Halo!

Jodoh Rajawali Chapter 134

Memuat...

"Teecu menghaturkan banyak terima kasih atas segala budi kebaikan yang Suhu limpahkan kepada teecu."

Sai-cu Kai-ong tersenyum dan mengangkat bangun muridnya.

"Berlatihlah baik-baik, muridku, agar kelak aku boleh berbangga hati bahwa engkau pernah menjadi muridku."

Siauw Hong lalu memberi hormat kepada semua orang dan pergilah orang muda keturunan Suling Emas ini mengikuti Sin-siauw Seng-jin, bersama rombongan murid-muridnya yang mengikuti dari belakang. Setelah Suling Sakti dan para muridnya itu pergi, Ceng Ceng lalu menceritakan pertemuannya dengan Syanti Dewi kepada Kian Lee, didengarkan pula oleh Jenderal Kao dan dua orang puteranya, dan juga oleh Sai-cu Kai-ong.

"Sungguh kasihan sekali Enci Syanti,"

Kata Ceng Ceng.

"Entah bagaimana nasibnya demikian terlunta-lunta selalu, setelah dia baik-baik kembali ke istana orang tuanya di Bhutan, tahu-tahu kini dia berada di sini pula, dan bahkan dia telah diculik seorang yang belum kuketahui siapa."

Dia menceritakan pertempurannya melawan See-thian Hoat-su di dalam gelap, pertempuran yang terjadi karena salah pengertian dan selagi mereka bertempur, Syanti Dewi lenyap dibawa orang. Kian Bu mendengarkan dan dia terkejut bukan main. seakan-akan tersentuh kembali bekas luka di hatinya mendengar itu.

Mengapa Syanti Dewi berada di daerah ini? Dan siapa yang menculiknya? Bagaimana dengan Ang Tek Hoat? Teringatlah Kian Bu akan ibu kandung Tek Hoat yang terbunuh oleh perwira Bhutan. Apakah ada hubungannya dengan kepergian Syanti Dewi meninggalkan Kerajaan Bhutan? Kian Bu lalu menghampiri sebuah meja, membuat coretan-coretan dengan alat tulis di atas kertas, meninggalkan kertas tulisannya itu di atas meja, kemudian dia menyelinap pergi dengan diam-diam. Setelah bercakap-cakap dan menceritakan pengalaman masing-masing, mereka lalu mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan tempat itu di hari itu juga. Kian Lee yang melihat bahwa sin-siauw Seng-jin tidak ada lagi di situ akan tetapi adiknya belum juga muncul, segera mencarinya. Akan tetapi, ternyata Kian Bu tidak ada lagi di ruangan itu dan dia hanya menemukan sehelai suratnya. :

Lee-ko,

Banyak sekali tugas menanti kita. Karena banyaknya, sebaiknya kalau kita berpisah dan masing-masing melaksanakan satu tugas. Aku lebih dulu akan pergi menyelidiki dan mencari Syanti Dewi.

Adikmu,

KIAN BU

Kian Lee menyimpan surat itu di dalam saku bajunya dan menarlk napas panjang. Dia merasa kasihan sekali kepada adiknya itu dan maklumlah dia bahwa diam-diam Kian Bu masih belum dapat melupakan Syanti Dewi. Karena itu, tidaklah mengherankan apabila Kian Bu yang agaknya tadi mendengar penuturan Ceng Ceng, lalu diam-diam cepat pergi untuk mencari dan menolong puteri itu! Mereka semua lalu pergi.

Ceng Ceng pergi bersama ayah mertuanya dan dua orang adik iparnya, meninggalkan tempat itu untuk pergi ke kota Pao-ting di mana dia sudah berjanji akan bertemu dengan suaminya yang mencari-cari jejak anak mereka dari lain jurusan. Kian Lee juga pergi dan karena dia tidak tahu ke mana perginya Kian Bu, maka dia teringat akan wanita yang mencuri pusaka-pusaka dari Sin-siauw Seng-jin, yang agaknya tentu pusaka-pusaka palsu pula mengingat akan penuturan Sin-siaw Seng-jin sendiri betapa nenek moyangnya banyak memalsukan pusaka-pusaka itu untuk mencegah yang aseli dicuri orang. Bukankah Kian Bu telah berjanji akan mendatangi tempat gadis pencuri itu di pantai Po-hai? Sebaiknya kalau dia mewakili adiknya mencari gadis pencuri itu di pantai Po-hai, di teluk sebelah utara.

