Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 94

Memuat...

Dengan sikap hormat Seng Bu meng-angkat tangan memberi hormat kepada lima orang tosu dan dua orang muda itu.

"Selamat pagi Ngo-wi To-tiang dan kali-an berdua sobat muda.

Tidak tahu, entah angin baik apa yang meniup kalian da-tang ke sini.

Kami harap saja Ngo-wi To-tiang telah menyadari bahwa akhirnya kita semua, tidak peduli dari golongan apa, mempunyai tekad yang sama, yaitu bersatu padu menghadapi penjajah Mancu dan mengusir mereka dari tanah air kita." Thian-tocu, tokoh Bu-tong-pai yang menjadi pemimpin rombongan tokoh Bu--tong-pai yang lima orang itu, membalas penghormatan Ouw Seng Bu dan berkata dengan sikap dan suara yang dingin, "Ouw--pangcu, kami berlima datang kembali bukan dengan maksud untuk menyerah, walaupun kami mengakui bahwa kami telah kaukalahkan dalam pertandingan.

Kami bertemu dengan dua orang sahabat muda ini dan kami menemani mereka untuk berkunjung ke Thian-li-pang.

Ke-tahuilah bahwa saudara muda ini adalah saudara Gak Ciang Hun, putera dari mendiang Beng-san Siang-eng, dan ini adalah nona Gan Hi Kim." "Ah, kiranya Gak-enghiong yang da-tang berkunjung.

Kami dari Thian-li-pang merasa mendapat kehormatan besar se-kali dengan kunjungan Gak-enghiong dan nona Bi Kim.

Kami memang sedang menghimpun tenaga dari seluruh penjuru tanah air untuk mengadakan persiapan menyerang penjajah Mancu dan mengusir-nya.

Kami mendengar bahwa keluarga Gak dari Beng-san merupakan pendekar--pendekar dan pahlawan-pahlawan besar yang tentu akan suka bekerja sama de-ngan kami untuk mengusir penjajah Mancu." Gak Ciang Hun sudah mendengar dari para tosu Bu-tong-pai betapa cerdik dan liciknya ketua baru Thian-li-pang itu dan kini begitu bertemu, ketua itu ternyata telah memperlihatkan dua macam ke-lihaiannya.

Pertama, dia serombongannya tiba-tiba saja sudah dikepung, ini berarti bahwa sejak mendaki bukit, mereka te-lah diketahui dan dibayangi.

Dan ke dua, begitu bertemu, ketua itu telah bersikap demikian ramah dan hormat sehingga dia sendiri andaikata belum mendengar dari para tosu, tentu akan terpikat hatinya oleh keramahan pemuda tampan itu.

Akan tetapi karena sebelumnya dia sudah mendengar bahwa pemuda ini seorang yang palsu dan dikabarkan telah mem-bunuh Yo Han, dia pun menyambut dingin saja.

"Pangcu, kami sengaja datang ke Thian-li-pang untuk mencari nona Tan Sian Li.

Apakah ia berada di sini?" "Ah, kaumaksudkan Si Bangau Merah" Benar, ia berada di sini, menjadi tamu kehormatan kami.

Ia sudah menyatakan setuju untuk membantu kami, untuk be-kerja sama menentang penjajah Mancu.

Kalau Gak-enghiong ingin bertemu de-ngannya, mari, silakan masuk ke perkam-pungan kami!" kata Seng Bu dengan wa-jah cerah berseri.

Mendengar ini, Gak Ciang Hun dan Gan Bi Kim tercengang.

Jawaban yang tidak mereka sangka sama sekali dan mereka berdua sudah merasa gembira.

Akan tetapi, Thian-tocu, tosu Bu-tong--pai itu sudah berkata dengan suara lan-tang.

"Ouw-pangcu, tidak perlu engkau mem-bohongi Gan-taihiap dan kami.

Kami sama sekali tidak percaya bahwa nona Tan Sian Li mau bekerja sama dengan-mu.

Kami sudah berjumpa dengannya dan mendengar bahwa engkau telah mem-bunuh Sin-ciang Tai-hiap Yo Han, bagai-mana mungkin ia mau bekerja sama de-nganmu" Kalau kaukatakan bahwa engkau telah menjebaknya dan menawannya, kami akan lebih percaya!" Wajah Seng Bu berubah merah dan matanya kini mencorong memandang kepada tosu Butong-pai itu.

Dia merasa heran bagaimana tosu ini dapat sembuh sedemikian cepatnya, padahal dia tahu benar bahwa tosu ini telah terkena ta-ngan beracun sehingga terluka parah.

"Totiang, kalau pihakmu hendak men-jadi antek penjajah Mancu dan tidak mau bekerja sama dengan kami para pejuang patriot bangsa, itu urusanmu.

