"Ciangkun, bolehkah aku menanyakan she dan namamu yang mulia?" Bandar itu berdiri dan tertawa, Dengan penuh hormat dia menjawab .
"Aku yang rendah bernama Ouw Pek-seng .
Aku adalah Cong peng dari Thian Cin dan merupakan bawahan langsung dari Kong Cin ong." Cong peng setingkat dengan Brigadir Jendral, Siau Po tertawa dan berkata, "Ciangkun, aku yakin dalam peperangan, seratus kali terjun, seratus kali pula kau mendapat kemenangan sayangnya dalam perjudian, nasibmu kurang beruntung." Nama ciangkun itu Pek Seng, artinya memang seratus kali perang seratus kali menang .
Ouw Pek seng tertawa mendengar kata-kata Siau Po .
"Kongkong, sebetulnya dalam perjudian pun, biasanya seratus kali main, aku juga seratus kali menang, Tapi ada pepatah yang mengatakan di atas gunung masih ada gunung iainnya, Kita jago, ada lagi yang lebih jago, Karena itu, hari ini bertemu dengan kongkong, aku seperti membentur batu .
Seratus kali berjudi, aku pun seratus kali kalah," katanya sambil tertawa terbahak-bahak .
Siau Po juga tertawa, Kemudian dia mengundurkan diri, tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya, "Akh" Tidak mungkin Cong peng itu kalah! Melihat caranya melempar dadu, dia sebenarnya seorang ahli, tapi kenyataannya dia kalah, Hal ini membuktikan bahwa dia sengaja mengalah, Tapi, kenapa" Oh, aku mengerti! Tentu karena kedudukanku yang lebih mantap daripadanya!" Siau Po merasa puas .
Akhirnya dia kembali ke dalam ruangan dan duduk di tempatnya semula .
Pada saat itu seorang wanita sedang bernyanyi dan banyak penonton yang memuji keindahan suaranya .
Siau Po merasa heran mengapa dirinya sendiri tidak tertarik mendengarkan nyanyian itu" Kemudian dia bangun kembali .
Melihat gerak-gerik thay-kam muda itu, KongCin ong tersenyum .
"Saudara Kui, apa yang kau pikirkan" Apakah kau ingin berjalan-jalan" Pergilah, jangan sungkan-sungkan .
"Terima kasih," sahut Siau Po gembira karena Kong Cin ong bisa memahaminya .
Kemudian dia meninggalkan ruangan tersebut Ketika melihat orang-orang masih asyik bermain judi, hampir dia kepincut kembali .
Untung akhirnya dia dapat mengendalikan diri .
ia terus menuju belakang, masih diingatnya jalan-jalan dalam istana Cin ong itu .
Di mana-mana tampak sinar lilin menerangi .
Setiap orang istana itu yang melihat Siau Po selalu memberi hormat Selagi berjalan, tiba-tiba Siau Po merasa ingin buang air kecil Dia berjalan terus kekiri menuju taman bunga, Disana ada sebuah jendela, dia lalu menolakkan daun jendela dan pergi ke sudut yang gelap .
Ketika bermaksud membuka ikat pinggangnya, tiba-tiba dia mendengar suara orang sedang berbicara dengan lirih sekali di balik pepohonan .
"Uangnya dulu nanti baru aku mengantarkan engkau," kata orang yang pertama .
"Kau antarkan aku duIu!" sahut orang yang kedua .
"Setelah mendapatkan barang itu, jangan khawatir uangnya berkurang sepeser pun!" "Uangnya dulu!" Terdengar orang yang pertama berkata kembali "Kalau kau sudah mendapatkan barang itu, tapi uangnya tidak kau serahkan, kemana aku harus mencarimu?" "Baiklah!" sahut orang kedua yang akhirnya mengalah juga .
"Nah, ini kau terima dua ribu duIu .
sisanya belakangan!" Siau Po merasa heran, Ribuan tail bukan jumlah yang sedikit Barang apakah yang demikian mahal harga" Ditundanya keinginan untuk membuang air kecil, pendengarannya dipertajam untuk mencuri dengar pembicaraan antara kedua orang itu." "Dua ribu duIu" Tidak!" kata orang yang pertama, "Aku tidak setuju! Kau toh tahu, urusanya bisa membuat kepalaku pindah rumah .
