Dan engkau, paman Siangkoan, cepat atur ba-risan Thian-li-pang kita, bagi menjadi dua untuk mempertahankan depan dan belakang.
Aku akan menangkap para tawanan untuk dijadikan sandera, karena aku yakin Pangeran Cia Sun berdiri di belakang penyerbuan ini!" Tiga orang pembantu itu segera pergi melakukan perintah dan Seng Bu hendak berlari masuk, agaknya sudah lupa sama sekali kepada Kim Giok.
"Koko, jangan!" Kim Giok melompat dan gadis ini sudah berdiri menghadang Seng Bu.
"Giok-moi, minggirlah kau!" bentak Seng Bu marah, matanya yang mencorong itu sama sekali sudah tidak mengandung sinar kasih sayang, melainkan kebengisan dan kemarahan.
"Tidak, Bu-koko! Engkau tidak boleh membuat mereka bertiga menjadi sandera.
Bahkan setelah pasukan pemerintah me-nyerang, jelas bahwa mereka tidak mempunyai hubungan dengan itu karena me-reka berada di sini sebagai tawanan, maka kita sudah seharusnya membebas-kan mereka sekarang juga.
Mungkin me-reka akan menyadari dan membantu kita untuk melawan pasukan pemerintah." "Minggir, Giok-moi! Kalau mereka tidak boleh dijadikan sandera, mereka bahkan harus dibunuh agar berkurang musuh kita." "Bu-ko, musuh kita adalah penjajah Mancu, bukan anggauta keluarga besar para pendekar!" kata Cu Kim Giok dan kini Koai-liong-pokiam telah terhunus di tangannya.
"Aku tidak memperkenankan siapapun membunuh para tawanan itu!" Mendengar ini, tiba-tiba Ouw Seng Bu tertawa, dan suaranya tawanya sungguh mendirikan bulu roma, mengerikan.
"Ha-ha-ha-ha-ha, kiranya engkau pun kini menjadi musuhku, Giokmoi" Engkau kucinta sepenuh jiwa ragaku, engkau pun memusuhi aku" Engkau tega sekali, Giok-moi...." dan laki-laki ini pun menangis! Kim Giok sampai menjadi bengong dan baru sekarang ia dapat menduga bahwa pria yang dicintanya ini adalah seorang yang miring otaknya.
"Ha-ha-ha," Seng Bu tertawa lagi.
"Engkau hendak membela mereka?" Dia pun berteriak kepada sekelompok anak buahnya yang berlari dekat.
"Heiii, kalian! Cepat suruh bakar tempat tahanan.
Sekarang juga, cepat!" "Baik, Pangcu!" sahut mereka dan mereka pun berlarian ke arah rumah tahanan.
"Tidaaak, jangan....!" Kim Giok me-lompat ke depan untuk mengejar dan mencegah anak buah Thian-li-pang itu melakukan pembakaran.
"Cu Kim Giok, engkau musuh kami!" terdengar bentakan Seng Bu dan dia pun sudah meloncat lalu langsung mengirim pukulan ketika tubuhnya dan tubuh Kim Giok masih melayang di udara.
307 Karena tidak menduga bahwa pria yang dikasihinya itu akan menyerangnya, juga karena serangan aneh itu datangnya amat cepat, membawa angin dingin, ma-ka biarpun Kim Giok berusaha melakukan gerakan poksai (salto) untuk menghindar, tetap saja lambungnya terkena pukulan itu.
"Aughhh....!" Kim Giok mengeluh dan tubuhnya terkulai, jatuh ke atas tanah.
Ia rebah miring dan merasa betapa lam-bungnya seperti dimasuki benda dingin sekali, seperti sebongkah air beku dan dadanya sesak, pandang matanya ber-kunang.
"Giok-moi....
kekasihku....
Giok-moi....!" Seng Bu menangis dan dia meng-hampiri tubuh yang roboh miring itu.
Akan tetap pada saat itu, terdengar suara yang membuat Seng Bu terkejut seperti disengat binatang berbisa dan tengkuknya terasa dingin dan tebal sa-king ngeri dan takutnya.
"Ouw Seng Bu, pengkhianat keji ma-nusia berhati iblis!" Suara Yo Han.
Cepat Seng Bu membalikkan tubuhnya dan dia sudah berhadapan dengan Yo Han! Dia merasa seperti dalam mimpi dan menatap wajah Yo Han dengan mata terbelalak.
Apalagi mendengar suara gaduh pertem-puran yang menunjukkan bahwa pasukan pemerintah sudah menyerbu ke dalam perkampungan Thian-li-pang.
Sementara itu, Kim Giok mengangkat mukanya dan ia terbelalak melihat api telah membakar rumah tahanan.
Melihat api mulai berkobar, seakan timbul sema-ngat dan kekhawatirannya.
Ia meloncat dan dengan pedang di tangan, ia seperti melupakan rasa nyeri di lambungnya.
Ia berlari menuju ke rumah tahanan itu, tidak mempedulikan lagi kepada Seng Bu.
Setelah tiba di dekat rumah tahanan itu, dia melihat beberapa orang anggauta Thian-li-pang sedang membakar bagian samping rumah tahanan yang sudah mulai berkobar.
Dengan marah Kim Giok meng-gerakkan pedangnya dan empat orang anggauta Thian-li-pang roboh.
Dua orang lagi yang menjadi terkejut melihat tu-nangan ketua mereka mengamuk, tahu bahwa calon nyonya ketua itu kini menjadi musuh.
Mereka menggerakkan golok, akan tetapi mereka pun segera terpelanting mandi darah, menjadi korban pedang Koai--liong Po-kiam di tangan gadis dari Lem-bah Naga Siluman itu.
