Biarpun menurut hati akal pikiran dia tertimpa malapetaka, terkubur hidup-hidup di dalam sumur tua, suatu hal yang amat tidak menyenangkan, juga yang mengancam ke-selamatan nyawanya, namun pemuda ini sama sekali tidak tenggelam ke dalam keputusan, tidak terseret ke dalam ke-dukaan.
Kekuatan seperti yang dimiliki Yo Han ini dapat kita miliki, yaitu kalau kita memiliki kepasrahan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, dengan iman yang sepenuhnya, sehingga kita yang se-penuhnya percaya bahwa apa pun yang terjadi, tidak lepas dari kehendak Tuhan!Yo Han terbebas dari kematian, ter-timbun atau tertimpa batu, kemudian, dia terbebas pula dari bahaya kelaparan ketika dapat menemukan jamur yang dapat dimakan.
Kini, dia berusaha sekuat tenaga untuk mencari jalan keluar tanpa sedikit pun pernah mengurangi penyerah-annya kepada Tuhan.
Andaikata Tuhan menghendaki bahwa dia akan tewas, dia sudah siap setiap saat.
Dengan amat giat dan tekun, Yo Han mencari jalan keluar dengan menggali lubang-lubang yang sempit, mencari jalan keluar.
Sebuah demi sebuah batu dia lepaskan, melanjutkan gerakannya me-rayap dalam lubang terowongan yang kecil sempit itu.
Setiap hari, bahkan dalam gelap pun dia bekerja, hanya ber-henti kalau dia memerlukan istirahat untuk menghimpun tenaga baru atau kalau dia lapar dan mengantuk.
Akhirnya, pada suatu siang, ketekunan yang penuh penyerahan itu mendatangkan hasil yang sama sekali di luar dugaannya.
Ada sinar terang di depan.
Dia merayap terus, menyingkirkan batu-batu penghalang lubang sempit itu dan akhirnya, ternyata lubang terakhir yang merupakan lorong amat panjang itu membawa dia muncul di tepi sebuah tebing jurang, di lereng bukit! "Terima kasih, Tuhan!" Yo Han ber-lutut dengan sepenuh hati merasa ber-syukur akan kemurahan Tuhan yang telah membebaskannya dari dalam bumi yang seolah menghimpitnya itu! Kemudian, dia duduk bersila setelah makan jamur meng-himpun kekuatan dan menjelang sore, dia mulai mencari jalan menuruni tebing yang curam itu.
Malam gelap membuat Yo Han terpaksa menghentikan usahanya dan dia melewatkan malam di tebing jurang.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi setelah terang tanah, dia melanjutkan usahanya menuruni tebing itu.
Dia harus segera kembali ke Thian-li-pang dan mengadakan pembersihan di sana.
Dia sekarang mengerti bahwa Ouw Seng Bu telah berkhianat, telah membunuhi para pimpinan Thian-li-pang dan mengangkat diri sendiri menjadi ketua.
Dan pemuda yang aneh itu, yang memiliki ilmu aneh pula, telah mengajak golongan sesat untuk bersekutu.
Thian-li-pang telah diselewengkan dia harus bertindak.
Dialah yang bertaggung jawab.
Dia teringat akan pesan mendiang kakek Ciu Lam Hok, gurunya, agar dia membersihkan Thian-li-pang dan mengembalikan Thian-li-pang kepada cita-cita semula, yaitu perkumpulan orang-orang berjiwa patriot, dan pendekar sejati yang berjuang untuk membebaskan bangsa dari penjajahan.
Mejadi pembela bangsa bukan pengganggu keamanan rakyat, bukan menjadi penjahat! *** "Giok-moi....
kenapa engkau menangis....?" Suara yang lembut dan sentuhan halus pada pundaknya membuat Kim Giok terkejut.
Ia bangkit duduk dan melihat Seng Bu sudah duduk di tepi pembaringan-nya, dan kini pemuda itu merangkul pun-daknya.
"Koko....aku....
aku merasa gelisah sekali...." Seng Bu menarik gadis itu ke dadanya dan mengelus rambutnya yang halus.
"Giok-moi tersayang, kenapa engkau geli-sah" Bukankah di sini ada aku yang se-lalu siap untuk melindungimu dan mem-bahagiakan hatimu?" Dia mengusap dahi gadis itu dengan bibirnya.
