Kalau Sian Li su-dah memberi kesaksiannya, tentu dia tidak meragukan lagi kebenarannya.
"Ka-lau begitu, mari kita pergi dari sini dan bicara di luar tempat ini." Dia meman-dang kepada gadis yang tewas di samping Seng Bu dan bertanya, "Siapakah nona yang tewas ini?" "Han-koko, ia bukan orang lain.
Ia adalah puteri Paman Cu Kun Tek dari Lembah Naga Siluman." kata Sian Li.
Yo Han terbelalak.
"Ahhh....!" "Ia yang telah membebaskan kami dari rumah tahanan yang terbakar.
Tanpa bantuannya, kami semua tentu sudah ter-bakar mati di dalam kamar tahanan." kata pula Sian Li, lalu ia menunjuk ke-pada lima orang tosu, Gak Ciang Hun dan Gan Bi Kim.
"Lima orang Totiang ini dari Pu-tong-pai, dan ini kakak Gak Ciang Hun dan enci ini...." "Aku sudah mengenal Yo-taihiap dengan baik, adik Sian Li." "Benar apa yang dikatakan saudara Yo Han, kita bicara saja di luar.
Biar kubawa jenazah nona Cu Kim Giok ini keluar." Dia lalu memondong jenazah itu.
"Mari ikut aku.
Aku yang akan mem-bukakan jalan keluar." kata Cia Sun.
Dia pun berjalan diikuti mereka semua dan para perwira atau perajurit tentu saja tidak berani menghalangi pangeran ini keluar dari perkampungan Thian-li-pang diikuti lima orang tosu Bu-tong-pai, Gak Ciang Hun yang memondong jenazah Cu Kim Giok, Yo Han, Sian Li, Bi Kim, dan Hui Eng.
Setelah tiba di kaki bukit, barulah mereka berhenti dan menurut usul Gak Ciang Hun yang disetujui pula oleh me-reka semua, lima orang tosu Bu-tong--pai yang lebih mengetahui akan urusan itu, diminta agar memilihkan sebidang tanah yang baik untuk mengubur jenazah Cu Kim Giok.
Semua orang membantu menggali lubang dan dengan upacara sederhana namun khidmat yang dipimpin oleh Thian-tocu tosu dari Bu-tong-pai.
Setelah selesai pemakaman yang dilaku-kan tanpa ada yang bicara, akhirnya mereka mendapat kesempatan untuk du-duk di dekat makam dalam sebuah lingkaran dan barulah mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing.
Seperti dengan sendirinya, Sian Li duduk di dekat Yo Han dan pandang mata Sian Li bersinar-sinar penuh kebahagiaan karena akhirnya ia dapat bertemu dan ber-kumpul dengan pria yang sejak kecil telah dicintanya itu.
Hui Eng juga duduk di dekat Cia Sun, sedangkan Bi Kim duduk di dekat Ciang Hun.
Bergantian mereka menceritakan pengalaman mereka.
Yo Han merasa lega dan gembira ketika mendengar bahwa Hui Eng yang tadinya dianggap sebagai puteri Siang-koan Kok, ternyata adalah gadis yang selama ini dicarinya, yaitu puteri Liong--siauw Kiam-hiap (Pendekar Pedang Suling Naga) Sim Houw yang hilang diculik orang sejak kecil.
Apalagi sekarang Hui Eng telah menemukan jodohnya, yaitu adik angkatnya, Pangeran Cia Sun yang dia tahu adalah seorang pangeran Mancu yang berjiwa pendekar.
Makin besar rasa bahagia hatinya ketika dia melihat bahwa Gan Bi Kim, cucu keponakan gurunya yang oleh nenek Ciu Ceng dijodohkan dengannya itu nampak akrab dan saling mencinta dengan Gak Ciang Hun.
Kini giliran Yo Han menceritakannya dan semua orang, terutama sekali Sian Li yang merasa ngeri dan kadang mengeluarkan seruan tertahan sambil meme-gang lengan Yo Han, mendengarkan de-ngan penuh ketegangan dan kengerian.
