Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 140

Memuat...

Orang muda ini adalah Louw Tek Ciang! Seperti telah kita ketahui, putera mendiang Louw-kauwsu yang berhasil menipu keluarga Suma Kian Lee, bukan hanya diambil murid dan mewarisi ilmu-ilmu Pulau Es, bahkan juga diambil mantu dan dia bahkan telah berhasil memperkosa puteri Pendekar Pulau Es itu, telah ketahuan dan nyaris tewas kalau saja dia tidak berhasil melarikan diri ditolong oleh gurunya, yaitu Jai-hwa Siauw-ok.

Kemudian, dia mengikuti Jai-hwa Siauw-ok pergi ke Puncak Bukit Nelayan untuk membantu suhunya yang hendak membalas dendam kepada keluarga Kam. Di tempat itu mereka bertemu dengan Hek-i Mo-ong dan seperti telah diceritakan di bagian depan kisah ini, akhirnya Jai-hwa Siauw-ok tewas di tangan Hek-i Mo-ong sendiri karena memperebutkan Bi Eng, sedangkan Louw Tek Ciang terpaksa melarikan diri.

Semenjak kehilangan gurunya yang amat menyayangnya, yaitu Jai-hwa Siauw-ok, Tek Ciang hidup bertualang seorang diri. Dia sudah tidak mempunyai keluarga dan kini keluarga Suma malah memusuhinya dan tentu akan selalu mencari-carinya untuk menghukumnya. Dia hidup seorang diri, merantau ke mana-mana dan dari Jai-hwa Siauw-ok, selain mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi, dia juga mewarisi kegemarannya yang amat merusak, yaitu kalau membutuhkan, tidak segan-segan melakukan pencurian dan setiap melihat wanita cantik, hatinya terpikat dan diapun melakukan kebiasaannya yang terkutuk, yaitu mempergunakan kepandaian menculik dan memperkosa wanita yang disukainya.

Pada senja hari itu, tanpa disengaja dia menyaksikan segerombolan perampok beraksi menyerbu rumah dua keluarga. Dia menjadi penonton yang melihat peristiwa itu sebagai suatu kejadian yang lucu. Biarkan mereka itu bekerja untukku, pikirnya. Kalau mereka sudah selesai, dia tinggal turun tangan merampas dua orang wanita yang kelihatan montok dan cukup menarik itu dan merampas beberapa buah barang berharga.

Ketika gerombolan itu sambil tertawa-tawa meninggalkan dua rumah yang sudah mereka rampok ludes dan hendak menghilang ke dalam hutan yang berdekatan dengan rumah-rumah itu, tiba-tiba saja Tek Ciang meloncat keluar. Gerakannya amat cepat, tahu-tahu sudah berada di depan kepala gerombolan yang berjalan di muka.

"Serahkan dua anak ayam ini kepadaku!! bentak Tek Ciang dan tangannya sudah menusuk ke arah sepasang mata kepala perampok itu dengan totokan yang amat berbahaya. Agaknya pemuda ini bukan hanya hendak merampas wanita, akan tetapi juga ingin membikin buta kepala perampok itu dengan tusukan dua buah jari tangan kanannya.!Wuuuuuttt....!!

Tiba-tiba saja kepala perampok yang kumisnya tebal itu membuat gerakan meloncat ke belakang. Sambil tetap mengempit tubuh dua orang wanita itu, dia dapat membuat gerakan meloncat ke belakang sedemikian ringan dan cepatnya sehingga amat mengejutkan hati Tek Ciang. Orang yang dapat meloncat ke belakang secepat itu sambil mengempit tubuh dua orang berarti memiliki ilmu kepandaian yang tidak boleh dipandang ringan!

