Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 85

Memuat...

"Tapi kau baru memanggilnya satu kali .

Kalau di saat sebelum menutup mata kau memanggilku lagi, barulah aku dapat mati dengan tenang." Puteri ini hidup di Propinsi Inlam dan leluhurnya turun temurun merupakan raja muda .

Begitu pula ayah bundanya, saudara-saudaranya semua memperlakukannya dengan baik sekali .

Dia sangat disayangi Meskipun belakangan negara runtuh dan keluarganya ikut tertimpa musibah, keagungannya tetap tidak berubah .

Semua Ke Ciang, pengawal maupun sekalian budak-budaknya tetap memperlakukannya sebagai keluarga bangsawan Selama hidupnya, belum pernah ada orang yang berani mendustainya atau menggertaknya dengan kata-kata yang tidak benar, itulah sebabnya ketika mendengar ucapan Siau Po, dia percaya sepenuhnya .

Padahal ketika berbicara, dia melihat sinar mata si bocah yang mengandung kelicikan, tetapi pada dasarnya hati si nona cilik ini memang masih polos dan belum mengerti apa arti keculasan, atau tepatnya dia sendiri masih hijau, dia jadi tidak mengambil hati, Namun akhirnya dia tersadar juga .

"Kau sedang berbohong!" katanya, "Kau tidak bakalan mati!" Siau Po pun tertawa .

"Andaikata benar aku tidak mati sekarang, toh lewat beberapa hari lagi aku akan mati juga," sahutnya .

"Lewat beberapa hari nanti juga kau tidak akan mati!" kata si nona tegas .

Siau Po kembali tertawa .

"Seandainya lewat beberapa hari aku tidak mati, tapi lama kelamaan aku toh akan mati juga!" kata Siau Po berkeras, "Kalau kau tetap tidak sudi memanggil aku kakak yang baik, kalau aku sudah mati nanti, setiap hari arwahku akan memanggilmu.. .

adik yang ba.. .

ik".. .

a.. .

dik yang ba.. .

ik...." Sengaja Siau Po membuat ucapannya menjadi panjang dan menyeramkan nadanya seperti ratapan sehingga si nona menjadi ketakutan dan tubuhnya gemetar Siau Po malah sengaja menjulurkan lidahnya keluar seperti mayat yang mati menggantung diri .

"Oh!" jerit si nona yang langsung hendak lari keluar kamar .

Siau Po lompat menyusul, sebelah tangannya menjambret pinggang gadis cilik itu dan kemudian merangkulnya, sedangkan sebelah tangannya yang lain digunakan untuk memalang pintu .

"Kau tidak boleh keluar!" kata Siau Po .

"Di luar banyak setan jahat!" "Lepaskan aku!" teriak si nona .

"Aku mau pulang!" "Kau tidak boleh keluar!" kata Siau Po ngotot .

Kuncu itu marah sekali, Dia menghajar tangan Siau Po yang merangkulnya, Tapi, bocah itu menangkis sekaligus mencekal tangan nona cilik itu .

Kuncu tersebut semakin gusar, Dia menggunakan tangan yang satunya lagi untuk menghajar kepala bocah itu .

Namun Siau Po dapat menghindarkan diri dengan merendahkan tubuhnya, Tangannya yang sebelah digunakan untuk merangkul paha gadis cilik itu, sehingga si kuncu tidak dapat menggerakkan kakinya .

Kuncu itu penasaran, dia menyerang kembali, Kali ini Siau Po tidak sempat mengelak, bahunya terhajar, tapi dia dapat menahan rasa sakitnya, Ditariknya kaki si nona cilik yang dirangkulnya itu sehingga si kuncu terjatuh, kemudian dia menerjang dengan maksud hendak menindihnya .

Kuncu itu mengadakan perlawanan Dia mengirimkan sebuah tendangan dengan gerakan Wan yo Tui mengarah muka orang, Untuk itu, si bocah memiringkan wajahnya sedikit dan di samping itu dia masih mencekal tangan si nona keras-keras .

Sebenarnya dalam hal ilmu silat, si kuncu masih menang jauh daripada Siau Po .

