"Tidak bisa juga, kek. Lihat ini, dan Suma Lian memperlihatkan cadangan pakaian untuk kakek itu dan untuknya sendiri. Ternyata semuanya telah ditambal-tambal oleh Suma Lian, dilakukan ketika kakek tadi mandi dengan lamanya.
"Wah, wah....! Kau setan cilik...."
"Eh, kenapa kakek marah-marah dan memaki orang? Kata nenek, kebiasaan memaki itu tidak baik, kelak di neraka lidah akan dicabut keluar oleh malaikat...."
"Hushh! Sembarangan saja kau bicara. Apakah nenekmu Teng Siang In itu juga tidak pernah mengajarkan kepadamu bahwa mencuri adalah perbuatan yang amat tidak baik? Keturunan para pendekar Pulau Es bukan pencuri!"
"Aku selalu dilarang mencuri oleh ayah ibu dan nenekku, kek. Akan tetapi, apa yang kulakukan tadi adalah karena terpaksa. Dan yang kuambil pakaian dan makanannya adalah keluarga yang kaya raya, yang agaknya tidak akan merasa kehilangan apa-apa. Bukankah makanan tadi kuambil karena kita berdua kelaparan dan pakaian ini kuambil karena kita berdua amat membutuhkan? Kek, kalau kita mencuri yang mengakibatkan orang yang kecurian itu menderita, dan barang yang kita curi itu untuk kita pakai berfoya-foya, itu barulah tidak benar dan...."
"Cukup! Sekali mencuri tetap mencuri! Maling tetap maling, biar yang dimaling itu batu koral maupun batu permata! Mengambil barang orang lain yang bukan menjadi haknya adalah perbuatan jahat. Kita adalah keluarga pendekar, bukan keluarga maling dan pendekar berkewajiban untuk menentang para penjahat, termasuk pencuri. Mulai saat sekarang kau tidak boleh mencuri lagi. Kita belajar ilmu bukan untuk menjadi pencuri. Berjanjilah, kalau tidak, terpaksa aku akan membawamu pulang ke Hong-can dan...."
Kakek itu berhenti marah-marah ketika melihat betapa ada dua tetes air mata jatuh dari se-pasang mata yang memandangnya dengan penuh sesal itu. Dia menarik napas panjang.
"Sudahlah, aku sudah melihat bahwa kau benar menyesal dan bertobat. Lebih baik minta-minta untuk menolong diri sendiri kalau memang kita sudah tidak mampu bekerja lagi, dan lebih baik mati kelaparan dari pada menjadi penjahat! Mengertikah engkau, cucuku?"
Suma Lian mengangguk.
"Aku mengerti, kakekku yang baik."
Bu-beng Lo-kai tersenyum dan anak itupun tersenyum lagi dan cuaca menjadi cerah.
"Nah, mari sekarang kita pergi menghadap orang yang kau curi miliknya itu."
Suma Lian membelalak-kan matanya.
"Wahh....! Mana aku berani....?"
"Seorang pendekar harus berani bertanggung jawab. Akupun telah makan barang curian, dan memakai barang curian, akupun harus bertanggung jawab. Mari, bawa aku ke rumah di mana engkau melakukan pencurian itu."
Dengan muka sebentar merah sebentar pucat, Suma Lian terpaksa membawa kakek itu ke rumah besar di mana tadi ia melakukan pencurian.
Ia memang seorang anak yang lincah dan karena sejak kecil sudah digembleng oleh ayah ibunya dan neneknya, maka ia memiliki kelincahan dan tidak sukar baginya untuk meloncat naik ke atas tembok rumah itu, kemudian dengan kecepatannya ia menyusup ke dalam kamar-kamar dan dapur, mencuri makanan dan pakaian tanpa diketahui oleh seorangpun di antara para penghuni rumah itu. Rumah itu besar, terlalu besar untuk ukuran dusun. Suma Lian benar. Memang rumah itu milik orang kaya raya yang takkan merasa kehilangan kalau miliknya hanya diambil sekian saja. Dan ternyata rumah itu milik keluarga bangsawan dari kota raja! Kadang-kadang, untuk mencari ketenteraman yang tak bisa mereka dapatkan di kota raja yang ramai itu, keluarga Pouw, pemilik rumah itu, pergi ke dusun di luar kota raja ini dan di rumah mereka inilah mereka tinggal.
Kalau saja keluarga itu tidak kebetulan berada di situ, tentu tadi Suma Lian hanya dapat mencuri pakaian saja yang ditinggalkan di situ, akan tetapi tidak akan memperoleh makanan-makanan yang lezat, melainkan makanan sederhana yang biasa dimasak oleh para pelayan dan penjaga rumah itu. Para penjaga pintu, memandang kakek dan anak perempuan itu penuh keraguan ketika mereka minta untuk bertemu dengan pemilik rumah. Akan tetapi karena dua orang tamu aneh ini bersih dan majikan merekapun suka menerima siapa saja yang datang bertamu, para penjaga lalu membuat laporan ke dalam, mengatakan bahwa ada dua orang tamu yang aneh, seorang kakek tua sekali dan seorang anak perempuan yang manis, keduanya memakai pakaian bersih dan tambal-tambalan, minta diperkenankan menghadap.
