Bukan hanya mengenal bentuk-bentuk mereka, julukan dan keistimewaan mereka, akan tetapi juga mempelajari keistimewaan mereka itu dan tiga orang saudara itu selalu mencari kelemahan mereka. Akan tetapi mereka belum pernah mendengar tentang Kam Hong ini dan begitu pemuda wang tidak terkenal di dunia kang-ouw ini maju, mereka harus kalah! Tentu saja Cu Han Bu tidak dapat menelan ini, dan dengan penasaran memuncak dia pun melakukan perlawanan mati-matian dalam pertandingan itu. Setelah lewat hampir dua ratus jurus, tahulah Kam Hong bahwa kalau pertandingan ini dilanjutkan, akhirnya tentu seorang di antara mereka akan roboh dengan luka parah, kalau tidak tewas. Dan dia tidak ingin sampai menewaskan tuan rumah, apalagi karena memang tidak terdapat permusuhan apa pun di antara mereka.
Di dalam ilmu yang dipelajarinya dari catatan di tubuh jenazah itu, terdapat jurus yang dinamakan Tiang-khing-toan-san (Bianglala Memecahkan Bukit) dan jurus ini khusus untuk mematahkan senjata lawan yang bagaimanapun ampuhnya. Akan tetapi untuk ini dia harus mengerahkan seluruh tenaga khi-kang yang dihimpunnya dari latihan meniup suling. Kalau tidak berhasil, berarti dia akan menghamburkan banyak sekali tenaga dalam. Akan tetapi melihat bahwa itu merupakan jalan satu-satunya untuk mengakhiri pertandingan ini tanpa merobohkan lawan, maka dia lalu mulai memainkan jurus ini. Cu Han Bu terkejut sekali ketika tiba-tiba gulungan sinar emas dari lawan itu berobah memanjang dan melengkung, dan terdengarlah suara melengking tinggi sekali sampai hampir tidak tertangkap oleh telinga,
Namun yang mengandung getaran yang luar biasa, membuat jantungnya terasa perih dan kedua kakinya menggigil! Semua orang yang berada di situ agaknya terpengaruh juga, karena Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu cepat duduk bersila menghimpun tenaga untuk melawan getaran itu, sedangkan Cu Pek In, Yu Hwi, dan Ci Sian cepat-cepat menggunakan kedua telapak tangan untuk menutup telinganya rapat-rapat karena mereka merasa telinga mereka seperti ditusuk-tusuk! Kam Hong maklum akan hal ini, maka begitu tenaganya sudah terhimpun, dia meluncurkan sulingnya ke atas, seolah-olah hendak menyerang kepala lawan. Cu Han Bu cepat mengangkat sabuk emasnya untuk melindungi kepala dan pada saat itu, dengan gerakan melengkung seperti bianglala, suling emas di tangan Kam Hong melayang dan menghantam ke arah sabuk emas itu.
"Cringggg....! Trakkkk!!"
"Aiihhhh....!"
Cu Han Bu meloncat jauh ke belakang, berdiri dengan muka pucat memandang ke arah sabuk emasnya yang telah patah menjadi dua, yang tinggal di tangannya hanya sepotong pendek sedangkan patahannya berada di atas tanah, di bawah kaki lawan. Cu Han Bu boleh jadi adalah seorang yang berhati keras dan tidak pernah mau kalah oleh orang lain, akan tetapi dia memiliki kegagahan dan tahu bahwa dalam pertandingan ini, betapapun sukar dipercaya, dia telah kalah oleh Kam Hong! Mukanya yang pucat itu menjadi merah sekali dan dia lalu melempar sisa sabuk emas itu ke atas lantai dan dengan sikap terpaksa sekali dia menjura ke arah Kam Hong sambil berkata,
"Aku Cun Han Bu harus mengakui bahwa dalam hal ilmu silat, engkau lebih unggul daripada aku, sobat Kam Hong, sungguhpun aku sama sekali tidak mengerti bagaimana engkau dapat mainkan ilmu pusaka keturunan keluarga kami. Akan tetapi biarlah hal itu nanti kita bicarakan. Dalam ilmu silat aku kalah, akan tetapi sesuai dengan nama Suling Emas yang dipakai oleh kedua pihak, biarlah sekarang kita memperlihatkan siapa di antara kita yang lebih tepat memakai nama itu dengan cara meniup suling. Engkau yang membawa-bawa pusaka suling emas dan keluargamu memakai julukan Suling Emas tentu pandai sekali meniup suling. Maukah engkau melayaniku mengadu ilmu meniup suling, sobat Kam?"