Agaknya kepala perampok itupun menyadari akan kelihaian pemuda yang hendak merampas tawanannya, karena tusukan jari tangan ke arah matanya tadi benar-benar amat berbahaya dan kalau kurang cepat sedikit saja dia meloncat, tentu kedua matanya telah menjadi buta! Marahlah dia dan dengan suara menggeram hebat, dia menggerakkan tangan kanannya melontarkan tubuh wanita yang dipegang tangan kanannya ke arah Tek Ciang sedangkan wanita yang dipeluk tangan kirinya dia lemparkan begitu saja ke kiri. Tubuh dua orang wanita itu melayang dan inipun membuktikan betapa kuat tenaga kepala perampok berkumis lebat itu.

Dengan mudah saja Tek Ciang menyambut tubuh yang melayang ke arahnya itu dan dengan lunak tubuh wanita itu dapat dirangkulnya, kemudian dia menurunkan wanita itu yang segera lari menjauh dan menangis di bawah pohon dengan ketakutan. Pada saat itu, sesosok bayangan berkelebat menyambar tuhuh wanita ke dua yang tadi dilemparkan tangan kiri si kepala perampok. Cara bayangan iui menyambar tubuh itu mengagumkan hati Tek Ciang, apalagi ketika dilihatnya bahwa yang menyambar tubuh itu adalah seorang pemuda berusia antara dua puluh tahun dan berwajah gagah. Pemuda itupun menurunkan tubuh si gadis yang terculik, yang berlari menghampiri kawannya dan mereka berdua berangkulan sambil menangis.

"Kau....?! Si kepala perampok terkejut dan marah ketika melihat pemuda yang baru tiba itu. Sebaliknya, si pemuda juga memandang tajam dan tersenyum mengejek.

"Murid murtad, kiranya benar engkau yang mengotorkan nama Kun-lun-pai!! pemuda itu meloncat ke depan menghadapi kepala perampok berkumis tebal. Kepala perampok itu marah sekali dan cepat mencabut pedang yang tergantung di punggunguya, lalu menyerang pemnda baju hijau yang menghadapinya itu. Serangan itu dahsyat sekali, akan tetapi si penuda dapat mengelak dengan gesitnya.

"Phang Hok, aku datang atas nama suhu. Menyerahlah daripada harus kuwakili suhu membunuhmu!! Pemuda baju hijau itu masih mencoba untuk mengajak damai. Akan tetapi lawannya mendengus dan pedangnya berkelebat semakin dahsyat menyerang.

"Singg....!! Pemuda baju hijau itu mengelak sambil mencabut pedangnya dan kini terjadilah pertandingan yang amat seru dan menarik. Tek Ciang berdiri menonton dengan hati kagum. Tak disangkanya bahwa kepala perampok itu ternyata memiliki kepandaian yang hebat, ilmu pedangnya juga dahsyat. Akan tetapi pemuda baju hijau itupun ternyata memiliki ilmu pedang yang sama gerakannya, bahkan lebih mantap dan lebih cepat. Dia dapat menduga bahwa mereka itu tentulah saudara seperguruan dan melihat kelihaian pemuda baju hijau itu, Tek Ciang mengambil keputusan lain. Melihat betapa belasan orang perampok itu kini mencabut senjata dan bersikap hendak mengeroyok, diapun menerjang ke depan.

"Perampok-parampok hina, kalian hanya mengotorkan dunia saja!! bentaknya dan sebagai seorang pendekar tulen, diapun lalu menghadapi pengeroyokan belasan orang perampok itu dengan tangan kosong saja.

Memang sukar mengatakan bahwa Tek Ciang seorang penjahat, walaupun dia jauh daripada seorang pendekar! Dia tidak pernah melakukan kejahatan secara berterang. Kalau sekali waktu dia mencuri uang, hal itu dilakukan karena dia membutuhkan untuk bekal perjalanan, dan dia selalu tidak pernah meninggalkan jejak. Demikian pula kalau dia menculik dan memperkosa wanita, dia melakukannya tanpa ada yang melihatnya dan untuk menghilangkan jejaknya, bukan jarang dia membunnh wanita yang sudah dipermainkannya sampai puas itu.

