Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 139

Memuat...

"Tidak perlu, terima kasih. Cukup di sini saja, karena keperluan kami hanya menjemput cucu kami,! jawab Cu Han Bu yang masih bersikap kaku.

Kam Hong tersenyum dan menarik napas panjang.

"Sesuka locianpwe kalau begitu. Harap ji-wi suka mendengarkan dengan baik-baik. Di dalam urusan Sim Houw menjadi murid saya ini tidak terdapat sesuatu yang buruk dan tercela....!

"Hemm, bagi kami tetap saja buruk kalau seorang keturunan keluarga Cu berguru kepaada orang she Kam!! Cu Seng Bu memotong.

Kam Hong tetap tersenyum.

"Agaknya ji-wi lupa bahwa Sim Houw bukanlah she Cu melainkan she Sim, jadi yang berhak menentukan tentang keadaan dirinya adalah ayah kandungnya, Sim Hong Bu yang menjadi sahabat baik kami. Sim Houw dibawa ke sini oleh ayahnya, dia diserahkan oleh ayahnya sendiri kepada kami sebagai penukar anak kami yang dibawa Sim Hong Bu untuk dididik.!

"Jadi jelasnya, engkau tidak mau menyerahkan Sim Houw kepada kami yang menjadi kakeknya? Begitukah?! Cu Han Bu bertanya, nadanya menantang.

"Ada tiga cara untuk mengajak Sim Houw pergi dan kalau satu di antara tiga cara itu terpenuhi, dengan senang hati kami akan melepas Sim Houw pergi. Pertama, karena yang menyerahkan dia kepada kami adalah Sim Hong Bu, maka biarlah Sim Hong Bu sendiri yang datang menjemput dan memintanya kembali. Ke dua, karena anak ini berada di sini sebagai penukar anak kami, maka kalau anak kami dikembalikan, boleh saja kedua anak itu ditukar kembali. Ke tiga, kalau memang Sim Houw yang menghendaki sendiri pergi dari sini, tentu kamipun tidak akan mau menahan atau memaksanya. Nah, kami harap saja ji-wi locianpwe dapat berpikiran luas dan bertindak bijaksana sesuai dengan nama besar ji-wi, dan tidak hanya menuruti nafsu kemarahan sehingga kelak dapat ditertawakan orang gagah sedunia!!

Cu Han Bu dan adiknya adalah orang-orang gagah dan tentu saja mereka dapat menerima ucapan itu dan dapat melihat bahwa Kam Hong sudah bersikap jujur dan adil. Kalau mereka tidak dapat menerima, berarti merekalah yang bo-ceng-li (tidak mengenal aturan) dan mereka akan berada di pihak salah kalau sampai terjadi bentrokan autara mereka. Akan tetapi, cara pertama menyuruh Sim Hong Bu datang sendiri tidak mungkin, juga cara ke dua menukarkan kembali dua orang anak itu tidak mungkin pula, yang ada hanya tinggal cara ke tiga. Mereka dapat membujuk Sim Houw untuk pulang dan kalau memang Sim Houw mau pulang, keluarga Kam tidak akan mau menahan atau memaksanya. Maka Cu Han Bu lalu menghampiri Sim Houw, mengelus kepala anak itu dan berkata dengan suara halus.

"Houw-ji, cucuku yang baik. Ibumu menyuruh kami menjemputmu dan mengajakmu pulang. Ibumu selalu menangis dan rindu kepadamu, dan kalau kau pulang, aku sendiri yang akan menggemblengmu dengan ilmu-ilmu ciptaanku yang baru, yang tidak akan kalah dibandingkan dengan ilmu yang bagaimanapun. Marilah, kau pamitlah kepada tuan rumah dan ikut kami pulang ke lembah, cucuku.!

Sim Houw adalah seorang anak yang pendiam akan tetapi bukannya tidak cerdik. Mendengar ucapan kakeknya, dia tahu bahwa kakeknya hanya membujuknya. Selamanya, belum pernah dia melihat ibunya menangis! Ibunya adalah seorang wanita gagah yang pantang menangis. Mana mungkin sekarang ibunya begitu cengeng, menangis hanya karena rindu kepadanya? Dia tidak percaya.

Dan tentang mempelajari ilmu, bukan dia tidak ingin menerima pelajaran ilmu-ilmu sakti dari kakeknya, akan tetapi setelah dia mengetahui untuk apa dan sebab apa dia belajar di bawah bimbingan Pendekar Suling Emas Kam Hong, diapun tidak mungkin dapat meninggalkan tempat ini tanpa setahu ayahnya. Dia dapat menduga bahwa tentu terjadi pertentangan antara ayahnya dan kakeknya, dan tentu saja dia berpihak kepada ayahnya. Sejak kecil, jarang dia bertemu dengan kakeknya, apalagi bergaul karena kedua orang kakeknya yang kini muncul selalu bersembunyi di dalam guha pertapaan dan tidak pernah bersikap manis kepadanya.

"Tidak kong-kong.! katanya dengan suara tegas.

"Aku tidak mau pulang dan akan tetap tinggal di sini.!

Wajah Cu Han Bu menjadi merah.

"Anak bandel! Beraniengkau membantah perintah kakekmu?!

