Halo!

Jodoh Rajawali Chapter 159

Memuat...

Pemuda yang ternyata adalah seorang dara itu kembali menangis. Akan tetapi, betapapun keras dia menangis, di tempat sunyi itu siapa yang akan mendengarnya atau menghiburnya? Kita mengenal pemuda itu sebagai Kang Swi, pemuda royal yang melakukan perjalanan bersama Siluman Kecil atau Kian Bu dan Siauw Hong ke kota raja Ho-nan dan bersama Siauw Hong memasuki sayembara dan berhasil diangkat menjadi perwira pengawal Gubernur Ho-nan. Akan tetapi ketika dia bertemu dengan Kim Cui Yan yang menangkap Jenderal Kao Liang dan dia menolong jenderal itu, dia berkelahi melawan Kim Cui Yan yang amat lihai dan terkena pukulan Swat-im Sin-ciang sehingga roboh pingsan. Kemudian, ketika Siauw Hong menolong bekas sahabatnya itu,

Siauw Hong mendapatkan kenyataan bahwa "pemuda"

Royal itu adalah seorang wanita muda! Memang demikianlah sesungguhnya. Kang Swi hanyalah merupakan satu di antara penyamaran gadis yang selain pandai ilmu silatnya, juga ahli dalam hal ilmu menyamar dan "ilmu"

Mencuri itu! Gadis ini bukan lain adalah Ang-siocia (Si Nona Merah), julukan yang didapatnya karena dia suka berpakaian merah muda. Seperti telah kita ketahui, Ang-siocia yang cantik ini adalah murid dari Hek-sin Touw-ong yang terkenal sebagai raja pencuri yang tinggal di pantai Po-hai. Dan seperti telah kita ketahui pula, ketika Siluman Kecil atau Kian Bu bertanding melawan Sin-siauw Seng-jin, untuk menebus kekalahannya lima tahun yang lalu dan akhirnya berhasil mengalahkan kakek itu,

Nona ini muncul dan mencuri barang-barang pusaka peninggalan Suling Emas yang ditinggalkan oleh Sin-siauw Seng-jin setelah dia mengakui kekalahannya terhadap Siluman Kecil. Gadis ini bukan hanya merupakan murid yang tersayang dari Hek-sin Touw-ong, akan tetapi juga anak angkatnya yang amat dicinta oleh kakek raja maling itu. Oleh karena itu, maka hampir seluruh ilmu kepandaian kakek itu diajarkan kepada Ang-siocia yang bernama Kang Swi Hwa itu. Karena terlalu disayang ini agaknya, maka setelah digembleng sejak kecil, Swi Hwa menjadi seorang gadis yang manja, keras, bicaranya tajam, dan menonjolkan sifat kewanitaannya dengan berani sehingga kelihatannya agak genit. Namun dia cantik sekali dan amat cerdas otaknya sehingga semua pelajaran yang diterimanya dapat dia kuasai, terutama sekali ilmu mencuri dan menyamar.

Setelah menguasai ilmu penyamaran itu, di dalam saku-saku bajunya tidak pernah tertinggal alat-alat menyamar sehingga dia dapat menyulap dirinya dalam waktu singkat menjadi orang yang dikehendakinya, bahkan dengan mudahnya dia dapat menyamar sebagai pria tanpa ada yang dapat menduganya. Ketika dia mewakili ayahnya menghadiri pertemuan yang diadakan oleh Hek-hwa Lo-kwi di lembah Sungai Huang-ho, kita telah mengenal kelihaian Kang Swi Hwa atau Ang-siocia ini. Biarpun belum selihai gurunya atau ayah angkatnya, namun ilmu Kiam-to Sin-ciang yang dikuasainya amat dahsyatnya. Dalam keadaannya itu, sebagai seorang dara yang berkepandaian tinggi, mempunyai seorang ayah angkat atau guru yang amat sayang dan memanjakannya, memberinya kebebasan seluasnya sehingga dia diperbolehkan pergi ke manapun, dan tidak pernah kekurangan karena sebagai raja maling tentu saja ayahnya mampu memberikan apa pun yang diinginkannya,