Kutakut main-main?" Orang yang kedua rupanya merasa terdesak .
"Baiklah! Nih, kau terima selaksa tail!" katanya .
"Terima kasih!" sahut orang-yang pertama .
"Sekarang ikutlah denganku!" Siau Po semakin heran, perhatiannya menjadi tertarik, Urusan apakah yang dapat membuat kepala pindah" "Aku akan mengintai mereka!" ia memutuskan dalam hati .
Dia pun lalu mengikuti kedua orang itu secara diam-diam .
Kedua orang itu menuju ke barat Mereka berjalan di balik pepohonan Setelah berjalan kira-kira dua tombak, mereka berhenti Kemudian keduanya celingak-celinguk ke sekelilingnya .
"Gerak-gerik mereka sangat mencurigakan, tentunya mereka mengandung niat tidak baik," pikir bocah dalam hatinya, "Kong Cin ong memperlakukan aku dengan baik, sebaiknya aku intil kedua orang ini untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan, Kalau benar maksudnya memang jahat, biar mereka kenal kehebatan aku, si Kui kongkong .
Kedua orang itu berjalan lagi, Siau Po terus mengintil di belakang, Namun sekarang dia sudah mengeluarkan pisau belatinya yang tajam itu .
Dengan demikian perasaan takutnya jadi berkurang .
Kedua orang itu kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan kecil, cepat-cepat Siau Po menghampiri jendela, Dilihatnya ada cahaya dari dalam nya, Dengan hati-hati dia mengintai Rupanya kamar itu merupakan sebuah Hu-tong (Tempat memuja sang Buddha) .
Patungnya terletak di atas meja, di depannya ada sebuah pelita minyak, Apinya bergerak-gerak karena hembusan angin .
Seseorang yang berdandan seperti pelayan berkata dengan perlahan .
"Sudah satu tahun lebih aku mengadakan penelitian sekarang aku baru tahu tempat penyimpanan barang itu .
pokoknya tidak sia-sia kau mengeluarkan uang sebanyak selaksa tail!" "Oh ya, di mana tempatnya?" tanya seorang lainnya, punggungnya menghadap Siau Po, "Sini!" kata orang yang pertama, Orang yang kedua pun menoleh, Kali ini Siau Po dapat melihat wajah orang itu dengan jelas, dia merasa heran karena ia mengenalinya sebagai Gi Goan-Kay .
"Sini apa?" Pelayan itu tertawa .
"Ci suhu memang paling bisa berpura-pura! Tentu saja kurangnya yang selaksa tail lagi!" "Kau sungguh cerdik, sobat!" kata Ci Goan-kay sambil merogoh sakunya untuk mengeluarkan uang sisanya yang selaksa tail lagi, Kemudian dia menghitung uang itu .
jantung Siau Po berdebar-debar .
Bukan karena jumlah uang yang banyak itu, tapi karena dia insyaf kelihayan Ci Goan-kay .
Apabila dia sampai kepergok, pasti celakalah dia .
Sudah barang tentu Ci Goan-kay akan curiga padanya dan menduga yang bukanbukan .
Setelah menerima uang sisanya, pelayan itu tertawa lagi "Betul!" katanya, kemudian ia berbisik di telinga Cia Goan-kay .
Goan Kay menganggukkan kepalanya berkali-kali Siau Po berusaha menerka, tapi dia tidak tahu apa yang dibisikkan pelayan itu .
Tiba-tiba Goan Kay melompat naik ke atas meja, dia melihat ke belakang namun tangannya terulur ke atas untuk meraba telinga kiri sang patung Buddha .
Setelah berhasil meraba sesuatu, Goan Kay mencelat turun kembali sekarang tangannya memegang suatu benda kecil .
Di bawah cahaya pelita, dia memeriksanya dengan teliti .
Siau Po tidak mengerti Dia melihat Ci Goan-kay menggenggam sebuah kunci emas yang cahayanya berkilauan .
Setelah memeriksa anak kunci itu, Ci Goan-kay lalu menunduk Dia segera menghitung batu lantai, yang melintang jumlahnya ada beberapa puluh, sedangkan yang memanjang hanya belasan .