"Sian-cai...., sungguh menakjubkan sekali mendengar betapa dalam keadaan yang agaknya sudah tidak ada harapan itu, ternyata Yo-taihiap masih dapat meloloskan diri! Mengagumkan sekali!" Yo Han tersenyum melihat pandang mata mereka semua penuh kagum kepadanya.
"Totiang, dan Cu-wi (Saudara sekalian), harap jangan memuji aku.
Se-sungguhnya, aku sendiri sudah meragukan apakah aku akan mampu keluar dari dalam sumur yang sudah ditutup dari luar itu.
Namun, dalam keadaan apa pun juga, sebelum hayat meninggalkan badan, aku tidak akan pernah putus asa.
Di atas segala kekuatan di dunia ini, ada suatu kekuatan yang maha kuat, maha kuasa, dan maha mengetahui! Aku hanya menyerah kepada kekuasaan itu, yakni kekuasaan Tuhan Sang Maha Pencipta.
Aku yakin sepenuhnya bahwa kekuasaan itu menyerap sampai ke manapun, bahkan di dalam tanah itu pun kekuasaanNya bekerja dengan sempurna.
Oleh karena itu, selama badan ini masih mampu ber-gerak, aku harus berusaha sekuat ke-mampuan untuk mempertahankan hidup ini, didasari penyerahan yang mutlak kepada kekuasaan itu." "Kekuasaan itulah To...." Thian-tocu menggumam.
"Saya kira memang tepat ucapan To-tiang.
To yang dimaksudkan itulah hukum Alam, atau Kekuasaan Tuhan yang selalu bekerja dan bergerak tiada hentinya, tak pernah menyimpang sedikit pun dari ke-tepatannya, seperti timbul tenggelamnya matahari dan bulan, seperti gerakan om-bak samudera ke kanan kiri yang tiada berkesudahan.
Karena penyerahan mut-lak kepada Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Kuasa itulah maka tidak ada rasa gelisah atau takut sedikit pun.
Dan ke-tenangan ini amat menguntungkan kita dalam menghadapi peristiwa apa saja.
317 Demikianlah, dengan tekun dan tak me-ngenal menyerah kepada kesulitan, de-ngan pasrah kepada Tuhan, akhirnya ke-kuatan dari kekuasaan Tuhan itu yang menuntunku sehingga dapat lolos dari ancaman maut di perut bumi." Semua orang terkesan dan suasana menjadi sunyi.
"Han-ko, bagaimana si Seng Bu itu dapat memiliki ilmu kepandaian sehebat itu" Bukankah dia pula yang telah mem-bunuh para pimpinan Thian-li-pang, ke-mudian dia menjatuhkan fitnah bahwa engkau yang telah membunuh mereka.
Ketika melawannya, aku merasakan be-tapa hebat tenaganya, dan melihat dia bertanding denganmu tadi, sungguh me-negangkan dan menggelisahkan.
Bagai-mana seorang murid Thian-li-pang dapat memiliki ilmu kepandaian sehebat itu, Koko?" Yo Han menghela napas panjang.
"Agaknya hal itu akan tetap merupakan rahasia yang tak terpecahkan, Li-moi.
Aku sendiri ketika bertanding dengannya, merasa heran dan terkejut bukan main karena aku mengenal ilmunya sebagai ilmu yang pernah kupelajari.
Padahal ilmu itu tidak pernah dipelajari orang lain dan yang menguasainya hanyalah mendiang suhu sebagai penemunya dan aku sebagai muridnya.
Entah bagaimana, agaknya Seng Bu dapat pula mempelajari ilmu itu, hanya saja....
ilmu yang di-kuasainya itu mempunyai perbedaan bumi langit dengan ilmuku.
Ilmu itu menjadi sesat dan berbahaya sekali, mengandung hawa beracun yang dahsyat.