Dari perhiasan yang termahal sampai pakaian terindah atau barang apa pun yang ada di dunia ini. Apalagi setelah dia pandai, dia boleh mengandalkan kepandaiannya sendiri untuk memiliki barang apa saja yang diinginkannya, dengan jalan mencurinya, tentu saja! Akan tetapi, betapapun juga Swi Hwa adalah seorang manusia biasa, seorang dara yang mulai dewasa. Maka pada suatu saat perasaan wanita dan kedewasaannya ini bergerak dan membuat dia bertekuk lutut! Saat itu adalah ketika dia melihat Kian Bu atau Siluman Kecil bertanding melawan Sin-siauw Seng-jin. Melihat pemuda berambut putih itu, melihat sepak terjangnya ketika mengalahkan Sin-siauw Seng-jin yang demikian lihai, Swi Hwa atau Ang-siocia menjadi tertarik sekali dan dia sendiri tidak tahu apakah itu yang dinamakan cinta,

Akan tetapi yang jelas, dia merasa kagum dan tertarik dan ingin sekali dia berkenalan dengan Siluman Kecil, mendekatinya dan mengenal pemuda luar biasa itu dari dekat! Inilah sesungguhnya yang menyebabkan gadis ini mendahului Siluman Kecil, mencuri barang-barang pusaka di dalam rumah Sin-siauw Seng-jin! Dan dia maklum bahwa dia tidak akan mungkin melawan Siluman Kecil, maka dia menggunakan nikouw tua itu untuk membuat Siluman Kecil tidak berdaya dan tidak berani menyerangnya. Dia lalu menantang agar Siluman Kecil datang ke tempatnya, yaitu tempat tinggal gurunya, di pantai Po-hai teluk sebelah utara. Maksudnya memancing Siluman Kecil ke sana adalah selain hendak menguji kepandaian pemuda itu melawan gurunya, juga dia ingin berkenalan dengan pemuda itu berdua saja, tanpa ada banyak orang.

Akan tetapi, karena dia tidak melihat Siluman Kecil tergesa-gesa mengejarnya ke pantai Po-hai, hatinya kecewa dan dia menggunakan lain akal. Melihat Siluman Kecil atau Kian Bu melakukan perjalanan menuju ke Ho-nan dan membawa uang, hal yang tidak mungkin terlepas dari "mata malingnya"

Yang terlatih baik, dia lalu menyamar sebagai nenek penjual sepatu! Ang-siocia inilah sesungguhnya nenek penjual sepatu rumput dahulu itu! Penyamarannya memang hebat sekali sehingga Kian Bu sama sekali tidak menyangka. Dan dengan ilmu mencurinya yang luar biasa, dia berhasil mencopet uang dari dalam bungkusan Kian Bu tanpa diketahui oleh pendekar yang memiliki kesaktian hebat dan berjuluk Siluman Kecil itu! Kemudian, Ang-siocia atau Swi Hwa cepat mengubah penyamarannya dan sekali ini dia menyamar sebagai seorang kongcu yang royal dan ramah.

Tidak sukar penyamaran ini, karena sesuai dengan sifatnya yang memang lincah dan ramah, pandai bicara dan jenaka. Dan giranglah hatinya bahwa dia berhasil menarik hati Siluman Kecil sehingga dapat melakukan perjalanan bersama dengan pendekar itu dan juga dengan Siauw Hong. Akan tetapi, hatinya merasa amat kecewa ketika dia bertemu dengan Siluman Kecil sebagai musuh pada waktu dia membantu fihak Gubernur Ho-nan memperebutkan Pangeran Yung Hwa. Dia memasuki sayembara lalu menjadi pengawal bukan sekali-kali karena dia memihak Gubernur Ho-nan, melainkan karena pertama dia hendak mencari pengalaman dalam petualangannya meninggalkan tempat tinggal gurunya, ke dua karena dia ingin menarik perhatian Siluman Kecil dengan memamerkan kepandaiannya.

