Halo!

Kisah Pendekar Bongkok Chapter 135

Memuat...

"Aihhh, Liong-koko.... engkau benar Liong-koku....!"

Ia merangkul dan menangis seaunggukan di atas dada pemuda bongkok itu. Sie Liong membiarkan gadis itu menangis, membiarkan ia melepaskan semua kegelisahan dan kedukaan yang diderita selama ini agar larut bersama tangisnya. Setelah tangisnya mereda karena kehabisan air mata, Ling Ling mengangkat mukanya dari dada Sie Liong dan memandang wajah pemuda itu. Wajahnya tidak begitu pucat lagi dan matanya kini bersinar, tidak layu dan muram seperti tadi.

"Liong-koko, kenapa engkau pergi begitu lama? Ah, Liong-koko, jangan kau tinggal aku lagi. Lebih baik aku mati saja daripada harus kau tinggalkan lagi, Liong-koko...."

Tiba-tiba in teringat, lalu memandang ke arah lengan kiri pemuda itu. Wajahnya pucat kembali, matanya terbelalak dan dengan kedua tangannya ia menangkap lengan baju kiri yang kosong, meraba-raba, mencari-cari isi lengan baju itu.

"Liong-ko.... di mana lengan kirimu? Liong-koko, apa yang terjadi....? Engkau.... lengan kirimu.... buntung....?"

Sie Liong mengangguk, akan tetapi dia tersenyum. Dia tahu bahwa dia kehilangan lengan kiri, akan tetapi diapun sebagai gantinya mendapatkan ilmu yang amat hebat, sehingga kini dia memiliki tenaga yang jauh lebih kuat dibandingkan sebelum kehilangan lengan kirinya.

"Aku terjebak oleh musuh ketika melakukan penyelidikan. Mereka jahat dan kejam. Lengan kiriku buntung dan aku bahkan nyaris tewas. Tuhan masih melindungiku, Ling Ling, sehingga aku masih dapat bertemu denganmu."

"Liong-koko.... ah, Liong-koko, kasihan sekali engkau...."

Gadis itu meraba-raba, lalu menyingkap baju pemuda itu. Melihat betapa lengan kiri itu buntung sampai dekat pundak, dan bekas tempat lengan itu kini merupakan luka yang berkeriput, ia merangkul dan menangis sambil menciumi pundak yang tanpa lengan itu, menciumi bekas luka itu. Ia seolah hendak membersihkan luka itu dengan air matanya. Sie Liong merangkulnya dengan terharu.

"Ling-moi, kenapa engkau masih selalu mengharapkan aku, ingin hidup bersamaku? Lihat baik-baik, aku seorang laki-laki yang cacat ganda, ya bongkok ya buntung lengan kiriku. Apa yang kau lihat pada diri seorang cacat seperti aku? Apa yang kau harapkan dari seorang seperti aku?"

"Liong-koko, aku.... aku cinta padamu, koko. Biar, aku tidak malu mengaku bahwa aku cinta padamu. Aku memujamu, dan engkaulah satu-satunya laki-laki yang kucinta, bahkan satu-satunya manusia yang kumiliki. Engkau memang cacat, cacat tubuhmu, akan tetapi engkaulah orang yang sebaik-baiknya bagiku. Engkau matahari hidupku. Tanpa engkau, hidupku akan gulita. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku di sampingmu koko, tentu saja.... kalau.... kalau engkau sudi menerima aku, seorang gadis yang bodoh dan buruk, yatim piatu pula."

"Ling Ling...."

Sie Liong merangkul dan mendekap muka itu pada dadanya penuh kebahagiaan. Baru sekarang dia bertemu dengan seorang manusia lain yang demikian mencintanya. Dia dapat merasakan benar curahan kasih sayang Ling Ling melalui pandang matanya, melalui sikapnya, melalui suaranya, melalui sentuhannya.

"Ling Ling, akupun cinta padamu. Aku.... aku ingin memperisterimu...."