Karena tantangan ini pun mengenai nama keluarganya, maka tentu saja Kam Hong tidak menolak, apalagi karena memang dia ingin melihat sampai di mana kepandaian keluarga yang mengaku sebagai keluarga Suling Emas dan yang ternyata mampu pula memainkan ilmu yang mirip dengan Kim-siauw Kiam-sut itu.
"Baik, aku sebagai tamu hanya melayani kehendak tuan rumah."
Cu Han Bu lalu minta suling emas yang dibawa oleh Pek In, kemudian dia mempersilakan Kam Hong duduk sedangkan dia sendiri lalu duduk bersila di atas lantai. Melihat tuan rumah duduk bersila menghadapinya, hanya dalam jarak kurang lebih empat meter mereka duduk bersila saling berhadapan. Sejenak, kedua orang yang sama-sama memegang suling emas yang bentuknya serupa benar itu, hanya suling di tangan Kam Hong agak lebih besar, saling pandang dengan penuh perhatian. Cu Han Bu menggunakan ujung baju lengan kirinya untuk mengusap keringat di dahi dan lehernya. Pertandingan selama dua ratus jurus yang mempergu-nakan banyak tenaga itu tadi membuat dia merasa lelah sekali dan tubuhnya basah oleh keringat. Akan tetapi sebaliknya, Kam Hong hanya berkeringat sedikit saja.
"Saudara Kam Hong, aku kagum sekali kepadamu,"
Akhirnya Cu Han Bu berkata, ucapan yang sejujurnya sungguhpun kekagumannya itu bercampur dengan rasa penasaran.
"Kalau ternyata engkau juga mampu mengalahkan aku dalam hal meniup suling, biarlah aku mengaku kalah. Engkau bersiaplah menerima permainan sulingku."
Cu Han Bu lalu menoleh kepada puterinya dan berkata kepadanya,
"Pek In, bagikan pelindung telinga kepada Nona tamu dan Yu Hwi."
"Baik, Ayah."
Jawab Cu Pek In dan dia mengeluarkan benda-benda kecil penyumbat telinga berwarna putih terbuat dari karet lalu memberikan sepasang kepada Yu Hwi kemudian dia menghampiri Ci Sian dan diberinya pula sepasang kepada dara ini. Akan tetapi Ci Sian tersenyum mengejek dan menggeleng kepalanya.
"Aku tidak perlu memakai pelindung telinga."
Katanya. Tentu saja wajah Pek In menjadi merah oleh penolakan ini dan dia sudah menjadi marah, akan tetapi ketika dia memandang kepada ayahnya, Cu Han Bu menggeleng sedikit kepalanya sehingga dia mundur lagi, duduk di tempat semula dan dia pun lalu mengenakan sepasang penyumbat telinga.
"Nona, kau harus memakai pelindung telinga, kalau tidak akan berbahaya bagi keselamatanmu."
Tiba-tiba Cu Seng Bu berkata karena tokoh ini merasa tidak enak kalau sampai pihak tamu yang tidak ikut mengadu ilmu kena celaka. Ci Sian masih tersenyum ketika dia menggeleng kepala.
"Mengapa celaka? Andaikata perlu melindungi telinga, bukankah aku masih mempunyai kedua tangan untuk menyumbat kedua telingaku?"