Akan te-tapi jangan banyak mulut di sini.

Kami pernah mengampuni kalian dan membiar-kan kalian pergi.

Apakah kini kalian minta mati?" Perubahan sikap ketua Thian-li-pang ini membuat Gak Ciang Hun yang tadi-nya tertarik, menjadi terkejut dan tidak senang.

Sikap ketua Thian-li-pang itu amatlah aneh.

Baru saja wajahnya nam-pak tampan dan ramah ceria, akan tetapi kini kelihatan begitu bengis, dingin dan sadis, bahkan matanya yang mencorong itu mengandung nafsu membunuh yang mengerikan.

"Ouw-pangcu, agaknya membunuh merupakan pekerjaan biasa bagimu dan mungkin menjadi kegemaranmu.

Kalau memang engkau merasa sebagai seorang yang gagah, jangan menyangkal perbuatanmu sendiri dan akui sajalah apa yang telah terjadi dengan nona Tan Sian Li.

Kecuali kalau engkau memang pengecut, tidak berani mempertanggung-jawabkan perbuatanmu...." "Tutup mulutmu, tosu jahanam!" Seng Bu membentak dan dia sudah menggerak-kan tangannya menampar ke arah Thian-tocu sambil mengerahkan ilmunya yang dahsyat.

Hawa beracun yang amat kuat menyambar ke arah tosu Bu-tong-pai itu.

Melihat ini, Gak Ciang Hun yang me-ngenal pukulan ampuh, meloncat ke de-pan dan menangkis dari samping untuk menolong, tosu itu.

"Dukkk....!!" Mendapat tangkisan ini, Seng Bu mengeluarkan seruan kaget dan dia mundur dua langkah, akan tetapi Gak Ciang Hun lebih kaget lagi karena dia sempat terhuyung! Padahal, putera pen-dekar kembar Gak ini memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, pernah menerima pemindahan tenaga sinkang dari kakeknya, mendiang Bun-beng Lo-jin Gak Bun Beng! Akan tetapi, ketika menangkis, dia me-rasa betapa dari tangan ketua Thian--li-pang itu menyambar hawa dingin yang aneh sekali, yang membuat dia sampai terhuyung.

"Pangcu dari Thian-li-pang, kalau memang ucapan Thian-tocu Totiang tadi tidak benar, engkau berhak menyangkal, akan tetapi kalau benar, memang se-patulnya engkau berterus terang, bukan lalu menyerang seperti yang kaulakukan tadi! " Ciang Hun menegur.

Senyum iblis muncul di mulut Ouw Seng Bu.

"Heh-heh-heh, kami menerima kalian sebagai sahabat, akan tetapi ka-lau kalian menghendaki kekerasan baiklah.

Seperti yang kami lakukan terhadap Si Bangau Merah, kami menawarkan per-sahabatan dan kerja sama, akan tetapi kalau kalian menolak dan bersikap me-musuhi kami, terpaksa kami harus me-nawan kalian seperti yang telah kami lakukan terhadap Si Bangau Merah!" Mendengar ini, Ciang Hun mengecut-kan alisnya.

"Pangcu, kami tidak meng-hendaki persahabatan, juga tidak mencari permusuhan.

Akan tetapi kalau engkau telah menawan nona Tan Sian Li, kami menuntut agar engkau suka membebas-kannya sekarang juga.

"Heh-hah, bagaimana kalau kami tidak mau membebaskannya?" "Ouw Seng Bu, kalau engkau tidak mau membebaskan Tan-lihiap, kami akan mengadu nyawa denganmu!" bentak Thian--tocu marah.

Lima orang tosu Bu-tong--pai itu sudah mencabut pedang mereka, siap untuk bertanding mati-matian untuk menolong Si Bangau Merah.

"Ouw-pangcu, kami harap engkau suka membebaskan nona Tan Sian Li, agar kami tidak harus menggunakan kekerasan." Siangkoan Kok yang sejak tadi men-dengarkan saja, kini menjadi tidak sabar.

"Pangcu, serahkan saja kepadaku untuk menelikung pemuda sombong ini!" "Dan lima orang tosu Bu-tong-pai ini serahkan kepada kami!" kata Kui Thian--cu dan Im Yang-ji.

Ouw Seng Bu mengangguk dan para pembantunya itu segera bergerak me-nyerang.

Lima orang tosu Bu-tong, Ciang Hun dan Bi Kim menggerakkan senjata mereka menyambut dan terjadilah per-kelahian yang berat sebelah.

