Halo!

Si Rase Emas Chapter 29

Memuat...

Setelah melewati belasan jurus dikala Siangkoan Hujin dengan penasaran sang bukan main telah melancarkan serangan lagi, disaat itulah tampak Siang-mo-kiam telah mengeluarkan menggerakkan sepasang tangannya.

Siangkoan Hujin yang saat itu tengah kalap sudah tidak memperdulikan apapun juga, Siangkoan Hujin telah menangkisnya.

Tangkisan yang dilakukan oleh Siangkoan Hujin tidak kalah hebatnya jika dibandingkan deugan gerakan sepasang tangan dari Siang-mo-kiam, benturan dari kedua tenaga yang hebat telah terjadi .....tampak tubuh Siang-mo-kiam telah terhuyung mundur.

Saat itu Siangkoan Hujin sudah tidak memperdulikan keselamatan dirinya, kedua tangannya telah digerakkan lagi, dia melancarkan serangan lagi.

Gerakan itu tentu saja telah membuat Siang-mo-kiam jadi terkejut bukan main.

Dengan cepat sekali dia telah mengeluarkan seruan marah dan melompat mundur dan tahu2 tubuh dari Siang-mo-kiam telah melayang ketengah udara.

Dan tiba2 dikedua tangannya masing2 telah tercekal sebatang pedang, sepasang pedang iblis dari Siang-mo-kiam merupakan pedang maut yang selalu mendatangkan kematian buat siapa saja.

Siangkoan Hujin waktu melihat lawannya telah mencabut keluar senjatanya, tak ayal lagi, Siangkoan Hujin menyambar sebatang ranting pohon.

Siangkoan Hujin ingin dengan ranting itu, sebagai pengganti pedangnya.

Saat itulah Siang-mo-kiam mengeluarkan suara bentakan yang mengerikan sekali, telah menerjang sambil menggerakkan sepasang pedangnya.Gerakan yang dilakukan oleh Siang-mo-kiam tersebut merupakan serangan yang mematikan.

Siangkoan Hujin yang tengah kalap saat itu juga tidak berani memandang remeh terhadap serangan ini, Siangkoan Hujin mengeluarkan teriakan nyaring dan telah memutar ranting pobon yang berada ditangannya.

Disaat itulah serangan Siang-mo-kiam tiba.

Di saat seperti ini, terlihat betapa Siangkoan Hujin telah mengempos semangat tenaga dalamnya, dia telah memutar ranting ditangannya itu untuk meggerahkan semangat tenaga dalamnya yang disalurkan kedalam ranting itu.

Gerakan yang dilakukan oleh Siangkoan Hujin merupakan gerakan yang sukar untuk diterka arah serangannya, tidak mudah bagi siiblis Siang-mo-kiam untuk mewujudkan serangannya itu dan pedangnya itu sama sekali tidak berhasil mengenai sasarannya.

Dan gerakan yang dilakukan Siangkoan Hujin ternyata memberikan hasil yang baik terlihat betapa pedang dari Siang-mo- kiam telah mengalami benturan2 yang keras sekali.

Dan terlihatlah, Siang-mo-kiam melompat mundur kebelakang beberapa kali.

Memang Siangkoan Hujin seorang yang memiliki kesempurnean untuk tenaga dalamnya itu, sehingga dia dapat mengendalikan ranting ditangannya itu, membuat Siang-mo-kiam terkejut, justru yang diincar oleh Siangkoan Hujin adalah bagian2 yang- mematikan dari setiap jalan darah ditubuhnya.

Rase Emas Karya dari Chin Yung Mereka bertempur dengan sangat cepat, serang menyerang silih berganti ......

pertarungan yang menginginkan berakhir dengan kematian lawannya ini sangatlah menguras tenaga mereka masing2.

Disaat itulah terlihat gerakan Siangkoan Hujin semakin lambat, selain bertempur didalam jarak yang demikian lama juga menderita kedukaan yang sangat menyedihkan sekali, ber-angsur2 tenuganya- juga jadi berkurang dan gerakannya semakin perlahan.Ranting ditangannya ber-gerak2 tidak secepat tadi lagi.

Disaat itulah, terdengar Siangkoan Hujin mengeluarkan suara pekikan nyaring, sambil mengerahkan tenaga dalamnya pada telapak tangannya, kemudian turun disalurkan pada ranting ditangannya dan terlihat gerakan yang dilakukan Siangkoan Hujin merupakan serangan mematikan.