Cu Seng Bu tidak bicara lagi dan bersama Cu Kang Bu, dia pun menyumbat kedua telinganya dengan pelindung telinga karena dia maklum bahwa kakaknya akan mengeluarkan ilmu meniup suling yang mujijat, yang suaranya dapat merobohkan lawan, bahkan dapat membunuhnya! Sementara itu, Kam Hong terkejut bukan main ketika melihat Ci Sian menolak pemberian pelindung telinga itu.
Dia makin menghargai pihak tuan rumah yang ternyata demikian baik hati untuk menawarkan pelindung telinga kepada Ci Sian, akan tetapi celakanya, dara yang keras hati itu menolak dan dia tahu bahwa hal ini berarti bahaya besar bagi Ci Sian, mungkin bahaya maut karena suara tiupan suling yang dilakukan oleh orang yang amat kuat tenaga khi-kangnya dapat merusak telinga atau bahkan membunuhnya. Akan tetapi karena Ci Sian sudah terlanjur menolak, dia pun tentu saja tidak mau memaksa gadis itu menarik kembali penolakannya karena hal itu sampai mati pun kiranya tidak akan dilakukan oleh Ci Sian yang keras hati. Maka dia pun lalu mengambil keputusan untuk melindungi Ci Sian dari bahaya ancaman suara suling Cu Han Bu. Kini Cu Han Bu sudah mulai menempelkan ujung suling pada bibirnya dan mulailah dia meniup suling emas itu.
Mula-mula terdengar suara suling yang merdu naik turun, akan tetapi kemudian suara suling itu terus menaik dan mulailah Ci Sian merasa tersiksa karena kedua telinganya seperti dikilik-kilik rasanya. Suara suling itu makin meninggi saja dan rasa yang mula-mula hanya geli itu makin nyeri dan telinganya seperti dimasuki semut dan digigit! Ci Sian tadinya hendak mempertahankan, akan tetapi akhirnya dia tidak kuat lagi dan dia menggunakan kedua tangan untuk menutupi lubang telinganya! Akan tetapi betapa kaget rasa hati Ci Sian bahwa suara itu masih saja terus mengiang di dalam telinganya, makin lama makin hebat sehingga kini terasa seperti telinganya ditusuk-tusuk jarum! Tubuhnya mulai menggigil dan matanya terbelalak memandang ke arah Kam Hong seolah-olah hendak minta tolong. Pada saat itu, Kam Hong sudah mendekatkan suling di bibirnya dan meniup sulingnya sambil menutup semua lubang suling.
Dia tahu bahwa kalau dia menggunakan sulingnya untuk balas menyerang, dia akan dapat membuat lawan celaka, akan tetapi juga Ci Sian akan ikut celaka, maka kini dia meniup sulingnya dengan lembut sekali. Terdengar suara lembut dari sulingnya, suara yang bergelombang halus akan tetapi dapat menggulung suara melengking lirih yang mengandung getaran berbahaya dari suara suling Cu Han Bu dan Ci Sian merasa betapa perlahan-lahan kenyerian di telinganya lenyap, dan dia berani membuka kedua tangannya dan kini yang terdengar olehnya hanya suara suling lembut yang amat merdu dan mendatangkan rasa nikmat! Makin lama, makin lembut suara suling Kam Hong dan akhirnya Ci Sian tidak dapat menahan lagi, tubuhnya terguling dan dia tertidur pulas di atas lantai! Suara suling dari suling emas yang ditiup Kam Hong itu semakin kuat saja, dan kini setelah dia meilhat Ci Sian tidur pulas,
Dia menambah kekuatan tiupannya dan suara suling itu menggetar halus, biarpun kedua telinga orang-orang yang berada di situ telah ditutup penyumbat telinga dari karet, namun getaran itu masih terus menyerang melalui urat saraf di atas telinga dan pelipis sehingga akhirnya, berturut-turut Cu Pek In dan Yu Hwi juga terguling dan roboh pulas! Melihat ini, Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu terkejut sekali. Mereka berdua kini duduk bersila di atas lantai dan mengerahkan tenaga sin-kang mereka untuk melawan serangan suara suling dari suling Kam Hong. Sementara itu, Cu Han Bu juga memperhebat suara sulingnya untuk menyerang lawan. Namun semua serangan suara sulingnya itu tenggelam di dalam kelembutan itu seperti bara api yang berkobar dijatuhkan ke dalam kubangan air dingin saja.