Siapa tahu, kalau-kalau Kian Bu juga pergi ke sana. Tadinya dia ingin mernbantu Jenderal Kao, akan tetapi setelah ada Ceng Ceng dan suaminya, yang dia tahu amat sakti, tidak perlu lagi dia membantu dan kalau dia tidak berhasil bertemu dengan adiknya, dia akan terus mencari atau akan kembali ke Pulau Es melapor kepada ayahnya. Sai-cu Kai-ong juga pergi meninggalkan tempat tinggalnya untuk mulai mencari cucunya yang hilang pula. Biarpun Ceng Ceng dan Kian Lee sudah berjanji untuk membantu mencari cucunya, dia tidak puas kalau dia sendiri tidak ikut mencari. Dia tahu betapa sukarnya mencari seseorang tanpa mengetahui di mana adanya cucunya itu, yang sama sekali tidak meninggalkan jejak dan hilangnya sudah lima belas tahun yang lalu!

"Ayah, ke manakah kita pergi? Apakah akan kembali ke Pulau Neraka?"

Tanya Hwee Li kepada ayahnya ketika mereka dibawa terbang di atas punggung garudanya.

"Tidak, Hwee Li. Pulau Neraka terlalu jauh dan aku sudah tidak suka tinggal di tempat buruk itu. Aku malah tidak mau kembali lagi ke sana."

"Kalau begitu, kita pergi ke mana?"

"Ke tempatku yang baru."

"Di mana itu, Ayah?"

"Ha-ha, kau sudah pernah mengunjunginya. Di lembah Huang-ho."

"Lembah Huang-ho?"

Dara itu mengerut-kan alisnya, mengingat-ingat.

"Maksudmu di sarang Huang-ho Kui-liong-pang?"

"Ha-ha-ha, engkau memang anakku yang amat cerdik. Benar di sana. Tempat indah itu menjadi tempat tinggal kita yang baru."

"Eh, bukankah di sana tinggal ketua Kui-liong-pang, musuh besar Ayah sendiri, yaitu Hek-hwa Lo-kwi?"

"Hemmm, dalam hal ini engkau masih bodoh dan tidak mengerti, anakku. Ada waktunya menjadi musuh, ada pula waktunya menjadi sahabat, semua disesuaikan dengan waktu dan keadaan. Ha-ha-ha!"

Hwee Li paling tidak suka melihat ayahnya tertawa. Kalau ayahnya bersikap biasa, maka ayahnya kelihatan sebagai seorang raksasa yang berwibawa. Akan tetapi kalau sudah tertawa dan kelihatan gigi yang bertaring itu, dia merasa jijik dan malu. Kalau tertawa, ayahnya amat menyeram-kan seperti iblis saja, atau seperti seekor binatang buas!

"Kenapa Ayah tinggal di tempat orang lain!" "Hek-hwa Lo-kwi bukan orang lain, anakku. Dia seorang sekutu!"

"Hemmm, agaknya Ayah sudah main-main lagi dengan persekutuan. Apakah Ayah tidak jera setelah mengalami kegagalan ketika Ayah membantu pemberontak she Liong dahulu itu? Hampir saja Ayah celaka dan kehilangan banyak anak buah."

"Hemmmm, sekali ini lain lagi persoalannya, anakku. Bukan pemberontak biasa yang kubantu, melainkan seorang pangeran tulen, dari kerajaan besar Nepal."

"Ahhh.... Ayah maksudkan orang she Liong itu? Peranakan Nepal putera mendiang Pangeran Liong Khi Ong itu?"

"Benar, murid dari Ban Hwa Seng-jin, Koksu Nepal yang sakti. Dia seorang muda yang amat pandai, seorang calon kaisar yang amat hebat, heh-heh-heh!"

"Dan aku amat benci padanya!"

Tiba-tiba Hwee Li berkata.

"Ehhh, mengapa, anakku?"

"Kulitnya hitam coklat...."

"Menambah manis dan jantan!"

"Hidungnya meleng-kung...."

"Tanda dia bernafsu besar dan kuat, heh-heh!"

"Matanya cekung...."

"Itu menunjukkan bahwa dia memiliki kecerdikan...."

Post a Comment