Halo!

Suling Naga Chapter 119

Memuat...

"Sudah belasan tahun aku sendiri tidak pernah mencampuri urusan pemerintah dan dunia kang-ouw sehingga aku sendiri tidak dapat banyak memberi nasihat. Tadinya kami sama sekali tidak menaruh minat dan tidak ingin terlibat karena semua kemelut itu terjadi akibat para pembesar yang saling memperebutkan kekuasaan. Akan tetapi setelah mendengar bahwa Suma Lian diculik orang, juga pusaka ibuku yang dipinjamkan kepada gadis bernama Can Bi Lan itu dirampas orang pula, dan orang itu agaknya menuju ke kota raja, maka kami tidak akan tinggal diam saja. Setelah melihat sendiri keadaan di kota raja, barulah aku akan dapat menentukan apa yang sebaiknya harus dilakukan."

"Ayah, aku ikut ke kota raja. Aku harus mem-bantu agar adik Lian dapat segera diselamatkan dan kita hajar penculiknya!"

Kata Hong Li dengan gemas. Hong Beng memandang gadis cilik itu dan merasa kagum. Gadis cilik ini biarpun galak, akan tetapi penuh semangat dan keberanian, jiwa seorang pendekar sejati.

"Hong Li, ayah ibumu bukan ingin pergi ke kota raja untuk pelesir. Engkau harus tahu bahwa kita berhadapan dengan orang pandai sekali. Lihat, ini suhengmu yang demikian pandaipun tidak mampu menandingi penculik itu! Engkau harus menjaga rumah dan kami akan pergi melakukan penyelidikan. Kami harus dapat menolong adikmu Suma Lian,"

Kata Suma Hui kepada anaknya. Setelah bercakap-cakap menceritakan pula keadaan gurunya, Hong Beng lalu berpamit untuk melanjutkan penyelidikannya di kota raja. Suami isteri itu tidak menahannya dan berjanji akan segera berangkat juga ke sana.

"Mudah-mudahan kita dapat saling bertemu dan bergabung di sana,"

Kata Kao Cin Liong. Setelah pemuda itu pergi dan bicara berdua saja, Kao Cin Liong dan Suma Hui memuji pemuda murid Suma Ciang Bun itu.

"Dia masih muda sekali, kepandaiannya sudah cu-kup tinggi dan melihat sikapnya, apa lagi ketika melayani kerewelan Hong Li, dia itu orangnya sabar dan bijaksana. Sungguh seorang pemuda yang baik sekali,"

Kata Kao Cin Liong. Isterinya mengangguk dan meman-dang wajah suaminya, seperti ingin menjenguk isi hatinya.

"Kau pikir cukup baik untuk anak kita?"

Kao Cin Liong mengangguk-angguk.

"Kalau saja anak kita yang hanya satu-satunya itu kelak bisa berjodoh dengan seorang pemuda seperti Gu Hong Beng itu, aku akan merasa bersyukur sekali. Akan tetapi, tentu saja semua itu terserah kepada Hong Li sendiri."

"Benar,"

Kata isterinya.

"Memang pemuda itu baik, akan tetapi itu menurut pandangan dan penda-pat kami. Dalam hal perjodohan, pandangan dan pendapat anak yang bersangkutanlah yang penting, bukan pandangan orang tua."

Cin Liong mengangguk.

"Engkau benar, isteriku. Tidak ada contoh yang lebih baik dari pada perjodohan antara kita sendiri. Anak kita yang harus menentukan kelak, siapa yang akan menjadi suaminya, betapapun condongnya hati kita untuk bermenantukan seorang pemuda seperti Hong Beng itu."

"Benar, dan pula, biarpun Ciang Bun itu adik kandungku sendiri, kita sudah tahu akan kelainan pada dirinya. Hal ini yang menimbulkan keraguan. Siapa tahu Hong Beng yang menjadi muridnya itupun memiliki kelainan yang sama. Ah, sudahlah. Biar kelak Hong Li memilih sendiri dan kita sebagai orang tua hanya ikut mengamati saja agar pilihannya tidak keliru."