Siang-mo-kiam menyambuti serangan sinyonya Siangkoan Tat yang tidak sempat untuk menarik pulang serangannya, dengan gerakan sepasang pedangnya itu.

Tentu Siang-mo-kiamlah yang akan memperoleh kemenangan?

Ternyata tidak.....!

Benturan antara ranting ditangan Siangkoan Hujin dengan sepasang pedang ditangan Siang-mo-kiam mengeluarkan suara.....

"Traaaakkk........." Disaat itu pedang Siang-mo-kiam meluncur menikam dada dari Siangkoan Hujin.

Tikaman itu dilakukan dengan cepat, dibarengi dengan kutungan ranting si nyonya.

Tetapi biarpun didalam keadaan kaget seperti itu, Siangkoan Hujin sama sekali tidak menjadi gugup.

Dengan mengeluarkan suara bentakan tubuhnya telah miring kesamping, dengan kecepatannya dia mempergunakan kedua telapak tangannya dengan cepat dan nekad sekali.

Sehingga batang pedang itu dapat di sampoknya terpental.

Siang-mo-kiam terkejut sampai mengeluarkan suara seruan tertahan dan dengat cepat dia susul pedang yang satunya mengulangi penikamannya itu.

Tetapi Siangkoan Hujin telah melompat mundur, mereka telah saling berdiri ber-hadap2an dengan mata masing2 memancarkan sinar yang tajam dan dalam, menganduag dendam dan sakit hati, bagaikan seekor macan dengan seekor singa betina tengah ber- hadap2an dengan segala keganasannya.---oo~Dewikz.0.Tah~oo--- Siangkoan Hujin yang tengah kalap seperti itu sudah tidak mau membuang2 waktu lagi.

Dengan cepat sekali dia telah mengeluarkan suara pekikan yang melengking tinggi, dan membarengi dengan mana tampak tubuhnya telah mencelat ketengah udara dengan gerakan yang cepat sekali.

Dia telah melancarkan serangan yang bukan main hebatnya dan gerakan yang dilakukannya itu merupakan gerakan yang cepat dan tidak memberikan ketika buat lawan2nya berpikir.

Disamping itu memang terlihat, betapa gerakan yang dilakukan Siang-mo-kiam telah memperlihatkan bahwa dia mulai terdesak oleh serangan Siangkoan Hujin yang merupakan seorang jago betina.

Tetapi Siang-mo-kiam mana mau mengadu jiwa begitu untuk mati bersama dengan lawannya yang telah nekad ini.

Siang-mo-kiam menyadari bahwa dia tidak bisa seterusnya berbuat begitu, dia bisa kehabisan tenaga berarti juga dengan mudah dia akan dapat dirubuhkan oleb Siangkoan Hujin dan akan bercelaka.

Dia berusaha mencari jalan keluar, meloloskan diri atau juga berusaha untuk merubuhkan si nyonya tua yang tanguh ini.

Maka dari itu yang paling selamat ialah memutar terus sepasang pedangnya itu, dengan demikian berarti dia dapat mengelakkan serangan Siangkoan Hujin.

Akhirnya dengan kemurkaan dia menyimpan pedang ditangan kirinya, tahu2 dia telah merogoh saku bajunya .......

mengambil beberapa batang jarum Bwe-hoa ciam, dengan kecepatan tidak terduga, dia telah melemparkan jarum-jerum beracun itu menyerang si nyonya, dan Serrrrtt......., serrrrtttt....., serrrrtttt....., terdengar suara pekik kaget dari Siangkoan Hujin.Karena saat itu Siangkoan Hujin tengah menerjang, maka terkejut bukan main tahu2 dihadapaanya meluncur jarum-jarum itu memapaknya.

Serangan jarum2 itu terus menembus dan menotok jalan darahnya sehingga seketika itu juga racun telah bekerja, Siangkoan Hujin terbanting rubuh diatas tanah.

Tubuhnya telah berkelejatan dan didalam saat yang sangat singkat dia telah mengejang kaku.

---oo~Dewikz.0.Tah~oo--- BAGIAN 18 NYAWANYA juga telah melayang seketika.

Rupanya racun itu bekerja terlalu keras sekali.

sehingga didalam sekejap mata saja dia telah terbinasa disebabkan racun tersebut.

Dan juga muka mayat dari Siangkoan Hujin berubah jadi biru matang kehitam2an, hal ini memperlihatkan bahwa racun itu memang bekerja sangat hebat sekali.