Baru tiga orang pembantu Seng Bu itu saja, bekas ketua Pao-beng-pai, wakil Pek-lian-kauw dan wakil Pat-kwa-pai sudah merupakan lawan berat bagi lima orang tosu dan banyak anggauta Thian-li-pang tingkat tinggi yang melakukan pengeroyokan.

Akan tetapi, bagaimanapun juga Gak Ciang Hun adalah keturunan pendekar sakti, permainan pedangnya mantap dan kuat, tenaga sin-kangnya pun mampu menandingi lawan yang manapun sehingga Siangkoan Kok yang menandinginya, tidak dapat mendesaknya dengan cepat.

Gan Bi Kim juga terdesak hebat oleh Kui Thian-cu yang mengejeknya, lima orang tosu kewalahan menghadapi pengeroyokan banyak anak buah Thian-li-pang.

Melihat betapa Siangkoan Kok belum juga mampu menundukkan Ciang Hun, Seng Bu menjadi tidak sabar lagi.

Dia tahu bahwa bekas ketua Pao-beng-pai itu cukup tangguh dan tidak akan kalah, akan tetapi dia tidak ingin perkelahian itu berlangsung terlalu lama.

Kalau sam-pai Kim Giok mengetahui, gadis itu ten-tu akan merasa tidak senang.

Juga, tidak baik kalau mereka ini sampai terbunuh.

Kalau dia dapat membujuk orang-orang yang lihai itu untuk bersekutu dengan-nya, hal itu akan amat menguntungkan dan memperkuat kedudukannya.

Maka, dia pun segera meloncat ke depan dan menyerang Gak Ciang Hun dengan totok-an jari tangannya, menggunakan ilmunya yang aneh, akan tetapi membatasi tenaga-nya agar jangan sampal melukai berat atau membunuh pemuda itu.

Dengan lengking yang aneh menyeram-kan, Seng Bu menyerang dan Ciang Hun yang menghadapi Siangkoan Kok saja sudah merasa sibuk karena ilmu kepandai-an kakek tinggi besar itu memang hebat, kini merasa ada sambaran angin dingin dari samping.

Dia mengelak ke kiri dan pada saat itu, Siangkoan Kok menyerang-nya dengan pedang, dibarengi pula de-ngan tamparan tangan kiri.

Ciang Hun menangkis pedang lawan, memutar tubuh dan menyambut tamparan tangan kiri lawan itu dengan tangan kirinya pula.

"Trang....

plakkk!" Kedua tangan itu bertemu dan melekat dan pada saat itu, totokan kedua yang dilakukan Seng Bu tiba.

Ciang Hun tidak mampu menghindar lagi dan dia pun roboh lemas terkena totokan ampuh jari tangan Seng Bu.

"Tangkap mereka, jangan bunuh!" teriaknya dan teriakan Seng Bu ini me-nolong.

Gan Bi Kim yang sudah terdesak, juga lima orang tosu itu, akhirnya roboh dan hanya lima orang tosu itu yang luka--luka, namun bukan luka yang terlalu pa-rah, sedangkan Gan Bi Kim juga roboh terkena totokan Im Yang-ji.

Demikianlah, lima orang tosu Bu-tong--pai, Ciang Hun, dan Bi Kim tertawan oleh Thian-lipang dan mereka dimasuk-kan ke dalam sebuah kamar tahanan yang cukup lebar, tidak dirantai seperti halnya Sian Li dan Hui Eng, akan tetapi kamar tahanan itu berjeruji tebal dan kokoh kuat, sedangkan di depannya ter-dapat penjagaan yang ketat terdiri dari belasan orang anak buah Thian-li-pang.

*** Ketika Cu Kim Giok berdiri di depan jeruji kamar tahanan itu dan melihat Ciang Hun, wajahnya berubah agak pucat dan matanya terbelalak.

Ia tidak begitu peduli melihat lima tosu Bu-tong-pai, Juga ia tidak mengenal gadis cantik yang ikut tertawan di kamar itu, akan tetapi ia segera mengenal Gak Ciang Hun yang pernah dijumpainya di dalam pesta per-temuan keluarga besar di rumah pende-kar Suma Ceng Liong.

"Kau....?" serunya kaget.

"Bukankah engkau....

saudara Gak Ciang Hun....?" Ciang Hun memandang dingin.

Dia sudah mendengar dari para tosu Bu-tong--pai tentang gadis itu.

"Hemmm....

dan engkau Cu Kim Giok, puteri paman Cu Kun Tek dan bibi Pouw Li Bian dari Lembah Naga Biluman.

Sungguh mengherankan sekali melihat engkau di sini menjadi kaki tangan se-orang jahat seperti Ouw Seng Bu, pangcu baru dari Thian-li-pang." Wajah Kim Giok berubah kemerahan.

Post a Comment