"Anak baik, apakah benar kau she (nama marga) Suma? Hayo katakan, siapa ayahmu?"
Suma Lian merasa heran, akan tetapi lalu menjawab,
"Ayahku bernama Suma Ceng Liong. Jangan khawatir, kek. Aku akan menanggung bahwa kau takkan diganggu oleh nenek itu."
Akan tetapi kakek itu sudah tertawa bergelak,
"Ha-ha-ha-ha, engkau bernama Suma Lian, puteri dari Suma Ceng Liong? Ha-ha-ha-ha-ha, heiii, Kim Hwa Nio-nio. Berani benar engkau menculik puteri keturunan keluarga para pendekar Pulau Es? Apakah engkau sudah bosan hidup? Hayo, mari kita yang sudah sama tuanya ini mengadu kepandaian, dan jangan ganggu seorang anak kecil!"
Berkata demikian, kakek jembel itu lalu melangkah lebar menghadapi Kim Hwa Nio-nio dengan sikap memandang rendah sekali. Kim Hwa Nio-nio mengerutkan alisnya, bulu-bulu kebutan di tangannya tergetar. Akan tetapi nenek ini tidak mau ceroboh. Ia tahu bahwa biarpun orang ini nampaknya tua renta dan jembel berbau busuk yang seperti orang gila, namun mungkin saja dia menyembunyikan kesaktian di balik kegilaan dan kemiskinannya itu. Hampir semua tokoh dunia persilatan pernah didengarnya walaupun belum semua dijumpainya, maka ia segera bertanya, suaranya berwibawa,
"Tua bangka bosan hidup, siapakah namamu?"
"Ha-ha-ha, namaku? Aku seorang pengemis tua tanpa nama. Hayo majulah, kecuali kalau takut atau kasihan melawan aku, pergilah dan jangan ganggu lagi anak perempuan ini!"
"Wirrrrr.... singgg....!"
Kebutan itu menyambar dan demikian kuatnya tenaga yang mendorongnya sehingga tidak hanya mengeluarkan angin berdesir keras, akan tetapi juga menimbulkan suara berdesing seperti kalau senjata tajam digerakkan dengan amat kuatnya! Kebutan itu menyambar kedepan, bulu-bulunya saja terpecah menjadi beberapa gumpalan dan masing-masing gumpalan itu seperti ular-ular hidup mematuk ke arah jalan-jalan darah di sekitar pundak dan leher kakek jembel itu.
"Hayaaaa....! Kiranya engkau lihai sekali....!"
Kakek itu berseru dan biarpun nampaknya terkejut dan mengagumi kehebatan nenek itu, namun tanpa banyak kesukaran dia sudah dapat menghindarkan diri dari sambaran kebutan dengan melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik tiga kali. Kembali kebutan sudah menyambar, akan tetapi kedua tangan kakek itu membuat dorongan-dorongan aneh, kemudian setelah dari kedua tangannya itu keluar angin yang menolak bulu-bulu kebutan dan membuyarkan gumpalan-gumpalan bulu itu menjadi mawut seperti rambut kepala wanita tertiup angin, dia membuat coretan-coretan di udara dan tahu-tahu kedua jari telunjuknya telah melakukan totokan-totokan bertubi-tubi sampai sembilan kali ke arah jalan-jalan darah terpenting di tubuh nenek Kim Hwa Nio-nio!
"Ahhh....!"
Nenek itu terpaksa mengeluarkan teriakan kaget dan cepat ia memutar kebutannya melindungi diri. Akan tetapi masih saja jari-jari tangan itu sempat menerobos gulungan sinar kebutan sehingga terpaksa nenek itu yang kini melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik untuk menyelamatkan dirinya. Suma Lian yang tadinya hanya memandang bengong, tiba-tiba berteriak,
"Hong-in Bun-hoat!"
"Ha-ha-ha, anak baik, ternyata engkau cukup cerdas!"