"Liong-koko! Betapa bahagia hatiku. Aku mau melakukan apa saja asal boleh mendampingimu selama hidupku!"

Sie Liong tersenyum.

"Sekarang yang paling penting engkau membersihkan dirimu dulu dari lumpur itu, bereskan rambutmu dan pakaianmu. Nah, cepat, aku tunggu di sini. Setelah itu, kita pergi ke rumah bibi Cili dan bercakap-cakap."

Ling Ling telah memperoleh kembali kegembiraannya. Ia bangkit, tersenyum penuh kebahagiaan, menatap wajah Sie Liong dengan sinar mata membayangkan cinta kasih sepenuhnya, kemudian ia berlari-lari menuruni tepi telaga, dan membersihkan muka dan leher, dan tangannya dari lumpur. Juga rambutnya.

Tak lama kemudian, mereka sudah pergi dari tempat itu. Biarpun pakaian Ling Ling masih butut, akan tetapi tidak terlalu kotor karena tadi sudah dicucinya, juga rambutnya disanggul. Karena Sie Liong sendiri juga belum sempat berganti sejak keluar dari dalan kuburan, maka keduanya kelihatan seperti dua orang petani yang baru kembali dari sawah ladang, dengan pakaian ternoda lumpur. Sambil berjalan menuju ke rumah bibi Cili di Lasha sambil bercakap-cakap Ling Ling menceritakan semua pengalamannya, betapa karena gelisah memikirkan Sie Liong yang tak kunjung pulang, akhirnya ia melarikan diri meninggalkan rumah bibi Cili untuk mencari Sie Liong. Ia terpaksa menyamar sebagai seorang jembel gila untuk menghindarkan diri dari gangguan pria-pria jahat, presis seperti yang telah diduga oleh Sie Liong. Sampai kemudian dia diganggu tiga orang pemuda itu dan nyaris diperkosa.

"Akan tetapi, engkau sudah menyamar sebagai seorang jembel gila, bagaimana tiga orang itu masih ingin mengganggumu?"

Sie Liong bertanya heran. Ling Ling tersipu.

"Salahku sendiri. Tadi malam aku bermimpi bertemu denganmu, Liong-ko. Karena itu, aku merasa yakin bahwa hari ini aku akan bertemu denganmu. Pagi tadi, melihat bayanganku di air, aku merasa terkejut dan khawatir membayangkan bertemu denganmu dalam keadaan seperti jembel gila yang kotor. Karena keadaan sunyi, aku lalu mandi bersih dan mencuci pakaianku, lalu memasuki guha. Agaknya, ketika mandi itu, mereka telah melihatku, dan ketika aku memasuki guha, mereka lalu menyerangku dan hendak memaksaku...."

"Ah, kita harus berterimakasih kepada Tuhan atas segala berkah-Nya kepada kita!"

Seru Sie Liong dan gadis itu demikian terheran sehingga ia berhenti melangkah dan memandang wajah Sie Liong dengan heran.

"Berkah? Koko, engkau nyaris tewas, lengan kirimu buntung, dan aku menderita sengsara, menjadi jembel gila kemudian nyaris diperkosa orang, dan engkau mengatakan bahwa kita berterimakasih kepada Tuhan atas segala berkah-Nya?"

Sie Liong juga memandang kepada kekasihnya dan tersenyum sambil mengangguk.

"Benar, Ling-moi. Itulah berkah-Nya. Bagaimanapun juga ternyata kita berdua masih selamat dan masih dapat saling bertemu, dan yang lebih membahagiakan lagi bagiku, biarpun kini lengan kiriku buntung, engkau masih tetap mencintaku."

"Liong-koko...."

Ling Ling berkata penuh haru.

"Sampai matipun cintaku kepadamu tidak akan pernah berkurang, apalagi hilang. Akan tetapi pendapatmu tentang berkah Tuhan itu sungguh membingungkan hatiku. Jelas bahwa kita berdua baru saja tertimpa kesengsaraan, dan engkau masih menganggapnya sebagai berkah."

