Halo!

Suling Naga Chapter 111

Memuat...

Suma Lian membawa satu stel pakaian berwarna biru muda dan sambil tertawa-tawa ia berloncatan menuruni tebing menuju ke sungai itu. Tak lama kemudian terdengar suara ia berkecimpung di dalam air sambil bernyanyi-nyanyi kecil, suara yang amat asing dan baru baginya, namun indah sekali dan menyegarkan batinnya. Kini dia dapat tersenyum-senyum penuh kegembiraan seorang diri, bukan lagi senyum untuk menyembunyikan kedukaan hatinya. Tak lama kemudian, Suma Lian sudah berada lagi di depannya. Segar sekali wajah yang kini bersih dan putih kembali itu, rambutnya yang hitam panjang itu masih basah kuyup dan diperasnya, lalu dibiarkan terurai agar cepat kering, kedua kakinya memakai sepatu baru dan pakaian yang dipakainya itu membuatnya nampak manis sekali.

"Nah, sekarang engkau mandi, mencuci rambut-mu dan berganti pakaian, kek!"

Kata Suma Lian sambil menyerahkan pakaian untuk kakek itu. Bu-beng Lo-kai memandang pakaian yang berwarna putih dan kuning polos itu dengan alis berkerut, seperti seorang anak kecil memandang obat pahit yang harus ditelannya. Beberapa kali dia menggelengkan kepalanya.

"Wah, bagaimana aku dapat memakai pakaian sebersih itu? Tentu aku akan takut duduk di tempat sembarangan, selalu harus menjaga agar pakaianku tak menjadi kotor. Wah, repot sekali kalau begitu, tidak bebas lagi aku...."

"Janji, kek. Janji harus dipenuhi, bukankah itu satu di antara sifat kegagahan?" "Ya-ya, akan tetapi...."

"Tidak ada tapi, kek. Dan aku yakin bahwa dulu, entah kapan, pernah engkau merupakan seorang yang suka akan kebersihan, tidak seperti sekarang ini! Engkau sudah berjanji akan mandi dan berganti pakaian, kek!"

Mendengar ucapan itu, Bu-beng Lo-kai termenung teringat akan isterinya.

Isterinya, Puteri Milana, ketika masih muda, sebagai isterinya, juga suka sekali akan kebersihan. Dia sering diomeli isterinya itu kalau menaruh barang di sembarangan tempat, juga isterinya itu menghendaki agar dia selalu bersih, baik badannya maupun pakaiannya. Dan diapun selalu menjaga dirinya agar bersih. Akan tetapi bertahun-tahun sudah dia hidup tanpa perduli akan apa yang dinamakan kebersihan. Bahkan tidak ada yang kotor baginya. Bukankah daun-daun kering itu juga bersih? Tanah dan lumpur itupun bersih? Akan tetapi sekarang, kata-kata dan sikap Suma Lian mengingatkan dia kembali akan kehidupannya dahulu, sebelum isterinya meninggalkannya untuk selamanya.

"Akan tetapi.... pakaian seperti ini....? Ingat, cucuku, mulai tadi aku sudah memakai nama Bu-beng Lo-kai. Ingat, apa artinya lo-kai? Pengemis tua! Kalau aku memakai pakaian begini, mana mungkin namaku Lo-kai? Seorang pengemis tua harus mengenakan pakaian butut dan penuh tambalan, kalau tidak begitu, mana mungkin dia laku mengemis? Takkan ada orang mau memberi sedekah!"

Tiba-tiba Suma Lian tertawa menutupi mulutnya.

"Hi-hik, sudah kuduga engkau akan mengajukan alasan itu, karena itu akupun sudah siap, kek. Nah, lihat ini!"

Ia mengeluarkan jarum dan benang, lalu ia merobek pakaian kakek itu di sana-sini, merobek kain kuning paha celana dan memindahkan atau menembelkan robekan itu di pundak baju putih dan sebaliknya. Ia merobek sana-sini, tambal sana tambal sini dan akhirnya pakaian itu menjadi pakaian penuh tambalan yang hanya merupakan pemindahan saja dari bagian-bagian yang dirobek tadi. Kini bajunya yang putih penuh tambalan kuning, sedangkan celana kuning penuh tambalan putih.

