Halo!

Jodoh Rajawali Chapter 141

Memuat...

"Ahhhhh, betapa sedih hatiku melihat engkau terbelenggu kaki tanganmu seperti ini, Nona Hwee Li. Betapa perih hatiku yang mencintamu melihat bahwa hal ini terpaksa dilakukan karena engkau ternyata tega hendak membunuhku. Nyaris saja aku tewas oleh gigitan ular merahmu itu. Kalau tidak ada Hek-hwa Lo-kwi, tentu tercapai maksudmu dan aku sudah mati. Akan tetapi tentu engkau pun tidak akan terhindar dari maut."

Hwee Li tidak menjawab dan tidak menoleh. Masih terlalu ngeri hatinya mendengar percakapan tadi. Jantungnya berdebar keras. Mau apakah pangeran ini? Apakah benar-benar hendak melaksanakan usul-usul tadi? Hampir dia pingsan kembali membayangkan hal itu! Ingin dia menangis, ingin dia minta-minta ampun agar dibebaskan saking ngeri dan takutnya, akan tetapi wataknya yang keras dan gagah melarangnya berbuat seperti itu. Dia hendak memperlihatkan, terutama kepada ayahnya, bahwa sampai mati dia tidak takut menghadapi apapun! Akan tetapi, dia tidak boleh nekat begitu saja. Selama dia masih hidup, dia harus berusaha menggunakan kecerdikannya untuk meloloskan diri dari bahaya penghinaan hebat itu!

"Aku memang hendak membunuhmu. Maka sebaiknya kaubunuh saja aku sekarang!"

Akhirnya dia berkata sambil memutar otaknya mencari akal. Dia masih belum berani memandang, karena dia khawatir kalau sinar mata yang tajam itu akan dapat menjenguk isi hatinya. Pangeran itu menyentuh lengan tangan Hwee Li, dan membelai lengan yang berkulit halus itu. Hwee Li memejamkan matanya. Rabaan jari-jari tangan pada lengannya itu menimbulkan perasaan jijik dan geli, juga gelisah dan ngeri.

"Ahhh, bagaimana mungkin aku membunuhmu, sayang? Tidak tahukah bahwa aku cinta kepadamu, Nona?"

"Aku sudah berdosa hendak membunuhmu, dan aku kelak akan membunuhmu kalau kau tidak membunuhku sekarang!"

Hwee Li memancing.

"Tidak.... tidak....! Engkau masih muda, engkau belum tahu betapa aku amat mencintaimu. Kalau kau tahu, engkau akan menyesal, Hwee Li. Perbuatanmu itu amat kejam, sedangkan aku.... ah, tanpa engkau sebagai isteriku, hidup rasanya akan menjadi hampa...."

"Hemmm, bagus, ya? Siapa sudi percaya obrolanmu tentang cinta? Kalau engkau benar mencintaku, mengapa engkau membiarkan aku dibelenggu seperti ini? Beginikah perlakuan orang yang mencinta?"

Hwee Li kini memandang dan menjebikan bibirnya yang merah. Pangeran itu mengerutkan alisnya dan matanya menjadi sayu, berduka. Kini dia melepaskan lengan Hwee Li dan kini jari-jari tangannya meraba kaki dara itu, mengelus betis yang nampak karena pipa celana kanannya tertarik ke atas. Betis yang berkulit putih mulus kemerahan itu, yang kulitnya kelihatan demikian tipis dan halusnya sehingga urat-uratnya membayang, dirabanya dengan penuh kemesraan dan kegairahan. Kini Hwee Li menggigil. Seluruh bulu di tubuhnya bangkit berdiri, meremang saking ngerinya. Ingin dia menjerit, ingin dia memaki agar pangeran itu jangan mengusap dan membelai betis kakinya. Akan tetapi semua perasaan ini ditahannya.

"Sudah kukatakan tadi, sayang. Hatiku berduka, jantungku berdarah melihat kakimu yang indah dan tanganmu yang halus itu dirantai seperti ini. Akan tetapi, mengapa engkau memperlihatkan kekerasan dan tidak sudi menerima cintaku? Tentu saja, kalau engkau mau menerima dan membalas cintaku engkau tidak akan dibelenggu, bahkan engkau akan menjadi orang paling terhormat dan paling mulia di sini, di seluruh Nepal, dan di seluruh dunia! Engkau akan menjadi permaisuri, menjadi ratu, disembah-sembah! Mengapa engkau tidak mau menjadi kekasihku, sayang? Aku Liong Bian Cu dapat menciptakan sorga untukmu, engkau dapat bergelimang dalam kemewahan, kemuliaan dan kehormatan."

"Hemmm, janjimu terlalu muluk, Pangeran. Bagaimana kalau aku berjanji untuk tidak melawan dan untuk.... hemm, belajar mempertimbangkan cintamu dan mungkin kelak dapat menerima dan membalas cintamu?"