Pendapat seperti yang diucapkan oleh Suma Hui inilah yang seringkali menjadi pokok dasar pertentangan antara orang tua dan anaknya dalam pemilihan jodoh.

Orang tua bilang tidak akan memilihkan, dan membiarkan si anak memilih dan menentukan sendiri jodohnya, dengan embel-embel agar anaknya tidak KELIRU memilih! Ini sama saja dengan keharusan menurut pilihan orang tua! Tentu saja kalau orang tua tidak suka dengan calon suami pilihan anaknya, dengan mudah mereka melontarkan kata-kata KELIRU memilih itulah! Kalau orang merasa tidak suka, mudah saja mencari cacat cela orang yang tidak disukainya itu, sebaliknya kalau orang merasa suka, juga mudah pula mencari segi-segi kebaikannya untuk ditonjolkan. Memang kalau sudah ada penilaian, tidak ada orang yang hanya baik saja tanpa cacat, juga tidak ada orang yang sama sekali busuk tanpa kebaikan sedikitpun. Kalau si anak memilih orang yang disuka, maka dikatakan bahwa pilihannya itu sudah benar,

Akan tetapi kalau sebaliknya yang dipilih itu tidak disukai, tentu dikatakan bahwa pilihannya keliru dan terjadilah pertentangan. Ini bukan berarti bahwa orang tua harus membebaskan anaknya sebegitu rupa sehingga si anak boleh melakukan apa saja sesuka hatinya! Bebas bukan berarti "semau gua". Bebas dalam arti kata tidak tertekan oleh kekuasaan orang lain, akan tetapi di dalam kebebasan itu terdapat disiplin diri yang tidak terlepas dari pada tata cara pergaulan dalam masyarakat. Karena itu, orang tua yang bijaksana, di samping memberi kebebasan yang seluasnya kepada si anak, juga sepenuh perhatian memberi bimbingan dan pendidikan kepada si anak, sehingga si anak tumbuh menjadi manusia yang cerdas, berakal budi, dan bukan hanya menjadi seorang hamba nafsu belaka.

Perjodohan baru benar kalau berdasarkan cinta kasih, dan cinta adalah urusan batin yang bersangkutan, yang hanya dapat dirasakan dan diketahui oleh orang yang bersangkutan saja. Pilihan orang tua tak mungkin berdasarkan cinta kasih ini karena mereka tidak ikut merasakan. Pilihan orang tua tentu hanya berdasarkan keadaan si calon yang dipilih, wajah dan watak yang baik, dari keturunan keluarga yang baik, kedudukan yang baik dan sebagainya, yang kesemuanya diukur dari keadaan umum atau dari selera mereka sendiri. Sebaliknya, pilihan orang yang bersangkutan biasanya berdasarkan cinta. Sayang bahwa kebanyakan cinta di antara mereka ini sebenarnya hanyalah nafsu belaka, tertarik karena wajah elok, kepandaian, kedudukan dan sebagainya sehingga kelak mereka akan menemui kegagalan.

Ketika Sim Houw dan Bi Lan memasuki pintu gerbang kota raja, nampaknya semua berjalan biasa saja dan keadaan di kota raja juga tetap ramai dan tenang. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya mereka sudah diintai dan dibayangi sejak mereka tiba di pintu gerbang! Bhok Gun dan Bi-kwi, dua orang yang kini bertugas memimpin pasukan berpakaian preman yang melakukan pembersihan sampai di mana-mana, bagaikan dua orang yang hendak menjala ikan, melihat dari jauh betapa Sim Houw dan Bi Lan memasuki kota raja seperti ikan-ikan kakap memasuki jaring yang mereka pasang! Mereka tidak mau turun tangan ketika melihat dua orang muda ini, khawatir kalau sampai dua orang itu dapat meloloskan diri. Maka, mereka hanya menyuruh anak buah membayangi dari jauh segala gerak-gerik dua orang itu,