"Apakah yang telah terjadi, sayangku." "Koko, betapa hatiku tidak akan geli-sah dan risau" Ketika aku mencoba untuk membujuk Sian Li dan Hui Eng, aku ha-nya mendapat teguran, ejekan dan penghinaan.
Ketika aku menemui tawanan baru itu, ternyata pemuda itu adalah twako Gak Ciang Hun, dan aku pun di sana menerima celaan dan makian.
Ahhh, Koko, sungguh aku merasa malu dan bersedih sekali...." "Kalau begitu, biar kuhajar mereka, kusiksa mereka yang berani menghina dan mengejekmu!" 304 Kim Giok memegang lengan pemuda itu.
"Jangan, Koko! Bukan begitu maksud-ku.
Aku gelisah dan risau karena aku merasa bimbang.
Kenapa mereka menolak berjuang bersama kita" Mengapa mereka menganggap engkau bersalah dan jahat?" Rangkulan Seng Bu semakin erat, dan dia berbisik dekat telinga gadis itu.
"Giok--moi, apakah engkau tidak percaya kepada-ku" Tentu saja mereka memusuhiku ka-rena mereka semua itu memihak Yo Han, tidak tahu bahwa Yo Han telah berubah, telah membunuhi para pemim-pin Thian-li-pang, bahkan hampir saja membunuhku.
Engkau tahu sendiri betapa aku hampir mati, Giok-moi.
Kalau eng-kau pun seperti mereka, tidak percaya kepadaku, habislah sudah harapan hidupku.
Engkaulah satu-satunya orang yang mem-beri harapan kepadaku.
Biar seluruh ma-nusia di dunia ini tidak percaya kepadaku dan memusuhiku, akan kuhadapi dan ku-lawan mereka yang memusuhiku!" "Koko...." Kim Giok yang kurang pengalaman itu terbuai oleh kemesraan kata-kata yang diucapkan Seng Bu.
"Aku akan selalu berpihak padamu, membelamu dan setia kepadamu." "Terima kasih, Giok-moi, aku cinta padamu, Giok-moi, aku cinta padamu se-penuh jiwa ragaku." Ucapan ini meng-getar penuh perasaan dan baru saat itu-lah Seng Bu benar-benar bicara dari lubuk hatinya.
Memang dia jatuh cinta kepada Kim Giok, walaupun cintanya bergelimang nafsu berahi, cintanya tim-bul karena baginya, tidak ada gadis yang lebih cantik menggairahkan daripada Kim Giok.
Dengan tubuh gemetar, dia men-dekap dan mencium pipi dan bibir gadis itu.
Kim Giok agak terkejut dan ia de-ngan halus melepaskan diri dari rangkul-an.
Ia sendiri kalau mau jujur, merasa senang dengan perlakuan penuh kemesra-an itu, akan tetapi karena hatinya me-mang sedang risau, ia pun tidak ingin melanjutkan kemesraan yang membuat jantungnya berdebar keras itu.
"Koko, aku ingin bicara padamu." Seng Bu tersenyum.
"Ehhh" Bukankah sudah sejak tadi kita bicara?" Dia hen-dak merangkul lagi akan tetapi Kim Giok menolak dengan tangannya.
"Aku tidak main-main dan harap eng-kau bersungguh-sungguh, Bu-ko.
Aku min-ta kepadamu agar engkau suka membebas-kan mereka bertiga, yaitu Sian Li, enci Hui Eng, dan Gak-twako.
Kalau engkau tidak membebaskan mereka, hatiku akan selalu merasa risau.
Maukah engkau, Koko?" Seng Bu mengerutkan alisnya dan se-jenak dia menatap wajah kekasihnya.
penuh selidik.
"Giok-moi, tidak salahkah apa yang kudengar ini" Engkau minta kepadaku agar aku membebaskan orang--orang yang memusuhi aku dan yang hen-dak membunuhku?" Dia tersenyum, akan tetapi senyumnya masam.
"Itu berarti melepaskan tiga ekor harimau yang akan selalu mengancam keselamatanku, ke-selamatan kita, bahkan akan menggagalkan usaha perjuangan kita.
Itukah yang kau-kehendaki." "Tentu saja tidak, Koko.