Kata Hwee Li hati-hati.

"Apakah dengan janjiku itu engkau mau membebaskan aku sekarang juga?"

"Tentu saja! Tentu saja akan kubebaskan sekarang juga!"

Kata pangeran itu penuh gairah kegembiraan. Dapat dibayangkan betapa tegang dan gembira hati Hwee Li mendengar ini dan dia meraba betapa tangan pangeran itu telah meraba-raba belenggu kedua kakinya. Akan tetapi, timbul kekecewaannya karena jari-jari tangan pangeran itu kembali meninggalkan belenggu dan terdengar pangeran itu berkata,

"Nona, aku sungguh mencinta dan kasihan kepadamu. Akan tetapi, bagaimana aku dapat mempercaya janjimu. Betapa aku ingin kita dapat saling percaya dan saling mencinta, akan tetapi apa yang baru saja kaulakukan terhadapku sungguh membuat hatiku meragu. Dan engkau belum berjanji."

Dengan jantung berdebar Hwee Li berkata,

"Aku berjanji, Pangeran! Aku berjanji bahwa aku akan mempertimbangkan cintamu dan aku akan belajar membalas cintamu!"

Mulut pangeran itu tersenyum lebar, matanya yang cekung bersinar-sinar, akan tetapi dia belum bergerak membuka belenggu kaki dan tangan Hwee Li.

"Kau berani bersumpah?"

Tanyanya perlahan.

"Aku bersumpah!"

Jawab Hwee Li sedangkan di dalam hatinya dia mengejek. Apa artinya sumpah baginya? Apalagi bersumpah di depan orang Nepal yang dibencinya ini!

"Ahhh, sumpah dan janji harus disertai bukti, Nona Manis."

"Bukti? Bukti bagaimana maksudmu?"

Hwee Li bertanya, penasaran dan kecewa.

"Kalau benar engkau mempunyai maksud hati yang baik dan tidak hendak berlaku curang kepadaku, kalau benar engkau jujur dalam janjimu, engkau tentu mau memperlihatkan kebaikanmu itu untuk menciumku."

Pangeran itu tersenyum dan memandang tajam. Hwee Li merasa betapa wajahnya panas sekali. Dia tidak tahu betapa kedua pipinya menjadi merah seperti udang direbus mendengar permintaan pangeran itu. Ingin dia menjerit, memaki dengan segala macam makian kotor yang pernah didengarnya. Akan tetapi dara yang cerdik ini menekan perasaannya dan dia lalu berkata,

"Aku mau...."

Sepasang mata yang cekung itu berkilat.

"Benarkah? Aihhh, Nona Hwee Li, kekasihku...., benarkah engkau mau menciumku? Ah, betapa bahagia hatiku dan kalau benar, aku akan mempercayaimu sepenuh hatiku. Nah, kau ciumlah aku, sayang."

Pangeran itu lalu berlutut di dekat pembaringan dan mendekatkan mukanya pada muka dara itu. Ketika muka itu mendekati mukanya, Hwee Li merasa ngeri bukan main. Tercium bau wangi yang aneh, agaknya pangeran itu memakai minyak wangi yang asing, bercampur bau badan pria yang mungkin keluar dari keringat, seperti bau binatang liar, dan napas pangeran itu menyapu pipinya, panas dan tersendat-sendat. Hwee Li memejamkan matanya dan dengan cepat menggerakkan mukanya sehingga hidungnya menyapu pipi pangeran itu.

"Ngokkk!"

Pertemuan antara ujung hidung dan sebagian bibirnya dengan pipi yang panas kasar itu membuat Hwee Li mengkirik dan bulu tengkuknya meremang.

"Terima kasih.... ha-ha, ciumanmu seperti ciuman seorang anak kecil. Nona, karena kita kelak akan menjadi suami isteri, maka tiada buruknya kalau kita saling mencium. Dan mengingat betapa Nona adalah seorang dara yang masih murni dari hijau, biarlah saya memberi contoh bagaimana kalau mencium kekasih."

Setelah berkata demikian, tiba-tiba pangeran itu merangkul Hwee Li dan sebelum gadis itu dapat membuang muka, tahu-tahu bibirnya telah dicium oleh pangeran itu.

Ketika merasa betapa sepasang bibirnya tertawan daham ciuman mulut yang panas itu, hampir saja Hwee Li menjadi pingsan. Dia menggerak-gerakkan kepalanya agar bibirnya terlepas dari ciuman, akan tetapi mulut pangeran itu menempel pada mulutnya seperti seekor lintah yang tidak mau lepas lagi. Setelah napas mereka terengah-engah, barulah pangeran itu melepaskannya. Wajah Hwee Li menjadi pucat, matanya terbelalak penuh kemarahan dan dua titik air mata meloncat ke luar dari sepasang matanya. Akan tetapi wajah pangeran itu menjadi kemerahan, napasnya tersendat-sendat, tanda bahwa nafsu berahi telah naik ke kepala pangeran itu. Dia memandangi wajah dan tubuh Hwee Li dengan mata merah.