Setelah keributan itu di mana dia berada di fihak yang bermusuhan dengan Siluman Kecil, dengan hati kecewa sekali dia lalu meninggalkan gubernuran, meninggalkan jabatannya tanpa pamit setelah dia melihat Siauw Hong, Siluman Kecil, bahkan si Gagu yang aneh itu semua pergi. Dan ketika dia mencari Kian Bu, dia bertemu dengan wanita baju hijau yang menawan Jenderal Kao Liang, kemudian dia dipukul pingsan dan rahasianya bahwa dia wanita diketahui oleh Siauw Hong! Kini Ang-siocia atau Swi Hwa telah berhenti menangis dan duduk termenung di bawah pohon. Entah mengapa, semenjak dia ditolong oleh Siauw Hong dan "diraba"

Dadanya ketika pemuda itu menolongnya menyembuhkan lukanya dengan menyalurkan sinkang,

Terjadi keanehan di dalam hatinya terhadap Siauw Hong, pemuda yang tadinya selalu dia anggap sebagai seorang bocah yang masih hijau itu! Membayangkan wajah tampan pengemis muda itu, sikapnya yang sederhana dan pendiam, tubuhnya yang agak jangkung, dia kini merasa malu. Semenjak Siauw Hong meraba dadanya, seolah-olah pemuda itu telah berubah sama sekali dalam pandang matanya! Sebetulnya, dara inilah yang dulu mencuri harta pusaka keluarga Jenderal Kao ketika terjadi perebutan. Ketika itu, dia melihat betapa ada tiga rombongan atau golongan orang yang seolah-olah memperebutkan pusaka itu dan menguasai keluarga Jenderal Kao, bahkan rombongan pertama yang terdiri dari pasukan kota raja yang menyamar, berusaha keras untuk membasmi dan membunuhi keluarga Kao.

Akan tetapi di situ masih ada dua rombongan lain yang berebutan, dan bahkan seolah-olah bermusuhan sendiri, yaitu golongan dari Hek-eng-pang perkumpulan wanita-wanita liar dan Kwi-liong-pang. Di dalam pertempuran-pertempuran hebat itu di mana terjatuh banyak korban di kedua fihak, dia melihat pula serombongan orang yang dipimpin oleh orang asing menculik dan melarikan semua keluarga Jenderal Kao. Dia mengenal pemimpin rombongan itu sebagai orang Nepal kaki tangan Liong Bian Cu, Pangeran Nepal itu. Akan tetapi karena dia tidak mempunyai hubungan dengan semua itu, dia tidak mempedulikannya, dan dia hanya mempergunakan kepandaiannya untuk mencuri harta pusaka Jenderal Kao.

Hal ini dilakukannya karena memang sebagai murid seorang "raja maling"

Tentu saja dia tidak mau mendiamkan harta pusaka dijadikan perebutan tanpa bertindak apa-apa, dan selain itu juga dia bermaksud untuk mengangkat nama. Memang dalam perebutan di antara gerombolan-gerombolan itu berarti mengangkat nama gurunya dan namanya sendiri. Makin dikenang, makin berduka, kecewa dan penasaran rasa hati dara itu. Melihat Siluman Kecil yang telah menarik perhatiannya itu tidak mengejarnya langsung ke Po-hai, dia lalu berbalik membayangi pendekar aneh itu, berkali-kali menyamar dan berusaha menarik perhatiannya. Akan tetapi Siluman Kecil agaknya sama sekali tidak tertarik kepadanya, bahkan telah memukulnya dalam keributan itu sehingga dia terluka. Dan kemudian, bukan saja dia tidak menarik perhatian pendekar itu sama sekali, bahkan akhirnya "menarik"

Perhatian Siauw Hong yang mengetahui rahasianya!

