak, Ceng Liong juga memandang bengong dan hatinya seperti disayat rasanya. Seperti suaranya tadi, kini diapun dapat mengenal ibunya walaupun jauh bedanya dengan wajah ibunya yang sering dijumpainya dalam mimpi atau jika dia merenungkan dan membayangkan wajah ibunya. Wanita ini jauh lebih tua dan lebih kurus.

Biarpun demikian, tak mungkin dia dapat melupakan sepasang mata indah tajam mencorong itu, mata ibunya, mata yang mengandung sinar aneh dan penuh kekuatan, yang dahulu seringkali memandangnya dengan penuh kemesraan seperti yang belum pernah ditemuinya dalam pandang mata siapapun. Dan mulut itu! Biarpun kini mulut itu membayangkan kekerasan dan kedukaan, namun dia masih ingat akan mulut yang dahulu sering tersenyum lembut kepadanya, yang mengeluarkan kata-kata indah dan penuh kasih sayang kepadanya. Inilah ibunya, tak salah lagi! Dan tiba-tiba pemuda itu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki wanita itu.

"Ibu....!! Seruan ini keluar dari lubuk hatinya, panggilan yang sudah seringkali disuarakan hatinya selama bertahun-tahun ini, panggilan penuh kerinduan, penuh kasih sayang, penuh keharuan.

Wajah itu menjadi semakin pucat. Mata itu terbelalak semakin lebar dan memandang seperti orang tidak percaya akan apa yang dilihatnya, seperti orang melihat setan di siang hari.

"Siapa.... siapakah.... anda....?! tanyanya gagap dan merasa seperti dalam mimpi. Ia ingat wajah ini, ingat pandang mata ini, akan tetapi hatinya tidak berani mengharapkan bahwa pemuda tinggi besar ini benar-benar Ceng Liong puteranya. Ia takut kalau-kalau ia akan kecelik dan mengalami lagi kekecewaan yang sudah terlalu sering dirasakannya. Setiap kali melihat pemuda jantungnya seperti disentakkan, penuh harapan bahwa pemuda itu adalah puteranya yang pulang, akan tetapi selalu ia kecewa. Kini ia tidak mau kecewa lagi.

"Ibu.... ibu.... aku anakmu, Ceng Liong, ibu....!!

Post a Comment