"Betapa tidak, Ling-moi? Kita hidup di dunia inipun merupakan berkah Tuhan! Lihat saja sinar matahari yang menghidupkan, hawa udara untuk bernapas, lihat air, angin dan tanah yang menumbuhkan segala keperluan hidup kita! Lihat panca indria kita, mata, telinga, hidung, mulut dan segala perasaan, masih dilengkapi lagi dengan hati akal pikiran. Semua itu berlimpah dengan berkah-Nya. Apapun yang terjadi kepada diri kita sudah dikehendaki oleh Tuhan! Dan segala kehendak Tuhan pun terjadilah! Dan segala kehendak Tuhan merupakan berkah. Otak kita tidak mempunyai kemampuan untuk mengukur, untuk menilai, untuk membuka tabir rahasia yang menyelubungi pekerjaan yang dilakukan kekuasaan Tuhan. Akal pikiran kita bergelimang nafsu daya rendah, maka apabila kita menilai, penilaian itupun bergelimang nafsu dan tentu saja hanya ingin senang sendiri. Penilaian seperti itu menimbulkan baik buruk, untung rugi. Kita tidak tahu apakah artinya suatu peristiwa yang menimpa diri kita. Yang nampak buruk belum tentu buruk, mungkin mengandung hikmah, mengandung berkah tersembunyi. Yang nampak baik belum tentu seperti yang dinilainya, mungkin mengandung ancaman. Jadi, apapun yang terjadi pada diri kita, mari kita serahkan kepada kekuasaan Tuhan dengan penuh kepasrahan, dan mari kita bersukur dan berterimakasih kepada Tuhan."

Ling Ling hanya mengangguk, akan tetapi ia masih bingung untuk dapat menerima maksud dari ucapan itu. Bibi Cili menerima mereka dengan gembira, akan tetapi juga dengan khawatir, takut kalau-kalau pemuda bongkok yang kini buntung pula lengan kirinya itu menjadi marah. Ia sudah tahu bahwa pemuda bongkok itu adalah Pendekar Bongkok yang lihai sekali. Walaupun kini lengan kirinya buntung, ia masih merasa takut.

"Aih, taihiap, nona Ling ini membikin saya bingung setengah mati. Ia pergi tanpa pamit dan saya tidak tahu ke mana ia pergi. Sekarang, tahu-tahu telah kembali dengan taihiap, dan.... ih, pakaiannya seperti ini...."

Sie Liong tersenyum.

"Kami tidak menyalahkan engkau, bibi. Bahkan aku berterimakasih sekali kepadamu. Kedatangan kami ini pertama untuk minta bantuan agar mencarikan pakaian untuk kami, ke dua kalinya sekali lagi aku akan menitipkan Ling-moi di sini, hanya untuk beberapa hari saja."

"Liong-koko! Apa artinya kata-katamu ini? Engkau.... hendak menitipkan aku.... hendak meninggalkan aku lagi?"

Suara itu sudah mengandung isak dan wajah itu berubah pucat, matanya terbelalak penuh protes. Sie Liong tersenyum dan berkata kepada bibi Cili.

"Pergilah, bibi. Carikan beberapa pasang pakaian untuk aku dan Ling-moi. Jangan khawatir, kalau urusanku sudah selesai, pasti harganya akan kuganti, juga akan kuberi imbalan tinggalnya Ling-moi di sini."

"Aih, tidak usah sungkan, taihiap. Keponakanku pemilik rumah makan itu akan memberikan uang berapa saja yang kubutuhkan untuk keperluanmu."

Bibi Cili lalu pergi meninggalkan mereka. Setelah nyonya rumah pergi, barulah Sie Liong menarik tangan Ling Ling, dirangkulnya gadis yang masih nampak gelisah itu.

Post a Comment