Bu-kek Hoat-keng yang dimiliki dan di-kuasai Seng Bu telah menjadi ilmu sesat yang amat keji dan berbahaya, sedangkan yang dikuasai Yo Han adalah ilmu yang mengandung keajaiban, yang memiliki daya menolak semua kekuatan jahat, bahkan menolak semua hawa beracun.
Namun, karena Yo Han tidak bermaksud membunuh, tidak membalas serangan lawan dengan jurus ampuh mematikan, dan bahkan dia tidak mau menggunakan tenaga menolak balik serangan Seng Bu, maka perkelahian itu menjadi ulet dan lama.
Seng Bu mengerahkan seluruh te-naganya, namun semua hawa sakti yang keluar dari tubuhnya, bagaikan batu besar dilempar ke dalam telaga saja ketika dipakai menyerang Yo Han, semua tenaga itu tenggelam dan tidak mendatangkan akibat apa pun.
Setiap kali Yo Han me-nangkis, tangan Seng Bu tergetar hebat dan seperti lumpuh.
Seng Bu tidak tahu bahwa kalau Yo Han menggunakan tenaga sakti dari Bu-kek Hoat-keng, maka tenaga-nya bukan hanya tenggelam, melainkan membalik dan seolah dia memukul diri-nya sendiri.
Bagi mereka yang menonton perkelahi-an itu, tentu saja nampak amat seru dan menegangkan.
Sian Li sampai bermandi peluh menyaksikan perkelahian itu karena tidak kelihatan kekasihnya unggul, walau-pun juga tidak nampak terdesak.
Agaknya kedua orang itu memiliki ilmu dan kekuatan yang serupa dan setingkat! "Haaaiiihhhhh....!!" Kembali Seng Bu menyerang, sekali ini tubuhnya mencelat ke atas, bagaikan seekor burung garuda dia menyambar turun dengan kedua ta-ngan dijulurkan lurus ke depan, dengan pengerahan tenaga sepenuhnya ke arah kedua telapak tangannya yang berwarna kehitaman dan mengeluarkan uap hitam.
Melihat serangan maut yang amat berbahaya ini, Sian Li mengepal tangan kanannya dan memandang dengan mata terbelalak.
Sebagai seorang ahli ilmu silat Ang-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Merah), ia tahu betapa besar bahayanya serangan seperti itu, karena di dalam ilmu silatnya terdapat pula jurus penye-rangan sambil melayang seperti itu.
Akan tetapi Yo Han juga mengenal jurus yang berbahaya ini dan tahulah dia bahwa Seng Bu sudah nekat dan hendak mengadu nyawa! Dengan tenang saja Yo Han sudah mengambil keputusan bahwa dia harus cepat menundukkan Seng Bu dan merobohkannya, walaupun tidak ha-rus membunuhnya.
Pemuda ini agaknya sudah miring otaknya, maka kalau dibiar-kan lolos dan membawa pergi ilmunya yang sesat, akan merupakan bahaya besar bagi umum, terutama sekali bagi dunia kang-ouw.
Dia harus dapat berusaha me-nyadarkannya atau merampas ilmu sesat itu.
Bagaikan seekor burung walet, tiba--tiba tubuh Yo Han juga mencelat ke atas menyambut serangan Seng Bu.
Me-lihat ini, Seng Bu mengeluarkan suara tawa aneh karena dia girang dan yakin sekali ini akan mampu membunuh Yo Han.
Dengan pengerahan seluruh tenaga-nya, dia menggunakan kedua tangannya mendorong ke arah tubuh Yo Han.
313 "Wuuuttt....!" Seng Bu terkejut karena tiba-tiba tubuh itu lenyap dari depannya dan kedua tangannya menghantam udara kosong.
Maklum bahwa dia terkecoh, dia berusaha membuat gerakan jungkir balik seperti yang dilakukan Yo Han dengan cepat ketika mengelak tadi, namun ter-lambat.
Dari sebelah atasnya, Yo Han telah menggunakan tangan yang dimiring-kan untuk memukul punggung Seng Bu.
"Desss....!!" Seng Bu mengeluarkan keluhan lirih dan tubuhnya terbanting ke atas tanah.
Yo Han menyusul dengan melayang turun.
