"Gak-twako!" serunya dengan nada protes.
"Agaknya engkau pun sudah dipengaruhi lima orang tosu yang sombong ini.
Ouw Seng Bu bukanlah seorang jahat.
Dia ketua Thian-li-pang yang berjiwa pahlawan dan yang bertekad untuk mengusir penjajah Mancu dari tanah air!" "Pahlawan yang bergaul dengan para penjahat dan golongan sesat dari Pek--lian-kauw dan Pat-kwa-pai" Bukan orang jahat akan tetapi membunuh Sin-ciang Tai-hiap Yo Han, membunuhi para pim-pinan Thian-li-pang, bahkan menawan Tan Sian Li" Dan engkau masih mengatakan dia tidak jahat?" "Gak-twako, engkau salah mengerti! Yang membunuh para pimpinan Thian--li-pang adalah Yo Han, bahkan dia hen-dak membunuh Ouw-pangcu.
Adapun Tan Sian Li terpaksa ditawan karena ia hen-dak membunuh Ouw-pangcu dan mengamuk.
Juga Ouw-pangcu yang hampir dibunuh Yo Han sampai terluka parah, dan Yo Han terjerumus ke dalam sumur tua karena dikeroyok para anggauta Thian--li-pang yang membela ketuanya.
Tentang pergaulan dengan para tokoh kang-ouw, hal ini adalah karena kita semua bersatu padu menghimpun kekuatan untuk me-nentang penjajah Mancu! Kalau tidak bersatu dengan semua golongan bagai-mana mungkin penjajah Mancu dapat diusir dari tanah air" Harap engkau da-pat memaklumi, Gak 300 twako.
Dan sekali kalau engkau, enci ini, dan para tosu Bu-tong-pai suka bekerja sama dengan kami, berjuang bahu-membahu menentang pen-jajah Mancu." "Cukuplah, kami tahu bahwa engkau telah terbius oleh racun yang diberikan Ouw Seng Bu kepadamu sehingga engkau tidak lagi dapat melihat kenyataan, tidak dapat lagi, membedakan yang benar dan yang salah." kata Ciang Hun marah.
"Sudahlah, Nona, pergilah dan jangan ganggu kami.
Bujuk rayumu itu tidak ada gunanya.
Kami hanya merasa menyesal sekali bahwa seorang gadis keturunan keluarga Lembah Naga Siluman seperti Nona ini sampai dapat ditipu dan dibius oleh seorang penjahat gila seperti Ouw Seng Bu!" kata Thian-tocu.
Kim Giok tidak dapat menahan lagi mendengar semua itu.
Ia membalikkan tubuhnya dan meninggalkan tempat itu, wajahnya merah dan kedua matanya te-rasa panas menahan tangis.
Ia merasa bingung sekali melihat betapa kekasihnya mempunyai semakin banyak musuh dari golongan para pendekar dan hal ini amat merisaukan hatinya.
Setelah memasuki kamarnya sendiri, Kim Giok tidak dapat lagi menahan.
tangisnya dan ia menelung-kup di atas pembaringannya dan menangis.
Terjadi perang di dalam batinnya.
Mau tidak mau ia mempunyai kecondongan untuk membela dan mempercaya Sian Li, Hui Eng dan juga Ciang Hun.
Akan tetapi perasaan ini ditentang oleh cinta dan kepercayaannya kepada Seng Bu.
Seng Bu begitu baik kepadanya, begitu mencinta-nya dan menurut pendapatnya, kekasihnya itu seorang yang gagah perkasa dan bijaksana, dan merasa bahwa kekasihnya tidak salah, bahkan mendatangkan harapan besar bagi nusa bangsa untuk mengusir penjajah dari tanah air.
Sementara itu, Sian Li dan Hui Eng sudah menghentikan siu-lian mereka dan merasa tubuh mereka segar dan penuh kekuatan.
Akan tetapi Hui Eng melihat kemuraman membayangi wajah Sian Li yang cantik.
Ia tahu bahwa Si Bangau Merah itu tentu memikirkan Yo Han, maka ia pun menghibur.
"Adik Sian Li, tenangkan hatimu.
Tidak baik dalam keadaan seperti ini membiarkan diri dicekam kerisauan, mem-buat kita menjadi lemah." katanya lirih.