Dari sela kaos kakinya dia mencabut sebilah golok kecil yang kemudian digunakan untuk mencungkil batu tersebut Setelah berhasil, terdengar dia berseru gembira .
"Itu kan barang asli dan harganya sesuai!" kat si pelayan "Kau lihat, aku tidak berbohong kan?" Goan Kay tidak menjawab Dia memasukkan anak kunci nya, terdengar suara kelotekan .
Tampak dia tercengang .
"Kenapa tidak bisa dibuka" Apakah kuncinya tidak cocok?" tanyanya .
"Mana mungkin?" sahut si pelayan "Ongya sendiri yang membukanya dengan kunci itu dan ternyata bisa, Ketika itu aku mengintip dari jendela .
Aku dapat melihatnya dengan jelas!" Pelayan itu .
Lalu membungkuk dan tangannya menjulur ke depan Tentu dia merasa tidak percaya dan ingin membuktikannya sendiri Tampak tangannya menarik sesuatu .
Tapi, tepat pada saat itu juga, terdengar suara angin berkesiur, Tahu-tahu sebatang anak panah melesat ke atas .
"Aduh!" jerit si pelayan karena anak panah itu tepat menancap di dadanya, Tubuhnya roboh ke belakang, Tangannya yang memegang tutup besi menyebabkan tutup itu terlepas dan terpental .
Goan Kay terkejut, tetapi dia tabah dan gesit .
Dia berhasil menyambar tutup besi itu, Kalau tutup besi itu sampai terjatuh di atas lantai pasti menimbulkan suara berisik .
Setelah itu dia berjongkok untuk memeriksa keadaan si pelayan Dia membekap mulutnya agar jeritannya tidak terdengar orang lain Kemudian dia menggunakan tangan orang itu untuk meraba-raba ke dalam lubang batu .
"Rupanya masih ada alat rahasia lainnya." pikir Siau Po dalam hati, Dia terus mengintai "Sungguh lihay orang she Ci itu...." Ternyata kali ini tidak ada alat rahasia lainnya .
Karena itu Goan Kay lalu memasukkan tangannya sendiri dan menarik keluar sebuah bungkusan .
Tangan kanannya mengibas sehingga si pelayan terguling, Dia sendiri langsung bangun, Kaki kanannya menekan mulut si pelayan agar tidak bersuara .
Dengan sedikit memiringkan tubuhnya, Goan Kay meletakkan bungkusan itu di atas meja, Lalu dia membukanya sehingga isinya terlihat Rupanya sebuah kitab, Tampak Ci Goan-kay menghembuskan nafas lega .
"Kitab itu rupanya Si Cap Ji Cin-keng dan merupakan kitab ke empat yang pernah dilihat oleh Siau Po .
Persis sama dengan yang pernah didapatkannya dari rumah Go Pay .
Bedanya hanya kain suteranya berwarna biru dan ikatannya dari sutera merah .
Dengan gesit Goan Kay membungkus lagi kitab itu kemudian memasukkannya ke dalam saku .
setelah itu dia mengangkat kakinya dan menginjak anak panah yang menancap di dada si pelayan itu sehingga tembus ke dalam, tanpa sempat bersuara sedikit pun, pelayan itu menghembuskan nafas terakhir .
Siau Po terperanjat melihat apa yang terjadi di hadapannya, Sungguh licik orang she Ci itu, ia bekerja tidak kepalang tanggung, Setelah itu ia merogoh saku pelayan itu untuk mengambil uangnya kembali .
Sembari tertawa ia berkata: "Sekarang kau sudah mendapatkan bagianmu!" Sesaat kemudian dia mencelat keluar .
Siau Po berpikir dengan cepat "Dia mau kabur! Apakah aku harus berteriak?" pikirnya ragu .
Tepat di saat pikiran si bocah masih bekerja, sesosok bayangan melesat naik ke atas genting, Dia adalah Ci Goan-kay .
Siau Po mengerutkan tubuhnya, jangan sampai dirinya terlihat oleh orang itu, Dia mendengar suara perlahan dari atas genting, tidak lama kemudian, suara itu lalu lenyap, Setelah itu tampak Ci Goan-kay melompat turun .