"Nah, pakaianmu sudah penuh tambalan, syarat bagi seorang pengemis, bukan? Akan tetapi, betapapun miskinnya, seorang pengemis tetap berhak untuk hidup bersih. Dan karena itu, di sini masih tersedia dua stel lagi untukmu dan lima stel pakaian untukku. Setiap hari kita berganti pakaian, yang kotor akan kucuci sampai bersih, dan setiap hari kita mandi!"

Kembali kakek itu termenung, teringat akan mendiang isterinya. Sama benar watak isterinya dengan anak ini, ketika isterinya masih muda. Keras, lincah, galak, pandai bicara dan juga amat suka akan kebersihan. Dia sudah kehabisan akal untuk membantah lagi dan terpaksa dia menerima satu stel pakaian yang sudah penuh tambalan itu dan menuruni tebing. Dan Suma Lian menahan ketawanya ketika ia mendengar kakek itu berkecimpung dan mendengar pula senandung yang digumamkan mulut itu.

"Yang bersih, kek! Rambutnya juga....!"

Ia berteriak ke arah bawah tebing. Dari bawah terdengar suara ketawa.

"Wah, engkau cerewet benar seperti seorang nenek tua saja!"

Dan Suma Lian kembali tertawa. Bu-beng Lo-kai membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk membersihkan tubuhnya yang amat kotor, terutama rambutnya yang sudah menjadi gimbal saling melekat itu. Akan tetapi suatu keanehan terjadi pada dirinya.

Begitu dia merendam tubuhnya di dalam air dan membersihkan semua kotoran, dia merasa hatinya demikian ringan dan senang, membuat dia gembira seperti seorang anak kecil saja. Betapa keriangan hati itu bisa didapatkan di mana saja dan kapan saja, asalkan batin tidak dipenuhi oleh segala macam persoalan yang sebenarnya hanyalah peristiwa-peristiwa yang kita jadikan persoalan sendiri! Tidak ada masalah di dunia ini kecuali hal itu dibuat menjadi masalah. Tidak ada kesusahan kecuali kejadian itu kita buat sendiri menjadi kesusahan! Kalau batin tidak sibuk lagi oleh segala macam penilaian yang menimbulkan aku yang kemudian melahirkan iba diri, maka segala hal kita hadapi sebagaimana adanya, sebagai suatu kewajaran dan segala tindakan kita terhadap hal yang terjadi itu muncul dari kecerdasan akal budi, tanpa keluhan lagi.

Keriangan hati akan selalu terasa oleh kita apabila batin kita bersih dari segala persoalan yang dibuat oleh pikiran. Terdapat dalam hal yang kecil-kecil dan remeh-remeh, karena hidup merupakan suatu berkah di mana segala-galanya sudah terdapat untuk kita nikmati. Di tanah, di air, di udara, di mana saja terdapat kenikmatan itu, kenikmatan hidup karena setelah batin kita bersih dari pada segala kekuasaan siaku, akan nampaklah sinar cinta kasih yang menerangi alam! Kakek itu benar-benar mencuci rambut dan tubuhnya sampai bersih! Dan dia nampak belasan tahun lebih muda ketika naik ke tebing itu, rambutnya terurai di belakang punggung, dan wajahnya yang tua nampak segar walaupun penuh dengan kumis dan jenggot putih. Nampak bersih segar dan sehat, apa lagi karena garis-garis mukanya masih memperlihatkan bekas wajah seorang laki-laki yang tampan dan gagah.

"Nah, kau kelihatan bersih dan gagah, kek!"

Suma Lian bertepuk tangan kegirangan, membuat orang yang dipuji itu merah mukanya dan untuk menghilangkan rasa kikuknya, kakek itu hendak menjatuhkan diri duduk di atas tanah.

"Eiiiittt, hati-hati, kek!"

Suma Lian meloncat dan memegang tangan kakek itu, ditariknya agar tidak jadi duduk.

"jangan kotorkan pakaianmu dengan duduk begitu saja di atas tanah yang basah. Tuh, duduk di atas batu itu, sudah kubersihkan tadi!"

Kakek itu menarik napas panjang.