Akan tetapi, hal ini bukan berarti bahwa dia suka berhubungan atau berdekatan dengan kaum penjahat. Bahkan tidak jarang dia menentang kalau terjadi kejahatan, bukan karena tergerak hatinya menentang kejahatan itu sendiri, melainkan karena dia ingin mencari kepuasan dengan anggapan sendiri bahwa dia adalah seorang pendekar. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang keluarga pendekar sakti Suma, keturunan para Pendekar Pulau Es!

Pemuda berbaju hijau itupun kaget dan girang melihat munculnya seorang pemuda tampan yang mengamuk dan menghadapi pengeroyokan anak buah perampok yang rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan itu. Diapun kagum karena segera dapat melihat betapa lihainya pemuda bertangan kosong itu menghadapi para pengeroyoknya yang semuanya bersenjata.

Perkelahian antara pemuda baju hijau itu sendiri melawan kepala perampok tidak berlangsung terlalu lama. Betapapun lihainya kepala perampok itu, menghadapi si pemuda baju hijau, dia kalah cepat dan kalah tinggi tiugkatnya, kalah segala-galanya. Dalam waktu kurang dari lima puluh jurus, pedang di tangan pemuda baju hijau itu sudah menusuk leher lawannya yang roboh dan tewas seketika. Ketika pemuda itu menyimpan kembali pedangnya dan menoleh, dia melihat betapa belasan orang perampok itu semua sudah roboh dan tewas, sedangkan pemuda tampan itu sedikitpun tidak terluka, bahkan pakaiannya yang mewah itu sama sekali tidak knsut atau kotor. Pemuda itu kini berdiri memandang kepadanya sambil tersenyum.

"Ilmu pedangmu hebat sekali, sobat!! kata Tek Ciang memuji.

"Engkau lah yang berilmu tinggi sehingga dapat mengalahkan pengeroyokan para perampok dengan tangan kosong saja,! pemuda baju hijau itu balas memuji.

Tek Ciang tertawa, girang dan bangga karena dipuji.

"Ah, dibandingkan dengan ilmu pedangmu, apa artinya kepandaianku? Kalau tidak salah, ilmu pedangmu itu adalah ilmu pedang dari Kun-lun-pai, benarkah? Sudah lama aku mengagumi ilmu-ilmu silat Kun-lun-pai dan baru sekarang aku bertemu dengan seorang ahlinya. Perkenalkan, sobat, namaku adalah Louw Tek Ciang.! Tek Ciang memberi hormat yang cepat dibalas oleh pemuda itu.

"Engkau adalah penolongku, Louw-toako dan terima kasih atas bantuanmu. Namaku adalah Pouw Kui Lok. Dugaanmu memang tepat karena aku adalah murid Kun-lun-pai, akan tetapi sama sekali bukan tokoh ahli.!Para pembaca tentu masih ingat akan nama ini. Pemuda baju hijau itu adalah Pouw Kui Lok pemuda murid Kun-lun-pai yang pernah mencari Hek-i Mo-ong untuk membalaskan kematian gurunya, yaitu Yang I Cinjin yang dahulu tewas oleh Hek-i Mo-ong.

"Ah, Pouw-lauwte, kalau orang yang sudah pandai ilmu pedang seperti engkau ini masih bukan ahli, lalu yang ahli yang bagaimana? Jangan terlalu merendahkan diri. Akan tetapi, kalau tidak salah kepala perampok itu memiliki ilmu dari Kun-lun-pai pula. Benarkah?!

"Benar, dia adalah seorang murid Kun-lun-pai yang murtad dan tersesat. Aku diutus oleh para pimpinan Kun-lun-pai untuk mencari dan menghukumnya. Dia cukup lihai dan anak buahnya juga rata-rata pandai ilmu silat. Untung ada engkau yang membantuku. Akan tetapi marilah kita antarkan dulu dua orang nona itu pulang dan membawa barang-barang rampasan itu kembali ke keluarga mereka, baru kita bicara dan mempererat perkenalan.!

"Baik, kita harus menolong mereka tidak kepalang tanggung,! kata pula Tek Ciang dengan sikap gagah. Dua orang muda itu lalu menghampiri dua orang wanita yang masih berlutut menangis.

Post a Comment