Kalau tidak salah perhitunganku, agaknya dia secara kebetulan, entah bagaimana, telah mene-mukan dan mempelajari ilmu itu, akan tetapi tanpa bimbingan, dia mempelajari-nya secara keliru sehingga tanpa di-sengaja, dia telah menguasai ilmu yang menjadi sesat dan dahsyat, dan mungkin saja karena penguasaan ilmu itu, dia menjadi berubah dan tidak waras lagi." "Aku ikut merasa menyesal sekali, Twako.
Bagaimanapun juga, aku telah membantu hancurnya Thian-li-pang, pada-hal engkau tentu tahu bahwa aku tidak pernah memusuhi para pejuang." kata Cia Sun.
"Bukan salahmu, Cia-te.
Thian-li-pang telah diselewengkan menjadi gerombolan jahat yang bersekutu dengan golongan sesat.
Biarlah kelak aku akan mencoba menyusunnya kembali menjadi perkumpul-an para pejuang yang sehat dan berjiwa pendekar, seperti pesan mendiang suhu.
Sekarang, apa yang akan kalian lakukan?" "Siancai, kami berlima mohon diri, ka-rena kami sudah terlalu lama meninggalkan Bu-tongsan, Yo-taihiap." kata Thian--tocu.
Lima orang tosu itu bangkit dan memberi hormat, dibalas oleh enam orang muda itu.
"Ngo-wi To-tiang dari Bu-tong-pai sungguh merupakan sahabat yang amat baik, membelaku sampai hampir menjadi korban kekejaman Ouw Seng Bu." "Sian-cai....,Yo-taihiap tentu sudah mengerti sepenuhnya bahwa orang-orang seperti kita ini, tidak pernah membela seseorang maupun memusuhi seseorang.
Yang kita bela adalah kebenaran dan yang kita tentang adalah kejahatan.
Bu-kankah begitu, Taihiap?" kata Thiantocu.
Yo Han dan yang lan-lain memandang kagum dan mereka semua mengangguk menyetujui.
"Kalau begitu terima kasih dan selamat jalan, Totiang." "Sampai jumpa, Yo-taihiap dan sua-dara sekalian." Lima orang tosu itu lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah lima orang tosu itu pergi, enam orang muda itu saling pandang.
"Nah, sekarang tiba saatnya bagi kita untuk saling berpisah," kata Yo Han sambil memandang kepada Sian Li.
"Aku bersama adik Sian Li akan pergi ke ru-mah orang tua, Li-moi, akan tetapi aku mengharap bantuan adik Cia Sun untuk menemani kami.
Terus terang saja, se-perti yang mungkin telah kalian ketahui, kami berdua sudah bertekad untuk hidup bersama sebagai suami isteri, padahal, oleh orang tuanya, Li-moi telah dijodoh-kan dengan adik Cia Sun.
Oleh karena itu, aku membutuhkan bantuan Cia-te untuk menemani kami agar Cia-te yang memberi penjelasan kepada paman Tan Sin Hong berdua." "Tentu, tentu saja aku akan menemani kalian!" seru Cia Sun gembira.
"Akan tetapi, sebelum itu, aku minta kepada kalian semua untuk menemani aku dulu bersama adik Hui Eng.
Aku hendak me-ngantarkan Eng-moi kepada orang tuanya di Lok-yang.
Mengingat bahwa Engmoi pernah bertemu dengan ayah ibu kan-dungnya dalam keadaan yang tidak me-nyenangkan di rumah pendekar Suma Ceng Liong, maka tentu pertemuan itu akan terasa canggung.
Kalau ada kalian semua yang ikut dan membantu memberi kesaksian dan penerangan, tentu akan lebih menyenangkan.
Terutama sekali, aku juga mohon bantuan Yo-toako untuk membicarakan urusan kami berdua ke-pada orang tua Eng-moi." Yo Han tersenyum memandang kepada Hui Eng yang menjadi merah kedua pipi-nya dan menundukkan kepalanya.