Sedangkan alunan suara suling dari Kam Hong terus bergetar menyerang ketiga orang kakak beradik Cu itu yang kini makin hebat melakukan perlawanan dan mengerahkan sin-kang mereka. Dari ubun-ubun kepala Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu sampai mengepul uap putih dan muka mereka menjadi merah sekali karena keduanya telah mengerahkan sin-kang sekuatnya untuk menahan rasa kantuk hebat yang menyerang mereka. Syaraf mereka seperti diayun atau dibelai oleh suara itu, suara yang mengandung kekuatan mujijat dan yang membuat seluruh tubuh terasa lemas dan satu-satunya hal yang mereka inginkan saat itu hanyalah tidur, lain tidak! Memang hebat sekali kekuatan yang terkandung dalam suara suling yang ditiup secara istimewa oleh Kam Hong itu.
Suara itu selain dapat menembus pelindung telinga, juga langsung menyerang dan merangsang syaraf-syaraf di kepala menembus kulit kepala yang perasa seperti di pelipis dan bagian lain, terutama sekali merangsang syaraf di pusat pendengaran. Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu yang merupakan orang-orang yang memiliki kesaktian dan memiliki tenaga sin-kang yang sudah mencapai tingkat tinggi dan amat kuat itu. Mereka telah mengerahkan sin-kang untuk melawan pengaruh suara itu. Akan tetapi lambat laun wajah mereka yang merah menjadi semakin pucat, uap putih yang mengepul di kepala mereka semakin menipis dan akhirnya keduanya tertidur pulas dalam keadaan masih duduk bersila! Kini tinggal Cu Han Bu seorang yang masih terus melawan sambil meniup sulingnya.
Cu Han Bu juga merasa betapa tenaga suara sulingnya itu kini sama sekali tidak dapat menembus suara suling lawan yang seolah-olah merupakan benteng yang amat kuatnya, dan dia pun bahkan mulai merasa betapa gelombang yang hebat menggulung dirinya, membuainya dengan nikmat sekali. Diam-diam dia terkejut, maklum bahwa suara suling Kam Hong benar-benar memiliki kekuatan yang amat dahsyat. Dia berusaha melawan terus, kadang-kadang meniup sulingnya amat tinggi, kadang-kadang amat rendah, namun semua usahanya itu gagal karena semua perlawanannya itu membalik dan bahkan agaknya menambah kedahsyatan gelombang getaran dari suara suling Kam Hong. Akhirnya tanpa disadari sendiri, Cu Han Bu juga jatuh pulas dalam keadaan bersila dan sulingnya masih berada dalam genggaman dan masih menempel di bibirnya yang tidak bergerak lagi.
Dia seolah-olah telah berobah menjadi patung orang menyuling! Setelah melihat lawannya tertidur, barulah Kam Hong menghentikan tiupan sulingnya. Wajahnya agak pucat dan seluruh tubuhnya basah oleh peluh! Kiranya dia pun telah mengerahkan banyak tenaga tadi dan baru setelah dia mengeluarkan semua tenaganya dia dapat menyelamatkan Ci Sian dan sekaligus membuat tidur semua orang, termasuk lawannya yang kuat itu. Dia menyimpan sulingnya lalu menggunakan saputangan untuk menyusuti peluhnya. Setelah kini suara suling terhenti dan getaran suara yang amat kuat itu lenyap, berturut-turut terjagalah mereka semua yang tertidur pulas itu. Pertama-tama adalah Cu Han Bu dan dua orang adiknya yang terjaga.