"Kong-kong, aku tidak berani melanggar perintah ayah. Aku akan tetap berada di sini sampai ayah datang menjemputku. Harap kong-kong maafkan!! kata pula Sim Houw dengan suara tegas.

Kakek itu marah sekali, bukan marah karena penolakan cucunya, akan tetapi marah karena kembali dia merasa dikalahkan oleh Kam Hong. Jari-jari kedua tangannya meregang dan melihat ini, Kam Hong sudah siap-siap untuk melindungi muridnya. Tiba-tiba Cu Han Bu memutar tubuhnya, kedua tangannya bergerak ke arah dua batang pohon yang tadi berada di belakangnya. Mereka memang berada di dalam kebun di mana Kam Hong melatih muridnya.

"Ciuttuuuttt.... brakkk....!! Dua batang pohon itu tumbang dan runtuh, mengeluarkan suara hiruk-pikuk. Inilah satu di antara ilmu-ilmu baru ciptaan kedua orang kakek yang sakti itu. Diam-diam Kam Hong kagum sekali. Pukulan tadi memang hebat. Batang pohon yang kuat dan sebesar perut manusia itu sekali pukul remuk dan tumbang, apalagi badan manusia! Setelah merobohkan dua batang pohon untuk memuntahkan kedongkolan hatinya, Cu Han Bu lalu melangkah lebar pergi dari situ diikuti oleh adiknya. Kam Hong hanya memandang dengan sikap tenang, dan isterinya tersenyum, sementara itu Sim Houw memandang dengan mata terbelalak karena terkejut melihat ulah kakeknya tadi.

"Sim Houw, lihat betapa saktinya kakekmu. Sayang dia pemarah. Kesaktiannya itu boleh kau tiru, hasil daripada ketekunan, akan tetapi pemarahnya itu jangan kau tiru. Nah, mulai sekarang belajarlah dan berlatihlah dengan tekun agar kelak tidak mengecewakan keluargamu, juga kakek-kakekmu itu.!

Dan mulai hari itu, Kam Hong menggembleng muridnya lebih tekun lagi dan pemuda remaja itupun mengimbangi ketekunan gurunya dengan berlatih setiap ada kesempatan. Terjadilah perlombaan antara Kam Hong dan Sim Hong Bu dalam melatih murid masing-masing, seperti juga perlombaan antara keluarga Kam dan keluarga Cu. Akan tetapi bentuk perlombaan antara kedua orang pendekar sekali ini adalah perlombaan yang sehat, yang dapat membawa kemajuan kepada kedua pihak.

Senja itu cerah akan tetapi tidak mampu menjernihkan batin orang-orang yang sedang melakukan perbuatan jahat itu. Senja yang cerah dan tadinya hening itu kini dikotori oleh teriakan-teriakan, tawa bergelak, dan jerit tangis. Segerombolan orang laki-laki yang rata-rata bersikap kasar, dipimpin oleh seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang berkumis lebat sedang menyerbu dua rumah yang agak terpencil di luar dusun pada sore hari itu. Pihak tuan rumah mengadakan perlawanan yang sia-sia, karena beberapa orang pria dari dua keluarga itu dalam waktu singkat saja sudah rohoh bermandi darah terkena bacokan dan tusukan golok gerombolan perampok itu.

Kemudian, kepala gerombolan muncul dari rumah sebelah kiri, tertawa-tawa dan kedua lengannya yang berbulu dan besar-besar itu mengempit tubuh dua orang wanita dusun yang cukup cantik. Dua orang wanita itu menjerit dan meronta-ronta, namun mereka sama sekali tidak berdaya dan tidak mampu melepaskan diri dari rangkulan kedua lengan yang kekar itu. Para anak buahnya bersorak dan tertawa-tawa ketika melihat pemimpin mereka menawan dua orang wanita itu dan teriakan-teriakan yang bernada kotor dan cabul terlontar dari mulut mereka.

Di balik sebatang pohon besar, seorang pria muda mengintai semua peristiwa itu sejak tadi. Pria itu berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, tubuhnya agak pendek namun tegap, mukanya putih dan matanya bersinar-sinar, pakaiannya mewah. Dia seorang pesolek muda yang cukup tampan dan yang sejak tadi mengintai dan diam-diam menjadi penonton ketika gerombolan perampok itu menjalankan aksi mereka merampok dua rumah yang terpencil itu. Rumah itu milik dua keluarga yang terhitung kaya di daerah itu, maka kini para anak buah perampok dengan gembira mengangkuti peti-peti berisi pakaian dan harta benda mereka.

Ketika kepala perampok itu merangkul dua orang wanita muda yang meronta-ronta sehingga kaki seorang di antara dua orang wanita itu nampak keluar sampai ke atas lutut, pemuda pesolek itu memandang penuh gairah dan menggumam.

"Hemm, lumayan untuk hiburan malam ini!!

Kini para perampok keluar membawa peti-peti harta dan melihat ini, kembali pemuda pesolek itu menggumam.

"Lumayan untuk penambah bekal!! Dia sudah membayangkan betapa malam ini dia akan menghibur diri bersenang-senang menggumuli seorang atau mungkin keduanya dari wanita itu, dan menambah isi buntalan pakaiannya dengan emas permata dari dalam peti itu.

Post a Comment