"Mereka tidak memberi nama dan tidak mengenal nama Taijin, hanya minta menghadap pemilik rumah,"
Demikian penjaga itu mengakhiri laporannya. Laki-laki yang disebut Taijin itu tersenyum. Dia seorang laki-laki yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian longgar dan wajahnya membayangkan kesabaran yang penuh wibawa. Pemilik rumah itu adalah seorang bangsawan, bahkan dia memiliki pangkat yang cukup tinggi kare-na dia adalah seorang di antara para menteri pembantu kaisar! Dia pernah menjabat sebagai seorang panglima pasukan keamanan kota raja,
Dan kini ia menjadi seorang menteri yang mengatur tentang pendapatan istana, yaitu pemasukan pendapatan dari pajak dan lain-lain. Pada waktu itu, Pouw Taijin atau dahulu pernah dikenal sebagai Pouw-ciangkun (perwira Pouw), bersama isterinya dan lima orang anak-anaknya, empat laki-laki dan seorang anak perempuan, sedang beristirahat di dusun itu. Akhir-akhir ini memang, dia semakin sering saja berada di dusun itu, karena keadaan di kota raja membuat dia tidak betah di gedungnya di kota raja. Bu-beng Lo-kai dan Suma Lian disuruh masuk ke ruangan tamu oleh seorang penjaga dan belum lama mereka duduk, muncullah tuan rumah dari pintu sebelah dalam. Bu-beng Lo-kai cepat mengajak cucunya bangkit berdiri dan memberi hormat kepada laki-laki yang memandang kepada mereka denga mata terbelalak penuh keheranan itu.
"Maafkan kami kalau mengganggu,"
Kata Bu-beng Lo-kai dan kata-katanya yang teratur menunjuk-kan bahwa dia bukanlah seorang gelandangan biasa saja,
"Cucuku ini ingin membuat pengakuan kepada tuan rumah."
Pouw Tong Ki, nama dari pembesar itu, semakin heran memandang kepada kakek tua renta dan anak perempuan itu. Dia seorang berpengalaman, dan melihat pakaian kakek dan anak perempuan itu yang baru akan tetapi tambal-tambalan, jelas bahwa dia pakaian itu bukan membutuhkan tambalan melainkan sengaja ditambal-tambal, dapat menduga bahwa dia berhadap-an dengan orang-orang kang-ouw yang mempunyai kebiasan yang aneh-aneh.
"Saya Pouw Tong Ki, pemilik rumah ini. Silahkan kalian duduk...."
"Nanti saja kami duduk setelah cucuku membuat pengakuannya,"
Kata Bu-beng Lo-kai dengan tegas dan diapun menowel lengan cucunya. Suma Lian berdiri dengan muka sebentar merah sebentar pucat. Bukan main malunya apa lagi melihat betapa tuan rumah itu amat ramah memandang kepadanya.
"Nona kecil yang baik, apakah yang hendak nona katakan? Katakan saja dan jangan ragu-ragu,"
Katanya sambil tersenyum ramah. Sikap ini banyak menolong dan setelah beberapa kali menelan ludah, akhirnya Suma Lian berkata, suaranya lirih akan tetapi cukup tegas dan jelas.
"Saya.... saya minta maaf karena tadi saya...."
Sukar sekali baginya untuk mengeluarkan kata-kata pengakuan itu. Mengaku menjadi pencuri! Tentu saja hal ini merupakan pukulan hebat bagi dirinya, bagi "aku"
Nya. Makin tinggi orang membentuk gambaran tentang dirinya, semakin sukar pula baginya untuk mengenal dan mengakui kesalahannya.
"Cucuku, apakah engkau ingin menjadi seorang pengecut?"
Tiba-tiba kakek itu bertanya dan ucapan ini seperti api yang membakar dada Suma Lian!
"Saya datang untuk minta maaf dan mengaku bahwa tadi saya telah mencuri makanan yang sudah kami makan berdua, dan pakaian beberapa stel yang sudah kami pakai dan kami jadikan cadangan-cadangan kami!"
Katanya dengan sikap gagah dan sepasang matanya yang jernih itu memandang kepada wajah tuan rumah tanpa mengenal takut sedikitpun! Pouw Tong Ki nampak terkejut dan terheran-heran.
"Tapi.... tapi pakaian yang kalian pakai itu bukan milik kami. Kami tidak mungkin memiliki pakaian tambal-tambalan...."
"Memang sengaja saya tambal-tambal agar sesuai dengan keadaan kami sebagai pengemis,"
Jawab Suma Lian.
"Maaf,"
Sambung Bu-beng Lo-kai.
"Kami sudah biasa memakai pakaian tambal-tambalan sehingga tidak enak rasanya memakai pakaian utuh tanpa tambalan."
"Ah....! Ahh....! Bukan main ji-wi (kalian berdua) ini....! Anakku harus melihat ini, harus dapat mencontoh!"
Pouw Taijin bertepuk tangan dan dua orang penjaga muncul di pintu luar.
"Cepat kalian cari siocia dan minta agar datang ke sini dengan cepat!"