Aku akan mengajukan syarat kepada mereka, ku-minta mereka berjanji tidak memusuhimu kalau kita bebaskan mereka." "Itu berbahaya sekali, Giok-moi.Ingat, masih ada seorang lagi dari mereka yang lolos, yaitu Pangeran Cia Sun.
Dia meru-pakan ancaman besar bagi kita selama dia masih belum tertangkap.
Setelah dia tertawan, baru kita bicarakan lagi ten-tang permintaanmu itu.
Percayalah pada-ku, Giok-moi.
Bukankah selama ini aku tidak pernah berbohong kepadamu dan kuperintahkan anak buah kita agar mem-perlakukan para tawanan itu dengan baik?" Kembali Seng Bu meraih dan merangkul, hendak mencium dan hendak merebahkan gadis itu ke atas pembaringan.
Kim Giok meronta dan melepaskan diri, meloncat turun dari pembaringan, memandang kepada kekasihnya dengan alis berkerut.
"Koko, apa yang kaulakukan ini?" "Giok-moi, kita saling mencinta dan aku tahu, aku selalu sibuk dengan peker-jaan ini.
Aku....
aku ingin....
memiliki dirimu sepenuhnya.
Giok-moi...." Pemuda itu hendak merangkul lagi, akan tetapi Kim Giok melangkah mundur menghindar.
"Bu-ko, kita tidak boleh kita belum menikah!" "Giok-moi, kasihanilah aku.
Kita pasti akan menikah, akan tetapi aku harus meminangmu dulu kepada orang tuamu dan hal itu akan makan waktu lama.
Aku ingin memiliki dirimu sepenuhnya, se-karang...." "Tidak, aku tidak mau!" "Giok-moi....!" Seng Bu menjulurkan kedua tangannya, akan tetapi Kim Giok meloncat keluar dari dalam kamar itu, dikejar kekasihnya.
Sebetulnya, Seng Bu bukanlah seorang pemuda yang gila wa-nita, bukan pula hamba nafsu berahi.
Akan tetapi, dia sungguh-sungguh jatuh cinta kepada Kim Giok dan dia takut kehilangan gadis itu yang agaknya kini meragu dan bahkan minta agar para tawanan dibebaskan.
Kalau dia dapat menggauli Kim Giok sekarang, tentu gadis itu terikat kepadanya dan tidak akan lepas lagi dari tangannya, bahkan akan lebih kuat dan patuh kepadanya.
Karena itu, sikapnya sekarang seperti hendak memaksa Kim Giok menyerahkan diri lebih dipengaruhi perhitungan yang menguntungkan dirinya daripada sekedar terseret nafsu berahi.
Kim Giok berlari keluar dari bangun-an itu, dikejar oleh Seng Bu yang tentu saja tidak hendak berlaku kasar, hanya mengejar untuk membujuk kekasihnya.
"Giok-moi, tunggu....!" serunya sambil tertawa karena merasa betapa kekasihnya itu seperti mengajaknya bermain kejar--kejaran seperti kanak-kanak saja.
Pada saat itu, terdengar suara terom-pet dan tambur, disusul kegaduhan luar biasa di bawah puncak.
Beberapa orang anak buah Thian-li-pang berlari-larian dan ketika Kim Giok dan Seng Bu yang berhenti berlari memandang, nampak Kui Thian-cu, Im Yang-ji dan Siangkoan Kok datang pula berlarian.
"Ah, celaka, Pangcu!" kata Im Yang-ji dengan muka pucat.
Tosu Pat-kwa--pai yang tinggi kurus ini nampak gugup.
"Apa yang terjadi" Kenapa kalian begitu panik?" Seng Bu bertanya.
"Pangcu, pasukan besar pemerintah telah mengepung kita dari empat pen-juru!" kata pula Im Yang-ji.
306 "Jahanam!" Seng Bu berseru marah dan matanya mulai mencorong aneh se-hingga Kim Giok yang melihatnya menjadi terkejut.
Dalam keadaan marah seperti itu, Seng Bu seolah telah berubah, wajah-nya bengis, pandang matanya mencorong dan otaknya mendadak saja menjadi cerdik dan licik sekali.
"Im Yang-ji Totiang, dan Kui Thian-cu Totiang, kalian cepat atur pasukan kalian masing-masing menyambut musuh dari sayap kanan dan kiri.