Kalau sekarang dia tidak berdaya, hal ini karena Siau Po mengajaknya bergumul, dengan tanpa memperdulikan tata krama .

Apalagi tangannya sudah kena dicekal Bocah itu malah tertawa dan berkata, "Nah, kau menyerah tidak?" "Tidak!" sahut si nona berkeras .

Siau Po mengangkat kaki kirinya .

Dengan dengkulnya dia menekan punggung nona cilik itu .

"Menyerah tidak?" bentaknya .

"Tidak!" sahut si nona ketus, Dia mendongkol sekali, Seumur hidupnya belum pernah dia diperlakukan orang sedemikian rupa, Biasanya dia justru dimanjakan sekali .

Siau Po menambah tenaganya, Dia menarik tangan gadis cilik itu keras-keras .

"Aduh!" jerit si nona, Mau tidak mau air matanya mengalir karena rasa sakit yang tidak tertahankan .

Selama Siau Po berlatih gulat dengan kaisar Kong Hi, belum pernah ada satu pihak pun yang menjerit kesakitan, apalagi nenangis, Biasanya kalau salah satunya sudah berteriak: "Menyerah tidak?" asal yang lainnya menyerah, pergulatan pun selesai, Apabila masih ingin dilanjutkan perkelahian pun dimulai lagi dari awal .

Siapa sangka si kuncu cilik ini malah menangis saking sakitnya .

"Hah! Budak tidak ada gunanya!" kata Siau Po sambil tertawa, Dia pun lalu melepaskan cekalannya .

Kuncu itu bergerak bangun, tiba-tiba tangan kirinya melayang ke depan! Hal ini tidak disangka-sangka oleh si bocah, Tinju itu sempat mampir juga di hidungnya, sedangkan tangan si nona yang satunya lagi telah meluncur dengan jurus "Sepasang walet terbang" .

Bahu kanannya sudah terhajar, sekarang bahu kirinya terkena hantaman pula, Bocah itu jadi jatuh terduduk Dengan demikian Kuncu itu pun segera lari ke pintu .

Dia bermaksud menyingkirkan kayu palangnya dan lari keluar .

Dengan menahan rasa sakitnya, Siau Po melompat mengejar Disambarnya nona cilik itu kemudian dirangkulnya lehernya, Si nona cilik itu pun menggerakkan kedua sikutnya untuk menghajar dada si bocah .

Sekali lagi Siau Po kena batunya! Untung saja tenaga si nona sudah jauh berkurang sehingga akibatnya tidak begitu hebat .

Siau Po sadar, seandainya si nona berhasil lolos dari kamarnya, mereka berdua akan tertimpa bencana, karena itu dengan menahan rasa sakit, dia terus merangkul sedangkan si nona tidak henti-hentinya meronta .

Satu kali si kuncu berhasil memuntir batang leher Siau Po sehingga wajah mereka berhadapan .

Tapi dia menjadi terkejut sekali begitu melihat wajah si bocah berlumuran darah .

"Eh, kenapa kau?" tanyanya kaget, "Kau berdarah sebetulnya tinju si nona yang mampir di hidung Siau Po yang menyebabkan darah mengalir Namun Siau Po tidak sempat memperdulikannya .

Lukanya tidak berarti, rasa sakitnya pun sudah hilang .

Hanya darahnya saja yang masih mengucur terus, meskipun tidak terlalu banyak .

"Kau tidak boleh pergi dari sini?" kata Siau Po yang tidak memperdulikan pertanyaan itu "Lekas lepaskan aku!" teriak si nona .

"Tidak!" sahut Siau Po, yang tetap merangkul erat-erat .

Si nona mulai kebingungan melihat darah dari hidung Siau Po yang terus mengalir .

"Apakah kau merasa sakit?" tanyanya kemudian .

"Aku merasa kesakitan, malah sudah hampir mati!" sahut si bocah yang masih tidak lupa bergurau "Biarlah kali ini kau hajar aku sampai mampus sekalian!" Bocah ini memang cerdik, Dia mencekal kedua tangan si nona sehingga tidak dapat digerakkan untuk menotoknya .