Kim Giok tidak mempedulikan berkobarnya api, dengan cepat ia meloncat masuk, menyelinap dan berlari menuju ke kamar tahanan.
Ia melihat betapa Sian Li dan Hui Eng telah dapat mematahkan rantai yapg membelenggu kaki tangan mereka dan mereka berdua kini sedang berusaha se-kuat tenaga untuk menjebol jeruji baja dengan menarik dan membetot-betot, namun agaknya usaha ini tidak akan membawa hasil.
Juga di bagian ujung sana, di mana Gak Ciang Hun, Gan Bi Kim dan lima orang tosu ditahan, ter-dengar suara gaduh ketika mereka men-dorong-dorong pintu baja kamar tahanan mereka.
Dengan sisa tenaga terakhir, Kim Giok menyambut empat orang anggauta Thian-li-pang yang agaknya hendak me-ninggalkan ruangan yang mulai terbakar itu.
Mereka adalah para penjaga sebelah dalam dan ia tahu bahwa kunci kamar--kamar tahanan itu pasti berada di tangan mereka.
Pedangnya berkelebat menyam-bar-nyambar dan robohlah empat orang itu.
Kim Giok memeriksa pakaian mereka dan menemukan gelang besi yang digan-tungi beberapa buah kunci.
Cepat ia menghampiri kamar tahanan di mana Sian Li dan Hui Eng sejak tadi meman-dangnya dengan sinar mata penuh harap-an dan kegembiraan.
Tentu saja mereka berdua merasa gembira sekali bahwa pada saat terakhir, ternyata Kim Giok menunjukkan bahwa ia tetap seorang puteri sepasang pendekar dari Lembah Naga Siluman yang gagah perkasa! 308 Setelah Kim Giok berhasil membuka kunci pintu dan menarik daun pintu baja terbuka, ia pun terhuyung.
Ia menyerah-Kan gelang kunci kepada Sian Li sambil berpegang kepada jeruji.
"Cepat....
bebaskan mereka....
di ujung sana....!" Dan ia pun terkulai roboh.
"Kim Giok....!" Sian Li berseru dan cepat merangkulnya.
Kepada Hui Eng ia berkata, "Enci Eng, cepat bebaskan ta-wanan di ujung sana, bahkan kalau masih ada yang lain, bebaskan mereka semua." Hui Eng menerima kunci dan tak lama kemudian ia sudah membuka pintu kamar tahanan di mana Ciang Hun dan lain-lain dikeram.
Sian Li masih memeriksa keadaan Kim Giok dan terkejutlah ia ketika me-lihat lambung gadis itu terdapat tanda menghitam dan sekali raba saja tahulah ia bahwa isi perut gadis itu telah menderita luka yang agaknya tidak mungkin disembuhkan lagi.
"Kim Giok....!" Ia merangkul, penuh keharuan.
Biarpun gadis yang terluka parah itu tidak menerangkan, Sian Li sudah dapat menduga bahwa tentu Kim Giok terpukul oleh Ouw Seng Bu ketika gadis ini nekat hendak membebaskan ia dan Hui Eng.
Hanya yang membuat ia heran, bagaimana Kim Giok tetap masih dapat membebaskannya, padahal pukulan itu saja merupakan pukulan maut yang mematikan.
"Sian Li....
mintakan ampun....
kepada ayah ibu...." Kim Giok mengeluh dan terkulai.
"Sian Li, cepat kita harus meninggal-kan tempat ini.
Kebakaran mulai mem-besar dan sebentar lagi tidak akan ada jalan keluar," kata Hui Eng yang datang bersama Gak Ciang Hun, Gan Bi Kim dan lima orang tosu Bu-tong-pai.
Sian Li memandang dan Ciang Hun juga berkata, "Benar, adik Sian Li, kita harus cepat pergi.
Ah, bukankah itu adik Cu Kim Giok" Kenapa ia?" Sian Li menjawab dengan suara geme-tar, "Gak-twako....
tanpa pertolongan Kim Giok, kita semua akan hangus dan mati terbakar.
Ia yang menolong kita membukakan pintu tahanan dan ia....
ia telah tewas.
Mari, bantu aku membawa-nya keluar, Twako." Tanpa diminta untuk ke dua kalinya, Ciang Hun sudah mengangkat tubuh yang masih hangat dan lemas itu, memondong dan membawanya ke luar bersama yang lain.
Melihat di luar sudah terjadi pertem-puran hebat antara anak buah Thian--li-pang melawan pasukan pemerintah yang menyerbu masuk, Sian Li menyerah-kan jenazah Kim Giok agar ditunggu oleh lima orang tosu Bu-tong-pai yang masih menderita luka-luka, sedangkan ia sendir bersama Hui Eng, Ciang Hun dan Bi Kim lalu mengamuk, membantu pasukan me-nyerbu para anggauta Thian-li-pang se-hingga mereka itu cerai-berai dan banyak yang jatuh.
"Aku harus mencari Seng Bu!" teriak Sian Li dengan marah.
"Aku akan mencari Siangkoan Kok!" kata pula Hui Eng.
Akan tetapi, mereka melihat Siang-koan Kok dan dua orang tosu pembantu, yaitu Im Yang-ji tokoh Pat-kwa-pai dan Kui Thian-cu tokoh Pek-lian-kauw, meng-amuk dan membuat para perajurit dan perwira yang mengeroyok menjadi kocar--kocir dan banyak perajurit yang roboh.
Hui Eng yang melihat Siangkoan Kok mengamuk, segera mencabut pedangnya dan menyerang bekas ayah angkatnya, juga gurunya itu.
Memang Ouw Seng Bu tidak merampas senjata para tawanan itu sehingga kini mereka dapat memperguna-kan senjata masing-masing.