Sedangkan mereka sendiri membuat laporan kepada Kim Hwa Nio-nio dan membuat persiapan. Kim Hwa Nio-nio menjadi girang sekali mendengar bahwa orang yang kini menguasai Liong-siauw-kiam telah datang ke kota raja. Ia harus merampas kembali pu-saka yang dulu menjadi milik gurunya itu. Ialah yang berhak memiliki pusaka itu, bukan orang lain. Sim Houw dan Bi Lan melihat bahwa keadaan di kota raja nampak tenang saja, masih ramai dan biarpun hari telah senja, masih banyak toko yang buka dan banyak pula orang yang berlalu lalang memenuhi jalan-jalan raya. Demikian banyaknya orang di kota raja sehingga diam-diam Bi Lan yang selamanya baru sekali itu berkunjung ke kota besar yang ramai itu, menjadi bingung ke mana ia harus mencari Sai-cu Lama yang merampas Ban-tok-kiam itu.

"Wah, ke mana kita harus mencari dia di tempat sebesar dan seramai ini?"

Katanya lirih ketika mereka berjalan-jalan di sepanjang toko-toko itu.

"Hari telah hampir malam. Kita perlu beristirahat dulu. Besok kita melakukan penyelidikan, ke kuil-kuil karena barang kali ada hwesio yang mengenal pendeta Lama itu. Atau ke pasar-pasar, ke tempat-tempat umum. Mari kita mencari rumah penginapan."

Bi Lan yang belum berpengalaman dalam hal ini, hanya menurut saja dan mengikuti kawannya. Mereka memasuki sebuah rumah penginapan dan Sim Houw minta disediakan dua buah kamar. Setelah mereka diantar ke kamar masing-masing, Bi Lan segera menyatakan keheranannya.

"Sim-toako, selama dalam perjalanan kita bersama, kita bermalam di dalam kuil-kuil tua, di dalam hutan bawah pohon-pohon, selalu kita berada dalam satu ruangan, tidur dalam satu ruangan. Akan tetapi sekarang, di tempat ini, kenapa mendadak engkau minta disediakan dua kamar dan kita tidur terpisah? Mengapa?"

Sim Houw tersenyum, terharu melihat kepolosan hati gadis ini. Dia tahu bahwa sejak kecil Bi Lan hidup seperti liar, jauh dari masyarakat umum, jauh dari apa yang oleh masyarakat disebut sebagai kesopanan atau tata-susila. Karena itu maka Bi Lan dapat mengajukan pertanyaan dan demikian terbuka dan polos.

"Lan-moi, agaknya masih banyak yang tidak kau ketahui tentang kehidupan bermasyarakat, kehidupan yang sudah penuh dengan peraturan-peraturan umum, dengan kesopanan dan tata-susila, dengan kebudayaan dan peradaban. Ada garis pemisah antara pria dan wanita di semua bidang, terutama kamar tidur. Hanya suami isteri saja yang tidur di satu ruangan, Lan-moi. Di dalam kehidupan ramai ini, segalanya ada aturannya. Berpakaianpun harus diatur, bahkan cara makan, cara kita bicara, apa lagi bagi wanita, ditentukan oleh peraturan-peraturan. Contohnya, kalau makan kita tidak boleh nongkrong seenaknya, harus duduk dengan sopan dan bahkan ketika kita mengunyah makananpun ada aturannya. Tidak boleh tergesa-gesa memperlihatkan kelahapan, dan tidak boleh sampai mengeluarkan bunyi, sedikit demi sedikit, terutama wanita. Tertawapun bagi wanita ada aturannya, mulut harus ditutup tangan, dan sedapat mungkin jangan sampai terdengar gelak tawa."

"Hayaaa.... repot benar kalau begitu!"

"Memang merepotkan sekali. Akan tetapi umum sudah menentukan demikian dan siapa melanggar ketentuan umum ini dianggap tidak sopan, tidak tahu aturan, bahkan bisa saja dianggap gila!"

"Wah, merekalah yang gila kalau begitu".

"Memang. Akan tetapi betapa gilapun, kalau umum, menjadi baik, Lan-moi. Kehidupan di masyarakat ramai memang sudah menjadi tidak wajar lagi, penuh dengan kepalsuan. Dan kita, kalau sudah hidup di dalam masyarakat ramai, mau tidak mau harus ikut-ikutan karena kalau tidak kita dicap sebagai orang yang tidak tahu aturan, tidak sopan, atau bahkan gila!"

Post a Comment