Dengan cepat Si pedang iblis mengawasi kearah mayat Siangkoan Hujin,setelah jakin bahwa lawannya itu binasa, dia tertawa ber-gelak2 dengan suara memperlihatkan kepuasan.

Disaat itulah dia telah melihat bahwa tubuh Siangkoan Nio, puteri dari hartawan itu, tengah menggeletak disamping mayat ibunya dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Dengan cepat dia telah melangkah menghampiri tubuh sigadis.

Lama dia berdiri disitu mengawasinya, sampai akhirnya dia telah menggumam ."Hemm......., sebetulnya seorang nona cantik seperti dia sangat disayangkan harus mampus dengan cara yang mengerikan !" Katanya deagan suara yang sangat dingin dan menyeramkan sekali.

Disaat itulah, dengan cepat dia telah menggerakkan tangan kanannya yang masih mencekal pedang, dan pedang itu telah berkelebat menikam Siangkoan Nio yang tengah pingsan tidak sadarkan diri itu.

Dia bermaksud akan membinasakan Siangkoan Nio, karena dia beranggapan jika membiarkan Siangkoan Nio hidup terus, tentu dibelakang hari akan menimbulkan kesulitan buat dirinya.

Maka dia harus dapat membinasakan sigadis, saat itu pedangnya telah meluncur dengan cepat sekali menikam dada gadis itu.

Sedangkan Siangkoan Nio jang tengah pingsan tidak sadarkan diri itu, sama sekali tidak mengetahui bahaya yang akan menimpa dirinya.

Mata pedang telah meluncur dencan kecepatan penuh.......dan jiwa Siangkoan Nio segera akan melayang begitu mata pedang menembus dadanya.

Tetapi disaat itulah .....

yaitu-saat mata pedang terpisah beberapa dim lagi dari kulit tubuh dibagian dadanya sigadis itu, disaat yang bersamaan tersebut, tetah meluncur sebutir batu kerikil kecil yang telah memiliki kekuatan yarg luar biasa dahsyatnya.

"Traaaanngg........!" Pedang itu telah dihantam oleh batu kerikil kecil itu, Siang-mo- kiam terkejut bukan main, dia sampai mengeluarkan suara seruan tertahan dan telah melompat mundur.

Dengan penuh kemurkaan yang sangat dia menoleh kearah dari mana batu kerikil itu datang, dia melihat sosok bayangan dengan gerakan yang lincah telah melompat keluar dari tempat persembunyiannya dibalik semak.Sosok tubuh itu berkata dengan suara yang perlahan "Sungguh suatu perbuatan, yang sangat kejam jika ingin menghabiskan nyawa seseorang yang tengah berada dalam keadaan pingsan seperti itu!" Dengan mata ber-api2, ilblis Siang-mo-kiam mementang matanya mengawasi kearah sosok bayangan tersebut, dan dia segera melihat orang yang baru muncul ltu.

Orang ini adalah seorang pemuda yang cakap, sepasang alisnya tebaI dan juga hidungnya mancung dengan bibir yang tipis.

Disaat itu sipemuda tengah berdiri mengawasi kearahnya dengan sorot mata dan bibirnya tersenyum dengan dingin sekali.

Siang-mo-kiam terkejut sekali waktu pemuda ini menjawab dengan suara yang dingin .

"Hmmm........

engkau iblis yang benar2 tidak tahu diuntung !

Aku si Rase Emas tidak bisa membebaskan engkau dari kematian !

Biar bagaimana engkau harus dapat kubinasakan hari ini, agar malapetaka buat orang-orang yang lemah terhindarkan!" Mendengar disebutnya bahwa gelaran pemuda itu adalah si Rase Emas, seketika itu juga tubuh si iblis telah tergetar sedikit.

Hatinya juga telah tergoncang, karena dia pernah mendengar perihat hebatnya si Rase Emas ini, walaupun muncul belum begitu lama didalam rtnrba persilatan, tetapi wemang memiliki kepandaian yang tinggi.

Setelah menenangkan goncangan hatinva, Siang-mo-kiam membentak.

"Aku tengah menyelesaikan persoalan dendamku, menurut peraturan Kalangan kang-ouw, engkau tidak bisa mencampuri persoalan kami ini !" "Hmmm....., memang benar apa yang engkau katakan itu, peraturan rimba persilatan begitu bunyinya !

Post a Comment