Yang menggemaskan, mengapa kini wajah Siauw Hong selalu terbayang di depan matanya? Setiap kali dia mencoba membayangkan wajah Siluman Kecil yang amat dipujanya, wajah aneh tampan dengan rambutnya yang putih dan matanya yang tajam bersinar-sinar itu, selalu saja wajah pendekar sakti ini berubah menjadi wajah Siauw Hong! Dengan hati penasaran Ang-siocia lalu mengambil keputusan untuk pulang ke Po-hai saja karena dia pun sudah terlalu lama meninggalkan gurunya. Dia pulang membawa banyak hasil curiannya, antara lain harta pusaka Jenderal Kao Liang, pusaka-pusaka peninggalan Suling Emas, dan sekantung uang milik Siluman Kecil. Bukan barang-barang biasa, melainkan milik orang-orang ternama dan tentu suhunya akan merasa gembira dan kagum serta bangga akan hasil karyanya itu!

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Ang Tek Hoat sehingga tentu banyak yang bertanya-tanya apa jadinya dengan tokoh yang hidupnya diombang-ambingkan oleh keadaan yang selalu berubah-ubah itu. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Ang Tek Hoat yang patah hati dan dirundung kecewa, penasaran dan berduka itu seolah-olah menjadi tidak peduli lagi akan hidupnya, tidak peduli lagi apakah yang dia lakukan dalam hidup selanjutnya itu benar atau salah.

Dia dipaksa berpisah dari kekasihnya di Bhutan, kemudian kehancuran dan kepatahan hati ini ditambah lagi oleh pukulan amat hebat, yaitu kematian ibunya yang belum juga dapat dia ketahui siapa pembunuhnya. Rasa kecewa dan duka ini membuat dia mudah terseret ke dalam pergaulan yang tidak benar sehingga dia tidak ragu-ragu untuk membantu orang-orang dari golongan sesat, bahkan dia telah membantu Hek-eng-pangcu Yang-liu Nio-nio untuk menyerbu dan mencoba membasmi perkumpulan Kwi-Liong-pang yang menjadi musuh Hek-eng-pang. Dan dalam usaha inilah maka dia bertemu dan bekerja sama dengan guru ketua Hek-eng-pang ini, yaitu Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui, Siluman Kucing yang amat lihai namun jahat seperti iblis betina di balik wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang menggairahkan biarpun usianya sudah mendekati empat puluh tahun.

Tek Hoat tidak peduli lagi apa yang diperbuatnya itu, karena dia pun tidak mengenal Kwi-Liong-pang dan tidak mau tahu akan permusuhan antara dua perkumpulan itu. Kalau dia membantu Hek-eng-pang adalah karena dia mempunyai kepentingannya sendiri, yaitu hendak minta bantuan Hek-eng-pang yang terdiri dari perkumpulan wanita untuk merampas kembali Syanti Dewi yang dia dengar terjatuh ke tangan Liong-sim-pang di puncak Naga Api. Seperti telah kita ketahui, usahanya yang dibantu oleh Hek-eng-pang itu gagal sama sekali. Syanti Dewi lenyap entah ke mana diculik oleh orang lain dari tangan Hwa-i-kongcu, ketua Liong-simpang. Ketika dia hendak meninggalkan Hek-eng-pang, dia terbujuk oleh Mauw Siauw Mo-li untuk mengadakan perjalanan bersama mencari Syanti Dewi.

Karena Siluman Kucing itu mengatakan bahwa dia mungkin mengetahui jejak Syanti Dewi yang lenyap, terpaksa Tek Hoat mau melakukan perjalanan bersama wanita iblis yang cantik itu, tidak tahu bahwa wanita itu tentu saja bukan sekali-kali ingin membantunya mendapatkan kembali Syanti Dewi, melainkan karena merasa tertarik oleh ketampanannya, kemudaannya, dan kegagahannya! Memang Siluman Kucing itu tidak membohong ketika dia mengatakan bahwa dia melihat wanita yang bertanya-tanya tentang seorang dara cantik yang dibawa dengan paksa oleh seseorang. Wanita muda yang bertanya-tanya itu adalah Siang In. Maka dia pun mengajak Tek Hoat untuk mengikuti jejak Siang In. Namun, penyelidikannya tidak berhasil dan hanya karena kecerdikan dan kepandaian Mauw Siauw Mo-li dalam pembicaraan saja maka Tek Hoat masih percaya kepadanya dan melanjutkan perjalanannya bersama wanita cantik ini.