Akan tetapi, dapat di-bayangkan kagetnya hati Pendekar Tangan Sakti ini ketika tiba-tiba tubuh yang tadinya terbanting roboh itu, telah ber-gerak meloncat bangun dan menyambut Yo Han yang baru saja turun itu dengan dorongan kedua tangan, dahsyat bukan main karena Seng Bu mengerahkan se-luruh tenaga terakhir dalam serangan mendadak ini.
Ternyata Seng Bu memiliki kekuatan luar biasa sehingga pukulan Yo Han tadi seolah tidak terasa olehnya! Tidak ada lain jalan bagi Yo Han kecuali dia juga menyambut dengan ke-dua tangannya didorongkan ke depan.
"Wuuuttt....
plakkk!" Dua pasang tapak tangan itu bertemu dan melekat! Yo Han merasa betapa ada hawa yang amat dingin menyerangnya.
Akan tetapi, dia mengerahkan tenaga panas dan kini Seng Bu yang merasa betapa kekuatannya terdorong oleh tenaga yang dahsyat se-kali.
Dia mempertahankan dan terjadilah dorong mendorong dengan menggunakan ilmu yang sama, yaitu Bu-kek Hoat-keng, akan tetapi kalau ilmu yang dikuasai Yo Han murni, sebaliknya yang dikuasai Seng Bu merupakan ilmu sesat yang timbul karena keliru latihan.
Dari kepala Yo Han mengepul uap putih, sebaliknya dari kepala Seng Bu mengepul uap hitam.
Seng Bu mendengus--dengus, muka dan lehernya sudah penuh keringat dan perlahanlahan, tenaganya mengendur sedangkan hawa panas dari tapak tangan Yo Han mulai memasuki dirinya melalui kedua tapak tangannya.
Yo Han merasa mendapatkan kesem-patan.
Dia harus menggunakan tenaga saktinya untuk mendorong keluar hawa beracun itu dari tubuh Seng Bu, dan merusak pusat penghimpunan sin-kang agar selanjutnya Seng Bu tidak dapat lagi mempergunakan ilmu sesatnya itu.
Dia sudah mengambil keputusan bahwa itulah satu-satunya jalan untuk memaksa Seng Bu kembali ke jalan benar, yaitu dengan mengadakan kekuatan yang akan mendorongnya melakukan kekejian.
Kalau Seng Bu sudah tidak memiliki kekuatan yang dapat dia andalkan, tentu dia tidak akan mampu merajalela lagi.
Sian Li, Hui Eng, Ciang Hun, Cia Sun, dan Bi Kim yang maklum apa artinya adu tenaga sinkang antara kedua orang muda yang lihai itu, menonton dengan hati tegang.
Terutama sekali Sian Li.
Gadis ini maklum bahwa dalam adu te-naga sin-kang seperti itu, berarti adu nyawa, dan kalau sampai kekasihnya kalah dalam adu tenaga sin-kang ini, ia tahu bahwa Seng Bu pasti tidak segan--segan untuk membunuhnya.
Untuk mem-bantu, ia tidak mau karena hal itu akan merendahkan Yo Han dan tidak sesuai dengan watak pendekar.
Maka, wajahnya sudah mulai pucat karena ia merasa gelisah sekali.
"Jangan takut, dia pasti menang," terdengar Hui Eng berbisik di sampingnya dan Sian Li mengangguk, berterima kasih karena ia pun tahu bahwa Hui Eng cukup lihai untuk dapat menduga yang tepat, menghilangkan keraguannya sendiri.
Dan memang ucapan Hui Eng itu bukan sekedar hiburan kosong belaka.
Gadis lihai ini sudah melihat betapa Seng Bu terdesak hebat dalam adu tenaga itu, membuat uap tebal menghitam keluar dari kepalanya, matanya mendelik dan keringatnya membasahi muka dan leher, juga nampak betapa tubuh Seng Bu mulai menggigil.
Seng Bu maklum bahwa dia tidak akan menang, akan tetapi dia pun tidak mau menyerah.
Masih dikerahkan tenaga-nya yang terakhir dan dia seperti men-dengar suara tulang patah di dalam dada-nya, dan dia pun melangkah mundur, kedua tangannya ditarik lepas dari ta-ngan Yo Han dan menggunakan kedua tangan untuk menekan dadanya yang terasa nyeri.
Dia pan muntahkan darah segar, terhuyung ke belakang.
"Ouw Seng Bu, masih ada kesempatan hidup bagimu.