Sian Li mengangkat muka memandang wajah Hui Eng, lalu menghela napas panjang.
"Engkau benar, enci Eng.
Akan tetapi aku tidak pernah dapet melupakan Han-koko.
Membayangkan dia berada dalam sumur yang ditimbuni batu....
ah, bagaimana hatiku takkan risau?" "Kerisauan hatimu tidak akan me-nolong apa-apa, adik Sian Li, tidak ada manfaatnya sama sekali.
Jangan biarkan hatimu ditekan kerisauan yang menegang-kan dan percaya sajalah bahwa Tuhan tentu akan selalu menolong orang yang baik dan benar.
Dan aku yakin bahwa Yo Han adalah orang yang berada di pihak benar.
Kalau Tuhan tidak menghendaki dia mati, biarpun dia benar-benar berada di dalam sumur itu, aku yakin dia tidak akan mati.
Yang penting sekarang me-mikirkan bagaimana kita dapat lolos dari sini dan melanjutkan penyelidikan kita tentang Yo-twako itu." "Akan tetapi bagaimana mungkin itu di-lakukan, enci Eng" Kita dapat mematah-kan rantai yang mengikat kaki tangan ki-ta, akan tetapi kita tidak akan dapat membuka pintu besi dan beruji itu, terlalu kuat.
Selain itu, para penjaga di luar tentu akan bertertak-teriak dan kalau Ouw Seng Bu datang bersama pera pem-bantunya, mereka itu terlalu banyak dan terlalu kuat bagi kita." 301 "Tenangkan hatimu, adik Sian Li.
Aku masih mempunyai harapan.
Lupakah eng-kau kepada kanda Cia Sun?" kata Hui Eng dan kedua pipinya menjadi kemerah-an ketika ia teringat kepada pangeran yang menjadi kekasihnya dan kini men-jadi tumpuan harapannya itu.
"Ah, engkau benar, enci Eng.
Melihat bahwa sampai sekarang Pangeran Cia Sun tidak nampak tertawan musuh, hal itu berarti bahwa dia masih bebas.
Dan ti-dak mungkin Pangeran Cia Sun akan membiarkan saja gadis yang paling di-cintanya di seluruh dunia tertawan mu-suh.
Dia pasti berusaha untuk membebas-kanmu, enci Eng." "Ihhh! Bukan hanya aku, akan tetapi engkau juga pasti akan dia usahakan agar dapat bebas." "Akan tetapi, enci Eng.
Bagaimanapun juga, kita mengetahui bahwa dalam hal ilmu silat, pangeran tidaklah lebih lihai daripada engkau atau aku.
Bagaimana mungkin dia dapat mengatasi Ouw Seng Bu dan para pembantunya yang lihai, dan anak buahnya yang cukup banyak?" "Kukira dia tidak sebodoh itu, hanya mengandalkan tenaga sendiri.
Bagaimana-pun juga, dia seorang pangeran dan tentu tidak akan sukar baginya untuk men-dapatkan bantuan pasukan yang terdekat, bukan" Kalau dia mengerahkan pasukan yang besar, tentu gerombolan penjahat yang berkedak pejuang ini dapat dibasmi." "Engkau benar, enci Eng.
Akan tetapi, bayangan itu sungguh tidak mengenakkan hatiku.
Kalau pasukan pemerintah yang datang menolong, bukankah itu sama artinya dengan kita berpihak kepada pen-jajah" "Adik Sian Li, kita harus dapat me-lihat kenyataan dan dapat mempertim-bangkan dengan adil.
Kalau Thian-li-pang merupakan sekelompok pejuang, segolong-an pendekar yang berjiwa patriot, apakah kita sampai menentang mereka dan menjadi tawanan mereka" Ingat, bahwa kalau pasukan pemerintah benar-benar dikerah-kan pangeran Cia Sun untuk menggempur Thian-li-pang, yang digempur adalah ge-rombolan penjahat, bukan perkumpulan pejuang sejati." Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan penuh keyakinan.
"Aku me-ngenal baik Pangeran Cia Sun.
Harus kuakui bahwa dia seorang pangeran Man-cu, akan tetapi dia tidak berjiwa pen-jajah, bahkan dia menghormati para pe-juang dan tidak akan mencampuri urusan pemberontak para pejuang.
Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin dia sampai menjadi adik angkat Sin-ciang Tai-hiap Yo Han?" Sian Li tersenyum.
Tentu saja gadis itu akan membela mati-matian Pangeran Cia Sun, kekasihnya, tunangan dan calon suaminya.
Akan tetapi, pembelaan itu pun bukan hanya ngawur dan ia tak da-pat membantah kebenaran apa yang di-ucapan Hui Eng.
"Mudah-mudahan Pangeran Cia Sun cepat muncul dengan bala bantuannya, enci Eng.
Aku ingin cepat bebas dan mencari Han-ko.
Kalau perlu, akan kubongkar dengan tanganku sendiri batu-batu yang menimbuni sumur tua itu." Mereka menerima suguhan makan malam yang dimasukkan melalui lubang di antara jeruji baja.
Ternyata Ouw Seng Bu tetap memperlakukan mereka dengan baik.
Hidangan yang disuguhkan cukup mewah, bahkan ada pula minuman anggur segar.
Mereka berdua tidak menolak dan makan sampai kenyang untuk menjaga kondisi tubuh mereka, kemudian mereka bersamadhi lagi mengumpulkan kekuatan agar selalu siap menghadapi segala kemungkinan.
Diam-diam mereka pun dapat menduga bahwa berkat adanya Cu Kim Giok di situ, maka agaknya Ouw Seng Bu bersikap lunak kepada mereka.
Menyerah dengan penuh kepasrahan, penuh kepercayaan akan kekuasaan Tuhan, dan berdaya upaya sekuat tenaga dan kemampuan yang ada merupakan dua persyaratan hidup yang tak boleh dipisah-kan dan tidak boleh pula diabaikan kita.
Hanya menyerah saja tanpa berupaya, atau hanya berupaya saja tanpa penyerah-an dengan keimanan kepada Tuhan, tidak-lah lengkap dan tidak pula benar.
Kita hidup sebagai hasil ciptaan Tuhan yang sempurna dan lengkap, dan semua per-lengkapan yang pada kita ini memang diikut-sertakan kita agar dapat kita per-gunakan untuk keperluan hidup.
Panca indera kita, tangan kaki kita, hati akal pikiran, semua itu merupakan perlengkap-an sempurna yang sudah sepatutnya kita pergunakan, kita kerjakan demi kelangsungan hidup ini, demi kesejahteraan, demi kebahagiaan hidup.
Namun, di sam-ping daya upaya ini, kita harus yakin sepenuhnya bahwa segala sesuatu baru dapat terjadi apabila ditentukan oleh kekuasaan Tuhan! Menyerah saja tanpa usaha, sama saja dengan mempersekutu Tuhan.
Kalau perlu kita lapar, kita harus makan dan untuk bisa makan kita harus mencari makanan itu.
Hanya menyerah saja tanpa makan, tidak mungkin kita terbebas dari rasa lapar.
Akan tetapi, mencari makanan saja tanpa penyerahan kepada Tuhan, kita dapat dibawa me-nyeleweng oleh nafsu sehingga kita mu-dah melakukan penyelewengan, misalnya mengambil kebutuhan kita itu dari orang lain, mencuri, merampok dan sebagainya.
Maka, kedua syarat itu tidak terpisahkan, yaitu, pada lahirnya kita berusaha sekuat kemampuan kita, pada batinnya kita menyerah kepada kekuasaan Tuhan.
Kalau sudah begini, lengkaplah sudah.
Berhasil atau tidaknya usaha kita, kita serahkan kepada Tuhan.
Yang terpenting, kita berusaha sekuat kemampuan kita! Kalau sudah begini, berhasil atau gagal tidak membuat kita terlalu mabuk atau terlalu kecewa, karena kita maklum sepenuhnya bahwa segala kehendak Tuhan pun jadilah! Kita hanya dapat bersyukur akan kekuasa-an Tuhan.
Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui, tahu apa yang terbaik bagi kita.
Mungkin di dalam suatu kenyataan yang bagi hati akal pikiran kita merupakan kegagalan, tersembunyi suatu hikmah, tersembunyi suatu berkah demi kebaikan kita.
Dalam kehidupan kita ini, betapa banyaknya berkah Tuhan bersem-bunyi di balik pengalaman yang kita anggap menguntungkan atau tidak me-nyenangkan.
Demikian pula dengan Yo Han.