"Kau tidak akan mati!" kata si nona, "Meskipun hidungmu terhajar dan mengeluarkan darah, kau tetap tidak akan mati!" "Darahku masih belum berhenti mengucur Kalau nanti sudah berhenti, aku pasti akan mati, Biar sudah menjadi mayat, aku akan memelukmu terus, Apapun yang kau katakan, pokoknya aku tidak mau melepaskan!" "Biarkan aku mengambil kapas untuk menyumbat hidungmu Dengan demikian darahnya tidak akan mengalir terus," kata si nona kemudian .

"Biarkan saja, Aku lebih suka darahku mengalir terus, semakin deras dan semakin banyak, semakin baik .

Biar aku cepat menjadi mayat!" Si kuncu cilik jadi kewalahan .

"Kau tidak boleh mati," katanya kemudian .

"Aku minta jangan kau menjadi mayat!" "Aku tidak akan mati kalau kau berjanji tidak akan pergi dari sini!" kata Siau Po .

"Baik, aku tidak akan pergi!" sahut si nona, Namun dalam hatinya dia berpikir "Kau tidak akan mati!" "Asal kau melangkah keluar dari pintu kamar, aku akan bunuh diri!" kata Siau Po mengancam Kemudian dia mengendorkan cekalannya pada tangan si nona sehingga dapat bergerak bebas, Si kuncu cilik menarik nafas lega .

"Kau berbaringlah dulu, nanti aku bantu kau menghentikan darah yang mengalir dari hidungmu .

Pemah satu kati aku tersandung dan hidungku juga berdarah, tapi aku toh tidak mati." Selesai berkata, si nona cilik itu segera memegang tangan Siau Po dengan maksud memayangnya .

Siau Po pura-pura limbung sehingga tubuhnya menabrak dan saling menempel dengan si kuncu, Tapi si nona cukup sigap, dia berhasil memegangi tubuh Siau Po dan membawanya ke atas pembaringan setelah itu dia lalu mengambil sehelai sapu tangan yang kemudian ia celupkan ke air yang kemudian digunakannya untuk mengompres dahi si bocah .

Di samping itu, dia menggunakan sapu tangan lainnya untuk menyusut darah di hidung Sia Po .

Dia bekerja dengan hati-hati namun cekatan, "Kau berbaringlah dan istirahat sebentar," kat si nona, "Darah di hidungmu akan berhenti mengalir .

Barusan aku telah menghajarmu Aku merasa menyesal sekarang aku benar-benar akan pergi .

jangan kau halang-halangi aku .

Kalau tidak, aku akan memukulmu lagi!" "Aduh!" Tiba-tiba Siau Po menjerit "Bagian belakang telingaku sakiti" Si nona cilik terkejut setengah mati, Dia menoleh kan kepalanya dan membatalkan niatnya keluar Segera dia menghampiri Siau Po .

"Benar?" tanyanya sambil membungkukkan tubuhnya untuk melihat keadaan bocah itu .

Begitu si nona mendekati mendadak Siau Po menyambar pinggang gadis itu sambil mengerahkan tenaganya, Si nona cilik terkejut .

Dia meronta-ronta namun tidak berdaya .

Rangkulan Siau Po kali ini menggunakan jurus Tenglo Si atau Lilitan rotan yang membuat orang tidak bisa mengerahkan tenaga nya .

Ketika si kuncu masih berusaha memberontak tiba-tiba terdengar sebuah suara di jendela .

"Diam!" bisik Siau Po .

"Ada setan!" Kuncu itu tercekat hatinya .

Dia segera diam, Gagallah usahanya untuk meronta lebih jauh .

sedangkan tadinya dia berniat menghajar wajah si bocah untuk membuatnya kesakitan sehingga rangkulannya terlepas .

Kembali terdengar suara di jendela yang seakan ada seseorang sedang mendorongnya .

Siau Po terperanjat Sejak Hay kongkong sakit, jendela itu sudah dipantek dengan paku dan terus dibiarkan dalam keadaan demikian saja .

Hal ini untuk mencegah apabila ada orang yang hendak mengintai Tapi sekarang, untuk pertama kali ada orang yang berusaha membongkarnya .

Post a Comment