Akan tetapi, akhirnya dia mulai merasa curiga karena sampai berhari-hari mereka berdua melakukan perjalanan, belum juga mereka berdua berhasil menemukan jejak Syanti Dewi yang hilang. Yang jelas adalah sikap Mauw Siauw Mo-li yang selalu ingin menarik perhatiannya dan yang selalu membujuknya dengan sikap dan kata-katanya untuk bermain cinta! Pengalaman mereka dalam rumah makan melawan lima orang kasar itu pun jelas merupakan siasat Mauw Siauw Mo-li untuk menjebak Tek Hoat dalam umpan dan pancingannya agar pemuda itu bangkit berahinya dan mau melayani hasrat nafsunya untuk bermain cinta. Akan tetapi sekali ini, Mauw Siauw Mo-li kecewa. Dahulu, lima enam tahun yang lalu, dia pernah berhasil memikat dan menjatuhkan hati seorang pendekar muda putera majikan Pulau Es,

Yaitu Suma Kian Bu. Hal itu terjadi bukan hanya karena Mauw Siauw Mo-li ketika itu masih belum tua benar dan lebih cantik menarik, melainkan semata-mata karena Kian Bu merupakan seorang pemuda yang berwatak romantis dan masih hijau dan bodoh sehingga dia seperti seekor lebah, terpikat dan melekat dalam perangkap penuh madu. Akan tetapi Tek Hoat lain lagi. Dia memang masih muda, akan tetapi pemuda ini pernah terjerumus ke dalam dunia sesat, sudah banyak pengalaman dalam hal permainan cinta dan semenjak dia jatuh hati kepada Syanti Dewi, pemuda ini tahu benar bahwa semua permainan cinta itu hanyalah pemuasan nafsu belaka yang makin dituruti makin haus dan menghendaki lebih. Dia dapat membedakan antara cinta kasihnya yang murni dan bersih terhadap Syanti Dewi dan "cinta"

Yang bergelimang nafsu berahi dengan wanita-wanita lain,

Maka dia pun segera mengenal cinta kasih macam itu yang terkandung dalam hati Mauw Siauw Mo-li terhadap dirinya. Oleh karena itu, dia selalu menghindarkan diri dan setiap kali darah mudanya bergelora oleh rayuan yang lihai dari wanita matang itu, dia menggunakan kekerasan hatinya untuk menekan nafsu berahinya. Telah diceritakan betapa semenjak peristiwa di rumah makan itu, sikap Tek Hoat lebih hati-hati lagi dan dia mulai menaruh kecurigaan, akan tetapi karena dia sudah mendengar berita tentang Syanti Dewi, dia mempertahankan perasaannya dan bersama Lauw Hong Kui, yaitu si Siluman Kucing, berangkatlah dia menuju ke pantai Lautan Po-hai di timur. Setelah tiba di pantai lautan itu pada suatu pagi, mereka berdiri di pantai yang sunyi dan memandang ke teluk yang amat luas itu.

"Pantai Teluk Po-hai begini luas, ke mana kita harus mencari mereka?"

Kata Tek Hoat, nada suaranya penuh kegelisahan karena memang dia merasa gelisah sekali kalau memikirkan kekasihnya. Dia masih belum mengerti mengapa Syanti Dewi meninggalkan Bhutan dan terjatuh ke tangan ketua Liong-sim-pang dan mengapa pula sekarang diculik dan dilarikan orang. Gelisah dia memikirkan kekasihnya itu. Dia dapat menduga bahwa tentu kekasihnya itu melarikan diri dari Bhutan untuk mencarinya. Kalau teringat akan dugaan ini, hatinya menjadi terharu sekali dan cinta kasihnya terhadap Syanti Dewi makin mendalam, akan tetapi segera dia dihimpit oleh rasa gelisah yang hebat. Mauw Siauw Mo-li tersenyum dan menoleh kepadanya, menatap wajah yang tampan itu, lalu berkata,

"Engkau tidak percuma melakukan perjalanan mencari puteri itu bersama-ku, Tek Hoat."