"Nah, nah, sudah mulai bukan? Aku harus selalu menjaga pakaianku agar tidak kotor. Menambah kerepotan saja!"

"Bukan begitu, kek. Kalau sudah terbiasa nanti tentu dengan sendirinya engkau tidak mau mengotori pakaianmu. Ingat, engkau tidak ingin membuat kedua tanganku lecet-lecet, bukan?"

"Tentu saja tidak! Ehh.... apa maksudmu dengan tangan lecet-lecet itu?"

"Ingat, akulah yang akan mencuci pakaianmu setiap hari. Kalau engkau sembarangan saja membuat pakaianmu kotor sekali, bukankah aku yang mencuci yang akan bekerja berat setengah mati, sampai kedua tanganku lecet-lecet karena harus mencuci pakaian yang kotor sekali?"

Bu beng Lo-kai tertawa.

"Ha-ha-ha, engkau memang cerdik. Baiklah, akan kujaga pakaian ini agar tetap bersih."

"Nah, begitu barulah engkau kakekku yang baik sekali, terima kasih sebelumnya, kek!"

Dan Suma Lian lalu memberi hormat kepada kakek itu dengan sikap yang lucu.

"Ah, apa yang terjadi dengan pakaianmu itu? Kenapa sekarang juga penuh tambalan?"

Kakek itu berseru sambil memandang ke arah pakaian yang di-pakai oleh anak itu. Pakaian itu tadi nampak indah, akan tetapi sekarang penuh tambalan walaupun hal ini tidak mengurangi kepantasan anak itu memakainya.

"Kek, engkau Bu-beng Lo-kai dan aku cucumu. Cucu seorang pengemis tua harus memakai pakaian tambal-tambalan juga, baru cocok!"

Kakek itu kembali tertawa dan mengangguk-angguk, kemudian tiba-tiba dia memandang wajah anak itu dengan sikap serius dan suaranya juga terdengar tegas, tidak main-main lagi,

"Nah, sekarang ceritakan, dari mana engkau memperoleh makanan, arak dan pakaian ini!"

Melihat sikap kakek itu, nyali Suma Lian menjadi kecil juga. Ia menundukkan mukanya, jari-jari tangannya mempermainkan ujung bajunya, kadang-kadang mengangkat muka memandang, lalu menunduk kembali.

"Hayo katakan! Kau.... mencuri, ya?"

Bentak kakek Bu-beng Lo-kai. Dengan pandang mata takut-takut, Suma Lian memandang kakeknya dari bawah bulu mata sambil menundukkan muka,

"Kau.. kau marah, kek....?"

"Tentu saja kalau kau membohong! Hayo katakan yang sebenarnya. Kau curi semua itu?"

Suma Lian mengangguk. Bu-beng Lo-kai marah atau pura-pura marah. Dia bangkit berdiri dan membanting kakinya.

"Waduh, celaka! Cucuku menjadi pencuri? Menjadi maling? Tidak, kau harus kembalikan semua ini kepada....."

Dia tiba-tiba tak dapat melanjutkan kata-katanya karena teringat bahwa semua makanan tadi, juga araknya, sudah masuk ke dalam perutnya! Mana mungkin bisa dikembalikan lagi? Suma Lian yang cerdik anaknya dapat menduga isi pikirannya dan dengan suara mengandung kemenangan anak itupun berkata,

"Makanan sudah kita makan, mana bisa dikembalikan, kek?"

"Baiklah, akan tetapi pakaian ini.... mana pakaianku yang butut tadi? Dia menjenguk ke bawah tebing dan kembali menjambak rambutnya.

"Celaka, pakaian itu sudah kuhanyutkan tadi!"

"Punyaku juga, kek. Dan lagi, kalau dikembalikanpun, yang punya tentu tidak mau menerimanya, sudah kutambal-tambal...."

Bu-beng Lo-kai teringat bahwa pakaian yang sudah dipakainya itu, selain tak dapat dilepaskan karena pakaian bututnya sudah hilang, juga sudah penuh tambalan, tak mungkin dikembalikan.

"Masih ada yang baru, yang lain itu, pakaian cadangan itu harus dikembalikan...."

Post a Comment