Pergi, berobat dan ber-taubatlah!" kata Yo Han lembut.
Dengan mata mendelik penuh kebenci-an Seng Bu memandang kepada Yo Han, kemudian, dia masih nekat hendak me-ngerahkan tenaga dan menyerang lagi.
Akan tetapi begitu dia mengerahkan te-naga sin-kang, isi dada perutnya seperti diremas, membuat dia mengeluh dan terhuyung, dan dia memandang kepada Yo Han dengan mata terbelalak bingung.
"Seng Bu, engkau tidak akan dapat menggunakan tenaga berbuat kejahatan lagi.
Bertaubatlah!" kata Yo Han lembut dan dalam suaranya terkandung perasaan iba.
Mendengar ini, tahulah Seng Bu bah-wa sudah habis baginya, habis segalanya.
Dia teringat secara mendadak kepada Cu Kim Giok, gadis yang dicinta dan men-cintanya, dan di dalam lubuk hatinya timbul penyesalan yang amat mendalam.
Dia mengeluarkan keluhan panjang lalu tubuhnya membalik dan dia sudah berlari menuju ke tempat tahanan yang kini berkobar dimakan api.
Yo Han dan se-mua orang mengejarnya.
Ketika Seng Bu melihat lima orang tosu Bu-tong-pai, berdiri dan tak jauh dari situ rebah sesosok tubuh, ia tersen-tak kaget mengenal tubuh Kim Giok yang dicarinya.
Tanpa mempedulikan apa pun, dia berseru memanggil, "Giok--moi....!!" Dan, dia pun menubruk mayat gadis itu.
"Giok-moi ah, Giok-moi....!" Dia meratap dan menangis.
Yo Han dan yang lain-lain sudah tiba di situ.
"Ouw Seng Bu iblis busuk, tak perlu lagi engkau pura-pura menangis! Simpan saja air mata buayamu itu, karena Kim Giok tewas oleh pukulanmu.
Engkaulah yang telah membunuhnya, kenapa engkau kini pura-pura menangis?" tegur Sian Li gemas dan marah.
Mendengar ucapan Sian Li, tangis Seng Bu semakin menjadi-jadi.
Seperti anak kecil dia menangis dan meratap, sesenggukan.
"Giok-moi....
Kim Giok....
ampunkan aku....
ampunkan aku...." de-mikian ratapnya berulang kali, kemudian tanpa diduga-duga oleh semua orang, tiba-tiba dia menggerakkan tangan kanan-nya, meringis menahan nyeri ketika me-ngerahkan tenaga terakhir dan tangan itu menyambar dan mencengkeram ubun--ubun kepalanya sendiri.
Terdengar suara tulang patah dan dia pun roboh dan te-was di atas jenazah Kim Giok yang ma-sih hangat.
315 Semua orang terbelalak, akan tetapi mereka tidak mampu berbuat apa-apa.
"Mungkin inilah yang terbaik...." kata Yo Han halus penuh rasa haru dan iba."Kakak Yo Han, untung engkau dapat muncul dalam keadaan selamat, kalau tidak....
sukar aku membayangkan apa yang akan terjadi dengan kami semua," kata Cia Sun.
Yo Han memandang kepada adik ang-katnya itu sambil mengerutkan alisnya dan suaranya memang lembut, namun penuh teguran ketika dia berkata, "Cia-siauwte, kenapa engkau melanggar janji, mengerahkan pasukan pemerintah untuk menyerbu perkumpulan pejuang?" Wajah Cia Sun berubah kemerahan.
"Ahhh, Twako.
Aku sama sekali bukan mengerahkan pasukan untuk menyerbu perkumpulan pejuang, melainkan terpaksa mengerahkan pasukan untuk menolong Eng-moi dan nona Sian Li dari tangan penjahat! Hui Eng segera maju membela.
"Dia benar! Tanpa datangnya pasukan yang menyerbu perkumpulan Thian-li-pang yang sudah menjadi gerombolan penjahat itu, mungkin kami sekarang telah tewas." Sian Li sudah maju dan memegang lengan Yo Han dengan mesra.
"Han-koko, mereka itu benar.
Pangeran mengerahkan pasukan bukan hanya untuk menyelamat-kan kami berdua, bahkan untuk mencoba menolongmu yang dikabarkan tewas da-lam sumur." Yo Han termangu.