Sudah lama dia memanggil pemuda itu dan bicara dengan sikap ramah dan akrab, seolah-olah mereka telah menjadi sahabat karib. Dan Tek Hoat pun tidak peduli akan sikap ini.

"Apa maksudmu? Tahukah engkau ke mana kita harus mencari?"

Lauw Hong Kui memperlebar senyumnya dan mengangguk, lalu membereskan anak rambut di dahinya yang kusut dan melambai-lambai tertiup angin laut. Memang cantik sekali dia dan pandai dia menonjolkan kecantikannya di saat yang tepat.

"Tentu saja aku tahu, atau setidaknya dapat menduga dengan tepat. Aku tidak asing di daerah ini, Tek Hoat. Kalau dugaanku tidak meleset, dan biasanya tidak, agaknya yang melakukan penculikan itu tentulah si Raja Maling!"

"Raja Maling?"

Tek Hoat bertanya, memandang wajah yang cantik dan terias baik-baik itu penuh perhatian.

"Lihat, angin begini besar membuat rambutku kusut. Rambutku awut-awutan, ya?"

Tanyanya sambil mengatur rambut dengan jari-jari tangannya yang kecil panjang. Terpaksa Tek Hoat memandang rambut itu dan memang indah sekali rambut yang panjang halus itu melambai-lambai tertiup angin.

"Katakan, siapa dia dan di mana tempatnya?"

Dia berkata setelah sejenak dia tertegun. Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui tersenyum manis sehingga deretan giginya yang putih dan kecil itu nampak berkilat.

"Engkau sungguh tidak menghargai kecantikan orang!"

Dia menartk napas panjang.

"Dia itu adalah Hek-sin Touw-ong, si Raja Maling Sakti Hitam, seorang kakek yang amat sakti dan yang bertapa di pantai Po-hai sebelah utara."

Tek Hoat mengerutkan alisnya. Dia tahu bahwa memang banyak terdapat manusia-manusia yang berilmu tinggi di dunia ini, maka biarpun dia sendiri belum pernah mendengar atau berjumpa dengan kakek raja maling itu, dia percaya bahwa tentu dia seorang yang amat lihai. Tidak sembarang orang akan dipuji kepandaiannya oleh Siluman Kucing ini, yang dia tahu juga lihai sekali.

"Bagaimana engkau dapat menyangka bahwa dia yang menculik Syanti Dewi?"

Dia mendesak, tidak mau percaya begitu saja. Siluman Kucing itu bertolak pinggang dengan lagak dan gaya memikat sekali. Pinggangnya makin nampak ramping ka-lau dia bertolak pinggang seperti itu, apalagi angin yang nakal membuat bajunya tersingkap-singkap terbuka.

"Tentu saja aku menduga demikian, pemuda yang tampan! Menurut jejak yang kita ikuti, puteri Bhutan itu dibawa lari seorang kakek dan larinya menuju ke pantai Po-hai, sampai di laut lenyaplah jejaknya dan tidak ada orang yang tahu biarpun kita sudah bertanya-tanya sampai mulut terasa lelah. Dan di pantai ini, hanya ada satu-satunya kakek yang berilmu tinggi, yaitu si Raja Maling. Siapa lagi kalau bukan dia yang melakukan penculikan itu? Melarikan seorang puteri dari dalam benteng Liong-sim-pang yang amat kuat itu bukanlah hal mudah, bahkan engkau yang dibantu oleh muridku dan anak buah Hek-eng-pang pun gagal. Akan tetapi kakek itu seorang diri saja mampu mencuri dan menculiknya. Siapa lagi kalau bukan perbuatan si Raja Maling?"

Tek Hoat mengangguk-angguk, harapannya timbul kembali.

"Kalau begitu, mari kita cepat mengejarnya ke sana, Mo-li!"

"Hi-hik, mengapa tergesa-gesa, Tek Hoat? Takkan lari gunung dikejar, perlu apa terburu-buru?"

Post a Comment