"Benar hemm, .... benar usul mereka...."

Katanya lirih dan kini tangannya meraba baju Hwee Li. Dara itu memandang dengan mata terbelalak. Dia tadi telah mendengar usul-usul yang dikeluarkan oleh suara ayahnya sendiri dan suara Hek-hwa Lo-kwi, maka tahulah dia apa yang akan dliakukan oleh pangeran itu.

"Jangan...."

Bisiknya dengan muka makin pucat.

"Lepaskan aku....!"

Dia meronta, akan tetapi karena kaki dan tangannya terikat, dia hanya dapat menggerak-gerakkan pinggang dan lehernya saja.

"Brettttt....!"

Sekali renggut saja robeklah baju Hwee Li sehingga tubuhnya bagian atas hanya tertutup pakaian dalam yang tipis.

"Jangan....! Aku akan bunuh diri kalau kau lanjutkan.... aku akan menggigit putus lidahku....!"

Pangeran yang sedang dikuasai nafsu berahi itu terkejut, secepat kilat tangannya bergerak ke arah leher Hwee Li, menotok ke bawah telinga dan seketika gadis itu tidak mampu lagi menggerakkan dagunya, apalagi untuk menggigit!

"Hwee Li, aku terlalu cinta padamu, aku ingin engkau dapat membalas cintaku, maka aku juga tidak segan mempergunakan segala cara...."

Katanya terengah-engah dan kembali dia sudah menubruk gadis itu penuh nafsu berahi yang berkobar-kobar. Hwee Li merasa takut sekali. Dia teringat akan jalan satu-satunya untuk membunuh diri. Maka dia melupakan segalanya, menutup ingatannya dan menahan napasnya. Pangeran itu sudah meraba pakaian dalamnya ketika melihat wajah Hwee Li. Dia terkejut sekali.

"Ahhhhh...."

Dan cepat dia turun dari atas tubuh Hwee Li yang sudah ditindihnya, kini dia mengguncang-guncangkan pundak dara itu dengan muka pucat.

"Hwee LI....! Hwee Li.... jangan.... jangan....aihhh, Hwee Li, aku tidak akan memaksamu.... jangan begitu nekat....!"

Dia menggunakan tangannya untuk mengurut leher dan ulu hati gadis itu, dalam keadaan panik dan khawatir itu dia tidak lagi merasakan betapa tangannya tanpa disengaja menyentuh dua buah bukit dada yang sedang mekar itu. Lenyap sama sekali nafsu berahinya karena sama sekali dia tidak ingat lagi akan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Kini pikirannya penuh dengan kekhawatiran melihat betapa wajah dara itu kebiruan dan napasnya sama sekali terhenti, dadanya mekar penuh dengan hawa yang ditahan-tahan dan tidak dikeluarkan.

"Hwee Li....!"

Dia mengeluh dengan suara seperti orang menangis. Akhirnya, karena dipaksa oleh pijatan dan urutan tangan Liong Bian Cu, Hwee Li bernapas lagi, terengah-engah dan terbatuk-batuk. Dia sadar kembali, membuka matanya dan melihat bahwa tubuhnya masih tertutup pakaian dalam, tahulah dia bahwa dia belum ternoda. Dia melihat pangeran itu berlutut dan ada air mata di kedua pipi pemuda itu!

"Hwee Li.... ah, Hwee Li, apa yang akan kulakukan tadi? Kau ampunkan aku, Hwee Li, percayalah, semua yang kulakukan kepadamu terdorong oleh rasa cintaku yang besar...."

Liong Bian Cu meratap.

"Hemmm, kau tahu sekarang bahwa setiap saat aku dapat membunuh diri dan kau sama sekali tidak akan mampu mencegahku? Aku sudah berjanji, dan kau ternyata hendak melanggar, padahal kau pun berjanji akan membebaskan aku."

"Akan kubebaskan.... sekarang juga, akan tetapi kau pun harus berjanji tidak akan membunuh diri...."

Hwee Li tersenyum.

"Aku tidak akan begitu bodoh untuk membunuh diri, Pangeran. Akan tetapi, kau tidak boleh menyentuhku, tidak boleh menciumku seperti tadi, apalagi menggunakan kekerasan untuk memperkosa. Kalau kau melakukan satu kali saja, aku akan mencoba untuk membunuhmu, dan kalau aku gagal, aku akan membunuh diri sendiri. Kau boleh memiliki tubuhku sebagai mayat!"

Post a Comment