Halo!

Si Rase Emas Chapter 33 (Tamat)

Memuat...

aku bersumpah kepada Bumi dan langit!

yang menjadi saksinya.

Jika aku melanggar, biarlah aku dikutuk seumur hidup dan tubuhku hancur luluh !" Kie Bouw menghela napas lagi.

"Baiklah, pergilah kau !" Kata Kie Bouw.

Berulang kali, dengan air mata mengucur, Sam-kiam-hiap telah mengucapkan terima kasihnya.

Dan dia melangkah akan berlalu.

Tetapi tiba2 Kie Bouw memanggilnya.

"Tunggu dulu !" Muka Sam-kiam-hiap seketika itu juga jadi berobah pucat, tubuhnya menggigil.

"Ada........

ada apa Tayhiap ?" Tanyanya dengan suara yang gemetar.

"Hemm......

mayat kedua kawanmu itu dibawa serta oleh kau dan nanti dikubur baik2 !" Kata Kie Bouw.

Sam-kiam-hiap jadi bernapas lega, dia mengiyakan dan membawa mayat kedua kawannya itu berlalu dengan cepat.

Kie Bouw menghampiri Siangkoan Nio yang tengah menangis ketakutan.

Maka cepat2 Kie Bouw menghiburnya.

Dia mengajak si nona untuk berlalu, Siangkoan Nio merasakan bahwa dia merasa tenang sekali berada disisi si pemuda yang tangguh dan kosen ini.

---oo~Dewikz.0.Tah~oo--- PENUTUP BEGITULAH Kie Bouw bersama Siangkoan Nio mengembara dalam rimba persilatan.

Dan selalu pula Kie Bouw melakukan ke bajikan2 dan perbuatan2 yang mulia menolong orang yang sedang kesulitan, membebaskan silemah dari tindasan sikuat.

Semakin lama.

sigadis she Siangkoan itu semakin menyukai pemuda yang hebat ini.

Dan juga dia telah mencintainya.

Kie Bouw sendiri juga membalas cinta sigadis, karena kelembutan gadis itulah yang menerarik hatinya.

Maka mereka menikah.

Dan biarpun telah menikah.

mereka tetap mengembara dari kota yang satu kekota yang lainnya dan selamanya Kie Bouw melakukan kebajikan menolong sesama manusia yang tengah dalam kesulitan.

Disaat saat seperti itulah nama dan gelaran Kie Bouw menjulang harum dalam rimba persilatan.

Maka gelaran si Rase Emas merupakan gelaran yang sangat ditakuti oleh para penjahat.

Setelah meogembara selama lima tahun, Kie Bouw mengajak istrinya, Siangkoan Nio, untuk mengasingkan diri di pegunungan Thian san.

Kedua suami istri hidup disebuah lembah yang indah sekali dengan tenang dan damai karena pemandangan lembah dilereng pegunungan Thian san merupakan tempat yang sangat sesuai sekali untuk orang yang mengasingkan diri dari keramaian terlebih-lebih Kie Bouw, yang bermaksud hidup tenang dan bahagia disisi istrinya yang tengah menantikan putra mereka yang berada dalam kandungan Siangkoan Nio.

TAMAT

Post a Comment